THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Perdagangan Manusia



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Keesokan harinya....


Tidak seperti biasanya, Julian hari tampak menunjukan raut wajah yang cemas.


"Kamu kenapa Panjul? Kok, aku perhatikan dari tadi kamu gelisah banget," seru Valerie.


"Aku lagi khawatir Val, Widia katanya nyusul aku ke sini dan kata Mama, Widia berangkat dari kemarin pagi tapi sampai sekarang Widia belum sampai juga di sini bahkan ponselnya pun tidak aktif," sahut Julian.


"Widia adik kamu?"


"Iya, dia kan baru saja lulus SMA dan dia rencananya mau ngelanjutin kuliah di sini. Aku khawatir Val, takutnya sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada Widia."


"Ishh..kamu jangan bicara seperti itu gak baik, kali aja Widia nginap dulu di rumah temannya."


"Teman yang mana Vale, Widia itu tidak punya teman di sini."


"Kamu tenang dulu, nanti aku bantu cariin Widia."


Saat ini Julian dan Valerie sedang ngopi bersama di kantin kantor, tiba-tiba televisi yang ada di kantin menayangkan berita mengenai maraknya perdagangan manusia.


Julian dan Valerie saling pandang satu sama lain, ternyata keduanya mempunyai pemikiran yang sama.


"Jul, bagaimana kalau kamu kasih informasi kepada Komandan Alan dan kasih foto Widia juga, soalnya perasaanku tiba-tiba saja merasa tidak enak," seru Valerie.


Julian mulai panik, dia langsung menghubungi Komandan Alan dan memberikan informasi seperti apa yang sudah dikatakan oleh Valerie.


"Val, hari ini aku izin ya, tolong kamu bilangin sama Bos Dion, aku mau cari Widia perasaanku semakin tidak enak."


"Aku ikut."


"Ya sudah, ayo kalau mau ikut."


Julian dan Valerie pun segera meninggalkan kantor, sedangkan Dion masih berada di rumahnya.


Sementara itu, di rumah tengah hutan itu Widia mulai membuka matanya. Widia menyipitkan matanya karena merasa silau dengan cahaya yang masuk ke dalam ruangab sempit itu melalui celah-celah.


"Astaga, ternyata sudah pagi. Bagaimana ini, pasti Bang Jul khawatir banget sama aku," batin Widia.


Para wanita muda yang menjadi tawanan di sana pun mulai membuka matanya, ternyata di sana kurang lebih ada sepuluh wanita muda yang nasibnya seperti Widia.


"Kalian sejak kapan di sini?" tanya Widia.


"Kami sudah sejak dua hari yang lalu berada di sini, kami sangat takut pasti keluarga kami sangat khawatir dengan keadaan kami," sahut salah satu wanita muda.


"Apa kalian tidak ada niat untuk kabur?" tanya Widia.


"Mau kabur bagaimana? Kami diikat seperti ini."


Widia tampak celingukan, dia mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membuka ikatannya. Tapi belum juga Widia menemukannya, tiba-tiba pintu itu terbuka dan orang itu adalah orang yang tadi malam membawa Widia yang berpura-pura jadi tukang ojeg.


"Lepaskan kami, kamu mau bawa kami ke mana? Kenapa kamu menculik kami!" teriak Widia.


Pria itu menghampiri Widia dan mencengkram wajah Widia sehingga membuat Widia meringis kesakitan.


"Berani sekali kamu teriak-teriak, tapi sayangnya teriakan kamu tidak akan berguna karena tidak akan ada yang bisa mendengar teriakanmu, jadi lebih baik sekarang kamu diam saja jangan hambur-hamburkan tenangamu untuk teriak-teriak."


"Kalian mau apa?"


"Tenang saja, sebentar lagi Bos aku datang dan dia yang akan memutuskan siapa saja yang akan dia jual dan tidak," serunya dengan seringainya.


"Apa? Jadi kalian mau menjual kami?" bentak Widia.


"Sudah jangan teriak-teriak, berisik. Ayo, kalian makan dulu jangan sampai kalian sakit di saat si Bos datang, bisa-bisa aku kena semprot."


Orang itu dan kedua temannya membagikan nasi bungkus.


"Makan jangan sampai ada yang sisa."


"Bagaimana kami mau makan kalau tangan kami diikat seperti ini," seru Widia.


