THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Dia Adalah Orangnya



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Malam ini Valerie sudah terlihat cantik dengan memakai gaun yang Dion kirim untuknya, malam ini Valerie diajak Dion dan kedua orangtuanya untuk menghadiri undangan makan malam keuarga Jesika.


"Hai, Valerie kenapa kamu cantik banget, sampai-sampai Bos kamu sendiri menyukaimu," seru Valerie bermonolog sendiri dengan senyum-senyum sendiri.


Tin..tin..tin..


"Astaga Pangeranku sudah datang," gumam Valerie dengan centilnya.


Valerie pun dengan cepat mengambil tasnya dan segera keluar menemui Dion. Valerie menyunggingkan senyumannya saat melihat Dion sudah berdiri di sampinh mobilnya dengan penampilan yang sangat tampan.


"Malam Bos."


"Wow, cantik sekali calon istriku."


"Iya dong, siapa dulu," sahut Valerie dengan mengedipkan matanya.


"Silakan masuk."


Dion membukakan pintu mobil untuk Valerie, dan Valerie dengan senang hati langsung masuk. Perlahan Dion pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Dion sering sekali melirik Valerie membuat Valerie salah tingkah.


"Bos, jangan lihatin aku terus, aku orangnya gampang ge'eran dan kalau ge'er kelakuanku suka gak ke kontrol, kalau kata si Panjul kelakuanku kaya Reog kalau lagi ge'er," seru Valerie.


Seketika tawa Dion pecah, Valerie memang gadis yang langka dan satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tertawa.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Dion pun sampai di rumah Jesika. Rumah yang sangat besar dan mewah, Dion membukakan pintu untuk Valerie dan mengulurkan tangannya, tentu saja Valerie menyambut uluran tangan Dion dengan senang hati.


Ternyata Papi Lion dan Mami Ayu sudah datang dan saat ini sedang berbincang-bincang dengan Mama Astrid dan Jesika.


"Akhirnya kalian datang juga," seru Mami Ayu dengan bangkit dari duduknya.


Mami Ayu menggandeng Valerie dan itu membuat Jesika merasa kesal, tapi mau apa lagi Dion memang sudah memilih Valerie sebagai calon istrinya.


"Astrid, ini Valerie calon menantuku," seru Mami Ayu.


"Hallo tante, apakabar?" seru Valerie dengan sopannya.


"Oh jadi ini calon istri Dion, aku akui kamu memang cantik, Nak."


"Terima kasih, tante."


Sebenarnya tujuan Ferdinan mengundang keluarga Dion karena mereka ingin mengucapkan selamat kepada Dion, dan Jesika memilih mengalah dan mengikhlaskan Dion menikah dengan wanita lain.


"Ayo semuanya, lebih baik sekarang kita menuju meja makan sembari menunggu Papa Jesika."


Semuanya pun menuju meja makan dan menunggu Ferdinan yang sedang menerima telepon entah dari siapa.


"Val, maafkan aku ya, aku tahu cinta memang tidak bisa dipaksakan jadi lebih baik aku mundur saja dan memberikan Dion untukmu, tolong jaga dia ya," seru Jesika.


"Pasti Jes," sahut Valerie.


Semuanya pun ikut senang dengan keputusan Jesika tapi tidak dengan Papi Lion, Papi Lion melihat bahwa raut wajah Jesika tidak meyakinkan dan tidak terlihat tulus.


Tap...tap...tap...


Suara derap langkah seseorang menggema menuruni anak tangga dan semua orang pun langsung menoleh.


"Wah, ternyata kalian sudah datang, maaf ya, tadi saya menerima telepon dulu," seru Ferdinan dengan senyumannya.


Pranggg....


Valerie tidak sengaja menjauhkan gelas, mata Valerie melotot melihat ke arah Ferdinan.


"Kamu kenapa?" tanya Dion khawatir.


Wajah Valerie memucat bahkan tangannya sudah mulai bergetar tanpa sebab.


"Ma-af."


Valerie hendak membersihkan pecahan gelas itu tapi Mama Astrid melarangnya.


