
Tuk, tuk, tuk.
Suara ketukan meja yang berasal dari jariku terdengar diseluruh penjuru ruangan. Bersamaan dengan itu, detik jarum panjang pada jam dinding menjadi pengiring lain. Mataku tak lepas dari dua orang yang duduk di hadapanku.
"Bisa kah kau mengatakan sesuatu?" tanya Vava.
Aku menghembuskan napas karena tidak tahu juga harus berbicara seperti apa. Tidak ingin membuat kedua ornag itu merasa tertekan, aku langsung beranjak menuju walkin closet untuk mengganti pakaian.
"Kita pergi ke cafetaria." Aku langsung menyambar ponsel yang ada di atas meja dan keluar lebih dulu dari ruangan. Aku yang tidak merasa ada orang dibelakang, lantas menoleh dan melihat Vava dan Maggie yang begitu ragu melangkahkan kakinya.
"Ada apa? aku meminta kalian untuk ikut bersamaku. Ini perintah!" kataku.
"Baik, Direktur."
Sampai disebuah cafetaria dekat kantor, aku memberi isyarat pada Vava untuk memesan sesuatu yang biasa dipesan. Cafetaria ini merupakan tempat dimana aku dan Vava sering menghabiskan waktu bersama. Kini tidak hanya kami berdua, melainkan ada Maggie yang menjadi teman baru.
"Sasha, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat ini bersamamu." Vava langsung mengubah gaya bicaranya menjadi seperti biasa. Tak sengaja aku melihat wajah Maggie yang tampak terkejut.
"Bicaralah," ujarku.
"Di-Direktur dan sekretaris Vava terlihat sangat akrab." Maggie berucap dengan nada yang sedikit kaku. Mungkin saja dia terlalu canggung saat bersama denganku dan Vava.
"Tentu saja! kami sudah lama berteman, sudah pasti akrab." Vava mengatakannya dengan antusias seraya menatapku. Aku yang mendengar itu hanya tersenyum menanggapi.
"Sekarang, kau tidak perlu merasa canggung. Anggap saja kita ini sahabatmu, aku pernah berpikir bahwa berteman dengan Sasha terasa monoton. Tapi nyatanya, jika kau sudah tahu seperti apa sifat Sasha, kau pasti tidak akan bisa jauh darinya."
"Seperti misalnya, dia selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan, dia selalu melindungiku bahkan sampai tidak memikirkan dirinya sendiri," kata Vava dengan penuh bahagia, "walaupun dia tidak pernah berbicara banyak." Aku menatapnya tajam ketika mendengar ucapan terakhirnya.
"Apa bisa aku bergabung dengan kalian? aku hanya seorang manajer, tidak seperti kalian yang begitu dihormati." Kini tatapanku beralih pada Maggie yang terlihat sungkan. Aku menyentuh tangannya dengan usapan lembut.
"Siapapun bisa jadi sepertimu. Tapi sayangnya, yang kami pilih hanyalah kau. Aku tidak peduli dengan kehormatan yang orang berikan. Aku hanya ingin dihargai."
"Ooo, Sasha...kau membuatku merasa tersentuh. Sejak kapan kau pandai berkata-kata manis seperti itu?" kata Vava.
Aku menatap Vava dengan pandangan yang begitu dingin. Tidak bisa berpikir bagaimana perasaan Vava ketika bekerja denganku. Inilah sosok aslinya, begitu banyak bicara dan sangat penasaran dengan apapun.
Suasana cafetaria de flore ini tampak sedikit ramai. Terlebih lagi dibagian luar, sedangkan aku sendiri memilih di dalam, menghindari keramaian tentunya.
Disaat kami semua sibuk dengan minuman yang sudah dipesan, tiba-tiba saja Vava memukul meja dengan keras.
Brak!
"Apa ini benar?!" Vava menunjukkan ponselnya yang berisi berita tentang direktur Anderson Group akan menggelar acara pernikahannya minggu depan. Aku mengangkat sebelah alis pura-pura santai, walaupun dalam hati benar-benar terkejut.
"Aku sudah melihat berita itu tadi pagi. Ini benar-benar mengejutkan, sebelumnya yang aku tahu tuan Kenneth tidak pernah menampakkan dirinya bersama nona Jessy," kata Maggie.
