THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Kebahagiaan Valerie



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Dion pun sampai di rumah Valerie. Valerie tampak terkejut saat melihat rumahnya sudah penuh dengan teman-teman kerjanya di The Black Hunter.


"Selamat datang Valerie!" teriak semuanya.


"Ya Allah, kalian kok ada di sini?" sahut Valerie dengan mata yang berbinar.


"Kami sayang kamu Val, makanya kami menyambut dengan suka cita kepulangan kamu," seru Julian.


"Ya ampun so sweet banget."


Valerie langsung memeluk Julian, selama ini hanya Julian yang selalu ada untuknya walaupun pada kenyataannya mereka tidak pernah akur, tapi mereka saling sayang satu sama lain.


Cuma bedanya, Valerie sayang kepada Julian dalam arti sayang kepada seorang sahabat, sedangkan Julian sayang kepada Valerie karena Julian memang jatuh cinta kepada Valerie.


Tiba-tiba dada Dion terasa sesak melihat Valerie memeluk Julian, Dion pun menghampiri Valerie dan menarik tubuh Valerie kemudian merangkul pundak Valerie.


"Maaf, Valerie masih sakit kondisinya pun belum stabil jadi sekarang Valerie butuh istirahat dan kalian boleh pulang sekarang juga," seru Dion dingin.


Semuanya tampak saling pandang satu sama lain, mereka tidak mengerti dengan sikap bosnya itu. Waktu Valerie di rumah sakit pun, mereka tidak diizinkan untuk menengok Valerie dan sekarang Valerie sudah di rumah, Bosnya masih saja melarang mereka bertemu Valerie.


"Kenapa diam? Sudah sana bubar!" bentak Dion.


"Si Bos gak asyik, mulai posesif sama Vale, padahal kita kan kita mau makan-makan dulu di sini," keluh Julian.


"Bubar aku bilang!"


Akhirnya dengan terpaksa, semuanya pun bubar dan mulai meninggalkan rumah Valerie.


"Kok, Bos suruh mereka pulang sih? Padahal aku rindu sama mereka," keluh Valerie.


"Kondisi kamu masih lemah, lebih baik kamu istirahat daripada kumpul-kumpul unfaedah, palingan kalian mau ngeghibah kan?"


"Idih, si Bos sok tahu," ketus Valerie.


Valerie pun masuk ke dalam rumahnya dan disusul oleh Dion.


"Lah, ngapain Bos ikut masuk ke dalam rumah aku?"


"Memangnya gak boleh?"


"Tadi Bos nyuruh teman-teman pulang supaya aku bisa istirahat, terus sekarang ngapain Bos ikut masuk?"


"Aku hanya ingin memastikan saja kalau kamu benar-benar istirahat, setelah itu aku baru akan pulang."


Valerie pun tidak banyak bicara, dia malas kalau harus beradu mulut dengan Dion karena ujung-ujungnya yang menang pasti Bos, bawahan hanya bisa mengalah.


Valerie masuk ke dalam kamarnya dan tanpa banyak bicara langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, Valerie pun sudah masuk ke dalam alam mimpinya.


Dion melihat-lihat foto kedua orangtua Valerie, dan Dion ingat apa yang dikatakan Valerie.


"Sungguh tragis sekali kisah hidupmu Vale, aku janji akan membantumu mencari siapa yang sudah membunuh kedua orangtuamu," batin Dion.


Perlahan Dion membuka pintu kamar Valerie dan terlihat Valerie sudah tertidur. Dion masuk ke dalam dan menutupi tubuh Valerie dengan selimut, disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah Valerie.


Dion tersenyum. "Kenapa aku baru sadar kalau kamu ternyata cantik," gumam Dion.


Dion mengelus wajah Valerie membuat Valerie menggerakan tubuhnya dan Dion menghentikan gerakannya.


"Tidurlah yang nyenyak."


Dion pun mulai meninggalkan rumah Valerie, jantungnya kembali berdetak tak karuan.


***


1 minggu pun berlalu, Valerie sudah kembali bekerja.


"Jul, bagaimana apa Widia sudah mulai kuliah?"


"Sudah."


"Jul, aku mau curhat nih, kamu mau dengerin gak?"


"Curhat apaan?"


"Apa?"


