THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Valerie Dalam Bahaya



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Keesokan harinya....


Valerie sudah siap-siap ingin pergi ke kantor, tapi Valerie terkejut saat keluar rumah, Julian sudah berdiri sigap menunggu Valerie keluar.


"Panjul, tumben kamu sudah ada di sini?"


"Iya, si Bos nyuruh aku jemput kamu karena pagi ini si Bos katanya gak bisa jemput soalnya lagi sakit," sahut Julian.


"Hah sakit, kok si Bos gak ngasih kabar sama aku tapi malah bilang sama kamu sih?" kesal Valerie.


Pletaakkk...


Julian memukul kepala Valerie. "Kamu kebiasaan Oneng, si Bos ngasih tahu aku karena ponsel kamu mati tidak bisa dihubungi," kesal Julian.


Valerie langsung mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan memeriksanya, seketika Valerie nyengir ke arah Julian.


"Gak usah nyengir, gak lucu," kesal Julian.


"Ya sudah, buruan kita berangkat biar aku bisa carger ponsel aku."


Valerie pun menarik tangan Julian untuk segera masuk ke dalam mobil Julian, Julian perlahan mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Valerie.


Sementara itu, dari kejauhan seseorang sudah berhasil mengambil beberapa foto Valerie dan dia terlihat tersenyum kemudian mengirim foto Valerie kepada Ferdinan. Ternyata orang itu adalah adalah anak buah Ferdinan yang disuruh Ferdinan untuk menyelidiki Valerie.


Ferdinan yang saat ini sedang menyesap kopinya, tiba-tiba mendengar ponselnya bergetar dan Ferdinan segera membukanya. Ferdinan memperhatikan dengan teliti foto Valerie.


"Wajah anak ini benar-benar mirip dengan Anisa, aku yakin dia anaknya Anisa yang waktu itu kabur. Bahaya, aku harus segera menyingkirkan anak ini," batin Ferdinan.


"Papa."


Ferdinan segera mematikan ponselnya saat melihat puterinya datang.


"Ada apa, sayang?"


"Jesika butuh bantuan Papa."


"Bantuan apa?"


"Jesika ingin Valerie mati, tapi sebelum mati, Jesika ingin membuat Valerie menderita dulu."


"Kenapa kamu ingin wanita itu mati? Bukanya tadi malam kamu sudah meminta maaf sama dia?" tanya Papa Ferdinan dengan santainya.


Jesika tersenyum sinis. "Itu hanya pormalitas saja supaya Dion dan kedua orangtuanya mempercayai Jesika. Jesika sangat benci kepada wanita itu karena sudah beberapa kali dia mempermalukan Jesika," sahut Jesika.


"Itu masalah gampang, kamu maunya kapan?"


"Serius, Papa mau melakukannya untuk Jesika?"


"Apa sih yang enggak untuk putri Papa."


Jesika langsung memeluk Papanya itu dengan senangnya. "Terima kasih Pa, akhirnya aku bisa membalaskan dendam aku kepada wanita itu."


Ferdinan pun tampak tersenyum. "Ternyata target kita sama Jesika, jadi sambil menyelam minum air," batin Ferdinan.


Di sisi lain, mobil Julian sampai di kantor The Black Hunter dan Valerie segera masuk karena dia ingin segera menghidupkan ponselnya dan menghubungi calon suaminya itu.


Setelah menunggu beberapa menit, Valerie pun menghidupkan ponselnya dan benar saja puluhan panggilan dan pesan masuk ke ponsel Valerie.


"Astaga, kenapa banyak banget panggilan sama pesannya?" gumam Valerie.


Valerie pun dengan cepat menghubungi balik Dion, Valerie tampak khawatir Dion sakit karena Dion merasa seluruh badannya sakit-sakit akibat pukulan Valerie.


Setelah cukup lama telepon-teleponan, Valerie pun merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha Julian dijadikan bantal.


"Jul, menjelang pernikahanku sama si Bos, kok, aku jadi deg-degan ya," seru Valerie.


"Kalau deg-degan sudah biasa itu bagi pasangan yang baru mau menikah."


"Ini beda Jul, deg-degannya bukan karena mau menikah tapi deg-degan aku takut gak jadi nikah sama si Bos."


Julian yang dari tadi mengotak-ngatik ponselnya langsung menundukan kepalanya melihat wajah Valerie, begitu pun Valerie yang melihat wajah Julian.


"Kok, kamu ngomong seperti itu?"


"Entahlah Jul, perasaanku gak enak seperti yang akan terjadi sesuatu sama aku."


