THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Ruangan Bawah Tanah



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Semuanya duduk, Papi Lion memberikan kertas itu kepada Mr.Charles.


"Bukanya ini penginapan kalian?" tanya Papi Lion.


Mrs.Paula dan Mr.Charles sempat terkejut tapi mereka bisa menenangkan diri mereka sendiri.


"Ini memang artikel mengenai penginapan kami, dulu wisatawan yang menginap di sini sering menghilang secara misterius dan tidak pernah ditemukan. Semua polisi sudah memeriksa tempat ini, dan syukurnya mereka tidak menemukan hal yang mencurigakan dari penginapan kami," seru Mr.Charles.


"Sampai saat ini Polisi tidak bisa menemukan pelaku, dan efeknya semua wisatawan jadi tidak mau menginap lagi di penginapan kami. Pemasukan kami pun mulai menurun, tapi kami sangat senang saat anda dan rombongan memesan penginapan kami. Kami mempersiapkan semuanya dengan sangat baik, supaya kalian semua betah menginap di sini," sambung Mrs.Paula.


"Masa iya, polisi tidak bisa menemukan pelaku? Sampai-sampai banyak sekali wisatawan yang menghilang secara misterius?" seru Julian.


Papi Lion menatap tajam pasangan suami istri itu, ia melihat kalau dari raut wajah keduanya terlihat tegang walaupun mereka menutupinya dengan senyuman tapi Papi Lion bisa melihatnya itu semua.


"Terus ruangan yang ada di belakang penginapa itu, ruangan apa? Soalnya aku selalu mendengar benda jatuh dan teriakan seorang wanita juga," tanya Valerie.


"Kami sudah bilang, itu hanya gudang saja," sahut Mr.Charles.


"Bisa kami melihat ruangan itu?" tanya Dion.


"Boleh, silakan."


Mrs.Paula dan Mr.Charles pun mengajak semuanya menuju ruangan yang ada di belakang penginapan itu.


Mrs.Paula membuka pintu itu, dan semuanya masuk ke dalam sana. Dan ternyata apa yang dikatakan sepasang suami istri itu memang benar, kalau isinya hanyalah barang-barang bekas bahkan di dalamnya banyak sekali debu membuat semuanya sesak dan memilih untuk keluar.


"Kami tidak bohong kan? Itu adalah gudang penyimpan barang-barang bekas," seru Mr.Charles.


Semuanya tampak mengangguk-ngangguk, Papi Lion masih berada di dalam ruangan itu memeriksa setiap sudut ruangan itu. Instingnya mulai berfungsi, dan dia yakin kalau di ruangan itu ada yang aneh.


Papi Lion terus berjalan menyusuri gudang itu, hingga akhirnya Papi Lion menginjak sesuatu.


Sudut bibirnya tampak terangkat. "Ternyata kalian menyembunyikan sesuatu di sini," batin Papi Lion.


Papi Lion pun ke luar dari gudang itu, dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.


"Apa yang dikatakan Mrs.Paula dan Mr.Charles benar, di dalam memang tidak ada apa-apa jadi lebih baik sekarang kita kembali dan melaporkan kejadian ini kepada Polisi," seru Papi Lion.


"Iya Om, aku gak mau Mba Rosa dan Doni kenapa-napa, pokoknya berangkat ke sini lengkap dan pulang pun kita harus lengkap," seru Valerie.


"Iya, kita akan mencarinya mudah-mudahan mereka segera ditemukan."


Papi Lion, Dion, Valerie, dan Julian pun akhirnya memilih meninggalkan gudang itu. Sedangkan Mrs.Paula dan Mr.Charles tampak menyunggingkan senyumannya, lebih tepatnya senyuman penuh arti.


Papi Lion mengajak ketiganya duduk. "Ternyata mereka menyembunyikan sesuatu di dalam gudang itu," bisik Papi Lion.


"Menyembunyikan apa, Pi?" tanya Dion.


"Ada ruangan bawah tanah di sana, dan kita harus mencari tahu ada apa di dalam ruangan bawah tanah itu."


"Kok Om tahu, ada ruangan di bawah tanah?" tanya Valerie.


"Jangan panggil Om detektif legend kalau tidak bisa memecahkan kasus ini. Nanti malam kita selidiki pasangan suami istri itu, kita kumpul lagi di sini pukul 12.00 malam," seru Papi Lion.


"Siap laksanakan."


Semuanya pun kembali gaax, dan masuk ke kamar masing-masing.


***


Malam pun tiba...


Tepat tengah malam, seperti janji malam ini keempatnya bertemu di tempat yang dijanjikan oleh Papi Lion.


"Apa kalian melihat ada Mrs.Paula dan Mr.Charles?" tanya Papi Lion.


"Tidak ada Pi, aku sudah memeriksanya bahkan mobilnya pun tidak ada," sahut Dion.


"Bagus, ayo kita ruangan belakang."


Keempatnya menuju ruangan belakang.


"Jul, kamu tunggu di sini dan awasi setiap tempat kalau ada yang datang, kamu bersuara binatang apa pun itu," seru Dion.


"Siap Bos."


Valerie, Dion, dan Papi Lion masuk ke dalam ruangan belakang itu. Pintu itu tampam di gembok, tapi dengan sekali pukulan Papi Lion bisa membuka gembok itu.


"Huawaaaa...Om hebat banget," seru Valerie antusias.


"Aku juga bisa melakukan itu," seru Dion tak mau kalah.


"Ayo masuk."


