THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Bau Anyir



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Dion dan Valerie kembali bergabung dengan yang lainnya, Valerie langsung merangkul lengan Dion sampai-sampai Dion tersentak.


"Akting Bos," seru Valerie dengan mengedipkan matanya.


"Yuhhuuu...pasangan romantis kita datang!" teriak wakil ketua.


Semuanya bertepuk tangan dan bersorak-sorai, Julian berusaha menyunggingkan senyumannya walau hatinya begitu sakit.


"Ya ampun, kalian dari mana? Jangan sampai kalian tes drive duluan ya," goda Mami Ayu.


"Idih, apaan sih Mami kalau ngomong suka sembarangan," keluh Dion dengan wajah yang memerah.


"Maaf tante, tadi kita habis kangen-kangenan, iya kan, sayang," seru Valerie dengan bergelayut manja di lengan Dion.


"Yuhuuuu...otw pelaminan kayanya!" teriak salah satu karyawan bernama Doni itu.


"Ah, kamu Doni bikin aku malu saja," sahut Valerie dengan wajahnya yang malu-malu.


"Akting yang bagus kalian, lihat saja kalian akan mendapatkan hukumannya," batin Papi Lion dengan senyumannya.


Valerie mendelikan matanya ke arah Jesika sembari memperlihatkan senyuman kemenangannya, sedangkan Jesika terlihat sangat kesal.


"Tidak, aku tidak boleh kalah dengan wanita kampungan itu," batin Jesika dengan kesalnya.


Tidak terasa, waktu sudah malam dan mereka masih asyik menikmati keindahan pantai itu. Valerie tampak mengusap-ngusap kedua tangannya karena saat ini Valerie memakai dress tanpa lengan.


Dion memperhatikan Valerie, dia hendak bangkit dan akan memakaikan baju kemejanya tapi langkahnya terhenti, karena Julian duluan yang menghampiri Valerie.


"Sudah malam, ayo masuk kamar. Kamu itu orang yang paling tidak kuat sama udara dingin, aku yakin sebentar lagi pasti kamu pilek," seru Julian.


"Ah iya, ayo."


Valerie pun pergi bersama Julian, dan ternyata yang lainnya pun memilih kembali ke penginapan. Sedangkan orangtua Dion, sudah sejak tadi pergi dan tidak ikut berkumpul dengan para anak muda itu.


Dion yang melihat itu, meremas kemeja yang saat ini dia pegang. Jesika yang melihat raut wajah emosi Dion, memanfaatkan keadaan dan menghampiri Dion.


"Ion, aku lihat si Valerie dekat banget sama pria itu, aku heran kok bisa kamu pacaran sama wanita yang sama sekali tidak menghargai kamu, bahkan dia dengan terang-terangan memilih pergi dengan pria itu tanpa memperdulikanmu," seru Jesika dengan senyumannya.


Dion hanya diam saja, tidak tahu kenapa dadanya terasa panas sekali. Dion marah kepada Valerie, kenapa dia lebih memilih pergi bersama Julian dibandingkan mengajak dirinya.


Dion pun menyusul semuanya ke penginapan dan langsung berjalan dengan cepat, Dion benar-benar emosi. Semuanya masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.


Valerie masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan setelah selesai, Valerie pun naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat.


Saking kelelahannya, tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Valerie pun terlelap dan masuk ke alam mimpinya. Wajah Valerie mulai berkeringat, lagi-lagi Valerie bermimpi tentang kematian kedua orangtuanya.


Valerie memang tidak pernah bercerita kepada siapa pun kalau kedua orangtuanya meninggal karena dibunuh oleh seseorang. Selama ini Valerie mengunci rapat-rapat masalah itu, tapi akhir-akhir ini kejadian mengerikan itu selalu muncul di mimpinya.


Valerie memang saksi kunci atas kematian orangtuanya sendiri, orangtuanya dibunuh di depan mata kepala dia sendiri dan itu akan menjadi luka yang membekas dalam hati dan benaknya.


"Mamaaaa....Papaaaaa....."


Valerie terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, bahkan matanya pun sudah basah. Valerie segera mengambil air minum dan meminumnya sampai tandas.


"Kenapa, aku terus-terusan memimpikan kedua orangtuaku? Apa mereka ingin aku menemukan pelakunya?" gumam Valerie.


