THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Keberangkatan Yang Penuh Drama



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Tibalah saatnya semua karyawan The Black Hunter liburan ke Bangkok, Thailand. Valerie sangat bahagia, bahkan dia sudah kaya cacing kepanasan dan itu membuat Julian kesal.


"Woi, bisa diam gak sih? Pusing aku lihat kelakuanmu!" bentak Julian.


"Aku gugup Panjul, bagaimana rasanya naik pesawat? Kamu kan, tahu kalau aku itu takut ketinggian, aku takut ngompol di celana saking takutnya," bisik Julian.


"Makanya kamu jangan duduk samping aku, yang ada mood liburanku hilang gara-gara kamu," sahut Julian.


"Jangan gitu Panjul, kita kan bestie masa bestie lagi kesusahan gak mau nolongin sih," seru Valerie bergelayut manja di pundak Julian.


"Lepas."


"Jul, jangan tinggalin aku."


"Bodo."


Julian pergi meninggalkan Valerie, sebenarnya Julian tidak tega tapi Julian masih kesal kepada Valerie yang begitu dekat dengan orangtua Dion dan Julian merasa cemburu.


Valerie melihat Dion tampak bahagia bersama Jesika, bahkan Jesika tidak melepaskan rangkulan tangannya ke lengan Dion. Jesika tersenyum sinis ke arah Valerie karena dia menang kali ini.


Valerie hanya bisa terdiam sembari menunggu kedua orangtua Dion yang masih dalam perjalanan. Julian melihat ke arah Valerie, dia merasa kasihan juga kepada Valerie hingga akhirnya Julian pun kembali menghampiri Valerie dan mengulurkan tangannya.


"Panjul."


"Jangan cemberut terus, baru ditinggalin sebentar aja sudah sedih."


"Cih, siapa juga yang sedih," sahut Valerie dengan membalas uluran tangan Valerie.


"Mumpung masih ada waktu, kita beli kopi dulu biar kamu rilek."


"Tapi kamu yang bayar ya?"


"Astaga, iya aku yang bayar."


"Panjul baik deh."


Valerie berjinjit dan merangkul pundak Julian, kemudian keduanya berjalan menuju kedai kopi yang berada di kawasan Bandara.


Dion melirik sebentar ke arah Valerie dan Julian, hingga akhirnya Dion pun melepaskan rangkulan tangan Jesika.


Tidak lama kemudian, kedua orangtua Dion pun sampai. Mami Ayu tampak celingukan mencari keberadaan Valerie.


"Calon mantu Mami mana, Ion?" tanya Mami Ayu.


"Gak tahu."


"Kok gak tahu, kamu kan kekasihnya masa gak tahu?" sambung Papi Lion dengan medelikan matanya ke arah Jesika.


Hingga akhirnya Valerie dan Julian pun datang, membuat Mami Ayu heboh dan langsung memeluk Valerie.


"Val, Mami kangen sama kamu."


Semua orang tampak menganga, dan Valerie hanya bisa tersenyum kikuk dengan perlakuan calon mertua bohong-bohongannya itu.


Waktu keberangkatan pun tiba, semuanya segera berjalan dan raut wajah mereka tampak bahagia dan antusias.


Papi Lion melihat Jesika nempel terus kepada Dion, Papi Lion pun menarik tangan Valerie membuat Valerie terkejut, lalu mendorong tubuh Valerie ke arah Dion.


Walaupun posisi Dion membelakangi karena berjalan di depan, insting Dion begitu bagus dengan sigap Dion menangkap tubuh Valerie yang oleng, sudah dipastikan kalau Dion tidak sigap, wajah Valerie yang duluan mencium lantai.


"Huawaaaa, so sweet banget," seru Rossa.


Semua orang tampak kagum, sedangkan Valerie memperlihatkan wajah yang terkejut. Kejadiannya sungguh sangat cepat, bagaimana kalau tadi Dion tidak menangkapnya, sudah pasti hidungnya bakalan patah tersungkur ke lantai.


"Kamu ini, malah jalan dengan wanita lain sedangkan kekasih sendiri diacuhkan, jaga Valerie kalau Valerie sudah diambil orang, baru tahu rasa kamu," seru Papi Lion dengan santainya.


Papi Lion dan Mami Ayu melanjutkan langkahnya, disusul oleh semua karyawan sedangkan Valerie langsung membenarkan posisinya.


"Maaf Bos."


"Kamu tidak apa-apa kan, Val?" seru Julian yang langsung menghampiri Valerie.


