THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Julian & Vanessa



Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sore ini Dion sudah siap dengan pakaian serba hitamnya.


"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Valerie.


"Mau melamarkan Julian kepada wanita itu."


Valerie memicingkan matanya merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Dion.


"Apa aku boleh ikut?"


"Yakin, mau ikut?" tanya Dion.


"Yakinlah."


"Oke, ganti baju sana aku tunggu di bawah."


Valerie pun segera mencari pakaian yang cocok dengan Dion, karena Dion memakai pakaian hitam-hitam, akhirnya Valerie pun ikut memakai baju hitam-hitam.


"Ayo sayang!"


"Kalian mau ke mana?" tanya Papi Lion.


"Mau bersenang-senang dulu sebentar Pi, tolong titip Virlie sebentar," sahut Dion.


"Bukanya kalian itu baru pulang, bersenang-senang selama satu bulan keliling dunia? Sekarang kalian mau bersenang-senang apa lagi?" seru Mama Ayu.


"Ada deh."


Dion pun menggenggam tangan Valerie dan pergi dari rumah.


"Kamu siap, sayang?" seru Dion.


"Siap dong."


Dion pun melajukan mobilnya ke sebuah perusahaan dan Dion menghentikan mobilnya di depan perusahaan itu. Valerie tidak banyak bicara, dia hanya diam saja.


Hingga sebuah mobil mewah pun keluar dari perusahaan itu dan Dion pun mulai mengikutinya.


"Pegangan sayang, kita bakalan ngebut!" teriak Dion.


"Jangan kencang-kencang sayang, aku takut."


Di saat melewati jalanan sepi, Dion menginjak gasnya dan menyalip mobil itu sehingga mobil mewah itu berhenti secara mendadak dan membuat Papa Vanessa terkejut.


"Ada apa ini?" tanya Papa Vanessa.


"Ada mobil yang menyalip mobil kita, Tuan."


Papa Vanessa sudah bersiap-siap mengeluarkan senjata yang selalu dia bawa ke mana-mana.


Dion turun dari dalam mobilnya, dengan gagahnya dia berjalan menghampiri mobil Papanya Vanessa sedangkan Valerie hanya diam saja dan duduk manis di dalam mobil.


"Astaga, suamiku tampan sekali," gumam Valerie dengan tatapan memujanya.


Dion menghampiri mobil Farhan dan mengetuk kaca jendelanya, sang sopir langsung turun dan menjegal tangan Dion membuat Dion tersenyum.


"Kamu siapa? Jangan macam-macam."


"Aku Dion Halbert."


Seketika Farhan membelalakan matanya dan langsung turun dari dalam mobilnya.


"Lepaskan dia!" perintah Farhan.


Sang sopir yang merangkap bodyguard itu pun melepaskan Dion.


"Maafkan sopir saya, anda putranya Lion Halbert kan? Ada apa anda mencari saya?" tanya Farhan ramah.


"To the point saja, aku tidak suka basa-basi aku menemuimu karena aku ingin melamar putri anda."


Lagi-lagi Farhan membelalakan matanya. "Maaf, apa saya tidak salah dengar? Bukanya anda sudah menikah? Apa anda ingin menjadikan putri saya sebagai istri kedua? Tapi tidak apa-apa, walaupun jadi istri kedua, saya akan merestui kalian karena suatu kehormatan bagi saya bisa berbesanan dengan Tuan Lion," seru Farhan dengan senyumannya.


"Aku tidak berniat menikah lagi, karena istriku pun cantik dan sempurna."


"Lantas, apa maksud ucapan anda ingin melamar anak saya?"


"Maksud aku, aku ingin melamar anak anda untuk temanku."


"Siapa?"


"Julian, bukanya dia pernah bertemu dengan anda?"


"Julian? Oh, yang karyawan biasa itu?"


"Memangnya kenapa kalau dia karyawan biasa?"


"Tidak mungkin putri saya diberikan kepada karyawan biasa seperti dia, mau dikasih makan apa putriku? Lagipula itu akan sangat memalukan kalau seorang putri konglomerat menikah dengan rakyat jelata."


"Astaga sebenarnya apa yang mau suamiku lakukan?" gumam Valerie.


"Memalukan mana, mempunyai menantu miskin atau anak yang jadi burunan dan sekarang anda sembunyikan di Vietnam?" seru Dion dengan senyumannya.


