THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Jesika Yang Keras Kepala



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Valerie terdiam dan menundukan kepalanya, bahkan saat ini Valerie sudah memainkan kakinya.


"Kamu kenapa, tiba-tiba diam seperti itu? Pasti hantu toiletnya sudah keluar ya, dari tubuh kamu?" goda Julian.


"Diam kamu, Panjul," ketus Valerie.


Dion melirik ke arah Valerie dan terlihat menahan senyumannya. "Kenapa Valerie begitu lucu kalau sedang marah seperti itu, apalagi dengan wajah yang cemberut kaya gitu," batin Dion.


Tidak lama kemudian, Jesika pun kembali datang setelah dia membersihkan wajah dan bajunya yang terkena semburan dari Valerie.


"Ion, serius wanita itu pacar kamu?" kesal Jesika.


"Iya."


"Kamu nyebelin, aku benci sama kamu."


Jesika langsung pergi, Dion yang tidak mau melihat Jesika marah akhirnya memilih menyusul Jesika karena Dion takut terjadi kenapa-napa sama Jesika.


Valerie hanya bisa melihat kepergian Dion dengan tatapan nelangsanya, hari ini Valerie memang sial. Sudah diminta traktir dengan pesan makanan banyak, ditambah sekarang Dion memilih menyusul Jesika.


"Menyedihkan sekali nasih aku, Panjul."


"Memangnya ada apa?" tanya Julian polos.


"Ternyata cinta bertepuk sebelah tangan itu rasanya sungguh sangat menyakitkan, ya."


"Dari awal kan aku sudah bilang, si Bos itu gak mungkin suka sama wanita dengan seribu kekurangan kaya kamu, kamunya aja yang kepedean."


Pletak...


Valerie memukul kepala Julian dengan gemasnya menggunakan sendok.


"Kamu senang banget ngehina aku, memangnya gak ada apa, satu saja kelebihanku?" kesal Valerie.


"Ada."


"Apa?"


"Pemecah rekor wanita paling pelit dan perhitungan sedunia."


Valerie yang sangat kesal langsung mencubit paha Julian dengan kerasnya, membuat Julian meminta ampun.


"Ampun Val, sakit tahu."


"Beraninya kamu bicara seperti itu."


"Iya-iya, aku minta maaf. Ampun."


Valerie pun melepaskan cubitannya dan menatap tajam ke arah Julian.


"Kamu tahu tidak, cubitan kamu itu pedas banget melebihi pedasnya mulut netizen," keluh Julian dengan mengusap pahanya sendiri.


Valerie pun bangkit dari duduknya dan berjalan dengan gontai menuju kasir, sungguh Valerie merasa tidak rela membayar ratusan ribu hanya untuk makanan.


"Lah, ini makanan masih banyak tapi tumben si Vale gak minta di bungkus," gumam Julian.


Julian pun akhirnya mengikuti Valerie ke kasir.


"Mba, berapa semuanya?" tanya Valerie lemas.


Valerie menggenggam dompetnya dengan sangat erat, seolah-olah tidak mau mengeluarkan banyak uang.


"Semuanya sudah lunas di bayar sama Mas yang tadi," sahut penjaga kasir.


"Hah..."


Mata Valerie langsung melotot, kemudian menoleh ke arah Julian.


"Serius Mba, semuanya sudah di bayar?" tanya Valerie tidak percaya.


Mata Valerie langsung berbinar dan senyuman terbit di wajah cantiknya, dia merasa sangat lega, akhirnya dia tidak perlu mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membayar makanan itu.


"Jul, si Bos memang baik ya, wanita mana coba yang gak klepek-klepek sama si Bos," seru Valerie dengan memegang pipinya sembari tersenyum.


Julian mengusap wajah Valerie. "Istighfar Val, sepertinya hantu toilet itu masih merasukimu," seru Julian dengan gemasnya.


"Apaan sih, enak saja. Oh iya Mba, satu lagi untuk makanan yang tidak habis, tolong di bungkus ya," seru Valerie.


"Baik Mba."


Julian langsung menepuk jidatnya sendiri, baru saja dia berpikir kalau Valerie lupa akan makanan itu, tapi ternyata sifat pelit dan perhitungannya itu sudah mendarah daging.


