THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Amukan Dion Dan Papi Lion



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Ferdinan tersenyum penuh kemenangan, dia memang ingin membunuh anak Anisa dan Andri dari dulu karena dia adalah saksi kunci atas kejahatan yang dia lakukan.


Ferdinan kembali memakai jasnya dan segera menemui Jesika.


"Papa, bagaimana apa Valerie sudah mati?" tanya Jesika.


"Belum, tapi sepertinya sebentar lagi dia akan mati karena Papa akan membawa anak itu dan membuangnya ke hutan biar menjadi santapan binatang buas."


"Bagus."


"Tapi Jesika, sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini karena Papa yakin Dion akan ke sini untuk mencari Valerie dan Papa tidak mau kamu sampai kenapa-napa, bahkan kalau perlu, malam ini juga kamu pergi dulu ke luar negeri."


"Oke Pa, kalau Papa sudah berhasil membuang Valerie, jangan lupa kabari Jesika."


Ferdinan menganggukan kepalanya, Jesika pun dengan cepat mengambil kunci mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya. Dion dan yang lainnya serempak menoleh, saat melihat sebuah mobil mulai melaju.


"Itu mobil Jesika. Petra, bisakah kamu mengikuti dia? Kalau perlu culik saja dia dan amankan dia di suatu tempat sebagai jaminan juga kalau nanti ada apa-apa," seru Dion.


"Oke, itu urusan gampang."


Petra segera berlari menuju mobilnya dan dengan cepat mengikuti mobil Jesika. Sementara itu, hari sudah mulai gelap dan Dion sudah merasa sangat frustasi karena tidak tahu bagaimana keadaan Valerie.


"Pi, Dion sudah tidak bisa menunggu lagi, Dion khawatir dengan keadaan Valerie," seru Dion.


"Sabar Ion, kita harus cari celah untuk masuk ke sana," sahut Papi Lion.


"Bagaimana kita serang mereka secara diam-diam?" seru Julian.


"Maksud kamu apa?" tanya Dion.


"Ya kita secara diam-diam menyusup ke sana, dan habisi satu persatu anak buah Ferdinan, soalnya kalau kita diam terus seperti ini rasanya konyol sekali dan bantuan pun belum tentu bisa datang secepatnya," sahut Julian.


"Kali ini aku setuju dengan ide kamu, bagaimana Komandan?" seru Dion.


"Baiklah, tapi kita harus tetap hati-hati karena pasukanku sudah dekat ke sini," sahut Komandan Alan.


Perlahan mereka pun mendekat ke arah rumah yang dijadikan tempat penculikan Valerie. Mereka begitu handal, satu persatu anak buah Ferdinan bisa mereka lumpuhkan dengan serangan senyap tanpa suara sedikit pun membuat semuanya aman terkendali.


"Kita berpencar, Komandan Alan bersama Julian, sedangkan aku sama Papi," seru Dion.


"Baik."


Keempatnya mulai mengendap-ngendap berusaha masuk ke rumah itu, walaupun mereka harus menyingkirkan puluhan anak buah Ferdinan.


Cukup lama mereka mengintai, dan perlahan anak buah Ferdinan berkurang tapi tenaga mereka terkuras membuat mereka harus bersembunyi dulu dan beristirahat mengumpulkan kembali tenaga untuk menghadapi Ferdinan.


Dion bersembunyi di belakang sebuah ruangan, dengan jendela kecil di atasnya. Dia baru saja ingin beristirahat sebentar, matanya tidak sengaja melihat Valerie tergeletak dengan wajah penuh darah membuat darah Dion seketika mendidih.


"Valerie, kurang ajar," geram Dion.


Dion hendak melangkahkan kakinya tapi Papi Lion menarik lengan Dion.


"Kamu mau ke mana, Dion?"


"Pi, lihatlah ke dalam kondisi Valerie sangat mengenaskan, Dion sudah tidak bisa diam lagi, Dion harus membunuh Ferdinan malam ini juga," geram Dion.


"Sabarlah, tunggu sebentar lagi kalau sekarang kamu nekad masuk, itu tandanya kamu menyerahkan nyawa kamu sendiri."


"Tapi Pi, Dion tidak bisa melihat Valerie seperti itu. Ferdinan bukan hanya melukai Valerie tapi menyiksa Valerie dengan kejamnya."


"Bantuan datang, bantuan datang."


Terdengar suara Komandan Alan memberikan intrupsi.


Duaaaarrrrr....


Tiba-tiba suara ledakan terdengar sangat nyaring dan itu ternyata rekan-rekan Komandan Alan. Mereka mengalihkan perhatian supaya anak buah Ferdinan terpancing dengan melempar bom molotov.


"Suara apa itu?" tanya Ferdinan kaget.


"Ada yang menyerang kita, dan melempar bom molotov," sahut anak buahnya.


"Itu pasti kerjaan orang-orang yang ingin menyelamatkan Valerie. Kalian hadapi mereka, aku akan bawa valerie pergi dari sini."


"Baik Bos."


