THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Masa Lalu Gilang



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Dion pun mengikuti mereka ke dalam rumah, Gilang semakin menekan pisaunya sehingga leher Valerie mengeluarkan darah.


"Aku bilang jangan mendekat, atau wanita cantik ini akan mati!" ancam Gilang.


"Bunuh saja kalau kamu bisa," sahut Dion dengan santainya.


Valerie membelalakan matanya mendengar ucapan Dion, keringat dingin sudah mulai membasahi wajahnya bahkan saat ini lehernya sudah terasa perih.


"Kenapa kamu terlihat santai seperti itu? Apa kamu tidak berniat menolong wanita ini?" seru Gilang.


"Buat apa, hanya membuang-buang tenaga saja. Sekali lagi aku bilang, kalian mau menyerahkan diri secara suka rela atau mau merasakan sakit dulu?" tanya Dion.


"Sombong sekali kamu, memangnya kamu pikir, kamu bisa dengan mudah menangkapku dan Ayahku? Jangan mimpi," sahut Gilang dengan senyumannya.


"Baiklah, kalian jangan menyesal ya, aku sudah berbaik hati menawarkan pilihan kepadamu tapi kamu tidak mau mendengarkanku."


Dion merogoh saku celananya dan mengeluarkan pisau lipat yang sama seperti Gilang dan dengan cepat dan tak terduga, Dion melemparkan pisau lipat itu ke arah Gilang, dan hasilnya tepat sasaran, pisau itu menancap di kaki Gilang membuat seketika Gilang berteriak dan melepaskan cengkramannya kepada Valerie.


"Aarrgghh."


Dion dengan cepat menarik tangan Valerie sehingga Valerie jatuh ke pelukanya.


"Kamu tidak apa-apa, Gilang?" seru Mang Udin khawatir.


Gilang mencabut pisau itu dari kakinya dan seketika darah keluar, membuat Gilang semakin dilanda emosi yang sangat memuncak.


Gilang melempar pisau itu ke arah Dion tapi Dion dengan mudahnya menghindar, lalu Gilang kembali melempar pisau miliknya dan ternyata gagal lagi.


"Kurang ajar."


Mang Udin berlari ke arah Dion dan menyerang Dion, Dion hanya melawan Mang Udin dengan satu tangannya sedang satu tangan lagi masih memeluk Valerie. Kalau Mang Udin bukan tandingan Valerie, apalagi dengan Dion, Mang Udin hanyalah seperti mainan untuk Dion.


Bruggg...


Mang Udin tersungkur ke tanah dengan wajah yang babak belur dan keluar darah dari hidung dan mulutnya membuat Gilang semakin emosi, Gilang ingin sekali menyerang Dion, tapi sayang kakinya terluka sehingga membuat Gilang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah ku bilang, coba kalau tadi kalian memilih menyerahkan diri kalian secara suka rela sudah pasti kalian tidak akan merasakan kesakitan," seru Dion santai.


Tidak lama kemudian, Julian dan beberapa polisi pun datang.


"Kalian tidak apa-apa," seru Julian.


Para polisi itu langsung menangkap Gilang dan juga Mang Udin, sedangkan Julian langsung menghampiri Valerie.


"Leher kamu berdarah Val, ayo kita ke rumah sakit," seru Julian panik.


Julian hendak meraih tubuh Valerie tapi dengan cepat Dion mendorongnya.


"Jangan lebay, lukanya tidak parah biar aku saja yang mengobatinya," sahut Dion dingin.


Dion memapah Valerie keluar dari rumah itu dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, Julian hanya bisa memperhatikan kepergian Valerie dengan tatapan kesalnya.


"Si Bos apa-apaan sih, jangan-jangan si Bos mulai suka lagi sama si Vale, tidak, itu tidak boleh terjadi," gumam Julian.


Sementara itu di dalam mobil Dion...


"Bos, antarkan aku pulang saja biar aku obati lukaku sendiri," seru Valerie.


Dion hanya melirik sekilas Valerie tanpa menjawab ucapan Dion, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Dion pun berhenti di depan rumah Valerie.


"Silakan Bos, mampir dulu."


Dion tetap tidak bicara sama sekali, dia mengikuti langkah Valerie dengan kedua tangan dia masukan ke dalam saku celananya.


"Silakan duduk Bos, aku buatkan kopi dulu," seru Valerie.


