
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Valerie merangkul pundak Julian...
"Panjul, jangan marah lagi, bagaimana kalau sekarang aku traktir kamu," seru Valerie.
"Serius, kamu mau teraktir aku?"
"Iya, aku kan sudah janji."
"Okelah."
Julian merangkul pundak Valerie sembari tertawa bersama membuat Dion sedikit kesal.
"Anak buah gak ada akhlak, dari tadi aku ada di belakang mereka tapi mereka sama sekali tidak mengajakku," gumam Dion dengan kesalnya.
Valerie masuk ke dalam mobil Julian dan mobil Julian pun segera melaju menuju sebuah restoran.
"Awas ya, aku ikutin kalian, enak saja ninggalin aku," gumam Dion.
Dion pun segera masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya mengikuti mobil Julian.
"Val, kita mau makan di mana?" tanya Julian.
"Di mana saja, terserah kamu."
"Serius, di mana saja?"
"Iya."
Valerie sibuk mengotak ngatik ponselnya.
"Val, bagaimana kalau restoran itu?" tunjuk Julian.
"Jangan Jul, itu kemahalan. Restoran yang sedang-sedang saja," sahut Valerie.
Julian mendelikan matanya ke arah Valerie, sedangkan Valerie hanya tersenyum manis ke arah Julian. Julian pun kembali melajukan mobilnya, dan mencari restoran yang menurut Valerie harganya sedang-sedang saja.
"Nah, kita makan di sini saja, aku pernah makan di sini dan harganya gak terlalu mahal."
"Kurabg cocok Jul, aku gak suka menu makanan di sini," sahut Valerie.
Julian mengeratkan giginya saking kesalnya. "Terus kita mau makan di mana?" kesal Julian.
"Coba kita ke depan sedikit, di depan sana ada tempat makan asyik, makanannya enak, dan tempatnya pun bagus."
"Kok aku jadi curiga sama kamu."
"Sudah jangan banyak ngomong, buruan jalan."
Julian pun melajukan mobilnya ke tempat makan yang direkomendasikan oleh Valerie, sebenarnya perasaan Julian sudah tidak enak dan merasa curiga sama Valerie.
Hingga akhirnya Valerie pun menunjuk sebuah caffe dan yang dipikirkan Julian ternyata benar, Julian memarkirkan mobilnya dan diam saja di dalam mobil dengan wajah yang cemberut.
"Sudah sampai, ayo kita masuk," ajak Valerie antusias.
"Perasaan aku benar kan? Kalau kamu mau teraktir aku, pasti ujung-ujungnya gak enak," kesal Julian.
Valerie mencubit kedua pipi Julian dengan gemasnya. "Hehehe...tahu aja kamu, ayo masuk sebelum aku berubah pikiran nih."
Akhirnya dengan malasnya, Julian pun turun dari dalam mobil dan mengikuti Valerie ke dalam sebuah caffe. Keduanya duduk, dan Julian masih saja cemberut.
"Hai, jangan cemberut, sudah bagus aku bawa kamu ke caffe, biasanya aku kan bawa kamu ke warteg berarti ada peningkatan kan? Seharusnya kamu itu senang, bisa aku teraktir di sebuah caffe," seru Valerie dengan bangganya.
"Senang apanya, coba kamu lihat ini caffe khusus buat anak muda bahkan makanannya pun semuanya bernuansa anak muda, namanya aja caffe tapi kan, harganya pas di kantong anak muda yang kere dan maunya gratisan."
"Sudah jangan banyak protes, yang penting makan gratis, gitu aja ribet."
Julian mengusap wajahnya kasar, sungguh Julian menyesal ikut dengan Valerie. Sementara itu, mobil Dion pun sampai di depan caffe yang Valerie dan Dion datangi.
Tidak lama kemudian, pesanan Valerie pun datang dan itu lagi-lagi membuat Julian melongo.
"Nah kan, ini yang aku tidak suka. Menu apaan ini, sosis besar sama boba, astaga mendingan aku di traktir di warteg dari pada harus makan yang kaya ginian," kesal Julian.
"Kalau gak mau gak usah di makan, biar aku aja yang makan," sahut Valerie dengan mulut penuh makanan.
Julian kembali mendelikan matanya ke arah Valerie, caffe itu memang menyediakan makanan khusus anak muda yang sama sekali Julian tidak kenal. Julian mengambil makanan yang dia sebut sosis besar itu dan mengamatinya dengan seksama.
"Apaan sih ini? Bentuknya gak jelas banget."
"Itu namanya corndog, makanan ala Korea yang saat ini lagi viral."
"Bos, kok Bos ada di sini?" tanya Valerie kaget.
"Kenapa? Memangnya aku gak boleh makan di sini?" seru Dion dengan dinginnya.
"Ah, bukan begitu Bos. Ini kan caffe anak muda gak cocok buat Bos," sahut Valerie polos.
"Apa? Jadi kamu pikir aku ini sudah tua? Jadi gak pantes datang ke caffe ini?" kesal Dion.
