
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Valerie masuk ke dalam ruangannya...
"Wajah kamu kenapa Val? Kok merah kaya gitu, kamu sakit ya?" seru Julian.
Valerie menyentuh wajahnya. "Enggak kok, aku gak sakit," sahut Valerie.
"Terus kenapa wajah kamu memerah seperti itu?"
"Panas, cuacanya panas jadi gerah gitu," dusta Valerie.
Valerie mengambil minuman dingin dari lemari pendingin dan meneguknya dengan rakus.
"Val, kasih tips dong bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan hati si Bos tampan kita? Kali aja nanti aku bisa praktekin sama pria diluaran sana," seru Rossa.
"Tips apaan Mba? Aku gak punya tips apa-apa, si Bosnya aja yang suka sama aku dan terima aku apa adanya," sahut Valerie.
"Si Vale itu manusia langka Mba, pasti banyak pria yang menginginkannya karena mereka ingin melestarikan manusia seperti Vale," ledek Julian.
"Sialan kamu Panjul."
Sementara itu di ruangan Dion, ponsel Papi Lion pun bergetar dan itu tandanya ada notif pesan yang masuk.
"Hah...ada Petra," seru Papi Lion.
"Apa Pi? Barusan Papi bilang apa?"
"Ini, Mami kamu kirim pesan kalau di rumah ada Petra."
"Ngapain si kucing garong pakai pulang segala," keluh Dion.
"Jangan gitu ah, gitu-gitu juga itu sepupu kamu. Ya sudah, kita pulang sekalian ajak Vale biar dia kenalan sama Petra," seru Papi Lion.
"Enggak, Vale gak usah ketemu sama si kucing garong."
"Kenapa? Sebentar lagi kalian kan, akan menikah lalu apa salahnya kalau Petra kenalan sama calon istri kamu."
"Pokoknya Vale gak usah ikut, Dion gak mau mereka bertemu," kesal Dion.
Dion pun langsung keluar dari dalam ruangannya, Papi Lion hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perubahan Dion yang berubah menjadi posesif seperti itu.
Papi Lion pun akhirnya menyusul Dion keluar, tapi di saat mereka menuju pintu keluar, Valerie dan Julian pun datang bersamaan.
Dion langsung menatap tajam ke arah Valerie dan Julian.
"Kalian mau ke mana?" tanya Dion dingin.
"Mau pulang, Bos," sahut Valerie.
"Kamu itu calon istri aku, ngapain pulang bareng sama dia?"
"Ya, aku pikir Bos sudah pulang."
Dion menarik tangan Valerie dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, Julian dan Papi Lion hanya bisa melongo.
"Katanya gak mau bawa Vale, kenapa sekarang malah Vale diseret-seret," gumam Papi Lion.
Papi Lion pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Dion dan Dion mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor menuju rumahnya.
"Astaga, ternyata melihat cemburu si Bos lebih menyeramkan dibandingkan berhadapan dengan penjahat," gumam Julian.
"Katanya gak mau bawa Vale ke rumah? Kenapa sekarang malah diseret-seret Valerinya," goda Papi Lion.
"Daripada lihat pulang bareng si Julian, mending Dion bawa Valerie ke rumah saja," sahut Dion dingin.
"Val, sepupu Dion baru saja pulang dari Jerman, Om ingin mengenalkan kamu dengannya," seru Papi Lion.
"Oh iya, baiklah Om."
"Ingat, kamu jangan keganjenan, jangan kecentilan, pokoknya kamu harus berada di dekat aku karena aku gak mau si kucing garong itu sentuh-sentuh milikku," seru Dion dingin.
"Hah...jadi sepupu Bos itu seekor kucing? Lah, kucing kan suka lari-larian gak jelas, bagaimana kalau si kucing itu menyentuhku?" sahut Valerie polos.
Dion menatap Valerie heran, sedangkan Papi Lion menggaruk kepalanya yang tidak gatwl.
"Lupakan saja, aku malas menjelaskannya," seru Dion.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil Dion pun sampai di halaman rumahnya. Dion segera menggandeng tangan Valerie masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Om Lion, Petra sangat merindukan Om," seru Petra bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Papi Lion.
