
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Tiba-tiba, Valerie bertekuk lutut di hadapan Dion dengan mengulurkan buket bunga yang diberikan oleh Julian membuat semua orang melotot.
"Bos Dion, maukah kamu jadi suamiku?" seru Valerie.
Julian menepuk jidatnya sendiri, dengan kesalnya Julian mengambil buket bunga itu dan memukul kepala Valerie dengan buket bunga juga.
"Astaga, jadi cewek gak ada harganya sama sekali. Gak sabaran banget jadi cewek, ayo berdiri!" sentak Julian.
Valerie tampak cemberut dengan sentakan Julian.
"Aku bilang, berdiri."
Valerie pun akhirnya berdiri, dan Julian langsung menarik tangan Valerie dan membawanya ke pojokan.
"Malu-maluin aja kamu," kesal Julian.
"Habisnya lama kalau nungguin si Bos ungkapin perasaannya, jadi lebih baik aku aja yang duluan melamar dia," keluh Valerie.
Lagi-lagi Julian memukul kepala Valerie dengan bunganya itu.
"Kamu bisa sabar tidak? Walaupun si Bos Dion orangnya kaku kaya kanebo kering, tapi setidaknya kamu jaga image dulu kek. Pura-pura dingin biar si Bos Dion ngejar-ngejar kamu."
"Kalau si Bos gak ngejar-ngejar aku bagaimana?"
Julian mengepalkan tangannya saking kesalnya kepada Valerie, hingga obrolan keduanya terhenti saat sebuah spanduk terjuntai dari atas dengan tulisan yang terukir indah di atasnya.
"VALERIE WHITNEY, WILL YOU MARRY ME"
Valerie tampak membelalakan matanya saat melihat itu semua. Perlahan Dion menghampiri Valerie dengan membawa bunga dan satu kota cincin yang dia genggam di tangannya.
Dion langsung berlutut di hadapan Valerie dan memberikan bunga indah itu.
"Valerie, maukah kamu menikah denganku?" seru Dion.
"Mau..mau..aku mau banget," sahut Valerie antusias.
"Astaga si Valerie, lama-lama aku lelepin juga tuh kepala ke kolam biar otaknya agak benar. Wanita pada umumnya kalau dilamar itu, pura-pura diam dan mikir dulu supaya membuat si pria penasaran dengan jawabannya, ini mah boro-boro langsung jawab aja tanpa basa-basi," batin Julian dengan geleng-geleng kepalanya.
Dion tersenyum dan langsung menyematkan cincin berlian indah di jari manis Valerie membuat Valerie bahagia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dion pun bangkit, sedangkan Valerie memperhatikan jarinya yang sekarang sudah ada cincinnya.
Semua orang bertepuk tangan melihat Dion melamar Valerie, Valerie tampak bahagia bahkan saat ini Valerie sudah meneteskan airmatanya dengan tawa yang masih terpatri di wajah cantiknya.
"Panjul, lihat akhirnya aku dilamar juga dan akan segera menikah," seru Valerie tersenyum dengan airmata yang terus saja berjatuhan dari matanya Valerie.
Valerie tampak antusias dan bahagia tapi airmata Valerie terus saja berjatuhan tanpa henti, entah kenapa semua yang melihat kebahagiaan Valerie menjadi terharu.
Selama ini mereka memang mengenal Valerie sebagai sosok yang konyol dan ceria tapi mereka tidak tahu kalau Valerie selama ini merasa kesepian dan menutupi kesedihannya itu dengan bersikap konyol.
Dion yang melihat Valerie seperti itu merasa tidak tega, akhirnya Dion menarik Valerie ke dalam pelukannya. Valerie yang awalnya jingkrak-jingkrak akhirnya terdiam juga.
"Menangislah, dan kamu harus berjanji kalau ini adalah tangisan terakhirmu. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi, sekarang saatnya kamu bahagia dan songsong masa depanmu dengan kebahagiaan," seru Dion.
Valerie terdiam, airmatanya terus saja mengalir. Entah kenapa Valerie begitu sangat bahagia, dan Valerie tidak akan sendiri lagi karena mulai sekarang sudah ada orang yang akan selalu ada di sampingnya dan menemaninya.
Semua orang tampak terharu, bahkan Rossa sudah ikut meneteskan airmatanya. Dion melepaskan pelukannya dan menatap Valerie yang saat ini masih meneteskan airmatanya.
