THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Makan Malam



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Setelah selesai makan siang bersama, Dion pun mengantarkan Valerie pulang ke rumahnya dan beberapa saat kemudian mobil Dion pun sampai di depan rumah Valerie.


"Nanti malam aku jemput kamu jam 19.00 malam."


"Baik Bos."


Dion pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Valerie, Valerie masuk ke dalam rumahnya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Aku harus dandan seperti apa? Selama ini aku tidak pernah dandan, bahkan aku sama sekali tidak mempunyai alat makeup," gumam Valerie.


Valerie mulai berpikir dan akhirnya menyunggingkan senyumannya. "Mbak Rossa, aku minta tolong Mbak Rossa saja," gumam Valerie dengan senyumannya.


Valerie pun mengotak-ngatik ponselnya dan segera menghubungi Rossa.


***


Menjelang maghrib, Rossa datang ke rumah Valerie dengan diantar oleh Julian. Rossa langsung merias wajah Valerie dengan riasan tipis.


Pada dasarnya Valerie memang sudah cantik jadi tidak perlu riasan yang terlalu tebal, sedangkan Julian duduk di pojokan dengan wajah yang ditekuk.


"Kamu kenapa, Panjul? Tumben diam saja, biasanya juga gacor kaya burung," ledek Valerie.


"Entahlah Val, dari tadi juga diam terus, sakit gigi kali," sahut Rossa.


Julian tidak suka melihat Valerie jalan bersama Bosnya itu, entah kenapa Julian merasa marah.


"Val, kamu beruntung sekali bisa ngedate sama Bos Dion," seru Rossa.


"Cuma pura-pura, Mbak."


"Walaupun cuma pura-pura tapi itu membuat aku sangat bahagia loh."


"Aku juga sangat bahagia Mbak, mudah-mudahan saja, Bos Dion jodohku yang selama ini aku tunggu," seru Valerie dengan senangnya.


"Amin."


"Apaan sih Val, percaya diri banget jadi orang, si Bos juga pilih-pilih kali cari pacar. Mana mungkin si Bos suka sama wanita yang tidak punya kelebihan seperti kamu," ledek Julian dengan kesalnya.


"Apaan sih kamu Jul, lihat nih Valerie cantik banget tahu," sahut Rossa.


"Cantik apaan, hidung pesek, pipi tembem, body tidak seksi, mana pelitnya naudzubillah, aku aja yang pria tulen ogah pacaran sama Valerie," seru Julian dengan pura-pura.


Pluk...


Valerie melempar bantal sofa ke arah Julian. "Kamu nyebelin Panjul, bukanya mendukung teman bahagia malah ngeledekin terus, jangan-jangan kamu cemburu ya," goda Valerie.


"Idih najis, percaya diri sekali anda," sahut Julian dengan memalingkan wajahnya.


"Aku do'akan, supaya kamu jatuh cinta sama aku dan aku gak bakalan terima kamu."


"Hai Mrs.pelit, amit-amit aku harus jatuh cinta sama kamu, kaya di dunia ini sudah gak ada wanita aja," kilah Julian.


"Sialan, awas kamu Panjul."


"Sudah-sudah, Val, sebentar lagi si Bos jemput kamu dan makeupnya pun sudah selesai, sana kamu ganti bajunya," seru Rossa.


"Baik Mbak, terima kasih ya Mbak sudah bantuin aku."


"Sama-sama."


Valerie pun segera berlari masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Julian kembali cemberut. Sebenarnya Julian itu merasa cemburu melihat Valerie berpenampilan cantik seperti itu.


Tidak lama kemudian, pintu kamar Valerie pun terbuka. Rossa dan Julian langsung menoleh, Valerie keluar dari dalam kamarnya dengan memakai gaun yang tadi Dion belikan di butik.


Julian yang sedang mengunyah makanan, langsung menyembur melihat penampilan Valerie yang sangat cantik.


"Ih, Julian jorok," keluh Rossa.


"Val, kamu gak salah memakai pakaian seperti itu?" seru Julian.


"Memangnya kenapa?" ketus Valerie.


Julian melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Valerie.


"Ih, Julian apaan sih, gaunnya sudah bagus masa harus dipakaikan jaket," kesal Rossa dengan melempar jaket Julian.


"Itu masa pakaiannya kurang bahan seperti itu sih, nanti kamu masuk angin loh, Val."


Tin..tin..tin..


Suara klakson mobil terdengar sangat nyaring...


"Mobil si Bos sudah datang Val, buruan sana keluar jangan sampai si Bos menunggu," seru Rossa.


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


Valerie pun keluar dari dalam rumahnya, dan berjalan menghampiri mobil Dion. Dion yang dari tadi memperhatikan Valerie tampak tidak berkedip, melihat penampilan Valerie yang sangat cantik itu.


Valerie masuk ke dalam mobil Dion, tapi Dion masih tidak bisa memalingkan pandangannya kepada Valerie.


"Bos, kok malah bengong? Penampilan aku jelek ya?"


"Tidak kamu sangat cantik malam ini."


"Apa?"


"Ah, maksud aku, kamu lumayan cantik malam ini jadi tidak akan membuatku malu."


"Oh."


Dion pun mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali. Dion terlihat salah tingkah, bahkan hawa tubuhnya panas melihat penampilan seksi Valerie.


