THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Moment Mengharukan



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


"Apa kamu mau minum?" tanya Dion.


Valerie hanya menganggukan kepalanya, Dion pun mengambilkan minum dan dengan sigap membantu Valerie bangun.


"Jul, Widia selamat, kan?" lirih Vale.


"Widia selamat, kamu jangan pikirkan yang lain-lain dulu, fokus saja dengan kesembuhanmu," sahut Julian.


"Bagaimana dengan biaya rumah sakit ini? Pasti biayanya sangat mahal, uang tabunganku mana cukup," keluh Valerie.


"Sudah, fokus saja dengan kesehatanmu masalah biaya rumah sakit sudah aku bayar semuanya," seru Dion.


"Bos, boleh potong gajiku setiap bulan untuk membayar biaya rumah sakit."


"Kamu bisa diam tidak? Kesehatanmu saja masih belum stabil, sudah mikirin bayar biaya rumah sakit. Sudahlah, kamu istirahat saja biar kondisi mu cepat stabil," sahut Dion dengan kesalnya.


"Bos, Vale, aku pamit dulu soalnya mau nemenin Widia cari tempat kuliah."


"Oke."


"Val, nanti sore aku ke sini lagi," seru Julian.


"Tidak usah, kamu tidak usah ke sini lagi biar aku yang jagain Valerie," sahut Dion.


"Baik Bos, kalau begitu aku pamit dulu."


Julian pun akhirnya pergi...


"Apa kamu mau makan?" tanya Dion.


"Boleh."


Dion mengambil bubur yang sudah disiapkan oleh rumah sakit, kemudian Dion duduk di samping Valerie.


"Ayo buka mulutmu."


"Biar aku saja Bos, aku masih bisa makan sendiri kok."


"Keras kepala sekali kamu, aku bilang buka mulutmu," kesal Dion.


Akhirnya dengan ragu-ragu, Valerie pun membuka mulutnya dan Dion dengan sabar menyuapi Valerie. Valerie menatap wajah tampan Dion, kemudian menyunggingkan senyumannya.


"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?"


"Aku senang sekali, Bos sekarang perhatian sama aku."


"Kamu kan anak buahku, sudah seharusnya aku memberikan perhatian apalagi kamu terluka karena sedang menjalankan tugas menangkap penjahat."


"Tapi waktu di Bangkok, Bos tidak memperlakukan Mba Rossa seperti ini?"


Seketika Dion gelagapan, dia tidak tahu harus jawab apa.


"Sudah, jangan banyak bicara, habiskan saja makanannya."


Valerie terdiam dan tersenyum ke arah Dion membuat Dion pun tidak bisa menahan senyumannya.


"Jangan lihatin aku terus seperti itu."


"Kenapa Bos? Bos malu ya?" goda Valerie.


"Malu, kenapa mesti malu, memangnya apa alasan aku harus malu?"


"Alasannya, karena Bos suka sama aku jadi Bos merasa malu kalau aku tatap Bos, iya kan? iya dong, masa enggak," goda Valerie dengan senyumannya.


Dion menatap Valerie yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya, karena Dion tidak kuat, akhirnya Dion pun tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Valerie dengan gemasnya.


"Dasar, berani sekali kamu menggoda Bosmu."


"Gak apa-apa, jarang-jarang aku bisa menggodamu Bos, kali aja dengan aku menggodamu, Bos bisa jatuh cinta kepadaku," goda Valerie kembali.


Dion kembali tersenyum, entah apa yang sedang Dion rasakan tapi Dion merasa kalau ada perasaan yang sulit dia ungkapkan jika dekat dengan Valerie.


Ceklek...


Pintu ruangan rawat Valerie pun terbuka dan menampilkan wajah Mami Ayu dan juga Papi Lion. Tadi mereka keluar sebentar karena ada urusan.


"Vale baik-baik saja kok, tante."


"Syukurlah, tante sangat khawatir saat mendengar Dion bilang kalau kamu terkena tembakan, tante benar-benar sangat takut kamu kenapa-napa."


"Tenang saja tante, Vale wanita kuat kalau masalah terkena tembakan mah gak ada apa-apanya."


"Sombong sekali kamu, coba aku pukul luka tembakannya," goda Dion.


