THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Mencari Bukti



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Valerie sudah mulai tenang, dia pun segera mengganti baju dan mencuci wajahnya kemudian membawa kotak p3k untuk mengobati luka Dion.


Valerie duduk di hadapan Dion dan mulai mengobati tangan dan wajah Dion.


"Maafkan aku ya, Bos, gara-gara aku, Bos jadi terluka seperti ini," seru Valerie.


"Tidak apa-apa, asalkan kamu sudah lega, aku siap kok jadi samsaknya kamu."


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf Bos," sesal Valerie.


Valerie sungguh merasa sangat menyesal karena sudah membuat wajah tampan sang calon suami babak belur karena pukulannya. Tiba-tiba airmata Valerie kembali menetes membuat Dion kaget.


"Hai, kenapa nangis lagi?"


"Aku sudah keterlaluan membuatmu seperti ini, maafkan aku maaf Bos."


"Sudahlah, aku tidak apa-apa kok. Jadi, kamu gak usah menangis seperti ini," sahut Dion dengan menghapus airmata Valerie.


"Tapi lihatlah wajahmu dan tanganmu terluka," seru Valerie dengan deraian airmatanya.


"Ssstttt....sudah jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa yang penting sekarang kamu harus janji, jangan pernah melakukan apa pun tanpa sepengetahuanku dan jangan nekad, kita cari barang buktinya sama-sama."


Valerie menganggukan kepalanya...


"Ya sudah, sudah malam lebih baik sekarang kamu tidur dan aku juga harus pulang."


"Baiklah aku akan tidur."


Dion mengambil jasnya dan bangkit dari duduknya, Dion menangkup wajah Valerie dan mencium kening Valerie sangat lama.


"Aku bukan orang yang romantis dan aku juga sama sekali tidak pandai menggombal, tapi saat ini aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu Valerie."


Valerie tersenyum. "Aku juga sangat mencintaimu, Bos."


Dion menarik tubuh Valerie ke dalam dekapannya.


"Satu hal yang ingin aku sampaikan, kamu harus tetap waspada dan berhati-hati kepada Jesika karena aku yakin tadi dia tidak tulus meminta maaf kepadamu. Aku tahu siapa Jesika, dia tidak akan semudah itu meminta maaf kepada orang lain."


"Tenang saja Bos, aku akan hati-hati."


Dion pun melepaskan pelukannya dan pamit pulang, Valerie segera mengunci pintu setelah melihat mobil Dion sudah pergi meninggalkan rumahnya.


***


Sementara itu di kediaman Ferdinan, saat ini Ferdinan sedang menyesap kopi di ruangan kerjanya. Ferdinan terlihat sedang memikirkan sesuatu, hingga bayangan Valerie pun melintas di pikirannya.


"Wajah anak itu mirip seseorang, tapi siapa ya?" batin Ferdinan.


Ferdinan lupa akan sosok Anisa karena kejadian itu sudah sangat lama, tapi Ferdinan merasakan kalau Valerie mirip dengan seseorang yang dia kenal.


Dion sampai di rumahnya, di saat Dion ingin masuk ke dalam kamarnya, Dion melihat kalau lampu di ruangan kerja Papinya masih menyala dan itu artinya, Papinya belum tidur.


Ceklek...


"Papi."


"Dion, kamu baru pulang, Nak?"


"Iya Pi."


"Sini duduk."


Dion pun menghampiri Papinya dan duduk di samping Papinya itu.


"Wajah kamu kenapa?" tanya Papi Lion.


"Sudah Papi duga."


"Pi, ternyata yang membunuh orangtua Valerie itu adalah Om Ferdinan."


"Papi sudah tahu."


"Hah, Papi sudah tahu dari siapa?" tanya Dion bingung.


"Dari dulu, Papi memang sudah curiga sama Ferdinan. Kamu tahu kan, Papi mengikuti kelas untuk melihat ekspresi wajah seseorang selama 2 tahun dan Papi dengan mudah bisa melihat ekspresi wajah Ferdinan saat dia mengatakan kalau Andri sudah tewas dibunuh orang yang tidak dikenal. Ekspresinya sungguh datar dan tidak merasakan sedih sama sekali, padahal pada umumnya kalau seorang sahabat baik kita meninggal pasti ada perasaan sedih, walaupun orang itu tidak mengeluarkan airmata tapi Papi tahu kalau orang itu sedang sedih. Tapi ekspresi itu tidak Ferdinan tunjukan, justru yang Papi lihat Ferdinan menunjukan raut wajah puas."