Tubuh Valerie memang bagus, pa*tat yang bulat berisi, ukuran dada yang lumayan montok, serta kulit yang putih mulus serta kencang efek dari rajin olahraga, sukses membuat Dion kalang kabut.


Sedangkan Valerie, terus saja membenarkan gaunnya, dia merasa tidak nyaman memakai pakaian seksi seperti itu. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Dion pun memasuki halaman rumahnya.


"Wow, ini rumah Bos? Besar banget," seru Valerie.


"Sudah, ayo turun. Ingat, jangan sampai kamu kecelosan memanggilku dengan sebutan Bos."


"Oke."


Valerie pun turun dan berjalan dengan sangat hati-hati, tapi tanpa diduga Dion langsung menggandeng tangan Valerie membuat Valerie kaget dan jantung Valerie seakan berhenti berdetak.


"Kenapa diam, ayo jalan!"


"Ah, iya B--"


Dion langsung menatap tajam ke arah Valerie membuat Valerie menghentikan ucapannya.


"Maksud aku, iya sayang."


"Ehmm...bagus."


Dion dan Valerie pun masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan, membuat wajah Valerie memerah dan senyum-senyum sendiri saking senangnya.


"Ya Allah, apa ini mimpi? Kalau mimpi, tolong jangan bangunkan aku Ya Allah," batin Valerie dengan senyumannya.


"Mi, Pi!" panggil Dion.


Mami Ayu dan Papi Lion langsung menoleh dan menyambut kedatangan Valerie dengan senyuman yang mengembang.


"Akhirnya kalian datang juga, selamat datang di rumah kami, sayang," seru Mami Ayu dengan memeluk Valerie membuat Valerie merasa canggung.


Dion sedikit menyunggingkan senyumannya..


"Kamu cantik sekali, nama kamu siapa, sayang?" tanya Mami Ayu.


"Valerie, nama saya Valerie, Nyonya."


"Kok panggilnya Nyonya sih, panggil Mami saja seperti Dion."


Valerie tersenyum canggung dan melirik ke arah Dion yang tampak cuek membuat jantung Valerie semakin berdetak tak karuan.


"Ayo, kita langsung makan malam saja takutnya keburu dingin."


Mami Ayu merangkul lengan Valerie dan membawanya ke meja makan, Papi Lion mendekati Dion.


"Siapa wanita itu? sepertinya dia bukan wanita biasa-biasa?" bisik Papi Lion.


"Dia anak buah Dion, Pi. Valerie seorang detektif juga."


"Pantas saja auranya berbeda."


Semuanya pun menuju meja makan, dan mulai menyantap makan malam bersama. Tidak membutuhkan waktu lama, untuk Valerie akrab dengan Mami Ayu, karena memang pada dasarnya Valerie gampang akrab dengan siapa pun.


Setelah selesai makan malam bersama, semuanya duduk santai di ruang keluarga.


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Papi Lion.


Valerie menyikut lengan Dion dan Papi Lion tahu itu, Papi Lion seorang detektif sangat jago bahkan instingnya jauh lebih peka dibandingkan Dion. Papi Lion tahu kalau diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, karena bahasa tubuh mereka tampak kaku dan Valerie juga terlihat segan dengan Dion.


"Sayang, aku lupa berapa lama ya, kita pacaran?" seru Valerie dengan senyumannya.


Dion berdehem menetralkan rasa salah tingkahnya.


"Baru 5 bulan, Pi," sahut Dion asal.


"Kamu masih kuliah atau sudah bekerja, sayang?" tanya Mami Ayu.


"Saya sudah bekerja, Mami."


"Wow, bekerja di mana?"


Valerie tampak bingung, Valerie kembali menyikut lengan Dion meminta pertolongan.


"Dia, bekerja di kantoran Mami, hanya sebagai karyawan biasa saja," sahut Dion dingin.


"Oh iya, hebat ya, masih muda sudah bekerja."


Valerie hanya tersenyum canggung, sedangkan Papi Lion merasa sangat senang. Papi Lion memang menginginkan mempunyai menantu yang tangguh tidak manja dan Papi Lion merasa suka kepada Valerie.


Valerie dan Dion sama-sama menyesap minumannya.


"Bagaimana kalau kalian menikah saja, Papi suka dengan Valerie," seru Papi Lion.


"Uhuk..uhuk..uhuk..."


Dion langsung tersedak, sedangkan Valerie hampir saja menyemburkan minumannya tapi Valerie bisa menahannya.


"Kamu kenapa, Dion? Kamu itu sudah dewasa, sudah pantas menikah, lagipula Papi sudah sangat menginginkan seorang cucu," seru Papi Lion dengan santainya.


"Benar itu Pi, sepertinya seru ya kalau kita punya cucu, rumah ini gak bakalan sepi lagi," sahut Mami Ayu.


Valerie dan Dion saling pandang satu sama lain, kelihatan sekali kalau wajah mereka memerah menahan malu tapi berbeda dengan Papi Lion yang tampak menahan senyumannya karena melihat ekspresi wajah keduanya.


"Kena kalian, siapa suruh kalian membohongi orangtua," batin Papi Lion dengan senyumannya.


Valerie hanya mampu terdiam, saat ini jantungnya terasa ingin lompat dari tempatnya, bahkan untuk berbicara pun rasanya Valerie sudah tidak sanggup.