Valerie hendak ke dapur untuk membuatkan kopi, tapi Dion dengan cepat menarik tangan Valerie sehingga Valerie terduduk di sofa.


"Mana kotak P3Knya?" tanya Dion dingin.


"Biar aku ambilkan dulu, Bos."


"Aku bilang, di mana letak kotak P3Knya!"


"A-ada di atas nakas itu, Bos," tunjuk Valerie gugup.


Dion dengan cepat mengambil kotak P3Knya dan membawanya ke hadapan Valerie.


"Dongakan kepala kamu."


Valerie hanya menurut saja, Valerie mendongakan kepalanya dan Dion mulau mengoleskan cairan alkohol ke luka Valerie. Tanpa sadar, Valerie langsung mencengkram tangan Dion saking sakit dan perihnya membuat seketika Dion menghentikannya dan melihat tangan Valerie yang mencengkram tangannya.


"Tahan sebentar."


Dion kembali mengoleskannya sampai darahnya yang mulai mengering bersih dan Dion mengoleskan betadine di leher Valerie, lalu Dion menutup lukanya dengan perban.


"Sudah selesai."


"Terima kasih, Bos."


"Ini semua tidak gratis, kamu harus membayarnya."


"Hah..a-aku harus membayarnya berapa? Jangan mahal-mahal Bos, soalnya saat ini aku lagi ngumpulin uang."


"Kamu cukup bayar aku dengan mie instan."


"Apa? Mie instan?"


"Ah iya, baiklah."


Valerie dengan cepat berlari ke dapur dan membuat dua bungkus mie instan, takutnya kalau satu bungkus Dion tidak kenyang.


Beberapa saat kemudian, Valerie pun sudah selesai membuatkan mie instan.


"Ini Bos, mie instannya."


Dion pun mulai menghampiri Valerie dan duduk di meja makan, tanpa menunggu lagi, Dion langsung melahap mie instan yang menurutnya sangat enak itu. Sedangkan Valerie hanya duduk sembari menyesap teh manis hangatnya.


"Kamu gak makan?" tanya Dion.


"Enggak, aku sudah bosan Bos, makan mie instan terus."


"Sana kamu mandi dan siap-siap, kita ke kantor polisi," seru Dion.


"Mau ngapain ke kantor polisi, Bos?"


"Kamu mau tahu tidak, apa motif mereka melakukan semua itu?"


"Ah iya, oke kalau begitu aku mandi dulu."


Valerie pun segera berlari menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


30 menit kemudian....


Valerie sudah siap dengan pakaian casualnya, dilihatnya Dion sedang mengotak-ngatik ponselnya.


"Ayo Bos, kita berangkat sekarang."


Valerie melotot saat semua mienya habis gak bersisa, bahkan kuahnya pun sampai ludes.


"Astagfirullah, si Bos rakus juga ternyata. Kalau setiap hari si Bos mampir ke rumahku, bisa-bisa stok mie instanku habis," batin Valerie.


"Ayo!"


Valerie dan Dion pun segera pergi menuju kantor polisi, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Dion pun sampai di kantor polisi. Julian ternyata sudah ada di sana, Julian dan komandan Alan sedang memperhatikan ketiga pelaku yang sekarang sedang tertunduk lemas.


Valerie menghampiri ketiganya dan bertekuk lutut di hadapan mereka dengan hanya terhalang jeruji besi.


"Kenapa kalian melakukan semua itu? Apa motif dari kalian melakukan hal keji dan biadab itu?" tanya Valerie.


Ketiganya serempak menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan.


***


Flash back on.


Dulu, Gilang sekolah di sekolah tempat Mang Udin bekerja.


Gilang bisa sekolah di sana karena sebagai ucapan terima kasih para guru karena Mang Udin sudah puluhan tahun mengabdi kepada sekolahan itu, maka dari itu sekolah memberikan beasiswa kepada Gilang.


Awalnya berjalan baik-baik saja, tapi lama-kelamaan Gilang mulai mendapatkan bullyan. Gilang sering mendapat hinaan dan cemoohan karena anak dari seorang cleaning servis, dan yang lebih herannya lagi, Gilang mendapat bullyan bukan dari siswa laki-laki melainkan dari siswa perempuan.


Bullyan dan hinaan itu semakin menjadi-jadi, saat Gilang menyukai salah satu ratu di sekolah itu. Aulia, seorang siswi tercantik dan terkaya di sekolah itu menjadi wanita satu-satunya yang Gilang suka bahkan saking cintanya kepada Aulia, Gilang sampai rela melakukan apa pun demi Aulia.