Ketiganya mulai masuk, senter yang mereka bawa mulai mencari sesuatu di dalam kegelapan itu. Papi Lion berjalan ke sudut ruangan, dan mengarahkan senternya ke lantai yang terlihat normal kalau orang-orang biasa yang melihatnya.


"Kalian lihat ada yang aneh tidak dengan 6 kotak lantai ini?" tanya Papi Lion.


Valerie dan Dion memperhatikan lantai itu tapi mereka tidak menemukan yang aneh.


"Kalian lihat ini."


Papi Lion mencongkel lantai itu dengan tangannya dan membuat Dion serta Valerie terkejut. Setelah ke enam lantai itu berhasil du congkel, ketiganya mengarahkan senternya dan ternyata ada tangga di sana.


"Ternyata, ada ruangan bawah tanah di sini," seru Dion.


"Iya, Papi yakin kedua pasangan suami istri itu pelaku yang selama ini di cari oleh kepolisian, yang membuat semua wisatawan menghilang secara misterius. Papi duluan yang turun, kalian menyusul."


Akhirnya Papi Lion pun menuruni tangga itu disusul oleh Dion dan juga Valerie. Bau bangkai dan bau anyir langsung menyeruak menusuk hidung ketiganya.


"Astaga bau banget, bikin pengen muntah," seru Dion dengan menutup hidungnya dengan bajunya.


Begitu juga dengan Papi Lion, berbeda dengan Valerie yang sudah tidak kuat dengan baunya, dan muntah di sana.


"Maaf Om, Bo, aku gak kuat."


"Lebih baik kamu naik lagi sana, biar aku dan Papi yang melanjutkannya," seru Dion.


"Iya Val, lebih baik kamu kembali ke atas dan menunggu bersama Julian," sambung Papi Lion.


"Baiklah, maafkan aku."


Valerie sungguh tidak kuat menahan rasa bau, akhirnya Valerie memilih kembali ke atas dan menemani Julian.


"Val, kok kamu kembali?" tanya Julian.


"Di dalam bau bangkai dan anyir jadi satu, aku gak kuat perut aku mual, Panjul."


"Di dalam bukanya tidak ada apa-apa ya?"


"Ternyata Om Lion menemukan jalan menuju ruang bawah tanah, dan di dalamnya bau banget, Panjul."


"Wah, mencurigakan sekali mereka."


Sementara itu...


Dion dan Papi Lion mengarahkan senternya ke setiap ruangan, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat tulang-belulang yang berserakan di mana-mana, bahkan darah di mana-mana, ada yang sudah mengering dan ada juga yang masih terlihat baru.


"Pi, ini tulang manusia."


Mereka juga melihat sebuah meja dan pisau daging di sana.


"Keji sekali mereka melakukan semua ini," seru Papi Lion.


Papi Lion terus saja mengarahkan senternya, dia melihat sebuah identitas yang tergeletak di sana, Papi Lion melihatnya tanpa menyentuhnya.


"Dion, lihat ini."


Dion pun menghampiri Papinya. "Identitas salah satu wisatawan, Pi."


"Coba kamu ambil gambarnya, dan gambar ruangan ini."


Dion pun mulai mengambil foto-foto yang ada di dalam ruangan itu.


Sebuah sinar terang dari kejauhan terlihat. "Val, sepertinya itu lampu dari sebuah mobil," tunjuk Julian.


"Wah bahaya, itu pasti mobil Mrs.Paula dan Mr.Charles," sahut Valerie.


Meong...meong...meong...


Julian dan Valerie menirukan suara kucing, membuat Dion dan Papi Lion tersentak.


"Ada yang datang, Pi."


"Ya sudah, sekarang kita cepat-cepat naik ke atas."


Keduanya pun segera naik ke atas, dan merapikan kembali tempat itu. Kemudian Papi Lion mengganti gembok pintu itu dengan gembok yang dia bawa sebelumnya.


Keempatnya langsung pergi dan bersembunyi di balik dinding penginapan, dan benar saja itu adalah mobil Mrs.Paula dan Mr.Charles. Keduanya turun dengan senyuman yang mengembang, seperti mereka sudah melakukan hal yang menyenangkan.


"Kamu harus memberi makan yang enak kepada kedua orang itu, biar mereka sehat karena aku lihat tubuh mereka sehat dan sangat menggiurkan," seru Mr.Charles.


"Tentu saja."


Keduanya pun masuk ke dalam ruangan mereka.


"Dua orang? Apa maksud mereka, dua orang itu Mba Rosa dan Doni ya?" seru Valerie.


"Bisa jadi," sahut Julian.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita istirahat masalah Rosa dan Doni, kita pikirkan besok yang terpenting mereka selamat," seru Papi Lion.


Semuanya menganggukan kepalanya, Valerie merangkul lengan Dion dan pura-pura lemas.


"Ya ampun Bos, kepalaku pusing banget ini, bisakah Bos antarkan aku ke kamar," seru Valerie dengan pura-pura lemas.


Julian yang melihat itu memutar matanya jengah, lalu dengan kesalnya Julian menarik telinga Valerie dan membawanya pergi.


"Jangan kegatelan kalau jadi wanita."


"Astaga, sakit Panjul."


"Sudah sana masuk, jangan pura-pura lemas seperti itu."


"Kamu benar-benar menyebalkan Panjul, tidak lihatkah kalau aku sedang mencari kesempatan."


Julian tidak mau mendengarkan ocehan Valerie, Julian membuka pintu kamar Valerie dan mendorong tubuh Valerie untuk masuk ke dalam kamarnya, lalu Julian menutup pintu kamar Valerie dengan sangat kencang.