"Alhamdulillah baik-baik saja, sepertinya Petra berencana mau pindah ke sini lagi soalnya di Jerman, Petra kesepian Om."
"Ya sudah, kamu pindah saja ke sini lagipula sebentar lagi, Dion akan menikah."
"Alhamdulillah, akhirnya perjaka ting-ting mau menikah juga," sahut Petra.
Pertra menoleh ke arah Dion, lalu Pertra menghampiri Dion dengan merentangkan kedua tangannya hendak memeluk kamu.
"Hallo My Bro."
Dion menahan dada Petra. "Gak usah peluk-peluk segala," dingin Dion.
Petra memiringkan kepalanya saat melihat seorang wanita yang berdiri di belakang Dion dan terhalang oleh tubuh Dion yang besar.
"Siapa wanita itu?" tanya Petra.
"Calon istriku."
"Coba mana, aku mau lihat."
"Tidak boleh."
Dion menyembunyikan Valerie di belakang tubuhnya, membuat Petra terus saja memaksa Dion untuk memperlihatkan wajah Valerie.
"Ayolah Ion, pelit amat."
"Enggak, nanti kamu malah suka lagi sama calon istriku."
Dion menarik kedua tangan Valerie supaya memeluk perutnya, sedangkan Petra terus saja memaksa ingin melihat wajah Valerie.
"Mi, masak apa hari ini? Papi sudah lapar."
"Mami sudah masak makanan kesukaan Papi, ayo kita makan biarkan kedua bocah itu kaya gitu terus, Mami pusing lihatnya."
Mami Ayu dan Papi Lion pun menuju meja makan, dan makan dengan santainya tanpa memperdulikan kedua bocah yang kelakuannya kaya anak kecil itu.
Sementara itu, Valerie yang merasa terombang-ambing merasa kesal dengan sekali sentakan, Valerie melepaskan tangannya.
"Stopppp! Bos, apa-apaan sih?" sentak Valerie.
Seketika Dion dan Petra pun terdiam, Petra membelalakan matanya saat melihat wanita yang dari tadi Dion sembunyikan.
"Wonder Woman!" teriak Petra.
"Hah, wonder woman?" seru Valerie dan Dion bersamaan.
"Wah, sepertinya makin seru, Mi," seru Papi Lion dengan mulut penuh makanan.
"Hooh."
Kedua orangtua Dion malah asyik melihat adegan para anak muda itu.
"Ya ampun, kamu wanita yang tadi pagi nyelamatin aku kan? Dari para begal itu?" seru Petra.
Valerie terdiam dan mengingat-ngingat. "Oh iya, kamu pria yang tadi pagi aku tolongin," sahut Valerie.
Petra langsung memeluk Valerie membuat Dion membelalakan matanya.
"Terima kasih wonder woman, kamu sudah menyelamatkan nyawaku," seru Petra.
"Kurang ajar."
Dion menarik baju Petra dan memiting leher Petra.
"Jangan sentuh milikku, enak saja main peluk-peluk calon istriku, dasar kucing garong," geram Dion.
Petra tidak mau kalah, dia pun menjegal kaki Dion hingga keduanya terjatuh ke lantai dan guling-guling di lantai.
Mami Ayu melambaikan tangannya ke arah Valerie dan Valerie pun langsung menghampiri Mami Ayu.
"Ayo sayang makan dulu, biarkan saja dua bocah itu. Mereka dari dulu memang seperti itu kalau bertemu tidak pernah akur, nanti juga kalau capek berhenti sendiri," seru Mami Ayu.
"Iya Vale, makan yang banyak," sambung Papi Lion.
Valerie pun tak mau ambil pusing, dia akhirnya ikut Mami Ayu dan Papi Lion makan bersama. Sementara itu, Dion dan Petra masih guling-guling di lantai, entah apa yang mereka lakukan.
Mereka hanya saling mengunci pergerakan satu sama lain, tanpa saling pukul seperti halnya pria-pria pada umumnya.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