Valerie menoleh ke arah Julian berharap Julian akan membantunya, tapi ternyata Julian malah cuek tidak memperdulikan Valerie.
"Mampus kamu Vale, rasain," batin Julian.
Julian mulai mencoba makanan itu dan ternyata setelah di rasa-rasa, enak juga rasanya.
"Bu-bukan begitu Bos, maaf," seru Valerie menundukan kepalanya.
"Karena kamu sudah berbicara yang sudah menyinggung perasaanku, sekarang aku mau kamu traktir aku," seru Dion.
"Ba-baik Bos, Bos pesan saja apa pun yang Bos mau," sahut Valerie gugup.
Dion melambaikan tangannya, dan seorang pelayan pun datang menghampiri Dion.
"Aku pesan semua menu makanan yang ada di caffe ini."
"Uhuk..uhuk..uhuk..."
Valerie tersedak dengan apa yang Dion pesan, sedangkan Julian tampak menahan senyumannya merasa puas.
"Bos, kenapa Bos memesan makanan sebanyak itu? Memangnya Bos bisa menghabiskan semuanya?" tanya Valerie panik.
"Bisa, kalau aku kenyang, masih ada Julian di sini jadi dia bisa bantuin aku makan," sahut Dion.
"Siap Bos, dengan senang hati," seru Julian dengan tawa lebarnya.
Valerie yang kesal langsung menendang kaki Julian membuat Julian kaget tapi Julian hanya tertawa dan menjulurkan lidahnya meledek Valerie. Valerie semakin kesal dengan kelakuan bestinya itu.
"Maaf, aku ke toilet dulu sebentar."
Valerie pun beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju toilet, di dalam toilet, Valerie langsung membuka dompetnya.
"Astaga, bagaimana ini? Uangku tinggal sedikit lagi, ini juga buat bekal aku sampai gajian nanti, tapi sekarang aku harus membayar semua makanan si Bos. Tabungan aku gak bakalan terkumpul banyak kalau di ambil terus kaya gini, si Bos kalau pesan makanan suka gak kira-kira," gerutu Valerie dengan lemasnya.
Akhirnya dengan langkah gontai, Valerie pun kembali ke mejanya dan ternyata mejanya sudah penuh dengan makanan yang dipesan oleh Dion. Dion melahapnya dengan semangat, begitu pun Julian, tapi berbeda dengan Valerie yang terlihat lemas dan seketika selera makannya langsung menghilang.
"Dion, sedang apa kamu di sini?"
Ketiganya langsung mengangkat kepalanya dan ternyata Jesika juga ada di sana.
"Jesika, aku lagi makan. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Dion.
"Aku juga mau makan, soalnya hanya ini tempat makan yang paling dekat, jadi aku mampir saja ke sini soalnya perut aku sudah sangat lapar," sahut Jesika.
"Oh begitu."
"Ya ampun Dion, kamu kalau makan kebiasaan deh blepotan."
Jesika mengambil tisu dan membersihkan bibir Dion dengan mesranya, membuat Valerie seketika panas. Valerie langsung berdehem dan minum minumannya sampai tandas membuat Julian bingung dengan kelakuan Valerie.
Tanpa diminta, Jesika langsung duduk di samping Dion.
"Ion, aku mau nyobain yang itu dong," seru Jesika.
Dion pun menyuapi Jesika membuat Valerie semakin gerah, bahkan saat inj Valerie sudah mengipas-ngipaskan tanganya ke wajahnya. Valerie dengan kesalnya mengambil makanan dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Kamu kenapa Val? Jangan-jangan kamu kesurupan hantu toilet lagi," seru Julian.
Valerie mendelikan matanya, dia pun terus saja memasukan makanan ke mulutnya membuat mulut Valerie penuh.
"Kamu kenapa? Wanita kok makannya jorok banget, bukanya kamu bawahanya Dion ya, di kantor? Ion, kok kamu bisa makan bareng sama bawahan gini? Kamu itu terlalu baik sama bawahan, takutnya bawahan kamu nanti ngelunjak sama kamu," seru Jesika dengan sinisnya.
"Dia bukan cuma bawahan aku, tapi pacar aku juga," sahut Dion dengan santainya.
"Apa?" seru Jesika dan Julian bersamaan.
Sementara Valerie langsung tersedak dan makanan yang ada di mulutnya menyembur ke wajah Jesika membuat Jesika semakin kesal.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Jesika dengan berdiri dari duduknya.
"Ah, maaf Nona aku gak sengaja, sini aku bersihin," seru Valerie dengan mengambil tisu untuk membersihkan wajah dan baju Jesika.
Jesika menepis tangan Valerie. "Jangan sentuh aku!" bentak Jesika.
Akhirnya dengan kesalnya, Jesika pun pergi ke toilet untuk membersihkan wajahnya. Dion tampak menahan senyumannya, berbeda dengan Julian yang sudah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Valerie.
Valerie hanya bisa menundukan kepalanya. "Maafkan aku Bos," lirih Valerie.
Valerie merasa malu, pasti Bosnya itu akan memarahinya karena sudah membuat Jesika kesal.