THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Menanti Keajaiban



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Malam itu Dion mengemudikan mobilnya seperti kesurupan, untung saja jalanan sepi dan lengang jadi Dion bisa leluasa menancapkan gas mobilnya.


"Vale, bertahanlah aku mohon!" teriak Dion dengan deraian airmata.


Tidak jauh berbeda dengan Dion, Julian yang saat ini memangku kepala Valerie di jok belakang bahkan tidak bisa menghentikan airmatanya yang terus mengalir.


Julian melihat wajah Valerie yang penuh dengan darah dan sangat mengenaskan.


"Bangun Vale, bangun. Siapa yang akan ngajak aku berantem lagi, siapa yang akan memukulku kalau aku melakukan kesalahan, bangun Vale," seru Julian.


Siapa bilang yang bisa menangis hanya wanita saja, buktinya para pria pun bisa menangis dan merasakan sakit halnya wanita karena mereka para pria pun memiliki perasaan. Hanya bedanya, kalau pria lebih bisa menahan perasaannya dibandingkan wanita.


Hingga setengah jam berlalu, mobil Dion sampai di rumah sakit. Dion cepat-cepat turun dan mengangkat tubuh lemah Valerie.


"Dokter! Dokter! Tolong!" teriak Papi Lion.


Perawat dan Dokter jaga pun langsung datang setelah mendengar teriakan di tengah malam itu. Mereka dengan sigap membawa Valerie untuk mendapatkan penanganan.


Ketiganya menunggu Valerie dengan perasaan tidak tenang. Sementara itu, Petra masih terus mengikuti mobil Jesika.


"Mau kabur ke mana kamu, Nona?" gumam Petra dengan senyumannya.


Petra sudah terlalu jenuh, akhirnya Petra pun menyalip mobil Jesika membuat Jesika terkejut dan menginjak rem dengan tiba-tiba.


"Astaga, siapa itu?" gumam Jesika.


Petra pun keluar dari dalam mobilnya dengan gaya playboynya, kemudian duduk di kap mobil Jesika dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Petra, bukanya kamu Petra ya? Sepupunya Dion?" tanya Jesika.


"Ternyata kamu masih ingat denganku," sahut Petra dengan santainya.


"Kamu mau apa? Cepat pergi!" teriak Jesika.


"Ya ampun, galak benar kamu. Jangan galak-galak, nanti cepat tua loh."


Jesika semakin kesal kepada Petra yang hanya membuang-buang waktunya saja.


"Turun dari atas mobilku!" teriak Jesika.


Petra sudah sangat malas dengan basa-basinya, hingga akhirnya Petra membuka pintu mobil Jesika dan menarik Jesika dengan paksa.


"Kamu mau apa, Petra!" bentak Jesika.


"Sudahlah jangan banyak bertanya, aku malas menjawab pertanyaanmu."


Petra pun memasukan Jesika ke dalam mobilnya dengan paksa dan Petra segera membawa Jesika pergi dari sana.


"Hentikan mobilnya Petra, atau aku akan lompat dari dalam mobil ini," ancam Jesika.


Petra dengan sigap mengunci mobilnya sehingga Jesika tidak bisa berbuat apa-apa, dia terus saja memberontak tapi Petra hanya bisa geleng-geleng kepalanya.


"Sudah diam, mau teriak-teriak pun percuma, ini sudah tengah malam tidak ada yang akan menolongmu, bahkan walaupun ada yang mendengarnya pasti mereka akan takut karena mereka akan mengira kamu setan. Jadi, dari pada tenggorokanmu sakit, lebih baik kamu diam dan duduk manis saja."


"Kenapa kamu menculiku? Apa yang mau kamu lakukan kepadaku?" seru Jesika.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, aku hanya disuruh Dion untuk membawamu jadi yang akan melakukan sesuatu itu Dion bukan aku."


Jesika mulai merasa panik, sedangkan Petra hanya menyunggingkan senyumannya saat melihat wajah kepanikan Jesika. Seperti permintaan Dion, Petra membawa Jesika ke apartemen Dion yang sudah sejak lama tidak Dion tinggalin.


Butuh waktu lumayan lama, akhirnya Petra pun sampai. Petra menyeret Jesika untuk masuk ke dalam apartemen itu, Jesika terus saja berontak tapi kekuatannya masih kalah jauh dengan Petra.


Petra masuk ke dalam apartemen milik Dion, Petra langsung mengikat tangan dan kaki Jesika di kursi.


"Apa-apaan kamu Petra, dasar gila!" bentak Jesika.


