THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Pencarian Valerie



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Dion dan semuanya sampai di tempat yang disebutkan oleh Rossa, namun mereka tampak mengerutkan keningnya karena tempat itu hanyalah jalan sepi yang jauh ke mana-mana.


"Rossa sepertinya salah tempat, di sini sepi tidak ada siapa-siapa," seru Dion.


Papi Lion memperhatikan setiap sudut jalan itu, hingga akhirnya kakinya terasa menginjak sesuatu. Papi Lion mengambil benda itu dan ternyata itu adalah ponsel milik Valerie.


"Ini kan, ponsel milik Valerie," seru Papi Lion.


"Mana Pi."


Dion segera mengambilnya. "Sial, berarti mereka membuang ponsel Valerie di sini," geram Dion.


Komandan Alan mulai menyusuri setiap sudut jalanan itu bersama Julian.


"Tuan Lion, sepertinya ini bekas ban kendaraan dan ini juga terlihat masih baru," seru Komandan Alan.


"Berarti mereka mengarah ke sana," sahut Papi Lion.


"Bukanya ini jalan pintas menuju luar kota, berarti Valerie dibawa ke luar kota dong," seru Dion.


"Lebih baik sekarang kita segera susul, kali aja Valerie belum jauh dari sini," seru Petra.


Semuanya pun kembali masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera melajukan mobilnya. Dion semakin panik dan dilanda kecemasan, pasalnya lawan dia saat ini bukanlah orang sembarangan. Dia tahu, siapa Ferdinan dan antek-anteknya sangat banyak jadi untuk saat ini dia harus hati-hati.


Sementara itu, Julian tidak kalah paniknya dia mulai mengingat kelakuan Valerie tadi pagi yang begitu manja kepadanya dan semua orang.


"Vale, kamu jangan buat aku panik, bertahanlah aku dan yang lainnya pasti akan segera menyelamatkanmu," gumam Julian.


Tiba-tiba, mobil Komandan Alan berhenti di pertigaan membuat semuanya kembali berhenti.


"Ada apa, Komandan?" teriak Dion.


"Cobalah lihat ke arah jalan itu, ada bekas ban mobil, dan itu merupakan ban dari mobil jeef. Menurut si sopir taksi, mobil yang menyalip mereka adalah mobil jeef," sahut Komandan Alan.


"Bisa jadi Valerie dibawa ke sana," seru Dion.


Mereka pun mulai membelokan mobil mereka ke arah jalanan yang sepi itu, jalannya tidak terlalu besar hanya cukup untuk mobil saja.


Jalanan itu cukup panjang, hingga dari kejauhan mereka melihat sebuah rumah tua jauh dari mana-mana.


"Itu kan mobilnya Jesika, sial ternyata dia ikut terlibat juga, awas kamu Jesika," geram Dion.


Komandan Alan menghentikan mobilnya di sebuah lahan kosong yang penuh dengan rerumputan.


"Sepertinya kita harus menyembunyikan mobil kita di sini, jangan sampai mereka tahu kita datang ke sini," seru Komandan Alan.


Semuanya pun setuju, dan menyimpan mobil mereka di sana. Tidak lupa, mereka menimbun mobil mereka dengan rerumputan supaya tidak ada yang tahu kalau di sana ada mobil.


"Kita lewat sini saja, kalau lewat jalan utama sulit soalnya banyak anak buahnya," seru Papi Lion.


Semuanya mengeluarkan senjata masing-masing untuk persiapan jika ada sesuatu yang membahayakan.


Mereka mulai mengendap-ngendap menghampiri lokasi yang diduga menjadi tempat penculikan Valerie, terlihat puluhan anak buah Ferdinan berjaga-jaga mengelilingi rumah tua itu.


"Sepertinya kita akan sulit menembus rumah itu Bos, soalnya penjagaannya terlalu banyak," seru Jilian.


"Iya, mana personil kita cuma sedikit, kita bakalan kalah telak kalau menyerang mereka. Seketika kita bakalan mati konyol," sambung Petra.


"Aku sudah meminta bantuan kepada rekan-rekanku, dan sekarang mereka sedang otw ke sini," sahut Komandan Alan.


Di saat mereka sedang mengintai dari kejauhan, rombongan mobil datang. Mobil itu tidak lain dan tidak bukan adalah milik Ferdinan dan antek-anteknya.


