
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Waktu pulang pun tiba...
Hari ini Julian tidak mengantarkan Valerie pulang, karena Julian mau menjemput adiknya Widia.
Valerie menggunakan ojeg online untuk pulang ke rumahnya, hingga tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Valerie pun sampai di rumahnya. Valerie mengerutkan keningnya saat melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.
"Mobil siapa ini?" batin Valerie.
Valerie pun turun dari ojeg onlinenya dan segera masuk ke dalam halaman rumahnya setelah sebelumnya membayar ojeg online itu.
"Jesika."
"Hallo, apakabar Valerie!" sapa Jesika dengan senyumannya.
"Ada perlu apa ya? Mari silakan masuk," ajak Valerie masih dengan sikap ramahnya.
"Tidak perlu, aku suka sesak kalau masuk ke rumah kumuh seperti ini. Aku cuma ingin bilang sama kamu, jauhi Dion karena Dion adalah milikku."
"Maaf Jesika, kalau kamu ke sini hanya ingin bilang itu, lebih baik kamu pergi saja. Lagipula, seharusnya kamu bilang saja itu kepada Bos Dion bukan sama aku," sahut Valerie.
"Aku sudah tidak bisa ngomong sama Dion, karena dia sudah tidak mau lagi ngomong sama aku. Apa yang sudah kamu lakukan kepada Dion, sampai-sampai Dion bisa bertekuk lutut sama kamu?" sentak Jesika dengan mendorong pundak Valerie.
Valerie tersenyum sinis. "Aku tidak melakukan apa-apa kepada Bos Dion."
"Bohong, pasti kamu sudah menyerahkan tubuh kamu kan, sama Dion? Dan kamu mengancam dia supaya dia tanggung jawab atas apa yang dia lakukan, murahan sekali kamu jadi wanita. Demi uang, kamu rela melakukan apa pun," hina Jesika.
Valerie menjambak rambut Jesika membuat Jesika meringis kesakitan.
"Jangan sembarangan kalau ngomong, aku memang orang miskin tapi kelakuanku tidak serendah itu. Jangan salahkan aku kalau Bos Dion lebih memilih aku, itu tandanya aku lebih baik daripada dirimu," sentak Valerie dengan menghempaskan tubuh Jesika.
Jesika tersungkur ke lantai. "Kurang ajar kamu Valerie!" bentak Jesika.
"Cepat pergi dari sini, atau aku buat kamu babak belur dan wajah cantikmu itu akan hancur," ancam Valerie.
Jesika membelalakan matanya, dengan perasaan marah akhirnya Jesika pun bangkit dan segera pergi dari rumah Valerie.
Valerie pun segera masuk ke dalam rumahnya, dan segera meneguk air minum sampai tandas satu gelas.
"Kurang ajar, berani sekali wanita itu menuduhku yang tidak-tidak. Dasar ondel-ondel," gerutu Valerie.
***
Malam pun tiba....
"Mi, Pi, besok Dion mau feeting baju pengantin sama Vale," seru Dion.
"Uhuk..uhuk..uhuk..."
Papi Lion sampai tersedak kopi yang diminumnya.
"Serius kamu, Ion? Kamu mau menikah dengan Valerie?" tanya Papi Lion tidak percaya.
"Iya, bukanya ini semua keinginan kalian?" sahut Dion cuek.
"Lah, kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, kita gak bakalan maksa kok, iya kan Mi?" seru Papi Lion.
"Iya, Mami bisa suruh Petra untuk pulang supaya dia mau menikahi Valerie, pasti dia bakalan mau menikah sama Valerie secara Valerie cantik dan Mami ingin Valerie jadi bagian dari keluarga kita," sahut Mami Ayu santai.
"Berani Mami suruh si playboy itu pulang, Dion janji bakalan kawin lari sama Valerie, enak saja Valerie mau dikasih sama kucing garong kaya si Petra," ketus Dion.
Papi Lion dan Mami Ayu tersenyum melihat tingkah putranya itu.
"Jangan kawin lari, Ion, capek," seru Papi Lion dengan senyumannya.
"Iya, bilang saja kalau sekarang kamu sudah mulai jatuh cinta sama Valerie," goda Mami Ayu.
"Apaan sih Mi, Dion hanya ingin menjadi anak penurut saja buat kalian, jadi Dion akan menuruti semua keinginan kalian, termasuk menikahi Valerie," sahut Dion dengan wajah yang memerah.
"Masa iya ada yang dijodohin pasrah gitu, biasanya kalau dijodohin itu ngamuk dan kabur dari rumah, ini mah pasrah banget. Bilang saja kalau kamu cinta Valerie dan tidak ingin Valerie di ambil orang jadi kamu ingin cepat-cepat menikahi Valerie. Gitu aja kok gengsi," ledek Papi Lion.
Wajah Dion semakin memerah, dan tanpa banyak bicara akhirnya Dion pun pergi menuju kamarnya. Sedangkan Papi Lion dan Mami Ayu, tampak tertawa melihat kelakuan Dion.
Dion duduk di meja kerjanya, jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Tapi tidak lama kemudia, Dion menyunggingkan senyumannya.
"Oke, kali ini aku ngaku kalah dan apa yang Mami dan Papi bilang itu benar, kalau aku sudah mulai mencintai si gadis konyol itu," gumam Dion dengan senyumannya.
Kali ini Dion sudah tidak bisa memungkiri lagi hatinya kalau dia sudah mulai ada rasa cinta untuk Valerie tapi Dion tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa cintanya kepada Valerie.
***
Keesokan harinya....
