
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Valerie dan Julian segera mengeluarkan pistol mereka yang selalu mereka bawa ke mana-mana.
"Hati-hati Val, takutnya komplotan itu banyak," bisik Julian.
"Iya."
Mereka terus saja memasuki hutan, dan benar saja terlihat sebuah rumah yang dijaga oleh beberapa orang.
"Gila, siapa sih yang membangun rumah di tengah hutan kaya gini? Bagaimana cara bawa alat-alat bangunannya ya, ini jalanannya sempit, tidak masuk akal," seru Valerie.
Dengan gemasnya Julian menjitak kepala Valerie.
"Aw, sakit Panjul," keluh Valerie.
"Habisnya, situasi lagi genting kaya gini, kamu malah sempat-sempatnya mikirin tukang bangunan yang membangun rumah itu," kesal Julian.
"Hehehe...biasa aja kali, sensi amat jadi orang," sahut Valerie.
Valerie dan Julian kembali serius, mereka mulai mengintai rumah itu dibalik pohon-pohon besar. Dan tidak lama kemudian, empat orang yang Valerie dan Julian tadi pukuli datang dengan langkah gontainya.
"Bahaya, kita sudah ketahuan dan wanita yang kita tangkap kemarin sudah berhasil kabur," seru salah satu orang itu.
"Wah kacau, si Bos pasti bakalan ngamuk ini, buruan lapor sama si Bos."
Salah satu dari mereka pun menghubungi Bosnya.
"Si Bos suruh kita pindahkan mereka ke tempat lain."
"Ya sudah, ayo buruan sebelum polisi datang ke sini."
Mereka pun segera membawa para wanita muda itu dengan paksa.
"Busyet, banyak banget sanderanya," seru Valerie.
"Mereka pasti mau kabur, buruan kita selamatkan mereka," sahut Julian.
"Tunggu Panjul, apa kita tidak menunggu Komandan Alan dulu."
"Kelamaan Vale, mereka keburu kabur."
Julian langsung menodongkan pistolnya ke arah mereka.
"Jangan bergerak!" teriak Julian.
Semuanya kaget, dan orang-orang itu langsung menodongkan pistol mereka ke arah Valerie dan Julian.
"Jangan ikut campur urusan kami, pergi dari sini atau kami akan membuat kalian jadi mayat."
"Tidak semudah itu, justru kita yang akan membuat kalian menjadi bangkai di sini dan menjadi santapan hewan buas," sahut Valerie.
Dorr....
Salah satu tembakan melesat ke arah Julian tapi dengan cepat Julian menghindar, akhirnya tembakan demi tembakan saling bersahutan dan salah satu dari orang itu menggiring para sandera untuk kabur dari tempat itu.
Tembakan demi tembakan masih bersahutan dan tidak ada yang mau mengalah, hingga akhirnya rombongan Komandan Alan pun datang dan segera bersiap-siap saat mendengar suara tembakan.
"Berpencar semuanya!" teriak Komandan Alan.
Komandan Alan menghampiri mobil Julian, dan di dalamnya terlihat seorang perempuan muda. Komandan Alan mengetuk kaca mobil itu.
"Buka, saya polisi."
Widia pun perlahan membuka pintu mobilnya..
"Kamu siapa? Kenapa ada di dalam mobil Julian?"
"Aku adiknya Bang Julian, Pak."
"Terus Julian sama Valerie ke mana?"
"Mereka masuk ke dalam hutan untuk menyelamatkan para sandera, Pak."
"Ya sudah, kamu diam di sini di temani sama anak buah saya."
"Baik Pak."
Komandan Alan langsung masuk ke dalam hutan itu, tidak lama kemudian mobil Dion pun sampai. Dion keluar dari dalam mobilnya, membuat Widia menganga.
"Tampan sekali," batin Widia.
"Ke mana mereka?" tanya Dion.
"Oke."
Dion segera mengeluarkan pistolnya dan bersiap-siap masuk ke dalam hutan.
"Astaga, kenapa pria kota tampan-tampan," batin Widia.
Valerie dan Julian sedang bersembunyi di balik pohon, wajah mereka sudah dipenuhi dengan keringat.
"Sial, Panjul peluruku habis," seru Valerie.