Julian menyentil kening Valerie membuat Valerie meringis.


Hari ini Valerie tampak sangat manja, bahkan bukan sama Julian saja, sama Rossa dan teman-teman yang lainnya pun Valerie tampak manja.


Apalagi sama Julian, dari tadi pagi sampai sekarang terus saja nempel dan bergelayut manja di lengan Julian.


"Val, sebenarnya kamu kenapa sih? Tidak biasanya kamu manja seperti ini? Mana nempel terus sama aku kaya lintah," ledek Julian.


"Memangnya kenapa, gak boleh?"


"Bukanya gak boleh, aku merasa aneh saja tidak biasanya kamu bersikap seperti ini."


"Gak apa-apa, aku hanya ingin dekat-dekat saja sama kamu, karena kan, setelah menikah aku gak bakalan bisa seperti ini sama kamu."


"Jangankan setelah menikah, sekarang aja kalau si Bos tahu, aku pasti bakalan di gantung sama dia."


Valerie hanya nyengir, sebenarnya semua orang merasa ada yang aneh dengan sikap Valerie yang tiba-tiba manja kepada semuanya dan terlihat melow, tidak seperti biasanya yang ceria dan konyol.


***


Waktu pulang pun tiba....


"Val, sorry aku gak bisa antar kamu pulang soalnya aku harus ke kampus Winda dulu mau urusin administrasi dia," seru Julian.


"Tidak apa-apa, lagipula aku mau ke rumah si Bos dulu mau jenguk dia."


"Oke, kalau begitu kamu hati-hati ya."


"Sip."


Valerie mengacungkan jempolnya ke arah Julian, Julian pun akhirnya pergi meninggalkan kantor. Valerie mengotak-ngatik ponselnya karena ingin memesan taksi online.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya taksi yang Valerie pesan pun datang. Valerie segera masuk dan meninggalkan kantor, Valerie tidak sadar kalau saat ini ada dua mobil yang sedang mengikutinya.


"Mba, sepertinya dua mobil itu dari tadi mengikuti kita," seru sopir taksi dengan melihat ke arah belakang lewat spion.


Valerie menoleh ke belakang. "Masa sih, Pak? Sejak kapan?"


"Sepertinya sejak dari tempat kerja Mba."


"Jalan yang cepat Pak, jangan sampai mereka bisa menyalip mobil ini."


"Baik Mba."


Si Sopir taksi pun segera menancapkan gas tapi tetap saja, tepat di jalanan sepi kedua mobil itu bisa menyalip taksi yang ditumpangi Valerie.


"Bagaimana ini, Mba?"


"Bapak tenang dulu, pokoknya Bapak jangan keluar dari dalam mobil ini. Kalau terjadi sesuatu sama aku, Bapak pergi saja dan cari bantuan," seru Valerie.


"Tapi Mba, Mba itu wanita mana mungkin bisa menghadapi mereka."


Valerie mengeluarkan ponselnya dan menyalakan GPS serta tanda bahaya jika sewaktu-waktu dia tidak bisa melarikan diri.


Tanda bahaya yang khusus dibuat untuk karyawan The Black Hunter itu akan terhubung satu sama lain. Valerie menyalakannya karena entah kenapa, Valerie punya firasat kalau saat ini dia tidak akan selamat.


Valerie menarik napas dan menghembuskan napasnya secara perlahan, lalu Valerie pun keluar dari dalam mobil.


"Mba, biar saya lapor polisi ya Mba."


"Terserah Bapaj saja."


Terlihat 6 orang pria dengan tubuh besar berdiri menghadang taksi yang ditumpangi Valerie.


"Kalian mau apa?" tanya Valerie.


Mereka tidak menjawab, justru malah menyerang Valerie. Tentu saja dengan sigap Valerie pun membalasnya, akhirnya perkelahian pun tidak terelakan lagi, Valerie di keroyok oleh 6 orang yang sama sekali bukan tandingannya.


"Astaga, bagaimana ini kenapa ponselku tiba-tiba mati," gumam sang sopir taksi panik.


Sopir taksi yang panik akhirnya memilih pergi dan berniat mencari bantuan untuk Valerie.


Sementara itu Valerie sudah kelelahan, tenaganya sudah terkuras tapi pria-pria itu sama sekali masih baik-baik saja.


Bughhh...


Salah satu orang dari mereka, memukul punggung Valerie dengan balok kayu membuat Valerie seketika jatuh tak sadarkan diri.


"Cepat bawa dia dari sini, sebelum ada orang yang datang!"


Mereka pun akhirnya membawa Valerie dari tempat itu.