Di saat Valerie sedang termenung, tiba-tiba Valerie dikejutkan dengan suara tangisan.


"Suara tangisan siapa itu? Manusia apa setan sih?" gumam Valerie.


Valerie awalnya merasa takut, tapi rasa penasarannya lebih besar dibandingkan rasa takutnya. Perlahan Valerie turun dari tempat tidurnya dan mulai membuka pintu kamar, angin laut langsung menerpa wajahnya saat pintu kamarnya terbuka.


Valerie celingukan, tempat penginapan itu sangat sepi dan sunyi, bahkan saat ini Valerie sudah mulai merinding.


Di saat Valerie hendak membalikan tubuhnya untuk masuk kembali ke kamar, tiba-tiba suara benda jatuh terdengar dan suara itu berasal dari ruangan yang ada di belakang penginapan itu.


"Suara itu dari ruangan belakang lagi, aku memang penasaran dengan ruangan itu tapi apa memang benar apa yang dikatakan Mrs.Paula dan Mr.Charles kalau ruangan itu hanya ruangan barang-barang bekas," gumam Valerie.


Rasa ingin tahu dan penasaran Valerie semakin besar, sehingga mengalahkan rasa takutnya. Perlahan Valerie pun menuruni tangga dan melangkahkan kakinya menuju halaman belakang penginapan itu.


Seketika Valerie menutup hidungnya, perutnya terasa mual.


"Astaga, bau anyir sekali ini," gumam Valerie.


Valerie sudah tidak bisa menahan rasa mual itu, hingga Valerie pun segera berlari menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Valerie mengeluarkan isi perutnya di sana, sungguh bau anyir itu sangat menyengat padahal tadi sore di sana tidak tercium apa-apa.


"Itu seperti bau anyir darah, darah manusia," gumam Valerie.


Setelah Valerie puas, akhirnya Valerie pun terkulai lemas, dia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Gila, bau banget."


Valerie mulai curiga dengan ruangan itu...


"Aku harus memberitahukan ini kepada Bos Dion, aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat ini," batin Valerie.


***


Keesokan harinya...


Mereka semua sarapan bersama, pemilik penginapan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


Valerie yang baru datang langsung menarik tangan Dion untuk ikut bersamanya.


"Valerie, ini masih pagi untuk kalian mojok," goda Papi Lion.


"Maaf Om, pinjam kekasihku sebentar!" teriak Valerie dan itu membuat Dion diam-diam tersenyum.


Valerie membawa Dion ke luar penginapan...


"Ada apa? Kamu mau ngapain?" tanya Dion.


"Bos, sepertinya ada yang aneh dengan penginapan ini."


"Aneh bagaimana?"


"Tadi malam aku mendengar teriakan wanita lagi, dan suaranya berasal dari ruangan kemarin di saat aku menghampiri ruangan itu, tiba-tiba tercium bau anyir yang sangat menyengat dan aku yakin kalau itu adalah bau anyir darah manusia."


"Apa?"


"Kita harus menyelidikinya Bos, lagipula memangnya Bos tidak curiga dengan penginapan ini? Dari awal kita datang, penginapan ini sepi, dan hanya kita yang menyewa tempat ini."


"Benar juga, tapi kita awasi tempat ini dengan diam-diam jangan sampai Mrs.Paula dan Mr.Charles curiga."


"Siap Bos."


Dion pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Valerie.


"Bos."


"Apa?"


"Gak mau akting?" tanya Valerie dengan senyumannya.


Dion tampak melongo. "Sejak kapan senyuman gadis itu begitu cantik," batin Dion.


Valerie terdiam, dia melihat Dion diam itu tandanya Dion tidak mengizinkannya untuk berakting.


"Ya sudah kalau gak mau akting," seru Valerie.


Valerie pun pergi melewati Dion tapi Dion dengan cepat menahan tangan Valerie.


"Aku kan, sudah bilang kalau mau akting tidak usah minta izin."


Dion menggenggam tangan Valerie dan membawanya berjalan untuk bergabung dengan yang lainnya, Valerie tampak senyum-senyum sudah jangan ditanya lagi, hatinya saat ini sudah hampir meledak seperti petasan tahun baru yang sudah meletup-letup di dalam dadanya.