Julian sampai membelalakan matanya mendengar ucapan Valerie.


"Serius kamu, Val?"


"Iya, ternyata Om Lion dan tante Ayu itu sahabat Mama dan Papa aku. Mereka mau aku sama si Bos menikah."


"Terus, bagaimana denganmu?"


"Aku bingung sih Jul, kamu juga kan tahu bagaimana perasaanku, aku sudah suka sama si Bos sejak dulu cuma si Bosnya aja yang gak mau sama aku," keluh Valerie.


Julian melotot saat melihat Dion berdiri di belakang Valerie tapi Valerie tidak mengetahuinya.


"Sepertinya bahagia sekali kalau menikah dengan si Bos," seru Valerie dengan mengaduk-ngaduk minumannya.


"Kalau begitu, kamu mau dong menikah denganku?" seru Dion.


"Uhuk...uhuk...uhuk..."


Seketika Valerie tersedak dan menatap tajam ke arah Julian, leher Valerie seolah susah sekali untuk menengok.


Dion langsung duduk di samping Valerie membuat Valerie panas dingin dan tubuhnya seketika membeku. Dion memajukan wajahnya mendekati Valerie, Valerie semakin gugup.


"Benarkah kamu menyukaiku? Berarti kamu mau dong menikah denganku?" goda Dion.


Valerie mengedipkan kedua matanya beberapa kali, dengan susah payah Valerie menelan salivanya bahkan wajah tampan Dion berada tepat di hadapannya.


Julian memalingkan wajahnya, ada perasaan cemburu di hatinya tapi Julian sudah mencoba mengikhlaskan Valerie karena bagi Julian, kebahagiaan Valerie jauh lebih penting dibandingkan dengan perasaannya.


Julian pun memilih untuk pergi dan tinggalah Valerie dan Dion berdua.


"Bagaimana, maukah kamu menikah denganku? Aku tidak akan menawari kamu lagi untuk kedua kalinya, jadi sekarang jawab dengan lantang iya atau tidak?" tegas Dion.


"A-aku....a-aku...."


"Jawab!"


"Siap Bos, aku mau," sahut Valerie dengan memejamkan matanya.


Dion menyunggingkan senyumannya. "Bagus, persiapkanlah dirimu besok kita feeting baju," seru Dion dengan meninggalkan Valerie.


Valerie membuka matanya, dengan mulut yang menganga. "Besok feeting baju? Apa aku gak salah dengar?" gumam Valerie dengan menepuk-nepuk pipinya.


Valerie mencubit tangannya sendiri. "Aw....sakit, berarti ini nyata. Astaga aku bakalan menikah sama si Bos," gumam Valerie dengan memeluk tubuhnya sendiri sembari menggoyang-goyangkan badannya.


Valerie senyum-senyum sendiri membuat semua orang merasa bingung dengan tingkah laku Velarie.


"Val, perasaan kemarin yang kena tembak punggung kamu deh, tapi kok yang bermasalah kenapa otak kamu?" seru Doni.


"Apaan sih Don, sirik aja jadi orang," sahut Valerie.


Rossa menghampiri meja kerja Valerie dan menopang dagunya di hadapan Valerie.


"Val, apa yang sudah membuatmu senyum-senyum kaya gitu?" tanya Rossa.


Doni dan yang lainnya pun kepo dan berkerumun di meja Valerie kecuali Julian yang hanya diam saja.


"Cerita dong Val, ada apa?"


Valerie mesem-mesem malu-malu kucing membuat teman-temannya semakin penasaran.


"Dengerin ya, aku sama Bos Dion akan menikah," seru Valerie antusias.


"Apa?" sahut semuanya bersamaan.


"Serius Val? Ya ampun, selamat ya, Val," seru Rossa dengan memeluk Valerie.


"Ya ampun, kamu bakalan jadi Ibu Bos dong," seru Doni.


"Kalau sudah jadi Ibu Bos, jangan lupa sama kita ya, Val."


"Gak nyangka si Bos bisa takluk sama kamu, Val."


"Bahagia selalu, Val."


Begitulah celetukan-celetukan teman-teman Valerie membuat Valerie semakin bahagia, tapi berbeda dengan Julian yang harus terpaksa tersenyum padahal hatinya begitu sakit.