
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam, dan Dion pun meminta izin untuk mengantarkan Valerie pulang.
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali. Valerie tampak mengotak-ngatik ponselnya dan terlihat sangat kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Eh, ini Bos, si Panjul dari tadi kirim pesan unfaedah mulu, bikin kesal tuh orang," sahut Valerie.
"Panjul? Siapa dia?"
"Maksud aku Julian Bos, aku biasa panggil dia dengan sebutan Panjul."
"Oh...kamu pacaran ya, sama Julian? Soalnya aku lihat kalian dekat banget."
"Idih, ogah pacaran sama si Panjul. Dia mah orangnya bukanya romantis malah bikin emosi terus, bisa-bisa aku darah tinggi kalau pacaran sama si Panjul."
"Tapi kayanya dia itu suka deh sama kamu."
"Ah masa sih Bos? Mana ada suka, ngehina mulu. Aku itu sama si Panjul hanya sebatas bestie gak lebih, kita itu kalau pacaran gak cocok gak bakalan benar ke depannya."
Dion sedikit menyunggingkan senyumannya, entah kenapa ada rasa lega di hati Dion saat mendengar kalau Valerie dan Julian tidak ada hubungan apa-apa.
Tidak lama kemudian, mobil Dion pun sampai di depan rumah Valerie.
"Terima kasih Bos untuk malam ini, kalau Bos butuh bantuanku lagi jangan segan-segan, pasti aku akan membantu Bos, tapi itu juga kalau aku mampu dan bisa," seru Valerie nyengir.
"Oke."
Valerie pun segera masuk ke dalam rumahnya, dan Dion pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Valerie.
***
Keesoakan harinya...
Hari minggu seperti ini memang asyiknya menjadi kaum rebahan, begitu pula dengan Valerie, tidur semalam begitu sangat nyenyak membuat pagi ini Valerie begitu segar dan semangat.
"Jogging ah, sepertinya aku sudah lama tidak jogging," gumam Valerie.
Valerie pun segera mengganti baju dengan setelan jogging, kemudian dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, tidak lupa dia menempelkan earphone di telinganya.
Valerie mulai keluar dari rumahnya, dan mulai berjogging ria. Senyuman tidak pernah luntur dari wajah cantiknya, sungguh kejadian tadi malam membuat hati Valerie berbunga-bunga.
"Ya ampun menikah dengan Bos Dion, membayangkannya saja aku sudah malu," gumam Valerie dengan memegang wajahnya sendiri.
Buggg....
Valerie menabrak seseorang...
"Mang Udin, maaf Mang, aku gak sengaja," seru Valerie.
Mang Udin melongo, dia tidak mengenal dengan Valerie karena penampilan Valerie di sekolah memakai kacamata dan juga t*i lalat palsu membuat Valerie seperti siswi culun.
"Neng teh siapa? Kenapa kenal sama Mang Udin?" tanya Mang Udin.
Saat ini Mang Udin sedang jualan bubur ayam, Mang Udin memang memang mempunyai kerja sampingan. Di saat libur sekolah, Mang Udin akan berjualan bubur ayam.
Valerie tersentak, Valerie baru ingat kalau penampilannya saat ini berbeda dengan penampilan dia di sekolah.
"Ah, maaf tadi aku hanya asal nyebut nama saja," sahut Valerie dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi nama saya memang Udin, Neng."
"Berarti kebetulan banget ya, oh iya, aku mau buburnya dong Mang," seru Valerie mengalihkan pembicaraan.
"Boleh Neng."
Valerie pun langsung duduk di kursi plastik yang sudah disediakan, Mang Udin meracik bubur untuk Valerie.
"Ini Neng, buburnya."
"Terima kasih, Mang."
Mang Udin mencari-cari air mineral dan ternyata airnya sudah habis.
"Neng, Mang Udin beli air minum dulu ya? Soalnya air minumnya habis."
"Oke Mang."
Mang Udin pun pergi menuju kios di sebrang jalan, sedangkan Valerie dengan santainya melahap bubur ayam buatan Mang Udin itu. Disela-sela Valerie menikmati bubur ayamnya, Valerie tidak sengaja melihat sebuah topi jatuh dari bagian atas gerobak.
"Kenapa Mang Udin punya topi ini?" batin Valerie.
Melihat dari kejauhan Mang Udin berjalan, dengan cepat Valerie pun menyimpan kembali topi itu lalu Valerie duduk dan mulai melahap buburnya lagi.
"Ini minumnya Neng."
"Iya, terima kasih Mang."
Valerie pun segera menyelesaikan makannya dan segera pergi dari tempat itu, tapi Valerie tidak pulang, dia bersembunyi di balik pepohonan dan mengintai Mang Udin.
Valerie akan mengikuti Mang Udin, karena Valerie yakin, Mang Udin ada hubungannya dengan pelaku pembunuhan dan pemerkosaan itu.
"Kalau dipikir-pikir, Mang Udin adalah orang pertama yang selalu menemukan korban di gudang belakang. Ah, sial, kenapa aku tidak curiga sama Mang Udin," gumam Valerie.
