THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Kepanikan Semua Orang



πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


Dion merentangkan kedua tangannya, dari tadi dia tidur dan sore harinya baru bangun. Dion melihat jam dinding sudah menunjukan pukul setengah 5 sore.


"Sudah lewat setengah jam, tapi kenapa Vale belum ke sini, seharusnya dia sudah ada di sini," gumam Dion.


Dion mengambil ponselnya dan ternyata ponselnya lowbath.


"Ponselku mati lagi."


Dion pun bangun dan segera mengisi baterai ponselnya, sementara dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Berbeda dengan Dion, tim Valerie di The Black Hunter tampak panik karena mendapatkan sinyal bahaya dari Valerie.


"Tumben Vale menyalakan sinyal bahaya, wah gawat kalau Vale sudah menyalakan sinyal bahaya, itu artinya Vale dalam masalah besar," gumam Rossa panik.


Rossa segera menyalakan laptopnya dan menyambungkan sinyal bahaya itu untuk mendeteksi keberadaan Valerie. Doni dan yang lainnya saat ini panik, mereka menunggu intrupsi dari Dion tapi Dion sampai saat ini belum ada memberikan perintah.


Sementara itu, Julian yang baru saja selesai membayar administrasi Widia, segera keluar karena dari tadi ponselnya terus saja bergetar.


Seketika Julian membelalakan matanya. "Astaga, Vale!"


"Bang mau ke mana?" teriak Widia.


Julian kembali menghampiri Widia dan memberikan uang.


"Kamu pulangnya naik taksi saja ya, soalnya Abang ada perlu."


Julian segera berlari menuju mobilnya, dia terus saja menghubungi Dion namun ponsel Dion mati.


"Sial, si Bos ke mana sih?" kesal Julian.


Julian segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kencang, Julian memasang ear phone di telinganya dan menghubungi Rossa.


πŸ“ž"Bagaimana Mba, apa sudah ketahuan di mana lokasinya?"


πŸ“ž"Belum Jul, ini lagi di cari dulu."


πŸ“ž"Ya sudah, Mba terus mencarinya kalau sudah ketemu segera hubungi aku."


Julian mematikan sambungan teleponnya, sungguh Julian saat ini merasa panik. Valerie itu tidak pernah sekali pun menyalakan sinyal bahaya karena semuanya bisa dia atasi, tapi saat ini untuk pertama kalinya dia menyalakan sinyal bahaya dan itu artinya Valerie benar-benar dalam bahaya.


"Bos, ayolah kenapa ponselmu mati," gumam Julian.


Tiba-tiba, ponsel Julian berdering dan tertera nama Komandan Alan di sana. Julian langsung mengangkatnya dan segera melajukan mobilnya menuju tempat Komandan Alan berada.


Komandan Alan saat ini berada di lokasi tempat menghilangnya Valerie karena sopir taksi melapor kepada dirinya. Beberapa saat kemudian, mobil Julian pun sampai.


"Ada apa Komandan?" tanya Julian.


"Ini adalah sopir taksi yang melapor kepadaku tentang Valerie," sahut Komandan Alan.


"Jadi ceritanya bagaimana? Kenapa Valerie sampai diculik?" tanya Julian.


"Semenjak Mba itu keluar dari tempat kerja, ada dua mobil yang mengikuti kami hingga akhirnya mobil saya di salip. Mba itu bilang, kalau saya jangan keluar dan tolong minta bantuan. Mba itu dikeroyok," seru sang sopir dengan tubuh yang bergetar.


"Apa? Apa Bapak tahu, kira-kira ada berapa orang yang mengeroyok Valerie?" tanya Julian panik.


"Mereka ada 6 orang Mas, dan tubuh mereka tinggi besar."


Julian memukul udara saking marahnya, apalagi saat ini Dion pun gak ada kabar sama sekali.


"Kurang ajar!" teriak Julian.


Sementara itu, Dion baru selesai mandi lalu Dion pun menyalakan ponselnya. Sembari menunggu, dia pun memakai baju, tapi seketika Dion menoleh ke arah ponselnya karena ada suara yang tidak asing di telinga Dion.


Dion segera memakai baju dan celana, kemudian dengan cepat mengambil ponselnya. Dion membelalakan matanya saat melihat ada sinyal bahaya dari Valerie.


"Valerie."


Dion segera mengambil kunci mobilnya dan menghubungi timnya.


"Kamu mau ke mana, Dion?" tanya Papi Lion.