"Jangan dong Bos, nanti kalau aku mati bagaimana? Bos akan rindu nanti sama aku."


"Idih, percaya diri sekali kamu."


Mami Ayu dan Papi Lion tersenyum melihat keakraban keduanya.


"Kalian sangat cocok, Dion yang dingin dan cuek bertemu dengan Valerie yang ceria dan konyol, klop banget. Iya kan, Pi?" seru Mami Ayu.


"Iya."


Papi Lion tersenyum memperhatikan wajah Valerie, hingga akhirnya Papi Lion tersentak.


"Kok, wajah Valerie mirip dengan Anisa dan Andri? Apa jangan-jangan, Valerie anaknya mereka?" batin Papi Lion.


Dulu Papi Lion memang sahabatan dengan Anisa dan Andri tapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, Bahkan Papi Lion pun hanya tahu kalau nama anak mereka bernama Riri.


"Val, Om boleh bertanya?"


"Apa Om?"


"Orangtua kamu ke mana? Kok, Om tidak lihat mereka datang ke sini?"


"Orangtua Vale, sudah meninggal, Om."


"Kapan?"


"Saat Vale berusia 13 tahun."


Papi Lion kembali membelalakan matanya. "Siapa nama orangtua kamu?"


"Andri dan Anisa, Om."


Seketika Papi Lion melotot, Papi Lion merasa terkejut dengan jawaban Valerie. Papi Lion menghampiri Valerie dan memeluk Valerie membuat Valerie, Dion, dan Mami Ayu bingung.


"Astaga Valerie, Om sudah puluhan tahun mencarimu, Andri dan Anisa itu sahabat Om dan mereka selalu bilang sama Om untuk menjagamu."


Valerie membelalakan matanya, hingga Papi Lion pun melepaskan pelukannya. Dengan mata yang berkaca-kaca, Papi Lion menangkup wajah Valerie.


"Maafkan Om, karena Om tidak bisa menolong kedua orangtuamu, waktu itu Om lagi ada di Inggris sedang menjalankan misi."


Valerie meneteskan airmatanya. "Tidak apa-apa Om, itu semua memang sudah menjadi takdir Vale jadi Om tidak usah meminta maaf kepada Vale."


Papi Lion kembali memeluk Valerie dan kali ini Papi Lion tampak meneteskan airmatanya, membuat Dion dan Mami Ayu pun terharu dan ikut merasa iba.


"Di usia kamu yang terbilang masih sangat kecil, kamu pergi ke mana?"


"Vale tinggal di kolong jembatan Om, bahkan Vale menjadi pengamen dan pemulung rongsokan supaya Vale tetap bisa melanjutkan sekolah Vale karena Mama dan Papa selalu bilang kalau sekolah adalah urusan yang utama, bagaimana pun kondisi kita, jangan sampai aku putus sekolah."


"Ya Allah, kasihan sekali kamu, Nak."


Mami Ayu mengusap kepala Valerie dan mencium pucuk kepala Valerie dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Dion, tampak terdiam dia tidak menyangka kalau kehidupan Valerie sangat menyedihkan.


"Apa kamu sempat melihat siapa yang sudah membunuh kedua orangtuamu?" tanya Papi Lion.


"Apa? Maksud Papi apa?" tanya Dion.


"Kedua orangtua Valerie dibunuh Dion, tapi Papi juga belum tahu apa motif mereka membunuh Andri dan Anisa," sahut Papi Lion.


"Vale tahu Om, dan sampai kapan pun Vale tidak akan pernah bisa melupakan wajah pembunuh itu. Tapi sayangnya, sampai saat ini Vale belum bisa menemukannya," sahut Valerie.


"Kamu jangan khawatir, Om akan selalu membantu kamu dan kamu pun jangan segan-segan lagi bicara sama Om tentang apa pun itu, karena Om sudah menganggap kamu seperti anak Om sendiri."


"Papi itu bagaimana sih? Memang Valerie sebentar lagi akan menjadi menantu kita, kan? Jadi Valerie akan menjadi anak kita juga," sahut Mami Ayu.


"Ah iya, Papi lupa. Dion, kapan kamu mau melamar Valerie?"


"Hah...."


Dion dan Valerie saling pandang satu sama lain.