Ketiga pria itu pun akhirnya tanpa banyak tanya langsung membuka ikatan tangan semuanya, Widia tampak tersenyum ini adalah kesempatan dia untuk bisa kabur dari tempat itu.


Ketiga pria itu pun meninggalkan semuanya, Widia mulai mencari cara untuk kabur dari tempat itu.


***


Julian dan Valerie mulai mencari titik-titik yang rawan yang biasanya dijadikan tempat para pelaku merayu korbannya. Mereka tahu itu semua dari Komandan Alan, bahkan kepolisian pun sedang menyelidiki kasus perdagangan manusia yang saat ini sedang marak terjadi.


"Aku juga bingung Val, harus mencari ke mana lagi," sahut Julian.


Julian pun menghentikan mobilnya dan berhenti di sebuah jalanan sepi yang sama sekali jarang di lewati orang-orang.


Widia mengitip dari lobang kunci dan ternyata ketiga pria itu sedang berjaga-jaga di depan pintu, Widia mulai mendekat ke arah jendela dan berusaha mencongkelnya menggunakan paku yang dia temukan di situ.


Beruntung sekali, jendela itu akhirnya terbuka.


"Kalian tunggu di sini ya, aku akan cari bantuan nanti aku pasti akan kembali dan menolong kalian," seru Widia.


"Baiklah, kamu hati-hati ya."


Widia menganggukan kepalanya, perlahan Widia naik ke atas jendela dan langsung melompat. Widia tidak sadar kalau jendela itu posisinya lumayan tinggi, sehingga Widia pun akhirnya terjatuh.


"Aw...."


Widia terkejut dan langsung menutup mulutnya.


"Siapa itu?" teriak salah satu orang itu.


Widia segera berlari, namun sayang salah satu dari pria itu mengetahuinya.


"Ada yang kabur, ayo kejar."


"Kamu tunggu di sini jaga yang lainnya, wanita itu biar aku dan dia yang kejar."


"Baiklah."


Dua pria itu langsung mengejar Widia, dan salah satu dari mereka menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan.


"Tolong...tolong...."


Widia terus saja berteriak sembari berlari tanpa henti, sehingga tanpa terasa Widia pun sampai di pinggir jalan namun sayang, teman-teman yang dihubungi oleh pria itu datang tepat waktu dan kembali menangkap Widia.


"Tolong....tolong...."


"Jul, kamu dengar suara tidak?" tanya Valerie.


"Suara apa?"


"Barusan aku mendengar suara minta tolong, ayo kita turun kali aja ada yang sedang berbuat jahat di daerah ini," seru Valerie.


Valerie dan Julian pun memilih untuk keluar dan menajamkan pendengarannya. Dari kejauhan, Valerie melihat sekelompok orang menyeret seorang wanita.


"Wah, mereka pasti orang jahat."


Valerie langsung berlari mengejar mereka masuk ke dalam hutan, begitu pun dengan Julian yang ikut menyusul.


"Woi, lepaskan wanita itu!" teriak Valerie.


Keempat pria itu menoleh, begitu pun dengan Widia.


"Widia, itu adik aku Val."


"Wah, kurang ajar."


"Bang Jul."


"Lepaskan dia!" bentak Julian.


"Hajar mereka!"


Ketiga pria itu menyerang Valerie dan Julian, sedangkan yang satu memegangi Widia. Tentu saja Valerie dan Julian menghadapi mereka bertiga, perkelahian pun tak terelakan. Hingga beberapa saat kemudian, Valerie dan Julian pun bisa mengalahkan ketiganya.


"Kurang ajar."


Orang yang memegangi Widia pun ikut menyerang Valerie dan Julian, hingga dia pun kalah dan dibuat tak berdaya oleh Valerie dan Julian.


"Ayo, kita pergi dari sini," seru Julian dengan menarik tangan Widia.


"Tunggu Bang, di dalam hutan sana masih banyak orang yang disandera oleh mereka," sahut Widia.


"Apa? Ya sudah, kamu cepatan lari di ujung jalan sana ada mobil Abang, kamu masuk ke dalam mobil dan kunci," seru Julian.


"Baik Bang."


"Val, kamu hubungi Komandan Alan."


"Oke."


Valerie pun menghubungi Komandan Alan dan mereka akan segera ke tempat itu, sedangkan Valerie dan Julian mulai memasuki hutan itu untuk menolong para sandera.