
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Valerie dan kedua orangtua Dion pun akhirnya selesai makan siang, sedangkan Dion dan Petra, masih saja tetap saling belit satu sama lain.
"Sayang, kamu urus saja dua bocah itu, kami capek ingin istirahat dulu," seru Mami Ayu.
"Iya tante."
"Kasih satu jurus saja Val, biar mereka diam," seru Papi Lion.
"Oke Om."
Papi Lion dan Mami Ayu pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Valerie menghampiri Dion dan Petra.
"Kalian lagi ngapain sih? Kurang kerjaan aja!" teriak Valerie.
Dion dan Petra langsung menghentikan kegiatan belit-membelitnya, dan langsung berdiri.
"Dia duluan yang cari masalah, Val," rengek Dion.
"Apaan sih, aku cuma ingin mengucapkan terima kasih saja sama wonder womanku. Bahkan di Jerman itu sudah biasa kalau mengucapkan terima kasih itu dengan cara pelukan dan cium pipi kiri dan kanan. Nah, kan, lupa belum cium pipi kiri dan kanan," seru Petra hendak menghampiri Valerie.
"Mau cium calon istriku ya? Pilih mana, rumah sakit atau kuburan?" seru Dion dengan menunjukan kedua kepalan tangannya.
"Pilih atau saja, lebih aman," sahut Petra polos.
Dion merasa sangat kesal dan menarik tangan Valerie membawanya ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.
"Woi, jangan bawa-bawa anak gadis orang ke dalam kamar bisa bahaya, aku laporin sama Om Lion baru tahu rasa kamu!" teriak Petra.
"Bodo amat," sahut Dion.
Dion pun mengunci kamarnya membuat Valerie membelalakan matanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bos, jangan macam-macam kita belum sah jadi gak boleh melakukan hal yang tidak-tidak. Kata Pak Ustadz, perbuatan zina itu sangat berdosa jadi gak boleh dilakukan," seru Valerie gugup dengan memundurkan langkahnya.
Dion terus menghampiri Valerie dengan senyuman penuh arti membuat Valerie semakin dilanda gugup.
"Bos, istighfar Bos, nyebut Bos nyebut," seru Valerie.
Dion semakin mendekati Valerie dan setelah dekat, Dion pun menjitak kening Valerie.
"Memangnya kamu pikir aku mau ngapain kamu? Pake disuruh nyebut lagi, memangnya aku kesurupan apa?"
"Habisnya senyuman Bos sangat mencurigakan."
Dion pun mengambil handuk dan dengan cepat mencium pipi Valerie membuat Valerie membelalakan matanya.
"Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini jangan keluar, karena aku gak mau si kucing garong itu ngapa-ngapain kamu," seru Dion.
Dion pun segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Valerie menyentuh pipinya dengan senyuman yang mengembang.
"Astaga, jantung aku hampir saja copot. Si Bos barusan cium aku, ya ampun kaki aku sampai lemes kaya gini," gumam Valerie.
Valerie jingkrak-jingkrak gak jelas saking senangnya.
"Aku gak bakalan cuci muka, bodo amat yang penting bekas ciuman si Bos gak hilang," gumam Valerie.
Valerie benar-benar sangat bahagia, akhirnya cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan mulai mendapat balasan. Valerie duduk di sofa yang berada di kamar Dion itu, dan mengotak-ngatik ponselnya.
Tidak lama kemudian, Dion pun keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang. Tangan berotot dan perut kotak-kotaknya membuat Valerie melongo.
Valerie dengan cepat menutup wajahnya dengan bantal sofa. "Astaga, si Bos apa-apaan sih bikin otakku traveling ke mana-mana," batin Valerie.
Dion yang melihat Valerie seperti itu hanya tersenyum dan Dion pun segera masuk ke dalam walk in closhet untuk memakai bajunya.
"Mau sampai kapan kamu menutup wajah kamu seperti itu?" seru Dion.
"Bos jangan goda aku seperti itu, aku ini termasuk orang yang imannya sangat lemah jadi gak bisa digoda," sahut Valerie dengan masih menutup wajahnya.