"Ferdinan sudah mulai beraksi Pi, Valerie dalam bahaya."


"Apa? Petra, kamu ikut sama Om."


"Baik Om."


"Kalian hati-hati, dan selamatkan Valerie," seru Mami Ayu.


Dion membawa mobilnya sendiri, sedangkan Papi Lion pergi dengan Petra. Mereka bertiga segera menuju tempat di mana Julian dan Komandan Alan berada.


Papi Lion, mempersiapkan senjatanya dan mengisi pelurunya full.


"Awas kamu Ferdinan, sedikit saja kamu melukai calon menantuku, aku pastikan aku sendiri yang akan membunuhmu," geram Papi Lion.


Petra tidak banyak bicara, dia memang sudah tahu apa pekerjaan Dion dan Omnya itu tapi Petra enggan bergabung, selain Petra kurang suka dengan dunia seperti itu, Petra pun memutuskan untuk menjadi pebisnis saja.


Mobil Dion dan Petra tiba secara bersamaan, wajah Dion memerah dan langsung menyerang Julian dengan pukulannya.


"Aku sudah perintahkan supaya kamu menjaga Valerie, tapi kenapa Valerie sampai bisa menghilang seperti ini!" bentak Dion.


"Maaf Bos, tadi aku harus ke kampus adikku dulu," sahut Julian.


Dion hendak memukul Julian kembali tapi Komandan Alan dan Petra menahannya.


"Sudah Dion."


Tiba-tiba, Dion mendapatkan pesan dari Rossa dan isi pesan itu mengenai lokasi di mana sinyal bahaya itu berhenti.


"Valerie sudah ditemukan," seru Dion.


Dion segera masuk ke dalam mobilnya, dan disusul oleh semuanya yang langsung mengikuti mobil Dion. Semuanya sudah menyiapkan senjata masing-masing.


"Ferdinan, awas kamu!" geram Dion dengan matanya yang memerah.


***


Keenam pria tadi menyeret Valerie dan melempar tubuh Valerie ke lantai dengan kedua tangannya di ikat.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menculikku?" tanya Valerie.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu ruangan itu, keenam pria itu langsung membungkukan tubuhnya sebagai penghormatan.


"Bos, kami sudah berhasil membawa wanita itu."


"Bagus."


Orang itu menghampiri Valerie sehingga membuat Valerie membelalakan matanya.


"Jesika, kamu----"


"Apakabar Valerie," seru Jesika dengan senyumannya.


"Ternyata ucapan Bos Dion benar, kalau kamu hanya pura-pura saja meminta maaf kepadaku," seru Valerie.


"Cih, seorang Jesika tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun termasuk kepada kamu. Aku dari dulu sudah bilang kepadamu, kalau Dion itu hanya milikku dan wanita mana pun tidak boleh ada yang memiliki Dion, termasuk kamu!" bentak Jesika.


"Kasihan sekali kamu Jesika, kenapa kamu memaksakan diri untuk tetap bersama Bos Dion? Sudah jelas-jelas Bos Dion itu tidak mau kepadamu, apa kamu tidak laku ya? Sampai-sampai kamu terus-terusan mengejar Bos Dion," cibir Valerie dengan senyumannya.


"Kurang ajar."


Plaakkkk....


Jesika menampar Valerie dengan sangat kerasnya, lalu Jesika menjambak rambut Valerie tapi Valerie tetap diam.


"Apa yang mau kamu lakukan kepadaku, Jesika?"


"Aku ingin kamu mati."


Valerie kembali tersenyum. "Justru kalau aku mati, kamu bukanya akan mendapatkan Bos Dion tapi malah sebaliknya. Bos Dion akan sangat membencimu, bahkan dia akan balik membunuhmu."


"Sialan, wanita kurang ajar."


Jesika memukuli Valerie dengan membabi buta, Valerie sudah lemah dan wajahnya sudah babak belur bahkan bibir dan hidungnya sudah mengeluarkan darah tapi Valerie masih bisa tersenyum membuat Jesika semakin geram.


Jesika mengambil tongkat pemukul base ball, dan memukul Valerie. Valerie tersungkur ke lantai dengan mulut memuntahkan darah, perlahan penglihatan Valerie mulai buram hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri dengan posisi terlungkup dan kedua tangan terikat.


"Mati kamu Valerie!" teriak Jesika dengan senyumannya.


Jesika pun melempar tongkat base ballnya dan pergi dari ruangan itu.


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


πŸ•΅β€β™€


HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.


MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIK😘😘