
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Semua karyawan Dion tampak bahagia bermain air.
"Ya ampun Jul, aku bahagia banget baru kali ini aku merasakan sebahagia ini," seru Valerie dengan duduk di atas pasir.
"Bahagianya kenapa? Kita kan sudah sering pergi ke pantai."
"Bedalah Panjul, ini pantainya di luar negeri bahkan kalau mau ke sini ongkosnya mahal banget."
"Bagaimana kamu gak bahagia, semuanya sudah ditanggung sama Bos besar," sindir Julian.
"Nah, itu dia yang namanya gratisan itu di mana-mana nikmatnya luar biasa," sahut Valerie.
"Dasar otak gratisan," seru Julian menoyor kepala Valerie.
Julian menatap lautan yang indah itu dengan senyuman manisnya.
"Val, sebenarnya hubungan kamu sama Bos Dion itu bagaimana?"
"Aku hanya pacar bohong-bohongannya Bos Dion, Jul."
"Tapi kok kayanya Bos besar sama istrinya sangat menyayangi kamu."
"Ya syukurlah kalau mereka menyayangiku, berarti itu tandanya kesempatanku untuk bersama Bos Dion semakin besar," seru Valerie dengan sengirannya.
Julian memukul kepala Valerie. "Percaya diri sekali kamu bisa mendapatkan hati Bos Dion, terus wanita yang selalu nempel kaya lintah itu mau di kemanakan?"
"Urusan gampang itu mah."
Julian kembali menyunggingkan senyumannya, Julian memang sejak lama menyukai Valerie tapi Julian juga ingin membuat Valerie bahagia jadi apa pun itu kebahagiaan Valerie akan menjadi kebahagiaan juga untuk Julian.
Dion yang dari tadi menahan diri untuk tidak mendekati Valerie akhirnya menyerah juga, entah kenapa Dion tidak suka melihat Valerie dekat-dekat dengan Julian. Dion pun menghampiri Valerie yang saat ini sedang tertawa bersama Julian.
"Valerie."
"Siap Bos, ada apa?" sahut Valerie dengan bangkit dari duduknya.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu, ayo ikut aku!" tegas Dion pura-pura dingin.
"Baik Bos."
Julian sudah bangkit dari duduknya, hendak mengikuti Valerie tapi Dion dengan cepat menghalanginya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Dion.
"Mau ikut, Bos."
"Kamu tidak dengar barusan aku hanya ingin bicara dengan Valerie saja."
"Ah, begitu ya Bos."
"Diam di sini jangan ikuti kita."
"Siap Bos."
Dion pun segera menarik Valerie menjauh dari kerumunan, bahkan Dion membawa Valerie ke penginapan. Sementara itu Papi Lion tampak menyunggingkan senyumannya melihat tingkah Dion.
"Akhirnya kamu gak kuat juga, kan?" batin Papi Lion dengan senyumannya.
"Dion mau ke mana?" seru Jesika.
Jesika hendak melangkahkan kakinya menyusul Dion tapi Papi Lion menghentikannya.
"Jesika, kamu mau ke mana? Sudah diam di sini temani tante Ayu, soalnya Om mau ke toilet dulu."
"Ah, iya baik Om."
Akhirnya dengan terpaksa, Jesika pun kembali duduk menemani tante Ayu.
Sementara itu, Dion membawa Valerie ke penginapan.
"Kamu mau cari mati, ya!" sentak Dion.
Valerie sampai memundurkan langkahnya sembari memegang dadanya.
"Allahuakbar, kaget Bos. Bos kenapa marah-marah begitu?" sahut Valerie.
"Kamu lupa ya dengan pekerjaan kamu? Aku sudah membayarmu mahal-mahal tapi kamu malah makan gaji buta."
"Maksud Bos apa?"
"Kamu ingat, kalau saat ini kamu sedang menjadi pacar bohong-bohonganku?"
"Iya Bos."
"Memangnya aku harus melakukan apa, Bos?" tanya Valerie polos.
Dion mengusap wajahnya kasar. "Astaga Valerie, lama-lama aku cium juga kamu," gemas Dion.
"Ya ampun Bos, kok Bos ngomongnya gitu sih? Aku kan jadi malu," sahut Valerie dengan menggoyang-goyangkan badannya salah tingkah.
Dion semakin kesal dengan tingkah Valerie, membuat Dion mendorong tubuh Valerie sampai membentur dinding dan itu lagi-lagi membuat wajah Valerie memerah.
"Dengarkan aku, di sini ada kedua orangtuaku jadi kamu harus bisa jaga perasaan mereka jangan bermesraan dengan pria lain di hadapan mereka nanti mereka salah paham."
