THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Masa Lalu Lion, Ferdinan, Andri



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Valerie terus saja memberontak dan Dion semakin erat memeluk Valerie.


"Sebegitu terlukakah kamu Val, sampai seperti ini?" batin Dion.


"Lepaskan aku Bos, aku ingin bunuh orang itu!" teriak Valerie.


"Jangan gegabah Val, aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa. Kita harus cari bukti dulu, baru kita bisa menangkap Ferdinan. Aku sama Papi akan membantumu, jadi kamu tidak sendiri," sahut Dion menenangkan Valerie.


Valerie bukan wanita lemah, tenaga dia sangat kuat. Tiba-tiba Valerie menggigit tangan Dion supaya Dion bisa melepaskannya namun sayang, Dion tetap memeluk Valerie dengan erat walaupun Dion merasakan sakit dan bahkan sekarang tangan Dion pun sudah mulai berdarah.


Pelukan Dion sedikit merenggang dan Valerie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Bughh...


Satu pukulan Valerie layangkan ke perut Dion membuat Dion mundur satu langkah, Valerie hendak membuka pintu tapi Dion berhasil menangkap tangan Valerie dan langsung mengunci pintu rumahnya.


"Kamu tidak boleh ke mana-mana," seru Dion.


Mata Valerie memerah menandakan saat ini Valerie sedang dalam kondisi yang sangat emosi.


Valerie yang kalap justru menyerang Dion, Valerie memukul Dion dengan deraian airmata dan Dion diam saja, ia membiarkan Valerie melampiaskan amarahnya kepada dirinya.


"Kamu sangat menyebalkan, Bos!" teriak Valerie.


"Pukul saja aku Val, sampai kamu puas tapi aku tetap tidak akan membiarkan kamu nekad dan melakukan hal yang nantinya akan merugikan dirimu sendiri," sahut Dion.


Wajah tampan Dion sudah babak belur, bahkan sudut bibirnya sudah berdarah akibat pukulan Valerie. Hingga tidak lama kemudian, Valerie pun ambruk dan terduduk di lantai. Dia kelelahan terus-terusan memukul Dion, napasnya tampak ngos-ngosan.


"Aaaaarrrrrggghhhh....."


Valerie berteriak sekuat tenaga, melampiaskan semua amarah dan dendamnya yang selama ini dia pendam.


Perlahan Dion menghampiri Valerie dan kembali memeluknya, Dion tidak tega melihat Valerie hancur seperti itu. Valerie yang konyol dan ceria hanyalah topeng untuk menutupi lukanya yang begitu besar.


"Aku janji, aku dan Papi akan membantumu tapi tolong kamu harus bersabar, karena kalau kamu langsung membunuh Ferdinan, itu sama halnya dengan kamu menghancurkan dirimu sendiri," seru Dion.


"Kamu tidak akan merasakan Bos, bagaimana rasanya jadi aku. Dia membunuh Mama dan Papa dengan keji di hadapanku sendiri, kamu tidak akan tahu aku harus menyembuhkan traumaku seorang diri, kamu tidak tahu rasanya hidup sebatang kara tanpa ada yang bisa dijadikan sandaran hidup, itu sangat sulit Bos," seru Valerie dengan bibir yang bergetar.


Dion melepaskan pelukan dan menangkup wajah Valerie.


"Bersabarlah, dan aku pastikan kamu akan membalaskan dendam kamu kepada Ferdinan."


***


Falsh back on...


Di sebuah restoran, 3 orang pria tampan sedang asyik ngopi bareng. Ketiga pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lion, Ferdinan, dan Andri.


"Dri, kita berdua sudah punya pacar tinggal kamu yang belum punya pacar, masa pria paling populer di kampus jomblo," goda Lion.


"Iya, kita bertiga kan sahabat sejati jadi nikah pun harus sama-sama," sambung Ferdinan.


"Siapa bilang aku jomblo, aku sudah punya pacar kali, kalian saja yang gak tahu," sahut Andri dengan santainya.


"Hah...serius?" seru kedunya tidak percaya.


Dari ketiga pria tampan itu, Andri memang termasuk pria yang sedikit tertutup. Dia jarang sekali curhat masalah kehidupan pribadinya.


"Wanita mana yang bisa meluluhan hati si manusia es ini?" goda Ferdinan.


"Kalian tidak usah tahu, yang jelas wanitaku tidak kalah cantik dari Ayu dan Astrid," sahut Andri.


"Terserah kamu sajalah. Oh iya Fer, bagaimana keadaan Steven adikmu? Apa sudah ada perubahan?" tanya Lion.


"Adikku keadaannya semakin parah, bahkan sekarang dia sudah mulai melukai dirinya sendiri. Pokoknya aku tidak akan pernah memaafkan mantan pacarnya yang sudah meninggalkan Steven demi pria lain, bahkan kalau sampai adikku kenapa-napa, aku akan cari wanita itu dan pasangannya sampai ke ujung dunia pun, akan ku bunuh dengan tanganku sendiri," sahut Ferdinan dengan sorot mata penuh dendam.


Setelah obrolan itu, ketiga pria tampan itu pun pulang ke rumah masing-masing dan betapa terkejutnya Ferdinan saat melihat adiknya Steven sudah terbaring tak bernyawa dengan pergelangan tangannya yang tersayat kater.


