THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Merindukan Valerie



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Dion kembali ke rumah sakit bersama Petra...


"Bagaimana keadaan Vale, Mi?" tanya Dion.


"Masih sama Ion, belum sadar sama sekali," sahut Mami Ayu.


Dion menghampiri Valerie dan duduk di samping Valerie kemudian menggenggam tangannya Valerie.


"Val, bangunlah jangan buat aku khawatir seperti ini. Sebentar lagi kita akan menikah, bukanya kamu ingin sekali menikah denganku? Kalau kamu tidak bangun-bangun, aku akan membatalkan pernikahan kita, ayo bangun Val, aku sangat merindukanmu," gumam Dion.


Mami Ayu, Papi Lion, dan Petra tampak sedih mendengar Dion mengatakan hal seperti itu karena selama ini Dion tidak pernah seserius itu kepada seorang wanita.


"Bagaimana dengan Jesika?" tanya Papi Lion.


"Dia sudah membusuk di penjara, Om," sahut Petra.


"Tante gak nyangka kalau Jesika bisa melakukan hal sejahat itu."


"Demi cinta apa pun akan dilakukan, tante, termasuk menyingkirkan orang yang berusaha menghalanginya," sahut Petra.


"Pi, kita beli makanan yuk, kasihan anak-anak bujang kita belum sarapan," seru Mami Ayu.


"Oke."


"Ion, Mami beli sarapan dulu."


"Iya Mi."


Papi Lion dan Mami Ayu pun akhirnya pergi tinggalah Petra dan Dion, Petra tiduran di atas sofa dengan mengotak-ngatik ponselnya bermain game sedangkan Dion masih setia duduk di samping Valerie.


Tiba-tiba pintu ruangan rawat Valerie terbuka, Julian, Rossa, Doni, dan Pak Erwin datang mewakili semua tim.


"Ya Allah Vale, wajahmu babak belur seperti itu," seru Rossa kaget.


Mendengar suara wanita, Petra langsung melirik ke arah Rossa.


"Bagaimana keadaan Valerie, Bos?" tanya Pak Erwin.


"Dia koma Pak, dan dokter pun tidak bisa memprediksikan kapan Valerie sadar," sahut Dion.


"Ya Allah Vale, bangun, di kantor sepi gak ada kamu," seru Doni.


"Iya Val, gak ada yang gangguin kita dan jahilin kita, ayo bangun Val," sambung Rossa dengan meneteskan airmatanya.


Dion tampak diam...


"Bos, wajah Bos tampak kelelahan seperti itu, bagaimana kalau Bos istirahat dulu, sekarang kan ada kami jadi Valerie biar kami yang jaga," seru Rossa.


"Iya Bos, tenang saja Valerie biar kami yang jagain," sambung Julian.


"Ya sudah, aku istirahat sebentar kalau Valerie sadar segera bangunkan aku."


Dion merebahkna tubuhnya di atas ranjang yang berada di samping Valerie dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama Dion pun langsung terlelap.


"Val, bangun Val, ayo kita berantem lagi. Di kantor sepi gak ada yang ngajak aku berantem, please aku mohon sadarlah kami di sini sedang menunggumu," seru Julian.


Sementara itu Rossa merasa tidak enak karena pria yang duduk di sofa dari tadi melihat ke arahnya, Rossa menarik lengan baju Doni.


"Don, pria itu siapa? Kenapa dari tadi lihatin aku terus?" bisik Rossa.


Doni melirik ke arah Petra. "Entahlah, aku gak tahu," sahut Doni.


Rossa menundukan kepalanya dan bersembunyi di belakang tubuh Doni membuat Petra mengulas senyum karena merasa lucu dengan tingkah Rossa.


"Hmm...kalian pasti ingin kopi kan? Aku belikan kopi dulu ya," seru Rossa.


"Wah, kamu tahu aja kalau saya ingin kopi," sahut Pak Erwin.


"Ya sudah, aku beli kopi dulu ya."


"Sekalian sama cemilannya Mba," seru Doni.


"Uangnya mana?"


"Dari kamu dulu, nanti gajihan aku ganti," sahut Doni cengengesan.


"Kebiasaan."