Dion menahan senyumannya melihat kelakuan Valerie, Dion suka Valerie karena Valerie adalah gadis yang polos dan jujur.
Dion menarik bantal yang menutup wajah Valerie membuat Valerie seketika memejamkan matanya.
"Hai, bukalah matamu aku sudah pakai baju."
Perlahan Valerie membuka matanya, dan benar saja Dion sudah memakai pakaian lengkapnya.
"Ayo kita turun, aku sudah lapar."
"Ah iya."
Dion dan Valerie pun akhirnya turun ke bawah, Valerie mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Dion.
"Kamu juga harus makan."
"Aku sudah makan tadi bareng sama Om Lion dan tante Ayu."
"Kapan?"
"Waktu Bos tadi saling lilit sama sepupu Bos itu."
"Ya sudah, kalau begitu aku makan dulu."
Valerie menopang dagunya dan memperhatikan Dion makan, Valerie benar-benar cinta mati sama Dion.
"Jangan lihatin aku terus, nanti kamu jatuh cinta lagi sama aku."
"Memang aku sudah jatuh cinta banget sama Bos."
"Serius?"
"Seriuslah Bos."
Tidak lama kemudian kedua orangtua Dion pun datang.
"Ion, Ferdinan mengundang kita untuk datang ke rumahnya katanya dia ingin makan malam bersama dan dia juga ingin kita membawa Valerie," seru Papi Lion.
"Untuk apa harus bawa Valerie?" tanya Dion.
"Entahlah, mungkin mereka ingin membuktikan kamu itu beneran sudah punya calon atau tidak."
"Jam berapa?"
"Jam 19.00 malam."
"Oke."
Valerie hanya diam saja, dia hanya bisa ikut saja dengan apa yang jadi keputusan Dion dan kedua orangtuanya.
Dion pun mengantarkan Valerie pulang, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil sport milik Dion pun sampai di depan rumah Valerie.
"Nanti malam aku jemput kamu, gaunnya nanti aku kirim ke rumahmu," seru Dion.
"Iya Bos."
"Kenapa panggil aku Bos terus, kita tidak sedang berada di kantor."
"Tapi aku sudah biasa manggil itu, justru kalau aku panggil sayang, rasanya sangat aneh. Anggap saja itu panggilan kesayanganku untukmu, karena untuk sekarang dan seterusnya kamu akan menjadi Bos hatiku," seru Valerie dengan senyumannya.
Perlahan Dion mulai mendekatkan wajahnya, jantung Valerie kembali berdegup kencang hingga akhirnya Valerie pun memejamkan matanya. Di saat wajah Dion semakin dekat, tiba-tiba ponsel Valerie bergetar membuat Valerie membuka matanya dan segera mengambil ponselnya.
Sedangkan Dion mengepalkan tangannya, lagi-lagi percobaannya gagal.
π"Ada apa, Panjul?"
π"............."
π"Oke, besok aku traktir kamu. Sudah dulu ya, soalnya aku lagi sama si Bos," bisik Valerie.
Valerie pun langsung mematikan ponselnya dan tersenyum ke arah Dion, sedangkan Dion terlihat kesal.
"Awas kamu Julian, tunggu hukumanmu karena sudah berani menggagalkan kesenanganku," batin Dion dengan mengeraskan rahangnya.
"Bos, kalau begitu aku masuk dulu."
Dion hanya menganggukan kepalanya, hatinya terlanjur merasa dongkol dua kali mengalami kegagalan.
Valerie tersenyum, dia tahu kalau Dion saat ini sedang kesal. Valerie pun menarik baju Dion dan cup...
Valeri mencium pipi Dion dengan sangat lama, sampai-sampai Dion pun memejamkan matanya.
"Jangan marah lagi."
Valerie pun langsung keluar dari dalam mobil Dion dan berlari masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang memerah menahan malu. Berbeda dengan Dion memegang pipi yang barusan di cium oleh Valerie.
Seketika senyumannya terbit, lalu Dion pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Valerie dengan hati yang berbunga-bunga.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