THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Kembali Membuat Ulah



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Semua karyawan pun masuk ke dalam ruangan meeting, termasuk Papi Lion dan juga Mami Ayu yang ikut masuk.


"Selamat pagi semuanya, pagi ini saya ingin menyampaikan kalau akhir-akhir ini kejahatan semakin merajalela dan banyak sekali email yang masuk ke markas kita meminta bantuan kita, saya selaku atasan di sini sedang fokus kepada salah satu kasus yang saat ini sedang hangat-hangatnya di perbincangkan, yaitu penculikan Adinda seorang putri dari pengusaha kaya raya dan terkenal Mr.Edward."


Semuanya tampak fokus mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Dion.


"Kita harus segera menemukan putrinya itu, saya juga sudah berkoordinasi dengan Komandan Alan untuk mempelajari pelaku yang saat ini masih belum bisa terdeteksi karena saat kejadian, cctv mati sengaja di rusak pelaku," seru Dion.


"Untuk petugas lapangan, seperti biasa Valerie dan Julian yang akan menjadi tim terdepan, Rossa, kamu lacak keberadaan pelaku dari ponsel milik Adinda yang kemungkinan besar dibawa korban."


"Baik Bos."


"Oke, apa ada pertanyaan?" tanya Dion.


Tiba-tiba, Papi Lion mengangkat tangannya tapi Dion tidak memperdulikannya karena Dion sudah tahu, pasti Papinya itu akan melakukan ulah lagi.


Semua Karyawan tampak saling pandang satu sama lain, bagaimana tidak Bos besar mereka sepertinya ingin menanyakan sesuatu.


"Baiklah, kalau tidak ada yang ditanyakan, meeting kita tutup," seru Dion.


Papi Lion berdiri dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dion, membuat Dion kesal dan mengusap wajahnya kasar.


"Papi mau bicara apa?" kesal Dion.


Papi Lion tersenyum dan berdiri di samping Dion.


"Selamat pagi semuanya! Maaf mengganggu sebentar, saya hanya ingin mengatakan kalau saya akan mengajak kalian liburan sebagai ucapan terima kasih karena dedikasi dan apresiasi kalian yang selama ini sudah kalian berikan kepada kita, maka dari itu, saya akan mengajak kalian liburan ke Bangkok, Thailand," seru Papi Lion dengan antusias.


Dion membelalakan mata, bahkan mulutnya tampak menganga dengan apa yang sudah dikatakan oleh Papinya itu. Sedangkan semua karyawan tampak bersorak-sorai merasa bahagia karena akan diajak jalan-jalan gratis.


"Huawaaaa....kita bakalan liburan ke Bangkok, Panjul," teriak Valerie dengan antusias sembari mengguncang-guncangkan tubuh Julian.


"Astaga Vale, kepala aku pusing," kesal Julian dengan menoyor kepala Valerie.


"Ishh..ishh..ishh...kita bakalan liburan ke luar negeri, Panjul. Wah senangnya, mana gratis pula," seru Valerie lagi dengan mencubit pipi Julian.


"Kamu senang, Valerie," seru Papi Lion.


"Senang banget Om, Om paling the best pokoknya, aku padamu Om!" teriak Valerie berdiri dan menyimpan kedua tangannya di atas kepala membentuk love.


Papi Lion tak kalah hebohnya, dia memberikan finger love kepada Valerie membuat semua karyawan di sana menganga. Sedangkan Dion kembali mengusap wajahnya dengan kasar.


"Om? Kamu gak salah panggil Val, dia Bos besar loh, kok bisa-bisanya kamu panggil dia dengan sebutan Om?" bisik Julian dengan menarik tangan Valerie supaya duduk.


"Doi, camer aku, Panjul."


Julian mengetuk-ngetuk kepala Valerie dengan tangannya.


"Sadar, sadar, masih pagi pasti kamu lagi mengkhayal ya."


"Apaan sih, Panjul. Sirik aja," kesal Valerie.


Wajah Dion sudah terlihat memerah menahan rasa marah dengan ucapan Papinya itu.


"Papi, apa-apaan sih? Dion lagi ada misi penyelamatan putri dari Mr.Edward, ngapain Papi malah ngajak liburan segala," kesal Dion.