"Punyaku juga habis," sahut Julian.
"Bagaimana ini?"
Suara tembakan terus saja menyerang Valerie dan Julian, hingga akhirnya pasukan Komandan Alan pun datang membuat Valerie dan Julian merasa tenang.
"Syukurlah Komandan Alan datang," seru Valerie.
Para penjahat itu panik dan langsung melarikan diri, Valerie dan Julian pun keluar dari persembunyiannya.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Komandan Alan.
"Tidak Komandan, kita baik-baik saja," sahut Valerie.
"Kenapa kalian bertindak gegabah, bagaimana kalau kalian sampai terbunuh," kesal Dion.
"Maaf Bos, tadi kita tidak sengaja bertemu mereka karena adikku di culik sama mereka," sahut Julian.
"Ya sudah, kita kembali biarkan Komandan Alan dan anak buahnya yang mengejar para pelaku itu," seru Dion.
"Iya, kalian kembali saja, terima kasih sudah membantu," seru Komandan Alan.
"Oke, sama-sama Komandan."
Ketiganya pun berjalan dengan santai hendak kembali ke mobil, tapi mereka tidak sadar kalau salah satu penjahat itu ada yang bersembunyi di balik semak-semak.
Dorrrr....
Suara tembakan mengejutkan ketiganya, insting Dion yang memang bagus langsung mengarahkan pistolnya ke semak-semak.
Dorr..dor..dor..
Tepat sasaran, pelaku yang hendak melarikan diri langsung terjungkal saat pahanya terkena tembakan Dion dan Komandan Alan pun langsung menangkapnya.
Sedangkan Valerie tersungkur ke tanah dengan posisi telungkup karena punggungnya terkena tembakan.
"Val, bangun Val!" teriak Julian panik.
Dion langsung menghampiri Valerie dan mengangkat tubuh Valerie menuju mobilnya.
"Bos, aku bawa mobil aku sendiri soalnya di sana ada adik aku," seru Julian.
"Baiklah."
Dion dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit, keringat sudah membasahi wajah Valerie bahkan kesadarannya pun mulai menurun.
"Bertahanlah Vale, kamu wanita kuat aku yakin kamu bisa bertahan," seru Dion panik.
Tidak lama kemudian, mobil Dion pun sampai di rumah sakit begitu pun dengan mobil Julian.
Dion langsung mengangkat tubuh Valerie yang saat ini sudah tidak sadarkan diri, Dokter dan perawat sudah membawa Valerie ke ruangan operasi.
Dion, Julian, dan Widia menunggu di kursi tunggu yang berada di depan ruangan operasi. Dion dengan cepat menghubungi kedua orangtuanya mengenai kejadian yang menimpa Valerie.
Tentu saja mereka panik dan segera pergi ke rumah sakit. Dion dan Julian tampak khawatir dan cemas, bahkan Dion tidak bisa diam, dia terus saja mondar-mandir di depan ruang operasi Valerie.
Sementara itu, Valerie saat ini sedang menjalani operasi, dalam mimpinya Valerie bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Vale, kamu adalah anak yang kuat, bertahanlah karena kamu harus menemukan orang-orang yang sudah membuat kamu menjadi anak yatim piatu, balaskan dendammu kepada mereka," seru Papa Valerie.
"Mereka ada di sekelilingmu Nak, hati-hatilah. Mama dan Papa sangat menyayangimu," seru Mama Valerie.
Mama dan Papa Valerie mencium Valerie bersamaan dengan Valerie membuka matanya.
"Ma-ma, Pa-pa," lirih Valerie.
"Vale, kamu sudah sadar," seru Dion senang.
Ternyata Valerie sudah berhasil di operasi, pelurunya pun sudah berhasil di ambil. Namun Valerie belum sadar-sadar juga, hingga akhirnya semua bahagia melihat Valerie membuka matanya.
"Vale, aku khawatir banget sama kamu," seru Julian dengan mengusap sudut matanya yang berair.
"Syukurlah kamu sadar, sayang," seru Mami Ayu.
Valerie memperhatikan setiap orang yang ada di sana, kemudian Valerie pun tampak tersenyum walaupun hanya senyum samar.