
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Keesokan harinya....
Seperti biasa semuanya berkumpul untuk sarapan bersama.
"Bagaimana dengan Rosa dan Doni, apa mereka sudah ditemukan?" tanya Mami Ayu.
"Belum, rencananya sekarang kami akan mencarinya," sahut Valerie.
"Oh iya, ngomong-ngomong Jesika ke mana Mami? Kok gak kelihatan?" tanya Dion.
"Tadi malam dia di jemput sama Papanya, soalnya Mamanya tiba-tiba sakit dan dibawa ke rumah sakit."
"Oh."
"Baguslah," celetuk Valerie dengan polos.
"Apa?" tanya Dion.
"Ah, tidak apa-apa barusan aku gak ngomong apa-apa kok," sahut Valerie dengan cengirannya.
Tidak lama kemudian, Mrs.Paula dan Mr.Charles pun menghampiri dan bergabung.
"Pagi semuanya!" sapa Mr.Charles.
"Pagi!"
"Bagaimana, apa kedua teman kalian sudah ditemukan?" tanya Mrs.Paula.
"Belum, dan rencananya hari ini kami akan lapor ke polisi dan kami yakin hari ini si pelaku akan tertangkap," sahut Papi Lion dengan tatapan tajamnya.
Wajah Paula dan Charles sedikit pucat dan itu membuat Papi Lion semakin yakin kalau mereka adalah pelakunya.
Setelah selesai sarapan, Paula dan Charles pun pamit untuk pulang ke rumahnya dan keempat orang yang terdiri dari Papi Lion, Dion, Valerie, dan Julian sudah siap-siap untuk mengikuti mereka.
"Kalian semua harus berjaga-jaga, soalnya kami mencurigai kalau Paula dan Charles adalah pelakunya, jadi di sini tetap waspada dan jangan sampai ada yang lengah," seru Dion.
"Baik Bos," sahut semuanya serempak.
"Kalian hati-hati, ya," seru Mama Ayu.
"Iya Mi, do'akan saja kami selamat dan bisa menangkap si pelaku," sahut Dion.
"Valerie hati-hati ya, sayang."
"Iya tante, pasti."
Keempatnya pun segera masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah mereka sewa, Julian segera menancap gasnya supaya tidak ketinggalan jejak.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jaman, akhirnya Paula dan Charles pun sampai di sebuah rumah yang berada jauh dari pemukiman warga, rumah itu ada di sebuah pantai dan berada di pinggir tebing.
"Gila, rumah mereka benar-benar jauh dari mana-mana, pantas saja Polisi tidak menemukan jejak mereka," seru Julian.
"Kenapa ruang bawah tanah yang ada di penginapan gak bisa ditemukan oleh polisi ya? Padahal kalau Polisi itu bawa anjing pelacak, bisa langsung ketahuan itu," sambung Valerie.
"Tidak, soalnya ruangan bawah tanah itu kedap suara dan juga kedap bau, jadi anjing pelacak pun gak bakalan bisa menciumnya. Buktinya saat kita masuk ke ruangan itu, kita kan gak mencium bau apa-apa tapi di saat kita masuk ruang bawah tanah, semuanya mulai kecium," sahut Papi Lion.
"Wah kedap bau, kaya tapperware aja tuh ruangan," celetuk Valerie.
Pletaakkk...
Julian memukul kepala Valerie dengan gemasnya. "Ngapain bawa-bawa tapperware, Oneng," kesal Julian.
"Ah maaf Bos besar, barusan aku khilaf soalnya tanganku suka gatal kalau dekat-dekat sama si Vale," sahut Julian gugup.
"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita kepung rumah itu dari segala arah supaya mereka tidak kabur," seru Dion.
"Iya, dan kita juga sudah bekerja sama dengan kepolisian Thailand mungkin sebentar lagi mereka akan tiba di sini," sambung Papi Lion.
Keempatnya pun mengendap-ngendap menghampiri rumah yang didatangi Paula dan Charles itu.
Sementara itu, Paula dan Charles tampak tersenyum mengembang saat melihat dua orang yang terbaring di atas meja dengan mata yang melotot dan berderaian airmata.
Dua orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rossa dan Doni, keduanya ingin sekali berontak tapi tubuh keduanya sama sekali tidak bisa digerakan, entah apa yang sudah Paula dan Charles suntikan di tubuh keduanya sehingga keduanya lemas dan tidak bisa gerak sama sekali.