"Sayang Jul, kalau gak dibawa, kan makanan itu sudah dibayar," seru Valerie dengan sengirannya.


"Bodo amat."


Julian langsung keluar dari Caffe itu dan memilih menunggu di dalam mobil saja.


"Idih, si Panjul sok kesal gitu, awas aja kalau sampai rumah, dia minta makanan itu gak bakalan aku kasih," gerutu Valerie.


Sementara itu di dalam mobil Dion, Jesika terlihat marah.


"Jes, kamu kenapa?" tanya Dion.


"Kamu tanya aku kenapa? Sudah jelas aku marah sama kamu karena menjadikan wanita itu pacar kamu, sedangkan aku yang sejak kecil bersamamu, tidak pernah kamu lihat."


Dion menghembuskan napasnya secara kasar, lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Jes, dengarkan aku, aku sudah bilang sama kamu kalau aku sudah menganggap kamu seperti saudara aku sendiri, dan aku tidak punya perasaan apa-apa, selain rasa sayangku sebagai Kakak."


"Tapi aku sudah lama mencintaimu Dion, aku gak mau kalau kamu cuma menganggapku sebagai saudara karena aku gak mau itu, aku ingin rasa sayang kamu itu seperti rasa sayang pada pasangannya," kesal Jesika.


"Maaf Jes, aku gak bisa."


"Apa kamu benar-benar mencintai wanita itu? Atau hanya pura-pura saja supaya perjodohan kita batal?"


"Aku mencintainya Jes, dan aku tidak pernah pura-pura kalau soal urusan hati," sahut Dion ragu.


"Kamu benar-benar keterlaluan Dion, tapi aku gak akan nyerah masih banyak waktu untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku."


"Jes, sudahlah kamu jangan memaksakan diri lagi, perjanjian kita berlaku kalau statusku tidak punya kekasih, tapi sekarang kenyataannya aku sudah punya kekasih dan kamu tidak perlu melakukannya lagi."


"Tidak, pokoknya aku akan terus berusaha supaya kamu menjadi milikku, bahkan aku tidak segan-segan akan merebutmu dari wanita itu," seru Jesika dengan emosinya.


Jesika pun turun dari dalam mobil Dion, dan segera menghentikan taksi kemudian pergi dengan menggunakan taksi itu. Dion hanya bisa mengusap wajahnya kasar, entah bagaimana caranya supaya Jesika mengerti dan mau berhenti untuk mencintainya.


***


Malam pun tiba...


Saat ini Dion sedang makan malam bersama kedua orangtuanya.


"Ion, Mami minta nomor ponselnya Valerie dong."


"Buat apa, Mami?"


"Mami ingin mengajak Valerie jalan-jalan."


"Buat apa? Valerie sibuk Mami, jadi Mami jangan coba-coba mengganggu Valerie."


"Kamu itu kenapa sih? Seharusnya kamu senang dong kalau Mami ingin mengenal lebih dekat lagi sama calon istrimu."


"Gak usah, besok pasti Valerie sibuk Mami jadu kalau Mami ingin mengajak Valerie jalan, mending week end saja."


"Mi, besok kita ke kantor The Black Hunter saja, kali aja Mami bakalan ketemu sama calon mantu di sana," celetuk Papi Lion dengan santainya.


Dion langsung melotot ke arah Papinya itu, tapi Papinya hanya sibuk dengan makananya dan pura-pura tidak melihat Dion.


"Papi apaan sih, kita kan sudah punya Valerie sebagai calon mantu kita, kenapa Papi malah meminta Mami buat ke sana."


"Ya, kali aja Mami di sana bisa dapat calon mantu."


"Enggak Pi, pokoknya Mami sudah klop sama Valerie, Mami ingin mengenal lebih jauh lagi kepada Valerie tapi Dion pelit amat gak mau kasih tahu nomor ponsel Valerie," kesal Mami Ayu.


"Maaf Mi, bukanya Dion tidak mau memberi tahu Mami, tapi status Valerie saat ini hanya kekasih bohong-bohongan Dion, Dion gak mau membuat kalian kecewa," batin Dion.


Dion pun kembali melahap makan malamnya, dan setelah selesai makan malam, Dion memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.