Ferdinan segera mengangkat tubuh Valerie dan segera menuju jalan bawah tanah yang nantinya akan terhubung dengan pintu yang ada di samping rumah itu.


Di saat semua orang sedang sibuk saling serang, Ferdinan memasukan Valerie ke dalam mobilnya tujuannya adalah ingin membuang Valerie.


Papi Lion walaupun sudah tua tapi bela dirinya tetap tidak terkalahkan, orang-orang tinggi besar itu bisa dengan mudah dikalahkan oleh Papi Lion dan Dion.


"Dion, Valerie dibawa Ferdinan!" teriak Papi Lion.


Dion seketika menoleh, terlihat Valerie terkulai lemah di jok belakang dengan wajah penuh luka dan darah.


"Kurang ajar."


Dion berlari sekuat tenaga mengejar mobil Ferdinan, dia menumpu kakinya ke pohon dan melompat ke atas mobil Ferdinan, seketika Ferdinan menghentikan mobilnya saat Dion sudah berada di kap mobil depan dengan menodongkan pistolnya ke arah Ferdinan.


Mata Dion memerah melihat kondisi Valerie yang sangat mengenaskan.


"Bajingan kamu Ferdinan!" teriak Dion.


Perlahan Ferdinan hendak mengambil pistol dari pinggangnya tapi tanpa di duga, Valerie tersadar dan segera mengambil pistol Ferdinan dan menodongkannya tepat ke kepala Ferdinan membuat Ferdianan melotot.


Papi Lion dan Julian menyusul, sedangkan anak buah Ferdinan sudah ditangani oleh Komandan Alan dan juga anak buahnya.


Dengan amarah yang memuncak, Papi Lion membuka pintu mobil Ferdinan dan menyeret Ferdinan untuk keluar.


Bughh..bughh..bughh...


"Bajingan kamu Ferdinan, jadi kamu yang sudah membunuh Anisa dan Andri, dan sekarang kamu ingin membunuh Valerie juga, jangan harap kamu bisa menyingkirkan Valerie!" teriak Papi Lion.


Papi Lion kalap, dia terus memukul Ferdinan tanpa henti dan tanpa perlawanan juga.


Pistol yang Valerie genggam terjatuh, Dion dan Julian segera menghampiri Valerie.


"Val, bertahanlah demi aku," seru Dion dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ma-afkan a-ku Bos, a-ku su-dah ti-dak ku-at la-gi," seru Valerie terbata.


"Diam kamu Vale, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu adalah wanita kuat dan hebat, kamu pasti akan sembuh bukanya kamu akan menikah dengan si Bos? Dan itu adalah impian kamu!" teriak Julian dengan deraian airmata.


Julian sudah tidak bisa menahan airmatanya, dia sudah sangat dekat dengan Valerie bahkan saking sayangnya Julian kepada Valerie, dia rela memendam perasaannya demi kebahagiaan Valerie.


Dion mengepalkan tangannya, bahkan airmatanya pun saat ini sudah menetes. Valerie kembali terbatuk dan memuntahkan darah membuat Dion dan Julian panik.


"Kamu ingin melihat Ferdinan mati, kan? Lihatlah, aku sendiri yang akan membunuhnya mewakili kamu," seru Dion.


Dion menyerahkan Valerie kepada Julian, dia kembali mengeluarkan pistolnya dan dengan amarah yang memuncak, Dion mendorong Papinya sendiri dan mengarahkan pistolnya ke arah Ferdinan yang sudah terkulai lemas.


"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini," seru Dion.


"Jangan Dion, Om mohon jangan bunuh Om, Om akan menyerahkan diri Om kepada Polisi," seru Ferdinan panik.


"Ini untuk kedua orangtua Valerie."


Dorrrr....


Dion menembak Ferdinan tepat di arah jantungnya dan Ferdinan terlihat melotot.


"Dan ini untuk Valerie."


Dorrrrr....


Dion kembali menembak ke bagian dada sebelah kanan, dan seketika Ferdinan tewas dengan mata yang melotot. Tangan Dion lemas, dia menjatuhkan pistolnya.


Kemudian Dion segera menghampiri Valerie bersama Papi Lion.


"Val, kamu lihat kan, aku sudah membunuh Ferdinan di depan mata kepalamu sendiri jadi kamu harus kuat dan sebentar lagi kita akan menikah."


Valerie tersenyum, perlahan tangannya yang penuh darah itu menyentuh pipi Dion.


"Te-rima ka-sih Bos, a-ku men-cintaimu."


Tiba-tiba tangan Valerie terjatuh bersamaan dengan matanya yang mulai tertutup.


"Val, bangun Val!" teriak Dion.


Begitu pun dengan Julian, kedua pria tampan itu meneteskan airmatanya. Papi Lion memeriksa denyut nadi Valerie.


"Denyut nadinya masih ada walaupun lemah, ayo cepat kita bawa Valerie ke rumah sakit," seru Papi Lion.


Tanpa menunggu lagi, mereka pun langsung membawa Valerie pergi dari tempat itu menuju rumah sakit. Sedangkan Papi Lion menghubungi Komandan Alan untuk mengurus jasad Ferdinan.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