Valerie memegang tangan kanannya yang terus bergetar tanpa henti, matanya sudah mulai berkaca-kaca membuat Dion merasa khawatir.


Valerie terus saja menundukan kepalanya, bahkan saat ini airmata Valerie sudah mulai menetes dan dengan cepat Valerie menghapusnya.


"Bawa Valerie, pulang," bisik Papi Lion.


Papi Lion seakan tahu apa yang sedang dirasakan Valerie.


"Tante, Om, sepertinya calon istri Dion sedang tidak enak badan jadi Dion mau pamit pulang dulu, maaf kami tidak bisa ikut makan malam bersama," seru Dion.


"Lah, Valerie kenapa? Perasaan tadi dia baik-baik saja," seru Mama Astrid.


"Valerie dari pagi memang tidak enak badan, tapi kami memaksanya untuk ikut ke sini. Tidak apa-apalah, yang penting kan, kalian sudah bertemu dengan calon menantuku," seru Mami Ayu.


Mami Ayu mengerti dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Valerie maka dari itu, Mami Ayu ikut bersandiwara.


"Sayang sekali ya, padahal saya ingin tahu dan tanya-tanya mengenai orangtuamu," seru Ferdinan.


"Kalau begitu, kami pamit dulu."


Dion merangkul Valerie dan membawanya keluar dari rumah Ferdinan, di saat sampai teras, kaki Valerie lemas dan Valerie ambruk di lantai membuat Dion semakin khawatir dengan keadaan Valerie.


"Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Dion.


Valerie terdiam, hanya airmata yang terus saja mengalir dari kedua matanya bahkan saat ini tubuhnya sudah mulai bergetar pula. Tanpa banyak bertanya lagi, Dion pun langsung mengangkat tubuh Valerie dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Dion tidak banyak bicara, dia segera melajukan mobilnya. Airmata Valerie semakin deras membuat Dion semakin cemas dan khawatir. Tidak membutuhkan waktu lama, akhitmrnya mobil Dion pun sampai di rumah Valerie.


Dion kembali mengangkat tubuh Valerie, lalu masuk ke dalam rumah Valerie. Dion mendudukan Valerie di sofa, kemudian Dion bertekuk lutut di hadapan Valerie dengan menggenggam tangan Valerie yang masih gemetaran.


"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya Dion.


Valerie menatap Dion. "Di-a ada-lah ora-ngnya," lirih Valerie terbata.


Seketika Dion membelalakan matanya, Dion terkejut dengan ucapan Valerie.


"Maksud kamu Om Ferdinan?"


"Iya, dia yang sudah membunuh kedua orangtuaku, Bos."


Valerie bangkit dari duduknya dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dion dengan menahan tangan Valerie.


"Aku mau balik lagi ke rumah itu, aku mau bunuh dia Bos. Aku harus bunuh dia dengan tanganku sendiri, aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang," seru Valerie dengan deraian airmatanya.


"Jangan gegabah Val, kita tidak bisa membunuh sembarangan karena kita tidak punya bukti sama sekali," sahut Dion.


"Tapi aku adalah saksi kuncinya Bos, aku harus tangkap dia dan bunuh dia!" bentak Valerie.


"Tenang Val, aku janji akan membantumu tapi tidak sekarang karena kita harus ada buktinya dulu."


"Tidak Bos, lepaskan aku pokoknya malam ini juga aku harus membuat perhitungan dengan orang itu!" bentak Valerie.


Dion memeluk Valerie tapi Valerie terus saja memberontak dengan deraian airmatanya.


"Lepaskan aku, Bos!" teriak Valerie histeris.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Kalau kamu melakukannya sekarang, kamu bisa di penjara."


"Aku tidak peduli Bos, aku akan terima kalau aku di penjara asalkan orang itu sudah mati!" teriak Valerie.


Dion memeluk Valerie dengan sangat erat, dia tahu apa yang dirasakan Valerie tapi dia juga tidak bisa membiarkan Valerie melakukan semua itu dengan gegabah.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