THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Siapa Galang, Sebenarnya?



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Keesoakan harinya....


Valerie dan Rossa berangkat bersama, namun bedanya, Valerie menunju sekolah sedangkan Rossa langsung ke kantor.


Valerie berjalan dengan santai menuju kelas. "Bos, ke mana saja? Beberapa hari ini tidak sekolah?" tanya Roy yang datang tiba-tiba mengagetkan Valerie.


"Astaga, bikin kaget saja. Aku ada keperluan."


"Tapi kok bisa barengan sama si Julian?"


"Ah, itu mah hanya kebetulan saja," sahut Valerie santai.


Valerie dan Roy pun masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi masing-masing.


"Roy, selama aku gak sekolah, apa ada kejadian pembunuhan lagi?" tanya Valerie.


"Tidak ada."


Tidak lama kemudian, Julian pun datang dan langsung duduk di samping Valerie.


"Val, barusan aku ke rumahmu gak ada yang sahut sama sekali."


"Kamu lupa ya, aku kan nginap di rumah Mbak Rossa."


"Astaga, kenapa aku bisa lupa ya."


Tiba-tiba kepala sekolah pun masuk dengan membawa seorang guru baru.


"Selamat pagi, anak-anak!"


"Selamat pagi, Pak."


"Hari ini, Bapak membawa seorang guru baru yang akan menggantikan Bu Anti, soalnya Bu Anti mengambil cuti melahirkan jadi untuk beberapa bulan ke depan, kalian akan dibimbing oleh Pak Ismail ini."


"Loh, memangnya Bu Anti hamil ya?" bisik Julian.


"Astaga Panjul, memangnya kamu pikir selama ini perut Bu Anti buncit kena busung lapar, apa?" sahut Valerie dengan berbisik juga.


"Ya kali aja, Bu Anti lagi kembung gitu."


Valerie memukul kepala Julian dengan buku tulisnya saking gemasnya kepada Julian. Kadang-kadang Valerie merasa aneh dengan The Black Hunter, bisa-bisanya menerima orang sebego Julian.


"Kalau begitu, Bapak permisi dulu dan untuk Pak Ismail, semoga betah mengajar di sini."


"Baik Pak, terima kasih."


Kepala sekolah pun meninggalkan kelas, dan Guru baru yang bernama Ismail itu mulai memperhatikan satu persatu muridnya.


"Jul, sepertinya aku kenal sama guru itu," bisik Valerie.


"Siapa?"


Mata Valerie memperhatikan guru itu, begitu pun dengan Julian, hingga lama-kelamaan Valerie dan Julian sama-sama membelalakan matanya. Valerie dan Julian saling pandang satu sama lain.


"Bos Dion," seru keduanya bersamaan dengam suara yang pelan.


Guru baru itu langsung menoleh ke arah Valerie dan Julian, kemudian menyunggingkan senyumannya.


Ya, guru baru yang bernama Ismail itu memang Dion, dia menyamar jadi guru dengan memakai kacamata, rambut klimis, serta kumis membuat Dion tetap terlihat tampan dan gagah, namun insting Valerie dan Julian bagus bisa langsung mengetahuinya.


"Ngapain Bos Dion pakai ikut-ikutan ke sini sih?" kesal Julian.


"Entahlah, dia gak percaya kali dengan kinerja kita," sahut Valerie.


Dua buah spidol melayang ke kening Valerie dan Julian, dan hebatnya Dion bisa melemparnya tepat sasaran membuat Valerie dan Julian meringis.


"Saya, paling tidak suka saat proses belajar ada yang ngobrol!" tegas Dion.


"Ma-maaf Bos," sahut Julian dengan spontan.


Semua siswa menoleh ke arah Julian karena memanggil guru baru mereka dengan sebutan Bos, sedangkan Dion sudah menatap tajam ke arah Julian.


Julian merasa salah ucap, hingga akhirnya Julian pun menundukan kepalanya.


Proses belajar mengajar pun berjalan, Valerie dan Julian tampak takjub melihat keahlian Dion yang jago dalam segala hal, bahkan saat ini Dion sangat pintar dalam menyamar menjadi Guru.


***


Beberapa jam kemudian, bel istirahat pun berbunyi seketika semua anak-anak berhamburan ke kantin.


"Bos, ayo kita ke kantin," seru Roy.


"Kamu pergi duluan saja, nanti aku nyusul," sahut Valerie.


