THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Julian & Vanessa



Julian tidak fokus bekerja, saat ini hatinya benar-benar hancur. Baru saja dia merasakan jatuh cinta kepada seorang wanita, harus patah hati duluan.


"Sebenarnya kamu itu kenapa sih, Jul?" tanya Doni.


"Aku habis patah hati, Don."


"Kamu patah hati sama dokter cantik itu? Lah, kapan jadiannya?" seru Doni heran.


"Tadi malam aku ke rumahnya, sebenarnya aku berniat ingin menembak Vanessa tapi nyatanya aku sudah di skak mat duluan sama orangtuanya."


Pak Erwin membawa kursi dan duduk di hadapan Julian.


"Di skak mat bagaimana?" tanya Pak Erwin.


"Ternyata Vanessa anak seorang konglomerat dan aku habis dimaki-maki sama Papanya. Vanessa gak boleh berhubungan dengan pria miskin kaya aku."


"Ya ampun, malang benar nasibmu Jul, mudah-mudahan kamu bisa mendapatkan pengganti dokter cantik itu," seru Pak Erwin.


"Tapi aku maunya cuma sama Vanessa," sahut Julian dengan lemasnya.


"Jangan ngeyel."


"Huwaaaaaaaa......"


Julian berteriak bersamaan dengan pintu ruangan itu terbuka.


"Astaga anakku sampai kaget dengar teriakanmu, apaan sih Panjul teriak-teriak? Kamu sudah gila ya?" seru Valerie.


"Julian lagi patah hati, Val," seru Doni.


"Patah hati? Kapan jadiannya? Sudah patah hati saja?" ledek Valerie.


Julian mengambil Virlie dari gendongan Valerie dan memeluknya dengan sangat erat.


"Uncle lagi patah hati sayang, hanya kamu obat kesedihan Uncle," seru Julian dengan raut wajah sedihnya.


"Lebay...guys, aku bawa oleh-oleh buat kalian!" teriak Valerie dengan memperlihatkan beberapa paper bag di tangannya.


"Huwaaaa...Bu Bos kita memang baik, tumben beliin kita oleh-oleh biasanya juga paling perhitungan kalau urusan ngasih oleh-oleh," ledek Doni.


"Sekarang sudah jadi Bu Bos, Don, uang bukan jadi masalah lagi," sahut Pak Erwin.


Valerie cengengesan. "Aku beli karena kebetulan lagi diskon besar-besaran."


"Sudah ku duga," sahut Julian.


"Jangan bilang kamu beli barang-barang cimol Val," seru Doni.


"Bisa jadi, soalnya aku tidak tahu itu bekas atau bukan yang jelas lagi diskon besar-besaran, ya aku langsung beli aja buat kalian," sahut Valerie dengan santainya.


"Sungguh terlalu," sahut Doni dan Pak Erwin bersamaan.


Valerie duduk di samping Julian yang masih saja memeluk erat Virlie, dan anehnya Virlie diam saja tidak berkutik sama sekali seakan-akan dia tahu kesedihan Unclenya itu.


"Kamu kenapa sih, Panjul?"


"Aku ditolak sama orangtuanya Vanessa, belum apa-apa sudah ditolak, menyedihkan sekali nasib percintaanku."


"Ditolak karena apa?"


"Karena aku orang miskin."


"Kurang ajar, berani sekali mereka menolak Panjul," geram Valerie.


Tidak lama kemudian, Dion pun menghubungi Julian untuk segera ke ruangannya.


"Kenapa?"


"Suamimu memanggil aku."


Julian pun bangkit dari duduknya dan menyerahkan Virlie kepada Valerie, dia tidak mau sampai dapat masalah karena menyentuh putri emasnya si Bos.


Valerie pun ikut ke ruangan Dion...


"Ada apa Bos, memanggilku?"


"Kerjaan kamu kok gak benar? Ada beberapa kasus yang seharusnya kamu tangani, kenapa kamu malah absen?"


"Aku lagi gak semangat Bos, lagi patah hati."


"Ya sudah, kalau begitu kamu resign saja dari sini."


"Jangan dong Bos, kalau aku resign, aku mau kerja di mana lagi," rengek Julian.


"Makanya kerja yang benar, aku gaji kamu besar bukan buat meratapi nasib saja. Urusan pribadi jangan di sangkut pautkan dengan pekerjaan."


