
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Rossa dan Doni sudah sehat kembali dan rencananya hari ini mereka semua akan memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Pengalaman liburan kali ini bukan membawa kebahagiaan malah mereka harus di hadapkan dengan masalah-masalah yang membuat mereka mau tidak mau harus menyelidikinya.
Seperti biasa, Valerie mulai gelisah dia masih merasa takut naik pesawat. Dion yang melihat itu, menarik tangan Valerie untuk masuk pesawat.
"Ya Allah, selamatkan aku semoga aku selamat sampai Indonesia, kalau aku selamat sampai Indonesia, aku janji akan menjadi anak yang baik dan tidak akan nakal lagi," seru Valerie dengan membuka kedua tangannya seperti berdo'a.
Dion hanya bisa menahan senyumannya, sungguh wanita yang ada di sampingnya itu wanita yang unik dan langka.
Tidak lama kemudian, pesawat mulai take off, Valerie yang kaget langsung menggenggam tangan Dion dengan sangat erat. Tapi beberapa menit kemudian Valerie sadar, dia pun melepaskan tangan Dion tapi Dion justru malah balik menggenggam tangan Valerie membuat Valerie terkejut.
"Sudah diam saja, jangan banyak bicara," seru Dion.
Valerie pun terdiam, walaupun rasa takutnya sangat besar tapi setidaknya ada Dion di sampingnya.
Butuh beberapa jam, akhirnya Valerie dan rombongan sampai di Indonesia.
"Sayang, apa kamu mau mampir ke rumah tante dulu," seru Mami Ayu.
"Sepertinya lain kali saja tante, soalnya Valerie capek juga ingin cepat-cepat istirahat," sahut Valerie.
Mami Ayu memeluk Valerie dengan penuh kasih sayang, membuat Dion dan Papi Lion menyunggingkan senyumannya. Entah kenapa, Dion merasa bahagia melihat Maminya seperti itu kepada Valerie.
"Andri, Nisa, mungkin anak kalian sekarang sudah sebesar Valerie, maaf aku belum bisa menemukan anak kalian, tapi aku janji akan terus mencarinya," batin Papi Lion.
Akhirnya semuanya pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, Valerie pulang menggunakan taksi online. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Valerie pun sampai di rumahnya.
"Ya ampun, badanku serasa patah-patah," gumam Valerie.
Valerie pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Valerie pun masuk ke alam mimpinya.
Flash back on...
Waktu itu Valerie masih berusia 13 tahun dan Valerie masih SMP. Valerie dengan riangnya pulang sekolah dengan mengayuh sepedanya, hingga beberapa saat kemudian Valerie sampai di rumahnya tapi Valerie tampak mengerutkan keningnya karena di halaman rumahnya ada sebuah mobil yang sama sekali tidak Valerie kenal.
"Mobil siapa itu? Apa di rumah ada tamu ya?" gumam Valerie.
Valerie pun turun dari sepedanya dan hendak membuka pintu pagar, tapi tiba-tiba Valerie terkejut mendengar suara benda-benda jatuh dan teriakan Mamanya.
"Mama...."
Valerie menjatuhkan sepedanya dan segera berlari ke dalam rumahnya, dan betapa terkejutnya Valerie saat melihat Papanya sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, dan Mamanya sudah babak belur.
"Mama...."
Mama Valerie membelalakan matanya, begitu pun dengan orang-orang yang sedang menyiksa Mamanya itu.
"Valerie, lari Valerie, cepat pergi dari tempat ini!" teriak Mamanya dengan deraian airmata.
"Tapi Ma----"
"Mama bilang, cepat lari!" teriak Mamanya.
Anak buah orang itu dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah Valerie, tapi sekuat tenaga Mamanya berlari dan menghalangi tubuh Valerie.
Mama Valerie pun ambruk. "Ce-pat, per-gi da-ri si-ni," seru Mamanya dengan terbata.
Tanpa berpikir lagi, akhirnya Valerie langsung berlari dan anak buah orang itu mengejar Valerie. Valerie berlari sekencang mungkin dengan deraian airmatanya, Valerie begitu lincah sehingga anak buah orang itu tidak bisa mengejar Valerie.