Hanya mata yang bisa digerakan, perlahan Paula dan Charles menghampiri Rossa dan Charles.
"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi daging putih mulus ini, pasti rasanya sangat nikmat," seru Paula dengan mengelus tangan Rossa.
Airmata Rossa terus saja mengalir, sungguh Rossa sudah pasrah kalau seandainya teman-temannya tidak bisa menemukan dia dan Doni.
"Iya sayang, aku juga sudah tidak sabar. Lihatlah jari-jari ini, rasanya pasti enak kalau kita buat sup," sahut Charles dengan memperhatikan jari-jari Doni.
"Kita eksekusi saja sekarang, keburu orang-orang itu menemukan kita. Soalnya aku merasa mereka sudah mulai curiga kepada kita dan kita akan merasa penasaran kalau tertangkap sama polisi tanpa bisa menikmati daging orang-orang ini terlebih dahulu," seru Paula.
"Baiklah, ambil pisau daging yang biasa kita gunakan, kamu sudah mengasahnya kan, sayang?"
"Sudah dong."
Perlahan Paula melangkahkan kakinya untuk mengambil pisau daging yang biasa mereka gunakan untuk mengeksekusi korbannya. Paula dan Charles adalah pasangan kanibal yang senang sekali memakan daging manusia.
Paula dan Charles sudah sejak lama menculik para wisatawan yang menginap di penginapannya kemudian membunuh dan memakan daging mereka.
"Astaga, mereka sungguh sangat menjijikan," batin Valerie yang saat ini sedang mengintip di balik celah rumah itu.
Paula dan Charles memegang pisau daging masing-masing dan menyeringai ke arah Rossa dan Doni, sedangkan Rossa dan Doni sudah berkeringat dingin mereka tidak bisa membayangkan kalau tubuhnya akan dimakan oleh kedua orang iblis itu.
"Sekarang kita tidak perlu membunuh mereka terlebih dahulu, karena mereka sudah aku bius jadi kita potong-potong saja tubuh mereka dalam keadaan hidup, rasanya pasti sangat menyenangkan," seru Puala.
"Benar juga, ayo kita mulai."
Rossa dan Doni sudah memejamkan matanya, dia sudah pasrah dengan keadaan. Tapi di saat pisau daging itu hendak menyentuh kulit Rossa dan Doni, Papi Lion dan Dion mendobrak pintu rumah itu membuat keduanya terkejut.
"Angkat tangan, dan jangan bergerak!" teriak Papi Lion.
"Kalian memang biadab, sudah melakukan hal menjijikan seperti ini!" bentak Dion.
Paula dan Charles hendak kabur, tapi dengan cepat Dion menembak kaki keduanya sehingga keduanya tersungkur ke lantai dan tidak lama kemudian, rombongan Polisi Thailand pun datang dan segera menangkap pasangan suami istri itu.
"Mba Rossa, Mba tidak apa-apa kan?" seru Valerie.
Rossa hanya bisa menggelengkan kepalanya, Julian segera mengangkat tubuh Rossa yang terlihat lumpuh itu dan segera membawa Rossa dan Doni ke rumah sakit.
Polisi membuka lemari es besar yang ada di dalam rumah itu dan ternyata isinya daging manusia semua, lagi-lagi Valerie mual dan segera berlari keluar dan muntah di pinggiran tebing.
Dion menghampiri Valerie dan memijat tengkuk leher Valerie.
"Cemen banget jadi orang," ledek Dion.
"Mual Bos, kalau lihat darah aku kuat tapi kalau melihat seperti itu aku terasa mual, gak kebanyang mereka memakannya," sahut Valerie.
Valerie kembali muntah-muntah...
"Sudah, jangan dibayangi terus nanti kamu muntah lagi."
Valerie sudah mulai membaik, dan menatap Dion yang ada di sampingnya itu. Dion menyeka keringat diwajah Valerie dengan tangannya sendiri.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit kasihan Rossa dan Doni."
Dion pun menggenggam tangan Valerie dan menggandeng Valerie pergi dari tempat itu, Valerie melihat tangannya yang digandeng Dion, senyumannya mengembang bahkan kalau bisa lihat, dari dada Valerie muncul bunga-bunga yang bermekaran.