"Dion, mereka semua selama ini sudah bekerja keras, apa salahnya kalau Papi ngajak mereka jalan-jalan. Lihat raut wajah mereka, sangat bahagia," sahut Papi Lion.


"Papi sudah tidak ada hak untuk ikut campur dalam urusan kantor ini, karena semuanya sudah Dion yang pegang."


"Siapa bilang, Papi masih ada hak karena nama The Black Hunter terkenal berkat nama besar Papi."


"Astaga Papi."


Semua karyawan pun mulai bubar dan meninggalkan tempat meeting dengan perasaan yang sangat bahagia karena akan diajak jalan-jalan oleh Bos besar.


Sedangkan Dion, menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Dion memejamkan matanya, kemudian memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut akibat kelakuan Papinya itu.


"Jangan kesal-kesal, selama ini kamu juga sudah bekerja keras, apa salahnya kalau kita liburan sejenak untuk melepaskan rasa penat supaya otak dan tubuh kita fresh," seru Papi Lion dengan menepuk pundak Dion.


"Tapi Papi, ini bukan waktunya untuk liburan, tugas kita lebih penting," sahut Dion.


"Sudah, masalah putrinya Mr.Edward sudah Papi atasi bahkan si pelaku sudah Papi lacak tinggal proses penggerebekan saja dan semua itu sudah Papi serahkan kepada Komandan Alan."


"Hah, sejak kapan Papi melakukannya?" tanya Dion kaget.


"Kamu tidak usah tahu, pokoknya masalah putri Mr.Edward sudah teratasi, kamu tinggal menunggu bayaran saja dari Mr.Edward, kalau begitu Papi pulang dulu, Papi capek ingin istirahat."


Papi Lion pun segera pergi meninggalkan ruangan meeting, dari dulu Papi Lion memang selalu mengerjakan sesuatu tanpa sepengetahuan Dion.


Sementara itu, Mami Ayu saat ini menarik tangan Valerie dan memasukan Valerie ke dalam mobilnya.


"Tante, Valerie tidak bisa ikut, Valerie takut Bos Dion ngamuk," seru Valerie dengan perasaan takut.


"Sudah, masalah Dion biar tante yang urus. Jalan Pak."


Mobil Mami Ayu pun mulai melaju meninggalkan kantor The Black Hunter.


"Tapi tante, Bos Dion pasti bakalan memotong gaji Valerie," rengek Valerie.


"Kamu tenang saja, kalau Dion sampai memotong gaji kamu, tante bakalan potong tangan dia."


"Hah, tante sadis banget," sahut Valerie.


"Ya, maka dari itu, kamu diam saja dan ikuti tante karena hari ini tante ingin jalan-jalan sama kamu."


Valerie sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa diam. Menolak terus-terusan pun tidak ada gunanya, jadi untuk saat ini Valerie pasrah sajalah.


Di kantor The Black Hunter, Dion melangkahkan kakinya memasuki ruangan tim Valerie.


"Valerie mana?" tanya Dion dingin.


"Valerie pergi bersama Nyonya besar, Bos," sahut Rossa.


"Apa? Pergi ke mana?"


"Kami tidak tahu."


"Sial."


Dion pun segera keluar dan menghubungi Maminya, tapi ternyata ponsel Maminya mati sengaja dimatikan.


"Ah, Mami."


Dion kembali menghubungi Valerie, Valerie tersentak saat ponselnya berbunyi dan Valerie semakin terkejut saat melihat siapa orang yang sudah menghubunginya.


"Siapa?" tanya Mami Ayu.


"Bos Dion, tante."


"Sini, biar tante yang angkat."


Mami Ayu mengambil ponsel Valerie dan mengangkatnya.


📞"Valerie, kembali ke kantor atau aku potong gaji kamu setengahnya," seru Dion dengan emosi.


📞"Berani sekali kamu mengancam calon mantuku, hari ini Valerie mau Mami ajak jalan-jalan jadi jangan coba-coba kamu memotong gaji Valerie atau Mami akan menikahkan kamu dengan Jesika dan Valerie akan Mami nikahkan dengan Petra sepupumu," ancam Mami Ayu.


📞"Mami jangan----"


Tut..tut..tut..


Sambungan teleponnya pun terputus, Dion mengacak-ngacak rambutnya frustasi sungguh hari ini Mami dan Papinya sudah membuat mood Dion seketika anjlok.