"Baik Bos."


Dion memperhatikan Julian, dia sedikit kasihan kepada Julian. Dion menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Kenapa kamu sampai patah hati?" tanya Dion.


"Kurang ajar, memangnya aku menggaji kamu dengan harga UMR?" kesal Dion.


"Enggaklah Bos, aku hanya merendah saja dan melihat reaksi mereka dan ternyata aku malah di hina habis-habisan."


"Siapa nama orangtuanya?"


"Aku tidak tahu Bos."


"Coba kamu tanya sama wanita itu."


"Sekarang Bos?"


"Enggak, tahun depan," geram Dion.


Julian pun dengan cepat mrnghubungi Vanessa dan menanyakan siapa nama orangtuanya, setelah tahu Julian pun menutup sambungan teleponnya.


"Siapa?"


"Farhan Damara, Bos."


"Farhan Damara?"


Dion sedikit berpikir karena perasaan dia kenal dengan nama itu, hingga akhirnya tidak lama kemudian senyuman terbit di wajah tampannya membuat Julian dan Valerie saling pandang satu sama lain.


"Apa kamu benar-benar mencintai wanita itu?" tanya Dion.


"Iya Bos."


"Kamu yakin, kalau wanita itu sifatnya tidak menurun kepada Papanya?"


"Sangat yakin Bos, Vanessa wanita yang baik dan ramah makanya aku percaya diri saja saat Vanessa mengajaku mampir ke rumahnya, karena aku pikir orangtuanya pun akan baik dan ramah, tapi kenyataannya orangtua Vanessa menyeramkan."


"Apa kamu mau menikahinya?"


"Aduh Bos, jangankan menikahinya, buat dekat dengan putrinya saja aku dilarang," keluh Julian.


"Urusan gampang, aku akan membuat kamu menikah dengan putrinya itu tapi dengan satu syarat, kerja yang benar."


"Serius Bos, Bos akan membantuku?"


"Iya, tapi jangan kegirangan dulu aku membantumu karena aku merasa kasihan saja kamu sudah tua belum menikah-menikah, takutnya usia kamu pendek dan kamu belum merasakan surga dunia, kan kasihan bisa-bisa kamu gentayangan karena merasakan penasaran," seru Dion.


"Sialan si Bos, untung Bos aku coba kalau bukan sudah aku kasih jurus tuh," batin Julian dengan kesalnya.


"Sudah sana pergi dan kerja yang benar."


"Baik Bos....Virlie Uncle bakalan nikah!" teriak Julian dan hendak menghampiri Virlie.


"E..e..eh stop, mau ngapain kamu?" sentak Dion.


"Mau peluk Virlie, Bos."


"Enggak, sana pergi enak aja."


"Dasar pelit."


Julian pun akhirnya keluar dari ruangan Dion, Dion segera menggendong Virlie. Dion menciumi Virlie tapi Dion tampak mengerutkan keningnya dan mengendus-ngendus.


"Kok, bau parfum si Julian."


Valerie tampak nyengir. "Iya, tadi si Panjul gendong Virlie sebentar."


"Astaga, katanya tadi cuma mau memberikan oleh-oleh saja tapi kenapa si Julian sampai gendong Virlie?" kesal Dion.


Dion menyerahkan Virlie kepada Valerie. "Mandiin dia."


"Tapi sayang----"


"Kamu mau aku yang mandiin Virlie?"


"Oke..oke..aku mandiin."


Valerie pun segera mengambil Virlie dengan kesalnya, Valerie sangat kesal karena Dion benar-benar sangat possesif kepada Virlie.


Setelah selesai memandikan dan mendandani Virlie, Valerie pun menyerahkan Virlie kepada Dion.


"Sayang, memangnya kamu kenal dengan orangtua Dr.Vanessa?" tanya Valerie.


"Kenal banget malah."


"Terus, memangnya orangtua Dr.Vanessa akan merestui mereka kalau kamu yang ngomong?"


"Kadang untuk mendapatkan sesuatu itu harus ada sedikit ancaman, sayang."


"Maksudnya?"


"Kamu lihat saja nanti," sahut Dion dengan mengedipkan sebelah matanya.


Valerie tahu kalau suaminya itu sangat pintar, tapi tetap saja Valerie merasa penasaran apa yang akan Dion lakukan.