Dari situlah, awal kehidupan sulit Valerie di usianya yang sangat muda, Valerie harus bisa bertahan hidup. Bahkan Valerie tidur di kolong jembatan dan bekerja sebagai pengamen dan juga mengumpulkan rongsokan.
Walaupun kehidupannya sulit, dia tidak pernah lupa belajar. Dia belajar dengan menggukan buku pelajaran yang dia bawa di dalam tasnya, uang hasil ngamen dan mengumpulkan rongsokan dia kumpulkan untuk membeli seragam dan alat-alat tulis.
Valerie terus melanjutkan sekolahnya, walaupun sepulang sekolah dia harus ngamen dan juga mengumpulkan rongsokan. Valerie dipaksa dewasa sebelum waktunya, dan akhirnya kehidupan yang sangat sulit itu menjadikan Valerie tumbuh menjadi wanita tangguh dan mandiri.
Flash back off....
Wajah Valerie sudah dipenuhi dengan keringat, hingga akhirnya Valerie pun terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Mimpi buruk itu lagi, kenapa aku selalu bermimpi itu terus?" gumamnya.
Valerie pun bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur, kemudian mengambil air minum dari dalam kulkas.
Valerie terduduk. "Maafkan Valerie, Ma, Pa, Valerie belum bisa menemukan pelaku pembunuh Mama dan Papa, Valerie akan terus mencari orang itu karena Valerie tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang," gumam Valerie.
***
Sementara itu, di sebuah rumah mewah dan megah.
"Pa, Ma, ayolah bicara sama tante Ayu dan Om Lion, Jesika tidak mau sampai Dion menikah dengan wanita lain, Jesika sangat mencintai Dion," rengek Jesika.
"Jesika, Dion itu tidak mencintaimu sudahlah kamu cari saja pria lain, masih banyak kok pria yang ngantri untukmu," seru Papa Ferdinan.
"Tidak Pa, Jesika itu hanya mencintai Dion dan Jesika hanya ingin Dion, Jesika tidak mau pria lain. Pokoknya kalau Mama dan Papa tidak bisa mengabulkan permintaan Jesika, lebih baik Jesika mati saja," ancam Jesika.
"Astaga sayang, tunggu dulu dong kamu jangan melakukan hal yang bodoh, baiklah nanti Papa akan bicara kepada Lion."
"Nah, begitu dong Pa. Pokoknya Jesika tidak bisa hidup tanpa Dion, apalagi kalau Dion jadi sama wanita itu, Jesika tidak terima," kesal Jesika.
"Memangnya siapa wanita yang saat ini sedang dekat dengan Dion?" tanya Mama Astrid.
"Bawahannya di kantor Ma, masa Dion lebih memilih wanita miskin dibandingkan Jesika, padahal Jesika lebih segala-galanya dibandingkan Valerie," kesal Jesika.
"Ya sudah, nanti Mama dan Papa coba bicara lagi dengan orangtua Dion," seru Mama Astrid dengan mengusap kepala Jesika.
"Lihat saja Valerie, kamu tidak akan bisa mendapatkan Dion karena orangtuaku tidak akan tinggal diam," batin Jesika dengan senyumannya.
Malam pun tiba....
Seorang pria menyeret seorang wanita ke sebuah rumah kosong yang berada di tengah hutan itu.
"Lepaskan aku!"
"Diam kamu, atau aku bunuh kamu sekarang juga!" sentak pria itu.
Pria itu terus saja menyeret si wanita, dan sesampainya di rumah itu, si pria langsung menghempaskan tubuh si wanita.
"Diam kalian di sini, jangan coba-coba berani kabur atau aku akan bunuh kalian semua!" ancam si pria.
Wanita yang bernama Widia itu, terkejut ternyata di dalam ruangan itu bukan hanya dia saja tapi ada beberapa wanita muda yang nasibnya seperti dia.
"Ya Allah, selamatkan aku. Bang Jul, tolong Widia," batin Widia dengan deraian airmatanya.