
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Valerie tidak tahu saat ini dia berada di mana, dia terus saja berlari menuju jalan besar hingga akhirnya mobil Dion pun sampai di lokasi dan hampir saja menabrak Valerie yang tiba-tiba menyebrang.
"Aataga Valerie!" pekik Julian.
Dion dan Julian pun segera turun dari dalam mobil dan menghampiri Valerie.
"Kamu tidak apa-apa, Val?" tanya Julian.
"Tidak, aku tidak apa-apa kok. Tapi ada hal yang penting, ternyata orang yang selama ini mengirim bunga kepadaku itu Galang," seru Valerie.
"Galang? Siapa dia?" tanya Dion.
"Tetangga aku, Bos."
"Sudah ku duga, kalau tetangga kamu itu ada yang gak beres. Naik semuanya, kita pergi ke tempat kamu diculik, kita tangkap dia," seru Dion.
"Baik Bos."
Julian pun mulai melajukan mobilnya ke tempat di mana Valerie di culik, ketiganya mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah kosong itu.
Dion menendang pintu itu sembari menodongkan senjatanya, tapi ternyata sudah tidak ada orang sama sekali. Ketiganya kembali memeriksa setiap ruangan, dan semuanya sudah kosong.
"Sial, mereka cepat banget menghilang," seru Valerie.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah kamu Val, aku yakin dia ada di sana lagipula masih ada orang yang di pasung kan? Orang itu masih teka-teki siapa sebenarnya dia?" seru Julian.
"Benar Jul, ayo Bos buruan takutnya dia keburu kabur."
Ketiganya kembali masuk ke dalam mobil, Julian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Valerie.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Dion pun sampai di depan rumah Valerie. Ketiganya langsung menuju rumah yang berada di samping rumah Valerie.
Julian mendobrak pintu rumah Galang, dan setelah di periksa ternyata rumah itu sudah kosong bahkan orang yang dipasung pun sudah tidak ada.
"Brengsek, cepat banget dia menghilangnya," kesal Julian.
Ketiganya tampak terdiam dengan nafas yang ngos-ngosan.
Kruuuukk...kruuuukkk...
Ketiganya reflek memegang perut masing-masing, setelah itu mereka saling pandang satu sama lain dan tertawa bersama.
"Mampir ke rumahku dulu, aku masakan sesuatu untuk kalian," seru Valerie.
Ketiganya pun akhirnya masuk ke dalam rumah Valerie mengisi perut sembari memikirkan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.
"Silakan duduk dulu Bos."
Valerie langsung masuk dapur dan melihat isi kulkasnya dan ternyata di dalam kulkasnya hanya ada sedikit ayam dan juga sayur-sayuran.
"Astaga, cuma ada ini. Tapi cukuplah buat makan si Bos," gumam Valerie.
Valerie mulai mengolah ayam dan sayur-sayuran seadanya, sedangkan di ruang tamu Dion tampak melihat-lihat rumah Valerie. Rumah Valerie terbilang kecil tapi Valerie orang yang rajin sehingga walaupun kecil, rumah itu terlihat nyaman dan bersih.
"Dia tinggal sendirian di sini?" tanya Dion dengan melihat foto Valerie bersama kedua orangtuanya.
"Iya Bos, orangtua Vale sudah meninggal. Vale wanita hebat dan tangguh, walaupun hidup tanpa orangtua, dia bisa menyelesaikan sekolahnya bahkan dia ingin melanjutkan kuliah lagi," sahut Julian.
Dion mengangguk-ngangguk, seulas senyum tersungging di wajah tampan Dion. Tidak lama kemudian, Valerie pun selesai memasak dan menyiapkannya di meja makan.
"Bos, makanannya sudah siap," seru Valerie.
"Astaga wangi banget, membuat perutku semakin lapar," seru Julian.
Dion dan Julian pun menghampiri meja makan, Julian memperhatikan meja makan itu. Ayam dan sayur-sayuran hanya ada satu piring, sedangkan dua piring lagi hanya berisi mie instan dengan telur dan sayur-sayuran.
"Val, kok cuma si Bos saja yang makannya sama ayam, kok buat aku cuma mie instan sih?" keluh Julian.
Valerie menarik tangan Julian ke pojokan. "Panjul, di kulkas aku hanya ada sedikit ayam dan sayuran, masa iya si Bos mau aku kasih mie instan," bisik Valerie.
"Ah, kamu mah pilih kasih."
"Sudah jangan banyak mengeluh, makan saja pengganjal rasa lapar," seru Valerie.
Valerie dan Julian pun kembali menuju meja makan dan ternyata Dion sudah melahap makanannya terlebih dahulu. Julian dan Valerie pun mulai melahap mie instannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Dion sudah menghabiskan nasi beserta lauk pauknya tanpa sisa tapi perutnya masih terasa sangat lapar, kemudian Dion menoleh ke arah Valerie yang sedang menyantap mie instannya.
Dion menginginkan mie instan milik Valerie karena melihat Valerie makan membuat dia ingin mencoba juga. Tanpa aba-aba, Dion merebut mangkuk mie punya Valerie membuat Valerie terkejut.
"Aku minta mienya."