Seketika Farhan membelalakan matanya, susah payah Farhan menelan salivanya.


"Ke-kenapa anda tahu?" tanya Farhan gugup.


"Itu hal yang mudah, bahkan rumah mewah dan fasilitas mewah yang anda dapatkan itu hasil dari korupsi besar-besaran dari pembangunan hotel Funtastik yang sampai memakan korban karena para pekerjanya kelelahan tanpa diberi makan dan gajinya tidak sesuai," bisik Dion di telinga Farhan.


Farhan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Jadi, kalau sampai kamu dan putra sulungmu tertangkap polisi, sudah pasti semua hartamu akan disita terus anak dan istrimu mau tinggal di mana? Nanti kalian jatuh miskin dan tidak ada yang mau menikah dengan putrimu, mau putrimu jadi perawan tua?" seru Dion dengan senyumannya.


Farhan sangat syok, sampai-sampai dia tidak bisa jawab apa-apa.


"Pikirkan baik-baik sebelum semuanya terlambat, mumpung teman saya masih mau sama putrimu soalnya aku tidak bisa menjamin temanku akan menerima putrimu kalau dia tahu putrimu anak seorang koruptor dan adik dari seorang penjahat."


Dion turun dari kap mobil Farhan dan menepuk pundak Farhan sembari tersenyum. Dion mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil dan langsung menancapkan gas meninggalkan Farhan yang masih syok.


"Bagaimana sayang? Apa dia merestui hubungan Dr.Vanessa sama si Panjul?" tanya Valerie.


"Lihat saja, sebentar lagi si tua bangka itu bakalan nikahi Julian sama putrinya."


"Apa yang sudah kamu katakan kepada dia?"


"Rahasia."


"Idih main rahasia-rahasiaan, kalau tahu cuma gini aku gak bakalan ikut kamu sayang, aku pikir bakalan ada adegan perkelahiannya. Soalnya badanku sudah pegal-pegal karena sudah lama tidak olahraga," seru Valerie dengan kesalnya.


"Kamu mau olahraga, sayang?" tanya Dion.


"Iya, tadinya aku pikir bakalan ada adu fisik jadi sekalian olahraga."


"Oke, sampai rumah kita olahraga ya," seru Dion dengan menaik turunkan alisnya.


"Kalau olahraga sama kamu mah bukan bikin sehat tapi malah bikin capek."


"Let's go...5 ronde ya."


"Apa?"


Dion pun dengan semangat langsung menancapkan gasnya karena ingin cepat sampai di rumah.


***


Keesokan harinya....


Valerie dan Dion baru saja sampai di kantor, kali ini Virlie gak dibawa karena Oma dan Opanya membawa Virlie jalan-jalan.


Julian berlari dan langsung memeluk Valerie membuat Dion geram.


"Oh, pagi ini tanganku sudah gatal ingin memukul seseorang, sepertinya seru kalau pagi-pagi membuat seseorang babak belur," geram Dion.


Julian langsung melepaskan pelukannya. "Sorry Bos, soalnya aku sedang bahagia, Bos."


"Bahagia kenapa?" tanya Valerie pura-pura tidak tahu.


"Papanya Vanessa mau menikahkanku dengan Vanessa, tidak tanggung-tanggung dia bakalan menikahkan kami malam ini juga," sahut Julian dengan bahagianya.


"Huwaaaa....mantap tuh."


"Terima kasih ya Bos, aku tahu ini berkat Bos. Aku janji, akan mengabdi selamanya kepada Bos," seru Julian.


Valerie mendekati Julian. "Nanti aku kasih obat kuat ya, soalnya aku tahu fisik kamu tidak sebagus fisik suamiku," bisik Valerie.


"Kamu meremehkanku, Oneng."


Julian memiting leher Valerie yang akhirnya membuat Dion pun tersenyum.


Malam pun tiba....


Julian datang ke rumah Vanessa dengan ditemani adik dan juga keluarga Dion, malam ini dia akan melakukan ijab kabul bersama Vanessa.


Tidak membutuhkan waktu lama, Julian pun dengan lancarnya mengucapkan ijab kabul yang membuat semuanya bahagia. Akhirnya Julian dan Vanessa sudah sah menjadi pasangan suami istri.


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Siap-siap besok pengumuman pemenang pulsa dari Author, tetap stay ya😊😊