Petra tidak mendengarkan ocehan Jesika, setelah selesai mengikat Jesika, dia pun menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas tempat tidur.


"Jangan berisik, aku mau tidur dulu."


"Brengsek kamu Petra, lepaskan aku kalau sampai Papaku tahu, habis riwayatmu!" teriak Jesika.


Petra pun mengotak-ngatik ponselnya untuk mengirim pesan kepada Dion, kalau Jesika sudah berada bersama dirinya. Petra tidak memperdulikan teriakan Jesika, malahan saking capeknya, Petra langsung melempar ponselnya dan pergi ke alam mimpinya.


Sementara itu di rumah sakit, ketiganya masih menunggu kabar dari Valerie. Dion tak henti-hentinya memanjatkan do'a semoga Valerie selamat.


Ponsel Dion berbunyi, dengan cepat Dion melihatnya. Setelah tahu, Jesika sudah berada di tangan Petra, Dion merasa tenang.


Di dalam tim dokter sedang berusaha menyelamatkan Valerie, kondisinya sudah sangat kritis.


"Baik Dok."


Suster pun dengan cepat segera keluar dari dalam ruangan dan berlari untuk mengambil alat pacu jantung dan itu membuat Dion, Julian, dan Papi Lion panik.


"Kenapa suster itu berlari?" seru Julian.


Tidak lama kemudian suster itu pun membawa alat pacu jantung.


"Sus, ada apa? Kenapa dengan Valerie?" tanya Dion panik.


"Maaf Mas, detak jantung pasien berhenti jadi kami harus segera melakukan tindakan, kalau begitu saya permisi masuk dulu."


Suster pun segera masuk, Dion dan Julian sangat lemas mendengar kondisi Valerie bahkan saat ini Dion sudah terduduk di lantai membuat Papi Lion memeluknya.


"Dion sudah gagal menjaga Valerie Pi, Dion gak sanggup kalau harus kehilangan Valerie," seru Dion dengan deraian airmatanya.


"Kamu jangan bicara seperti itu, berdo'alah Papi yakin Valerie akan baik-baik saja."


"Ya Allah, selamatkan Valerie kalau sampai terjadi kenapa-napa sama Valerie, aku akan merasa bersalah selama umur hidupku," batin Julian.


Sedangkan di dalam ruangan Dokter berusaha menyelamatkan Valerie.


"Satu, dua, tiga."


Deg...


"Satu, dua, tiga."


Deg...


"Sekali lagi, satu, dua, tiga."


"Sayang, bangunlah kamu adalah anak yang kuat, masa depanmu masih panjang. Terima kasih sudah menjadi anak yang kuat dan mandiri. Mama dan Papa sayang kamu, semoga kamu bahagia selalu," seru Mama Anisa dalam impiannya.


Tit..tit..tit...


Detak jantung Valerie kembali berdetak dengan normal membuat Dokter dan suster merasa lega.


"Alhamdulillah, tapi sepertinya pasien mengalami koma. Sekarang kita pindahkan ke ruangan rawat inap, tapi alat-alatnya harus tetap terpasang," seru Dokter.


"Baik Dokter."


Suster pun membuka pintu ruangan pemeriksaan itu membuat Dion, Papi Lion, dan Julian tersentak dan segera menghampiri blankar.


"Bagaimana dengan keadaan Valerie, Dok?" tanya Dion cemas.


"Alhamdulillah jantungnya sudah kembali berdetak lagi, tapi saat ini Valerie mengalami koma dan saya belum bisa memastikan sampai kapan pasien akan sadar," sahut Dokter.


Ketiganya terdiam....


"Maaf Mas, kami akan membawa pasien ke ruangan rawat inap."


"Ruangan VIP saja, Dok," seru Papi Lion.


"Baik Pak "


Suster pun segera membawa blankar itu menuju ruangan rawat inap dan diikuti oleh ketiganya.


"Kalau begitu saya permisi dulu," seru Dokter.


"Iya, terima kasih Dokter," sahut Julian.


Ketiganya menghampiri ranjang Valerie, ditatapnya Valerie yang saat ini tubuhnya penuh dengan alat-alat medis.


"Papi, pergi dulu Ion, mau kasih tahu Mamimu kalau Papi hubungi Mamimu lewat telepon, takutnya dia panik."


"Iya Pi, hati-hati."


"Jul, kamu di sini saja temani Dion."


"Baik Bos besar."


Papi Lion pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu untuk pulang, sedangkan Dion dan Julian masih setia menunggu Valerie.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