"Tapi Bos, itu bekas aku kalau mau aku buatkan yang baru untukmu," sahut Valerie.
Valerie dan Julian melongo melihat cara makan Dion yang sangat lahap, Valerie hanya bisa menelan salivanya melihat Dion memakan mie punya dia. Pasalnya, mie instannya juga hanya ada dua dan itu adalah yang terakhir.
Valerie menggeser kursinya menghampiri Julian, perlahan tangan Valerie terulur untuk mengambil mie punya Julian.
Plakkk...
Julian memukul tangan Valerie dan mengambil mangkok mienya. "Mau apa kamu?"
"Jul, makan mienya berdua yuk satu mangkuk, biar romantis," seru Valerie dengan senyumannya.
"Ogah, aku lapar kalau berdua sama kamu, gak bakalan kenyang," sahut Julian.
Julian bangkit dari duduknya dan membawa mangkuk mienya ke depan tv membuat Valerie cemberut.
"Ishh..ishh..ishh..awas kamu Panjul."
Dion pun selesai makan mie dan dengan kerasnya bersendawa.
"Wah, ternyata mie instan itu enak juga ya," seru Dion dengan mengusap perutnya yang sudah sangat kenyang.
"Memangnya Bos, tidak tahu rasa mie instan?" tanya Valerie.
"Tidak, sejak kecil aku dilarang makan mie instan oleh kedua orangtuaku jadi aku sama sekali tidak tahu rasanya mie instan."
"Padahal aku sudah sangat bosan makan mie instan, sedangkan si Bos baru nyobain, dasar anak orang kaya mah beda," batin Valerie.
Setelah perut mereka terisi, mereka pun berkumpul di ruang tamu merencanakan penangkapan Galang.
"Bos, sepertinya kita harus ke kantor polisi dan tanyakan kepada orang suruhan si Galang pasti dia tahu, di mana keberadaan si Galang," seru Valerie.
"Benar tuh Bos," sambung Julian.
"Baiklah, sekarang kita ke kantor polisi."
Akhirnya ketiganya pun pergi menuju kantor polisi, sesampainya di kantor polisi, Komandan Alan memperlihatkan keadaan anak buah Galang yang saat ini sudah terkulau lemas.
Komandan Alan terpaksa memukul orang itu, karena dia tidak kunjung mau memberitahukan yang sebenarnya membuat Komandan Alan emosi.
"Dion, orang ini tetap bungkam, dia sama sekali tidak mau memberitahukan mengenai si Galang," seru Komandan Alan.
Perlahan Dion menghampiri orang itu, kemudian mencengkram wajahnya. Tatapan Dion sangat tajam, tapi orang itu tidak gentar dan balik menatap mata Dion.
"Hana Hapsari," seru Dion.
Orang itu membelalakan matanya saat Dion menyebutkan sebuah nama.
"Katakan di mana persembunyian Galang, atau adikmu akan menanggung akibatnya."
"Ja-jangan lakukan apa pun kepada adikku, dia tidak tahu apa-apa."
"Cepat katakan di mana, Galang?" tegas Dion.
Orang itu menelan saliva, hingga tidak lama kemudian, orang itu pun menyebutkan sebuah tempat yang selama ini menjadi tempat persembunyian Galang.
Dion tersenyum dan melepaskan cengkramannya. "Awas saja kalau kamu sampai membohongiku, kamu tahu kan, apa akibatnya," ancam Dion.
Orang itu menganggukan kepalanya dengan perasaan takut.
"Ayo sekarang kita ke sana, Komandan ikuti kami dan jangan lupa bawa anak buah juga," seru Dion.
"Oke."
Semuapun menuju ke tempat yang disebutkan oleh orang itu, ternyata tempat itu cukup jauh dan berada di pinggiran kota.
Saat ini Galang sedang tertidur, dia merasa lelah setelah kabur dan mengamankan Gilang adiknya. Mobil Dion sudah sampai di tempat tujuan, ketiganya turun dengan langkah yang mengendap-ngendap.
"Kalian harus hati-hati, karena Galang sepertinya bukan orang sembarangan," seru Dion.
"Baik Bos."
Ketiga mulai masuk dengan senjata di tangan masing-masing, dengan sekali hentakan Dion menendang pintu itu membuat Galang terperanjat.
"Jangan bergerak!" seru Dion.
Galang yang memang tidak siap hanya bisa mengangkat kedua tangannya pasrah, dengan cepat Julian menangkap Galang dan memborgol tangan Galang.
Galang menatap tajam ke arah Valerie yang saat ini masih menodongkan senjata ke arah Galang.
"Kamu seorang polisi?" tanya Galang tidak percaya.
"Kamu pelaku utama pembunuhan dan pemerkosaan berantai itu, kan?" tanya Valerie dengan tatapan tajamnya.
Galang tersenyum penuh arti...
"Biar Komandan Alan yang mencari tahu dan mengintrogasi orang ini, Val," sahut Julian.
Valerie tidak menjawab, dan Julian pun dengan cepat menyerahkan Galang kepada Komandan Alan.
Galang dibawa oleh polisi, mereka tidak menyangka kalau penangkapan Galang akan berjalan dengan sangat mudah dan tanpa perlawanan.