"Hapus airmatamu dan berhenti menangis, kalau tidak berhenti menangis, aku akan batalkan pernikahan ini," ancam Dion.
Seketika Valerie menghapus airmatanya dan itu membuat Dion tersenyum.
"Sudah Bos, aku sudah tidak menangis lagi jadi aku mohon jangan batalkan pernikahannya ya," seru Valerie.
Dion tertawa dan mengacak-ngacak rambut Valerie saking gemasnya, lalu Dion kembali memeluk Valerie dan semua pun bertepuk tangan. Mereka ikut bahagia dengan kebahagiaan Dion dan Valerie.
"Kenapa tadi kamu nangis?" tanya Dion sembari menatap wajah Valerie.
"Aku terharu Bos sekaligus aneh."
"Aneh, aneh kenapa?"
"Coba Bos pikir, biasanya kalau pasangan yang mau nikah itu kan, pacaran dulu lama terus tunangan habis tunangan baru lamaran dan menikah. Kalau kita, pacaran tidak, tunangan apalagi, mana ada pasangan seperti kita feeting baju pengantin dulu, baru si prianya melamar. Mana ada pasangan yang sudah merencanakan menikah, tapi belum tahu bagaimana perasaan pasangannya masing-masing."
"Ya gak apa-apa, kan, biar beda daripada yang lain," sahut Dion.
"Bos, boleh aku tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa?"
"Sebenarnya bagaimana perasaan Bos sama aku? Jangan sampai Bos menikah denganku karena terpaksa, aku gak mau ya, habis nikah Bos bersikap dingin sama aku. Jadi, kalau Bos merasa terpaksa dan tidak mencintai aku, lebih baik bilang dari sekarang biar aku tidak berharap terlalu besar kepada Bos."
Dion menatap Valerie dengan sangat dalam. "Apa semua ini tidak bisa membuktikan tentang perasaanku?"
Valerie hanya terdiam, hingga akhirnya perlahan Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Valerie. Valerie sudah sangat gugup, bahkan Valerie sudah memejamkan matanya tapi di saat bibir keduanya hampir saja menempel, tiba-tiba pintu ruangan Dion terbuka membuat Dion terkejut dan tanpa sadar bangkit dari duduknya dan otomatis Valerie terjatuh dengan pa*tat yang mendarat duluan di lantai.
"Aw....."
"Astaga Vale, maaf-maaf," seru Dion panik.
"Bos, jahat banget," keluh Valerie.
Sedangkan Papi Lion yang baru saja masuk hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Apa-apaan kamu Dion, kasihan Valerie sampai terjatuh kaya gitu."
"Papi yang apa-apaan, masuk ke ruangan Dion tanpa ketuk pintu dulu, Dion kan, jadi kaget," kesal Dion.
"Lah, sejak kapan Papi kalau mau masuk ke ruanganmu harus ketuk pintu dulu? Lagipula ngapain kamu mesti kaget, memangnya tadi kalian mau ngapain?" seru Papi Lion dengan memicingkan matanya.
Dion dan Valerie saling pandang satu sama lain, dan seketika wajah keduanya memerah.
"Ah, Bos, Om, Vale ke luar dulu ya, Vale lupa ada sesuatu yang harus Vale urus," seru Valerie gugup.
Valerie pun dengan cepat keluar dari ruangan Dion, sungguh dia sangat malu karena kepergok calon mertua.
"Hayo, jangan macam-macam, kalian belum menikah," goda Papi Lion.
"Apaan sih Pi, macam-macam apaan? Baru mau coba aja, Papi sudah datang mengganggu," kesal Dion.
Seketika tawa Papi Lion meledak, selama ini Papi Lion memang tahu kalau Dion belum pernah pacaran dengan siapa pun.
"Memangnya kamu bisa melakukannya?" goda Papi Lion.
"Melakukan apa?" tanya Dion dengan wajah yang memerah.
Lalu Papi Lion memonyongkan bibirnya dan kemudian mencium berkas yang dia bawa membuat Dion kesal.
"Apaan sih Pi, kaya gitu doang gampang."
"Masa? Ciuman juga butuh belajar Ion, jangan asal cium biar ada seninya gitu, nanti Papi ajarin," seru Papi Lion dengan menaik turunkan alisnya.
"Papi!"
Papi Lion pun kembali tertawa, ia sungguh bahagia bisa menggoda putranya yang dingin dan kaku itu. Berbeda dengan Dion yang merasa kesal karena percobaannya gagal karena ulah Papinya sendiri.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