Rossa pun segera keluar dari ruangan rawat inap Valerie, begitu pun Petra yang ikut keluar mengikuti Rossa.


"Hai Nona, kenapa cepat sekali jalannya? Aku bukan orang jahat kok!" teriak Petra.


Rossa tidak memperdulikan teriakan Petra, dia terus saja berjalan menuju kantin hingga akhirnya Petra berhasil menyusul Rossa dan menahan lengan Rossa membuat Rossa terkejut dan menghempaskan tangan Petra.


"Apaan sih, main pegang-pegang segala," ketus Rossa.


"Jangan galak-galak Nona, aku hanya ingin kenalan saja denganmu."


"Ngajak kenalan kok kaya yang mau melakukan kejahatan," Rossa kembali bersikap ketus kepada Petra.


"Maaf kalau aku sudah membuatmu takut, tapi aku benar-benar ingin berkenalan denganmu. Kenalkan nama aku, Petra," seru Petra dengan mengulurkan tangannya.


Rossa melihat tangan Petra, dia masih sangat curiga kepada Petra kalau Petra hanya ingin modus saja.


"Rossa."


Rossa hanya menyentuh sebentar tangan Petra, kemudian melepaskannya kembali membuat Petra tersenyum.


"Bukanya kamu mau beli kopi, ayo aku bantuin kamu."


"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Rossa.


"Sudah, gak baik menolak tawaran orang seperti itu."


Petra pun segera melangkahkan kakinya menuju kantin dan memesan kopi untuk yang lainnya, sedangkan Rossa hanya bisa memperhatikan Petra saja.


"Kalau dilihat-lihat, dia tampan juga ya," batin Rossa.


Petra sudah memesan dan membayar semua kopinya, tapi Rossa masih saja memperhatikan Petra. Petra mengerutkan keningnya dan melambaikan tangannya di depan wajah Rossa.


"Rossa, kamu kenapa?"


Seketika Rossa tersentak dan tersadar. "Ah, iya ada apa? Mba berapa semua kopinya?" tanya Rossa gugup dengan mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Kopinya sudah aku bayar."


"Hah, kok kamu yang bayar? Ya sudah, ini uangnya aku ganti," seru Rossa dengan menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribuan.


"Uangnya simpan saja, aku tidak butuh uang kamu."


Petra pun langsung berjalan meninggalkan Rossa yang saat ini terlihat melongo.


"Cih, sombong banget tuh orang," gerutu Rossa.


Rossa pun akhirnya setengah berlari menyusul Petra dan langsung merebut kantong kresek yang berisi kopi cup itu.


"Ini kopi buat teman-temanku, jadi biar aku yang bawa," kesal Rossa.


Lagi-lagi Petra hanya menyunggingkan senyumannya, dia suka dengan tipe-tipe wanita galak seperti itu jadi ada sedikit tantangan buat Petra.


Rossa kembali masuk ke dalam ruangan rawat Valerie dan ngumpul bersama yang lainnya untuk ngopi sembari menjaga Valerie. Sedangkan Petra yang ingin menyusul Rossa, tiba-tiba mendapat telepon kalau dia harus segera ke kantor karena ada berkas penting yang harus segera dia tanda tangani.


"Guys, pria yang tadi duduk di sini itu siapa sih? Kok aku baru lihat? Apa dia temannya si Bos, ya?" seru Rossa.


"Maksud kamu Tuan Petra? Dia sepupunya si Bos," sahut Pak Erwin.


"Serius wakil ketua?"


"Seriuslah, masa aku bohong. Tuan Petra itu sejak kecil di asuh oleh kedua orangtua si Bos, dan dia baru pulang dari luar negeri," sahut Pak Erwin.


Rossa tampak terkejut, dia tidak menyangka kalau pria itu adalah sepupunya Dion.


***


Sore pun tiba...


Dion baru saja keluar dari kamar mandi, dia baru saja mandi. Dion kembali menghampiri Valerie yang masih setia memejamkan matanya.


"Val, ayo bangun dong, kamu tahu betapa merindukannya aku?"


Dion mengusap kepala Valerie dengan pelan, dan kemudian mencium keningnya sangat lama.


"Bangunlah Val, aku sangat merindukanmu," gumam Dion.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