Tangan satunya lagi memegang ponsel yang masih menyala, perlahan Ferdinan membukanya dan membaca percakapan antara Steven dan wanita itu.


Pada intinya, wanita itu sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Steven dan lebih memilih pria lain. Emosi Ferdinan naik sampai ubun-ubun, dia menggenggam erat ponsel milik Steven.


"Awas kamu, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kalian tidak akan lolos dariku," batin Ferdinan.


Namun sayang setelah pemakaman Steven, Ferdinan harus berangkat ke Argentina dan menetap di sana karena perusahaan kedua orangtuanya sedang ada masalah.


Ferdinan pun akhirnya menyimpan rasa dendamnya, karena harus membantu kedua orangtuanya bahkan Ferdinan pun membawa Astrid dan menikah di sana karena kebetulan Astrid adalah anak yatim piatu.


Singkat cerita...


"Bos, saya sudah menemukan keberadaan Anisa dan saat ini dia sudah menikah dan mempunyai anak yang seumuran dengan Nona Jesika."


"Bagus, coba aku mau lihat siapa pria yang dia pilih? Apa pria itu lebih baik dari adikku," seru Ferdinan.


Anak buahnya pun menyerahkan foto itu, betapa terkejutnya Ferdinan melihat siapa pria yang sudah Anisa pilih. Tangan Ferdinan gemetaran, dia tidak menyangka kalau pria yang dipilih Anisa adalah sahabatnya sendiri yaitu Andri.


"Kurang ajar, jadi kamu Andri yang sudah merebut Anisa dari Steven, sampai-sampai Anisa meninggalkan Steven dan berakhir dengan kematian Steven," geram Ferdinan.


Ferdinan mengepalkan tangannya, bahkan rahangnya pun sudah mengeras menahan emosi yang sangat besar.


"Urus keberangkatanku ke Indonesia, aku ingin pergi malam ini juga," seru Ferdinan.


"Baik Tuan."


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya malam ini juga Ferdinan berangkat ke Indonesia. Dendamnya sudah mengalahkan akal sehat Ferdinan, dia ingin membunuh sahabatnya sendiri.


Sesampainya di Indonesia, Ferdinan langsung ke alamat rumah Anisa dan Andri. Ferdinan sampai di rumah Andri siang, tepat dengan sebentar lagi kepulangan Valerie sekolah.


Tok..tok..tok..


Ferdinan mengetuk rumah Andri dengan ditemani dua anak buahnya.


Ceklek...


Andri membelalakan matanya saat melihat Ferdianan ada di hadapannya.


"Ya Allah Ferdinan, kapan kamu pulang? Aku sangat merindukanmu," seru Andri yang langsung memeluk sahabatnya itu.


Ferdinan tampak dingin dan tidak membalas pelukan sahabatnya itu, hingga perlahan tanpa basa-basi, Ferdinan mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan menembak perut Andri.


Mata Andri melotot, bahkan Ferdinan tidak hanya sekali, dia sampai mengeluarkan tiga tembakan untuk Andri membuat Andri ambruk dan Anisa cepat-cepat datang dari dapur setelah mendengar suara tembakan.


"Ferdinan...ka-mu...." seru Andri terbata.


"Kamu pengkhianat Andri, ternyata kamu yang


sudah merebut Anisa dari Steven," seru Ferdinan.


"Mas Andri!" teriak Anisa.


Anisa berlari hendak menghampiri suaminya tapi Ferdinan dengan cepat menjambak rambut Anisa dan menyiksanya dengan tanpa ampun.


Anisa merasa sangat sakit karena melihat suaminya harus meregang nyawanya di depan mata kepalanya sendiri.


"Dasar wanita tidak tahu diri, kurang apa Steven sampai-sampai kamu dengan teganya meninggalkannya demi pria lain dan pria itu adalah sahabatku sendiri!" bentak Ferdinan dengan terus menyiksa Anisa.


"Kamu tidak tahu apa yang selama ini Steven lakukan kepadaku, dia pria gila yang sering menyiksaku. Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia tidak mungkin ringan tangan dan selalu memukulku tanpa sebab. Hingga akhirnya Mas Andri menolongku saat Steven kalap dan ingin melemparku ke jurang hanya gara-gara dia cemburu karena aku pulang diantar sama seorang pria, aku sudah menjelaskan kalau pria itu saudaraku tapi Steven tidak mempercayaiku dan malah menyiksaku," seru Anisa dengan deraian airmata.


"Bohong, Steven tidak seperti itu," sahut Ferdinan.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya dan aku sudah tidak tahan dengan sikap Steven yang tempramental!" teriak Anisa.


Ferdinan langsung mencekik Anisa...


"Mama...."


Anisa membelalakan matanya, saat melihat putrinya baru datang sekolah.


"Pergi Nak, cepat pergi!" teriak Anisa.


Valerie kecil langsung berlari dengan deraian airmata, dan Ferdinan pun menyuruh anak buahnya mengejarnya namun sayang, mereka tidak berhasil menangkap Valerie yang larinya sangat kencang.


"Kamu harus mati, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa," seru Ferdinan.


Ferdinan semakin mengeratkan cekikannya dan dalam hitungan detik, Anisa pun tewas di tangan Ferdinan.


Flash back off....


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