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
Aku memalingkan wajah ke arah lain, tidak peduli dengan kedua orang yang tampak asik dengan berita itu. Sebenarnya apa yang terjadi? aku tidak pernah mengakui perasaan cinta pada Kenneth. Tapi mengapa hatiku begitu sakit? seolah-olah aku kembali pada kejadian 4 tahu silam.
Ya, tepat ketika aku putus hubungan dengan Alvin. Namun, sekarang rasanya sangat sakit. Aku berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan ini. Sebelumnya aku sudah mengetahui bahwa Kenneth bertunangan dengan Jessy.
"Sasha! bukankah ini dirimu?" Vava menunjukkan sebuah foto ketika aku bersama Kenneth di rumah sakit. Bukan foto itu yang membuatku sangat terkejut, tapi sebuah caption yang memojokkan diriku sebagai orang ketiga.
"Aku pikir ada orang yang ingin menghancurkan reputasimu. Padahal dari yang aku tahu tuan Kenneth lebih dulu yang mendekatimu."
"Vava, sepertinya kita tidak seharusnya ikut campur dalam masalah ini," kata Maggie.
"Apa maksudmu? aku kan sedang bertanya untuk mencari solusinya."
Aku tidak menghiraukan perdebatan mereka. Kini yang aku pikirkan adalah sesuatu yang terasa janggal pada berita itu. Pada saat Kenneth mengumumkan acara pernikahannya, muncul juga beritaku saat berada di rumah sakit. Padahal kejadian itu sudah berlalu begitu lama.
"Sasha?! kau memikirkan berita itu atau memikirkan bagaimana perasaanmu?" Vava berkata sembari melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Tidak ada, hanya saja aku pikir ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Aku akan pergi lebih dulu, jika sudah selesai kalian langsung kembali ke kantor saja." Aku segera pergi dari cafetaria menuju parkiran kantor.
Gerakan membuka pintu mobil terhenti kala ponselku bergetar tanda pesan masuk. Seorang pengirim tak dikenal.
Aku mencengkram ponsel sebelum akhirnya masuk ke mobil. Meskipun tidak ada nama pengirim, aku tahu persis siapa yang mengirimnya.
Aku menoleh ke arah spion, dimana mobil hitam Peugeot yang tampak mencurigakan. Sepertinya aku pernah melihat mobil ini. Tapi begitu banyak mobil yang sama, lagipula aku tidak begitu memperhatikan platnya.
Tampaknya mobil itu memang sedang mengikutiku. Kali ini aku tidak tahu utusan siapa yang melakukannya, yang pasti aku harus menghindar lebih dulu. Aku menambah kecepatan mobil dan dengan lihai menyalip mobil di depan.
Aku bisa melihat mobil itu sepertinya berusaha untuk mengikutiku. Untungnya mobilku begitu cepat dan pendek, sehingga memudahkannya untuk berbelok memasuki jalan yang sedikit sepi dan sempit. Aku tahu jalan pintas disini, jadi tidak heran begitu hafal dan mudah untuk menghindar darinya.
Aku menghentikan mobil dan segera keluar untuk bersembunyi di balik pohon yang besar. Melihat mobil hitam peugot itu yang sudah berhenti jauh dari jarak mobilku. Ini terasa aneh, jika orang itu mengincarku, mengapa tidak keluar dari mobil untuk menghampiriku?
Tak berselang lama, dua orang pemuda keluar dari mobil itu seperti sedag berkomunikasi dengan orang lain melalui ponsel. Raut wajahnya yang terlihat heran nampak kerutan di dahinya. Lalu orang itu kembali masuk ke mobil, tapi tidak kunjung pergi.
Akupun tidak bisa keluar jika mereka belum pergi, terlebih lagi orang-orang itu seperti sedang menungguku. Sedangkan aku harus menemui Thian untuk memberitahu skandal yang terjadi. Aku menepuk jidat ketika mengingat bahwa pistolku berada di dalam mobil.
Sudahlah, aku harus menangani ini sesegera mungkin. Aku berjalan mendekati mobil itu dan mengetuk kaca mobilnya.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku seramah mungkin.
"Tidak, Nona." Salah satu pemuda itu berucap dengan nada datar.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk mengikutiku?!" Sekarang wajahku berubah seketika menjadi datar dan menahan amarah.
"Sepertinya Nona salah mengira, kami nampaknya tersesat. Kami akan pergi lebih dulu."
Barulah mobil itu pergi. Hal ini membuat diriku merasa semakin aneh dan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja tidak bisa dijawab.