"Pasang ear phone kalian supaya kita mudah berkomunikasi soalnya lawan kita kali ini bukan orang sembarangan," seru Dion.


"Baik."


Semuanya pun memakai ear phone, tapi mereka tidak bisa beraksi sekarang, anak buah Ferdinan terlalu banyak. Mereka menunggu sampai situasi memungkinkan dan bantuan datang.


Ferdinan memasuki ruangan di mana Valerie di sekap, Valerie masih tersungkur di lantai.


"Apa dia sudah mati?" tanya Ferdinan.


"Belum Tuan."


"Angkat dia dan dudukan di kursi itu."


Anak buah Ferdinan pun mengangkat tubuh Valerie dan mendudukan Valerie di kursi, perlahan Valerie membuka matanya dan Ferdinan duduk tepat di hadapan Valerie.


Ferdinan memperhatikan Valerie dengan sekasama.


"Ternyata benar, wajah kamu mirip sekali dengan Anisa. Tidak disangka kelakuanmu sama persis seperti Mamamu, dulu Mamamu meninggalkan adikku demi menikah dengan Andri sehingga membuat adikku stres dan memilih bunuh diri dan sekarang kamu merebut Dion dari putriku Jesika, anak dan Mama sama saja," seru Ferdinan dengan senyumannya.


Valerie mulai berontak, dia ingin sekali melepaskan ikatan di tangannya dan memukul wajah pria yang saat ini berada di hadapannya itu.


"Kamu memang biadab, aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" teriak Valerie.


Seketika tawa Ferdinan pecah, dia merasa lucu sekaligus mengacungkan jempolnya atas keberanian Valerie kepada dirinya.


Ferdinan menjambak rambut Valerie membuat Valerie meringis. Saat ini wajah Valerie sudah sangat babak belur, bahkan terlihat darah yang sudah mulai mengering.


"Besar juga keberanianmu, buka ikatan tangan dia!" perintah Ferdinan.


"Baik Tuan."


Anak buah Ferdinan pun membuka ikatan tangan Valerie, Ferdinan pun langsung berdiri di hadapan Valerie.


"Ayo pukul aku, katanya kamu ingin membunuhku. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? kalau seandainya kamu bisa mengalahkanku, aku janji akan menyerahkan diriku sendiri ke Polisi, tapi kalau kamu yang kalah, kamu harus mundur dan berikan Dion untuk Jesika."


Valerie tampak terdiam, awalnya Valerie yang sudah lemah, adrenalinnya kembali terpancing dengan kedatangan Ferdinan. Jiwa Valerie yang ingin sekali membunuh Ferdinan begitu sangat besar.


Potongan-potonga memori mengenai kematian kedua orangtuanya terus saja berputar di otaknya, perlahan Valerie pun berdiri dan menatap tajam ke arah Ferdinan. Ferdinan pun segera membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang arah.


"Baiklah, kamu duluan yang pukul aku."


Tanpa menunggu lagi, Valerie langsung menyerang Ferdinan. Pukulan demi pukulan, sudah Valerie lancarkan namun Ferdinan masih berdiri tegap.


"Gila, dia manusia apa? Kenapa pukulan aku tidak ada yang mempan," batin Valerie.


Valeri kembali menyerang Ferdinan, tapi kali ini tenaganya sudah mulai terkuras. Ferdinan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan senyumannya.


"Jadi segitu kemampuanmu? Sekarang giliranku," seringai Ferdinan.


Ferdinan langsung memukul Valerie, pukulan Ferdinan membuat Valerie terhunyung ke belakang, hidungnya kembali berdarah.


"Ayo keluarkan semua tenagamu."


Bughh...bughh...bughh...


Pukulan dan tendangan Ferdinan sangat kuat, Valerie kembali tersungkur, wajah Valerie sudah penuh dengan darah, mulutnya kembali mengeluarkan darah dan Valerie pun mulai terbatuk sembari memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


"Ma, Pa, maafkan Valerie karena tidak bisa membalaskan dendam kalian," batin Valerie.


Penglihatan Valerie mulai buram, bayangan-bayangan wajah Dion, Julian, dan yang lainnya mulai berputar di otak Valerie.


"Ma-afkan a-ku, se-muanya."


Valerie sudah tidak bisa bertahan lagi, dia ambruk untuk yang kedua kalinya.