"Kenapa? Bos cemburu ya," goda Valerie dengan menunjuk wajah Dion.
Seketika wajah Dion memerah dan segera menjauh dari Valerie, kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Valerie.
"Jangan sembarangan kalau ngomong, aku hanya tidak mau akting kita ketahuan jadi aku minta kamu harus menjauhi pria lain dan bersikap mesra kepadaku," seru Dion dengan menahan senyumannya.
"Bagaimana caranya Bos, Jesika kan selalu nempel kepadamu, lagipula aku takut kalau bersikap mesra sama Bos, nanti Bos marah lagi dan memotong gajiku," keluh Valerie.
"Tidak akan, mulai sekarang kamu harus lebih agresif lagi jangan sungkan-sungkan."
"Berarti aku boleh pegang-pegang Bos?"
"Boleh."
"Kalau peluk?"
"Boleh."
"Kalau cium?"
"Boleh."
"Hah...serius Bos? Aku boleh cium Bos?" seru Valerie antusias.
"Ah, maksud aku ciumnya hanya di pipi dan kening saja gak boleh di bagian lain," sahut Dion gugup.
Sebenarnya jantung Dion sudah berdetak tak karuan, Valerie sudah berhasil membuat hatinya porak-poranda oleh kelakuannya.
"Asyik, okelah kalau begitu, aku bakalan melakukan semuanya tapi Bos janji jangan marah atau pun potong gaji aku?"
"Iya."
Saking senangnya, Valerie sampai memeluk Dion dari belakang dan itu membuat Dion melotot.
"Astaga Valerie, kenapa kamu melakukannya tanpa aba-aba, jantungku bisa lompat dari tempatnya kalau begini," batin Dion.
Dion memukul pelan tangan Valerie yang melingkar di perutnya. "Lepas, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, di sini sepi tidak ada siapa-siapa jadi aktingnya belum diperbolehkan!" tegas Dion.
"Eh, maaf Bos aku khilaf," sahut Valerie cengengesan.
"Ya sudah, sekarang kita kembali bergabung dengan yang lainnya."
Dion pun mulai melangkahkan kakinya, tapi baru bebera langkah, Dion dan Valerie dikejutkan dengan suara benda jatuh dari arah belakang penginapan.
Dion dan Valerie saling pandang. "Suara apa itu?"
"Aku juga gak tahu, Bos."
Dion mengurungkan niatnya dan beralih menuju halaman belakang, disusul oleh Valerie. Keduanya tampak mengendap-ngendap, hingga Dion dan Valerie mendengar suara teriakan seorang wanita, tapi teriakan itu hanya sebentar dan langsung menghilang.
"Itu suara teriakan siapa, Bos?"
"Aku juga tidak tahu."
Keduanya mulai menyusuri setiap ruangan, hingga keduanya sampai di sebuah pintu yang bertuliskan "DILARANG MASUK".
"Kayanya suara itu dari sini, Bos."
Baru saja Dion hendak membuka pintu itu, ternyata pintunya terdorong dari dalam. Ternyata yang keluar itu Mrs.Paula dan Mr.Charles.
Keduanya tampak terkejut melihat kedatangan Valerie dan Dion tapi dengan sekejap keduanya kembali tersenyum ramah kepada Valerie dan Dion.
"Ada apa? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Mr.Charles dengan menggunakan bahasa inggris.
"Ah tidak apa-apa, tadi kita mendengar ada teriakan seorang wanita dari dalam ruangan ini dan kita penasaran, takutnya ada sesuatu yang sudah terjadi," sahut Dion.
"Tidak apa-apa, tadi yang berteriak itu saya karena melihat ada tikus lewat, saya sangat takut tikus," seru Mrs.Paula.
"Oh begitu ya."
"Iya, kalian jangan khawatir tidak terjadi apa-apa, jadi kalian sudah bisa kembali lagi menikmati liburan kalian. Oh iya, satu lagi tolong kalian jangan masuk ke tempat ini soalnya di dalamnya banyak debu banget dan barang-barang bekas, takutnya kalian kalau masuk tertimpa sesuatu," seru Mr.Charles.
"Baiklah, maafkan kita kalau begitu kita pergi dulu."
Dion pun segera pergi dan Valerie pun ikut menyusul Dion, tapi Valerie sempat menoleh ke belakang dan terlihat Mrs.Paula dan Mr.Charles tersenyum ramah dan melambaikan tangannya.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan mereka?" batin Valerie.
Valerie pun membalas senyuman mereka sampai Valerie pun kembali berlari dan menyusul Dion.