Cukup lama Valerie menunggu Mang Udin berjualan, hingga akhirnya Mang Udin pun pulang menuju rumahnya. Valerie terus saja mengikuti Mang Udin secara diam-diam, hingga Valerie pun mengerutkan keningnya.
"Sepertinya aku pernah ke tempat ini deh," batin Valerie.
Mang Udin masuk ke sebuah gang kecil yang hanya cukup untuk gerobaknya saja, hingga Mang Udin pun sampai di sebuah rumah sederhana yang jauh dari tetangga.
Mang Udin pun masuk ke dalam rumahnya, dan Valerie mulai mengendap-ngendap menghampiri rumah itu. Valerie mengintip di balik celah dinding yang terbuat dari bambu itu.
Mang Udin mengambilkan makanan untuk seseorang yang terbaring di atas tempat tidur tidur itu dalam keadaan di pasung. Valerie menutup mulutnya dan membelalakan matanya.
"Bukanya itu laki-laki yang bersama Galang? Ada hubungan apa laki-laki itu dengan Mang Udin?" batin Valerie.
Valerie terus saja mengintai keduanya dan menajamkan pendengarannya.
"Gilang, Kakakmu sekarang sudah ditangkap dan dipenjara, Ayah yakin, pasti kita juga akan segera ketangkap," seru Mang Udin.
"Apa? Ayah?" pekik Valerie tanpa sadar.
Valerie langsung menutup mulutnya tapi sayang Mang Udin dan Gilang sudah mendengarnya.
"Ayah, buka pasung aku," seru Gilang.
"Tapi Gilang---"
"Aku bilang, buka pasung aku! Sudah cukup kalian memasung aku dan sudah cukup kalian membantu membalaskan dendamku, tapi kali ini aku ingin membalaskan semua dendamku dengan tanganku sendiri," seru Gilang dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah."
Mang Udin mulai membuka pasungan Gilang, Galang dan Gilang adalah Kakak beradik dan merupakan anak Mang Udin.
Gilang mulai bangkit dari ranjang itu dan perlahan melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Valerie mengintip. Valerie mulai panik, dia hendak meninggalkan tempat itu, tapi sayangnya Gilang dengan cepat bisa menemukan Valerie dan menarik tangan Valerie.
"Kamu mau ke mana cantik? Kamu datang ke sini pasti kamu dengan senang hati akan menyerahkan diri kamu sendiri," seru Gilang dengan seringainya.
Mang Udin menyusul dan tampak terkejut. "Bukanya kamu gadis yang tadi membeli buburku?" seru Mang Udin.
"Ternyata kalian, manusia-manusia biadab itu, aku tidak menyangka kalau Mang Udin pelaku utama di kasus ini," seru Valerie dengan senyuman sinisnya.
"Jangan banyak bicara, ayo ikut!" bentak Gilang.
Valerie menghentakan tangannya dan dengan sekali hentakan tangan Valerie terlepas dan Valerie langsung menendang Gilang sampai Gilang terhunyung ke belakang.
"Kurang ajar, kamu berani sekali melawan!" teriak Mang Udin.
Mang Udin berlari menyerang Valerie tapi Mang Udin bukanlah tandingan Valerie, bahkan Mang Udin langsung terjatuh dengan hidung yang mengeluarkan darah.
"Ayah!"
Gilang kembali menyerang Valerie dan dengan sigap Valerie melawannya, perkelahian pun tak terhindarkan hingga Gilang pun mengeluarkan pisau lipat yang selalu dia bawa di pinggangnya.
"Semua wanita harus musnah dari muka bumi ini, aku benci wanita!" pekik Gilang.
Gilang menyerang Valerie dengan menggunakan pisau lipat itu, Valerie sempat kewalahan hingga akhirnya Dion pun datang. Entah dari mana Dion tahu keberadaan Valerie yang jelas kedatangan Dion membuat semuanya terkejut.
Valerie yang masih terkejut dengan kedatangan Dion, tidak sadar dan Gilang memanfaatkan situasi. Gilang menarik Valerie dan menyimpan pisau lipat itu di leher Valerie.
"Jangan mendekat," seru Gilang.
Mang Udin berusaha bangkit dan menghampiri Gilang, sedangkan Dion masih santai bahkan kedua tangannya dia masukan ke dalam saku.
"Mau menyerahkan diri dengan suka rela atau mau merasakan kesakitan dulu?" seru Dion.
"Jangan mimpi, aku tidak ada akan menyerahkan diriku kepada kalian sebelum aku bisa memusnahkan semua wanita di dunia ini," sahut Gilang dengan menekan pisau itu ke kulit leher Valerie.
"Dasar gila," cibir Dion.
Gilang terus saja menyeret Valerie mundur, sedangkan Dion masih menatap mereka dengan tatapan santai, seolah-olah itu bukan hal yang membahayakan.
"Si Bos kok malah diam saja sih? Bukanya nolongin aku," batin Valerie.
Gilang terus saja membawa Valerie ke dalam rumahnya dan Mang Udin pun mengikutinya.