Pagi ini Valerie tidak akan pergi ke kantor karena dia akan feeting baju pengantin bersama Dion. Valerie senyum-senyum sendiri membayangkan kalau dirinya akan menikah dengan Dion, pria idamannya selama ini.
Valerie menangkup kedua pipinya. "Ya ampun, aku deg-degan sekali," gumamnya dengan senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Valerie tersentak kaget, dilihatnya nama Bos Dion di sana.
"Panjang umur, baru saja aku memikirkannya."
Valerie dengan cepat mengangkat teleponnya.
π"Hallo Bos!"
π"Hari ini kamu pergi duluan ke butik langganan Mami, nanti aku kirimkan alamatnya. Soalnya aku ada urusan sebentar, nanti aku susul kamu."
Dion pun langsung menutup sambungan teleponnya.
"Perasaan kok ada yang aneh ya, dasar wanita tidak peka, masa sama calon suami panggilnya Bos? Panggil sayang kek, baby kek, honey kek, ini malah panggil Bos," gumam Dion sembari berbicara sendiri dengan ponselnya.
Valerie pun dengan cepat dandan, hari ini Valerie terlihat cantik dengan dress selutut dan rambut yang di gerai membuat Valerie terlihat anggun.
Dion sudah mengirimkan alamat butiknya dan Valerie pun segera memesan taksi online. Tidak membutuhkan waktu lama, taksi online itu pun datang dan Valerie langsung masuk ke dalam taksi itu.
"Keluar, cepat serahkan barang-barang berhargamu!" bentak seorang pria dengan menodongkan pistolnya.
"Bagaimana ini Mas, sepertinya kita di begal," seru sopir taksi ketakutan.
Seorang pria tampan yang duduk di kursi belakang juga tidak tahu harus melakukan apa, dia baru saja menginjakan kakinya di Indonesia.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk melaporkan kepada polisi.
"Jangan coba-coba lapor polisi, atau peluru ini akan menembus kepala kalian!" bentak si penjahat.
Penjahat itu ada 2 orang, yang satu mengarahkan pistolnya kepada si pria tampan, dan satunya lagi mengarahkan pistolnya ke si sopir taksi.
Saking kagetnya dengan bentakan si penjahat, pria tampan itu menjatuhkan ponselnya.
"Ya ampun Mba, di depan ada taksi yang sedang di begal, apa kita putar balik saja demi keselamatan kita," seru sopir taksi dengan menghentikan mobilnya.
Valerie melihat ke arah depan dan benar saja, ada dua orang penjahat sedang menodongkan pistolnya. Valerie menajamkan matanya melihat ke arah depan, dan seketika menyunggingkan senyumannya.
"Jangan Pak, kasihan yang ditodong. Kita tolongin," sahut Valerie.
"Tapi mereka bawa pistol, Mba."
"Sudah jangan khawatir, biar aku yang hadapi mereka," seru Valerie.
Si sopir menatap Valerie tidak percaya...
"Ayo Pak jalan."
Akhirnya dengan ragu-ragu, si sopir taksi pun melajukan kembali mobilnya dan berhenti di belakang mobil yang sedang di begal itu. Valerie pun segera turun dari dalam taksi itu..
"Kalian sedang ngapain, pagi-pagi sudah membegal orang? Kalau mau uang, kerja bukanya membegal orang," seru Valerie dengan melipat kedua tangannya di dada.
Kedua begal itu segera menodongkan pistol mereka ke arah Valerie, tapi Valerie tampak tersenyum dengan santainya dan tidak ada perasaan takut sama sekali. Sedangkan pria tampan itu keluar dari taksi dan memperhatikan Valerie.
"Sudahlah, begal tengik seperti kalian itu bukan tandinganku. Kalau kalian ingin menjadi begal, harus belajar lebih keras lagi," ledek Valerie dengan memainkan kuku-kukunya.
Pria tampan itu tampak tersenyum bahkan merasa terpesona.
Valerie mulai berjalan mendekat ke arah kedua begal itu, dan kedua begal itu mulai memundurkan langkahnya.
"Jangan mendekat, atau kita tembak kamu!" sentak begal itu.
"Tembak saja, aku gak takut," sahut Valerie dengan terus mendekat.
Valerie melihat jam yang melingkar di tangannya. "Ah, kalian buang-buang waktu saja."
Valerie menendang pistol keduanya, sampai-sampai pistol kedua begal itu jatuh.
Bughh..bughh..bughh..
Valerie dengan cepat memukul kedua begal itu dengan cekatan, terjadilah perkelahian diantara ketiganya. Pria tampan itu semakin terpesona akan Valerie.
"Wow, sudah cantik, jago bela diri pula," batinnya.
Dalam hitungan menit, kedua begal itu ambruk dan mereka berdua langsung kabur karena takut dilaporkan kepada polisi.
Valerie merapikan rambutnya. "Astaga, jadi berkeringat kan," batin Valerie.
Valerie pun hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi.
"Tunggu Nona!"
"Iya."
"Terima kasih, sudah menolongku."
"Sama-sama."
"Nona, bagaimana dengan pistol itu takutnya ada orang yang menemukannya dan mengambil pistol itu, kan bahaya."
"Itu pistol mainan."
"Hah."
Valerie dengan cepat masuk kembali ke dalam taksinya dan dengan cepat menyuruh sopir untuk segera melajukan mobilnya. Taksi yang ditumpangi Valerie pun pergi dari sana.
"Jadi itu pistol mainan? Astaga, memalukan sekali aku takut sama pistol mainan," batinnya.
Wajah pria itu memerah, untuk Valerie sudah pergi. Pria itu pun segera masuk ke dalam taksinya dan pergi juga dari tempat itu.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