"Ya sudah, ayo!"


Julian hendak menarik tangan Valerie tapi Dion menepis tangan Julian, lalu Dion segera menggenggam tangan Valerie membuat Valerie melotot tidak percaya begitu pun dengan Jesika dan Julian.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Dion menarik Valerie dan berjalan dengan bergandengan tangan.


"Aku kan sudah bilang, kalau di depan kedua orangtuaku kita harus berpura-pura," seru Dion.


"Aku mana berani menyentuhmu Bos," lirih Valerie.


Dion menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Valerie membuat nyali Valerie ciut.


"Kamu selalu saja bisa menjawab setiap ucapanku."


"Maaf."


Jesika dan Julian yang melihat mereka merasa cemburu, akhirnya keduanya dengan cepat berjalan mendahului Valerie dan Dion. Mereka semua mulai masuk ke dalam pesawat, wajah Valerie sudah pucat bahkan keringatnya sudah mulai membasahi wajah cantiknya.


Tanpa sadar Valerie mengeratkan genggaman tangannya kepada Dion membuat Dion menoleh.


"Kamu kenapa?"


"A-ku ti-dak apa-apa kok, Bos," sahut Valerie terbata.


Dion tahu kalau Valerie takut ketinggian, raut wajah tegang Valerie sudah menunjukan kalau dia ketakutan.


Satu tangan Valerie meremas kaos yang dia pakai, sedangkan tangan yang satu lagi masing menggenggam tangan Dion dengan erat. Valerie beberapa kali menghembuskan napasnya, sungguh Valerie mempunyai phobia ketinggian.


"Ayo masuk!"


"Ta-pi Bos---"


"Masuk aku bilang."


Valerie pun akhirnya menurut, Valerie mendapat nomor kursi bersebelahan dengan Julian dan Julian pun sudah duduk di tempatnya, sedangkan Dion bersebelahan dengan Jesika.


"Minggir, kita tukar tempat," seru Dion.


Julian tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut, karena bagaimana pun Dion adalah Bosnya sendiri.


Valerie pun duduk tapi Valerie tidak mau duduk di samping jendela, Valerie masih tetap menggenggam tangan Dion.


"Bos, jangan lepasin tangan aku."


Valerie duduk dengan wajah yang sangat tegang, beberapa kali Valerie menghembuskan napasnya, Dion justru menahan senyumannya melihat raut wajah Valerie seperti itu.


"Perasaan waktu Papi mengajak liburan, kamu orang yang paling antusias, kenapa sekarang justru kamu jadi penakut seperti ini?" sindir Dion.


Valerie tidak berkata apa-apa, dia sudah sangat sulit untuk bicara. Hingga waktunya pesawat take off, Valerie langsung memejamkan matanya dan menggenggam tangan Dion sangat erat.


"Ya Allah, selamatkan aku, lindungi aku, aku masih single Ya Allah belum menikah, jangan cabut dulu nyawaku, aku ingin merasakan menikah dengan pria yang aku cintai," seru Valerie dengan memejamkan matanya.


Dion lagi-lagi tertawa melihat tingkah Valerie, hingga pesawat pun mulai mengudara.


"Kamu mau terus-terusan memejamkan matamu?" seru Dion.


Valerie terus saja memejamkan matanya..


"Hai, bukalah matamu, ini sudah aman masa detektif takut ketinggian," sindir Dion.


Valerie masih tidak merespon ucapan Dion, hingga akhirnya tangan Valerie mulai lemas dan terlepas dari tangan Dion.


"Lah, dia tidur? Astaga."


Dion geleng-geleng kepala, tapi Dion memperhatikan wajah cantik Valerie. Perlahan Dion menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Valerie dan mengambil sapu tangannya untuk menyeka keringat yang membasahi wajah Valerie.


"Sungguh wanita langka," gumam Dion dengan senyumannya.


Beberapa jam kemudian, semuanya tampak tenang dan mereka semua mulai memejamkan matanya begitu pun dengan Dion.


"Ma, Pa, jangan tinggalin Vale, Vale harus apa? Vale harus bagaimana? Vale masih kecil."


Dion terbangun dan melihat Valerie mengigau, bahkan airmatanya sudah menetes di pipinya.


"Ma, Pa, jangan tinggalkan Vale."


Dion mengusap airmata Valerie dengan ibu jarinya, hatinya terasa iba melihat Valerie seperti itu. Dion yakin kalau selama ini Valerie bertingkah konyol dan ceria hanya untuk menutupi kesedihannya saja.