"Baiklah."


Tinggalah di kelas itu Valerie, Julian, dan Dion.


"Bos, hebat banget bisa menyamar jadi Guru," puji Julian.


"Bos, tidak percaya ya dengan kinerja kita? Makanya Bos masuk sendiri ke sekolahan ini?" seru Valerie.


"Iya, kinerja kalian sangat lamban sementara korban terus saja berjatuhan. Kalian mau semua wanita di kota ini habis menjadi korban?" sentak Dion.


"Astagfirullah, amit-amit Bos, jangan sampai seperti itu. Kita juga lagi berusaha ini," sahut Valerie.


"Sudah sana, kalian makan dulu."


"Baik Bos."


Valerie dan Julian pun akhirnya pergi menuju kantin, Dion pun ikut keluar. Dion berjalan dengan gagahnya membuat semua mata para siswi perempuan tidak berkedip.


Tiba-tiba, Dion menghentikan langkahnya, Dion melihat seorang siswi sedang duduk membaca buku di depan toilet. Dion terus memperhatikan siswi itu, hingga instingnya menangkap seseorang yang sedang mengintip di balik dinding.


Dion sengaja tidak menoleh, karena takut si pelaku curiga padahal Dion adalah orang yang sangat peka terhadap kepribadian orang walaupun Dion tidak pernah bertemu sebelumnya, dia bisa tahu orang yang jahat dan tidak.


Sudut bibir Dion terangkat. "Kena kamu sekarang? Dasar, kedua orang itu tidak berguna, pelaku semudah ini tidak mereka temukan," batin Dion.


Dion pun menghampiri siswi yang sedang asyik membaca buku itu.


"Dek, sebaiknya kamu baca buku di kelas saja jangan di sini," seru Dion.


"Ah, baik Pak."


Siswi itu pun menurut dan pergi dari sana, Dion melihat dari sudut matanya kalau si pelaku sudah pergi. Dion pun melanjutkan langkahnya.


Dion bukannya tidak mau langsung menangkap si pelaku, tapi Dion juga perlu bukti untuk menguatkan kejahatannya. Mungkin bagi Dion, tanpa bukti pun dia sudah bisa tahu kalau itu pelakunya tapi berbeda dengan Polisi, yang harus ada bukti untuk menangkap pelaku.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Valerie kali ini pulang sendirian menggunakan gojeg karena Julian tidak bisa mengantarkannya pulang. Sesampainya di depan rumahnya, Valerie melihat tetangga barunya sedang mengotak-ngatik motornya.


"Tumben itu orang menampakan diri," batin Valerie.


Di saat Valerie masih terdiam, tiba-tiba orang itu menghampiri Valerie.


"Nona, maaf ya, kemarin aku bersikap kasar kepadamu."


"Ah, iya tidak apa-apa."


"Kenalkan, nama aku Galang."


Pria bernama Galang itu mengulurkan tangannya ke arah Valerie, awalnya Valerie ragu tapi akhirnya Valerie pun membalas uluran tangan Galang.


"Valerie."


Tatapan Valerie mengarah ke kaki Galang yang saat ini memakai perban karena kebetulan Galang hanya memakai celana pendek.


"Aku ingat, waktu itu aku menembak kaki si pelaku bagian kanan, dan tinggi badannya pun sama seperti dia, apa mungkin si Galang ini pelakunya?" batin Valerie dengan terus memperhatikan Galang.


Galang tahu kalau Valerie dari tadi memperhatikan kakinya.


"Kemarin aku mengalami kecelakaan, aku jatuh dari motor dan kaki aku mengenai bebatuan yang tajam, tuh motor aku sedang aku perbaiki," seru Galang.


Valerie langsung menoleh ke arah motor Galang, Valerie memperhatikan motor itu tapi ternyata motornya berbeda dengan motor yang kemarin pelaku pakai.


"Motornya tidak sama," lirih Valerie.


"Memangnya motor aku sama dengan siapa?" tanya Galang yang mendengar ucapan Valerie.


"Ah, maaf tidak apa-apa kok, ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu."


"Iya, silakan."


Valerie pun segera masuk ke dalam rumahnya, walaupun Galang bersikap manis kepadanya tapi entah kenapa, Valerie berpikir kalau itu hanya kepura-puraan saja.


Sedangkan Galang, melihat kepergian Valerie dengan senyuman yang penuh dengan misteri.