THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Welcome Bangkok



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Akhirnya setelah melakukan perjalanan 3 jam lebih semuanya sampai di Bangkok, Thailand. Semua karyawan tampak bahagia dan antusias, begitu pun dengan Valerie.


"Akhirnya sampai juga di Bangkok, welcome Bangkok!" teriak Valerie membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Dasar norak," ledek Jesika.


"Ayo semuanya, mobil jemputan kita sudah sampai, kita akan langsung ke penginapan," seru Papi Lion.


Benar saja, sepasang suami istri sudah menunggu kedatangan rombongan Dion.


"Selamat datang di Bangkok!" seru Mrs.Paula dengan menggunakan bahasa inggris.


"Terima kasih, Nyonya."


Paula dan suaminya Mr.Charles mengalungkan kalung bunga kepada semua karyawan.


"Mari masuk, kami akan membawa kalian ke penginapan milik kami," seru Mr.Charles.


Semuanya masuk ke dalam mobil travel yang sudah disediakan oleh pasangan suami istri itu. Mrs.Paula dan Mr.Charles begitu ramah dan juga sopan, selama dalam perjalanan mereka memperkenalkan kota itu kepada semuanya.


"Ya ampun Panjul, aku gak nyangka bisa menginjakan kaki aku di Bangkok, mimpi apa aku semalam," seru Valerie dengan antusias.


"Tenang saja, kalau kamu jadi menikah dengan Bos Dion, kamu akan dibawa keliling dunia," ketus Julian.


"Benar juga ya, kamu do'akan aku ya supaya aku bisa berjodoh dengan Bos Dion."


"Daripada do'akan kamu, mendingan aku berdo'a untuk diriku sendiri."


"Yaelah, nanti aku balik do'akan kamu supaya kamu dapat wanita kaya raya dan bisa hidup sejahtera, aman, sentosa," seru Valerie.


Valerie tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya membuat Julian pun ikut tersenyum. Julian memang sebenarnya tidak bisa marah kepada Valerie walaupun hatinya kesal, tetap saja Julian tidak bisa membiarkan Valerie sendirian.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sebuah penginapan yang tempatnya lumayan jauh dari perkotaan tapi tempatnya sangat indah karena berhadapan langsung dengan pantai.


"Huawaaaa... tempatnya indah banget!" teriak Valerie.


"Iya Val, mana berhadapan langsung dengan pantai lagi," sahut Rossa.


Valerie dan Rossa jingkrak-jingkrak sembari berpegangan tangan membuat semua orang tertawa melihat tingkah keduanya.


"Mari, kita akan menunjukan kamar-kamar yang akan kalian tempati," seru Mr.Charles.


Penginapan itu lumayan besar dan juga nyaman, tapi Valerie mulai merasa ada keanehan di penginapan itu.


"Jul, kamu merasa aneh gak?" bisik Valerie.


"Aneh apanya?" sahut Julian.


"Bukanya ini penginapan terkenal ya, tapi kok sepi? Perasaan cuma kita-kita saja yang menyewa penginapan ini," seru Valerie.


"Jangan mikir yang macam-macam, mungkin ini bukan waktunya liburan makanya penginapan ini sepi," sahut Julian.


"Iya juga ya."


Dikarenakan penginapan itu sepi tidak ada pengunjung lain selain mereka, jadi semuanya dapat satu orang satu. Valerie langsung masuk ke kamarnya dan melompat ke atas tempat tidurnya.


"Ya ampun, nyaman sekali," gumamnya.


Valerie berguling-guling di tempat tidur itu saking senangnya, kemudian Valerie menuju balkon kamarnya yang langsung menyuguhkan pemandangan pantai yang sangat indah.


"Huawaaaaa....indah sekali!" teriak Valerie dengan antusiasnya.


Tiba-tiba, pintu kamar Valerie terbuka....


"Val, ayo turun waktunya makan siang!" teriak Rossa.


"Siap Mba."


Valerie pun dengan senangnya langsung keluar dari dalam kamarnya menuju bawah, karena semua orang sudah menunggunya.


"Val, sini duduk dekat tante."


"Oke."


Di saat semuanya sudah mulai melahap makanannya, Dion melirik ke arah Valerie. Dion memotong-motong steak miliknya, lalu menukarnya dengan milik Valerie.


"Itu sudah dipotong-potong, kamu tinggal makan," seru Dion.


"Terima kasih-----sayang," sahut Valerie ragu.


Semua karyawan tampak tersedak berjamaah saat mendengar Valerie menyebut Dion dengan sebutan sayang, kecuali Julian yang tetap makan pura-pura tidak mendengar.


Sementara itu, Jesika tampak mengepalkan tangannya.