Aulia memanfaatkan Gilang, dan menyuruh Gilang melakukan hal yang diluar nalar, seperti makan, makanan yang sengaja Aulia buang ke tong sampah dan Gilang harus memakannya serta masih banyak lagi hal yang Aulia lakukan kepada Gilang.


Aulia memberikan 5 tantangan yang harus Gilang lakukan dan imbalannya, Aulia akan menerima cinta Gilang. Gilang menyetujuinya walaupun dalam salah satu tantangan yang diberikan Aulia ada yang membahayakan nyawanya karena saking cintanya kepada Aulia, Gilang melakukannya dan ternyata Gilang berhasil menyelesaikan tantangannya.


Aulia yang niatnya hanya ingin mempermainkan Gilang, akhirnya mencari cara untuk menyingkirkan Gilang. Aulia mengajak Gilang bertemu di gudang belakang selepas semuanya pulang dan Aulia tiba-tiba merobek seragamnya dan mulai berteriak-teriak seakan-akan Gilang ingin memperkosanya dan teman-temannya merekam semuanya.


Akhirnya rekaman itu tersebar luas, dan Gilang pun dikeluarkan dari sekolah bahkan harus mendekam di penjara selama 9 bulan. Selama dalam penjara, Gilang sering teriak-teriak dan mengamuk, setelah diperiksa, Gilang mengalami tekanan batin dan depresi.


Sehingga akhirnya Gilang pun dibebaskan dari penjara karena mentalnya terganggu. Mang Udin dan Galang membawa Gilang pulang, tapi Gilang pun sering ngamuk dan memecahkan semua barang-barang sehingga Mang Udin dan Galang dengan terpaksa memasung Gilang.


Mang Udin dan Galang sangat marah dan memutuskan untuk balas dendam kepada gadis yang sudah membuat Gilang menjadi depresi. Keduanya bekerjasama untuk membunuh semua siswi yang sudah membully dan membuat Gilang depresi.


Setelah Aulia dan teman-temannya mati, Mang Udin dan Galang menjadi ketagihan, bahkan akal sehat mereka semakin tidak terkendali. Entah kenapa setiap melihat siswi SMA, naluri membunuh mereka langsung muncul.


Mereka sangat benci kepada para gadis SMA, bahkan bukan hanya membunuh saja, mereka pun mulai memperkosa para korbanya sebelum mereka membunuhnya.


Flash back off...


"Aku membenci para perempuan, mereka sangat menjijikan dan bisanya hanya mempermainkan perasaanku saja," seru Gilang dengan tatapan tajamnya.


"Jangan salahkan perempuan, kamunya saja yang bego mau dikibulin sama perempuan," sinis Julian.


"Kurang ajar, berani sekali kamu menyebut adikku bego!" bentak Galang.


Galang bangkit dari duduknya dan hendak menyerang Julian, tapi sayang Galang terhalang jeruji besi sehingga Galang hanya bisa meronta-ronta.


"Kalau kalian sudah membunuh pelaku utama, terus kenapa kalian malah ketagihan membunuh siswi yang lainnya? Yang sama sekali tidak punya salah kepada kalian?" tanya Valerie.


"Karena kami ingin membalaskan dendam kami, kami tidak terima Gilang dikeluarkan dari sekolah, di fitnah, dan di injak-injak harga dirinya oleh yang namanya perempuan. Maka dari itu kami ingin membuat semua perempuan mati dari muka bumi ini," sahut Galang.


Julian menghampiri Galang dan menjambak rambut Galang.


"Kalau kamu membenci semua perempuan, kenapa kamu selalu mengirimkan bunga kepada Valerie?"


"Kenapa? Kalau Valerie ada pengecualiannya, aku menyukai Valerie dan ingin menjadikan Valerie istriku."


Bugg...


Julian memukul Galang, sehingga Galang tersungkur ke belakang dengan hidung mengeluarkan darah.


"Jul, sudah biarkan saja," seru Valerie menahan Julian.


"Tapi aku emosi Val, mereka sudah melakukan hal bejad apalagi Mang Udin, sudah tua juga bukanya perbanyak ibadah malah melakukan hal yang menjijikan," sahut Julian.


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kalian pulang saja, biar mereka jadi urusan kami di sini," seru Komandan Alan.


"Baiklah."


Ketiganya pun memutuskan untuk pergi dari kantor polisi.