"Terus kenapa waktu itu Papi tidak langsung bertanya kepada Ferdinan?"


"Dasar bodoh, penjahat mana yang akan dengan suka rela menjawab pertanyaan seperti itu."


"Terus, bagaimana caranya kita mencari barang bukti atas kejahatan Om Ferdinan?"


"Papi diam-diam sudah mencari barang buktinya dan Valerie hanyalah sebagai pelengkap saja. Papi juga sudah berkoordinasi dengan Komandan Alan karena Papi juga ingin kasus ini tuntas biar Andri dan Anisa bisa tenang."


"Kalau barang buktinya sudah ada, kenapa Papi gak langsung menangkap Om Ferdinan dan menjebloskannya ke dalam penjara."


"Tidak semudah itu Dion, karena bukti utama adalah cctv yang ada di rumah Andri. Dan setelah Papi selidiki, ternyata cctv itu tidak ada dan Papi yakin kalau si Ferdinan yang sudah mengambilnya. Papi sudah menyewa hacker untuk meretas cctv itu tapi belum berhasil juga."


"Bagaimana kalau cctvnya sudah dia hancurkan?"


"Ya jalan satu-satunya, mencocokan peluru dengan pistol yang dia gunakan. Pistol yang dia gunakan adalah jenis pistol yang orang lain tidak punya, jenis pistol itu hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya."


"Wah, susah juga ya Pi, buat menangkap Om Ferdinan."


"Maka dari itu, pernikahan kamu dan Valerie sudah semakin dekat dan Papi punya firasat tidak enak."


"Kok Papi ngomong seperti itu sih? Ucapan itu adalah do'a, seharusnya Papi mendo'akan supaya pernikahan Dion dan Valerie berjalan dengan lancar, bukan malah sebaliknya," kesal Dion.


"Tanpa diminta pun Papi selalu mendo'akan kalian berdua, tapi firasat Papi kali ini sangat kuat. Papi yakin si Ferdinan sudah mulai curiga kepada Valerie, karena di saat bertemu tadi raut wajah Ferdinan terlihat terkejut. Valerie itu sangat mirip dengan Mamanya Anisa, jadi Papi yakin si Ferdinan akan menyelidiki siapa Valerie."


"Wah bahaya, Pi."


"Maka dari itu, jaga Valerie dan lindungi dia karena untuk saat ini nyawa Valerie sedang terancam. Apalagi Jesika, Papi tahu dia orangnya nekad seperti Papanya dan ucapan permintaan maaf dia kepada Valerie tadi, itu semua hanya akal-akalan saja karena buktinya, ucapan dan isi hati dia sangat berbeda."


"Baik Pi, Dion akan melindungi Valerie."


"Syukur-syukur kasus ini segera terselesaikan sebelum pernikahan kalian, kalau tidak, kita harus ekstra jaga Valerie takutnya Valerie kenapa-napa."


"Iya Pi."


"Ya sudah, sekarang kamu tidur sana sudah malam."


"Siap Bos."


Dion pun akhirnya keluar dari ruangan kerja Papinya, sedangkan Papi Lion kembali duduk di kursi kerjanya dan lalu membuka laci yang berisi foto dirinya dan juga Andri.


"Dri, semoga kasus ini segera terungkap dan kamu bisa pergi dengan tenang. Maafkan aku yang belum bisa menjebloskan Ferdinan ke dalam penjara."


Berbeda dengan Lion, Ferdinan tampak berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Lalu, Ferdinan berjalan menuju sebuah kotak yang dia simpan di brangkasnya.


Ferdinan membuka kotak itu dan isinya ternyata sebuah cctv, entah kenapa Ferdinan belum menghancurkan cctv itu. Tiba-tiba, wajah Valerie lewat dalam benaknya dan seketika Ferdinan membelalakan matanya.


"Anisa, ya sekarang aku baru sadar kalau gadis itu mirip dengan Anisa. Apa jangan-jangan gadis itu anaknya Andri dan Anisa?" batin Ferdinan.


Ferdinan tampak terdiam, dia merasa was-was bisa-bisa nyawanya terancam apalagi kalau Lion sampai tahu.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