"Sialan, wanita norak itu makin ngelunjak saja, awas kamu wanita kampungan," batin Jesika.


"Ya ampun, ternyata putra kita bisa bersikap manis juga ya Pi," seru Mami Ayu.


"Iyalah, kalau sikap manisnya nurun dari Papi," sahut Papi Lion.


Semuanya kembali melanjutkan makan siang mereka, setelah selesai makan mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak, sebelum nanti sore mereka bermain-main di pantai.


Valerie berjalan dengan santainya, hingga tiba-tiba Jesika menarik Valerie dan membawanya ke tempat sepi.


"Kamu semakin hari, semakin ngelunjak saja ya."


"Maksud kamu apa?" seru Valerie.


"Dion itu milik aku, dan kita akan menikah. Kamu tahu, kalau Dion dan aku itu sudah kenal sejak kecil jadi kamu jangan coba-coba merebut Dion dariku!" bentak Jesika.


"Maaf Nona, kalau memang Nona akan menikah dengan Bos Dion? Kenapa Bos Dion lebih memilih aku dibanding Nona? Terus, tante Ayu sama om Lion pun malah mendukung hubungan kami, itu tandanya mereka mengharapkan Bos Dion menikah denganku, bukan dengan Nona," sahut Valerie dengan santainya.


Valerie hendak pergi tapi Jesika yang merasa marah, kembali menarik Valerie dan menghempaskan tubuh Valerie sampai membentur dinding.


"Jangan mentang-mentang, tante Ayu dan om Lion mendukungmu, kamu jadi besar kepala. Lihat saja, Dion akan menikah denganku bukan denganmu," seru Jenika.


Jesika pun pergi meninggalkan Valerie, sementara itu Valerie hanya bisa mengusap pundaknya yang terasa sedikit sakit.


Valerie pun memilih untuk kembali ke kamarnya, tapi di saat Valerie melangkahkan kakinya, Valerie melihat ke belakang penginapan dan di sana terlihat Mrs.Paula dan Mr.Charles sedang menggotong karung yang sepertinya isinya berat.


"Mereka bawa apa?" gumam Valerie.


Valerie tidak mau ambil pusing, akhirnya Valerie pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Semuanya tampak istirahat karena mereka memang kecapean dan butuh istirahat setelah menempuh perjalanan.


***


Sore pun tiba....


Semua orang tampak berlarian ke pantai, mereka tampak bahagia bermain air dan pasir seolah-olah mereka belum pernah ke pantai. Begitu pun dengan Valerie yang tampak cantik dengan dress yang dibelikan oleh Mami Ayu.


Valerie menyipratkan air ke arah Julian. "Astaga Vale, basah tahu," kesal Julian.


"Yaelah Panjul, kalau gak mau basah, sudah sana diam di kamar jangan main ke pantai."


Valerie kembali menendang air dengan kakinya sehingga baju Julian kembali basah.


"Astaga, awas kamu Vale."


Valerie berlari dan Julian pun mengejar Valerie, keduanya saling kejar-kejaran dengan tawanya. Bahkan saat ini Julian sudah bisa menangkap Valerie dan menggendong Valerie membuat Valerie tertawa riang.


Sementara itu dari kejauhan, Dion yang memperhatikan keduanya tanpa sadar menggenggam erat ponselnya sendiri, bahkan saking kuatnya genggaman Dion membuat layar ponselnya retak.


Mami Ayu yang melihat Dion seperti itu, menyikut lengan suamninya.


"Dion kenapa?" bisik Mami Ayu.


"Lagi cemburu," sahut Papi Lion.


"Cemburu kenapa?"


"Tuh."


Papi Lion mengangkat dagunya ke arah Valerie dan Julian, dan Mami Ayu pun mengikuti arah pandang suaminya itu.


"Lah, itu kan Valerie bersama rekan kerjanya," sahut Mami Ayu.


"Iya, dan si Dion cemburu," seru Papi Lion.


Mami Ayu hanya bisa mengerutkan keningnya dan memilih menikmati kelapa mudanya, sedangkan Papi Lion tersenyum melihat kelakuan putranya itu.


"Kamu yang membuat permainan, kamu sendiri yang termakan dengan permainanmu sendiri, Dion. Makanya jangan coba bermain-main dengan hati Dion, ujung-ujungnya kamu sendiri yang akan sengsara," batin Papi Lion dengan senyumannya.


Dari awal, Papi Lion memang tahu kalau Dion hanya berpura-pura pacaran dengan Valerie tapi Papi Lion sudah terlanjur suka kepada Valerie maka dari itu, Papi Lion berusaha mendekatkan Valerie dengan Dion.