
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
"Ya ampun kok malah berpelukan kaya Teletubies, Wonder woman buruan turun si Dion sudah menunggu tuh di bawah," seru Petra.
Semuanya pun melepaskan pelukannya dan mengusap airmata masing-masing.
"Tunggu, aku rapikan dulu makeupnya," seru Rossa.
Rossa pun segera mengambil alat makeupnya dan kembali merapikan riasan Valerie.
"Sudah selesai, ayo kita ke bawah nanti si Bos marah lagi dan kita semua bakalan dipecat."
"Betul itu."
Valerie pun menganggukan kepalanya sembari tersenyum, Rossa menggandeng tangan Valerie menuruni anak tangga membuat kedua orangtua Valerie menyunggingkan senyumannya.
"Pi, Valerie cantik banget ya," seru Mami Ayu.
"Menantu siapa dulu dong," sahut Papi Lion dengan bangganya.
Valerie pun duduk di samping Dion, dan Dion tidak memalingkan pandangannya walaupun sedetik. Kebetulan sang Penghulu belum datang, katanya Bapak Penghulunya masih menikahkan satu pasangan lagi di tempat lain.
Valerie melihat kalau kaki Dion bergetar...
"Kaki kamu kenapa Bos?" tanya Valerie.
"Ah ini, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan kakiku," sahut Dion dengan menonjok kakinya sendiri.
Jujur, saat ini Dion sedang mengalami gugup yang dangat luar biasa. Ketua The Black Hunter yang dingin dan kejam bisa gugup juga saat akan melakukan ijab kabul.
"Malu-maluin aja kamu, Ion," bisik Petra.
"Diam kamu, aku yakin kamu juga bakalan ngerasakan hal yang sama denganku," kesal Dion.
Valerie tersenyum melihat tingkah Dion, dan tidak lama kemudian akhirnya Bapak Penghulu pun datang. Dion sudah tidak mampu menahan rasa gugup lagi, kali ini dia benar-benar gugup.
Dan benar saja, butuh 3 kali ijab kabul akhirnya bisa dikatakan sah. Semua orang bersorak-sorai, bahkan Wakil ketua Pak Erwin sampai membopong tubuh Dion saking bahagianya dan itu membuat semua orang tertawa.
"Nanti giliran aku yang akan mengucapkan ijab kabul seperti itu?" bisik Petra di telinga Rossa.
Rossa menatap tajam ke arah Petra sedangkan Petra malah mengedipkan satu matanya membuat Rossa semakin kesal kepada mantan playboy itu.
Setelah selesai ijab kabul, semuanya berkumpul di ruangan keluarga yang berada di kediaman Dion itu.
"Ion, tante Astrid tewas," seru Papi Lion.
"Hah tewas? Tewas kenapa?" tanya Dion.
"Astrid bunuh diri, dia tidak bisa menerima kenyataan kalau suaminya meninggal dan anaknya mendekam di penjara," sahut Papi Lion.
"Kasihan Jesika Bos, bagaimana kalau Jesika dibebaskan saja," seru Valerie.
"Apa?"
Semuanya berteriak dengan menoleh ke arah Valerie membuat Valerie tersentak dengan memegang dadanya saking kagetnya.
"Allahuakbar, kaget aku."
"Makanya kalau ngomong itu dipikir dulu Oneng, setelah apa yang dia lakukan, dia itu pantas mendapatkan hukuman seperti itu bahkan seharusnya dia menyusul Papanya ke neraka," seru Julian.
"Iya, kamu mah terlalu baik sama Jesika padahal dia sudah membuat kamu hampir kehilangan nyawa kamu sendiri," sambung Rossa.
***
Malam pun tiba...
Malam ini adalah malam resepsi pernikahan antara Dion dan Valerie, saking bahagianya, Papi Lion mengadakan resepsi mewah dan megah di sebuah hotel bintang lima.
Ribuan tamu, tampak memadati pesta pernikahan Dion dan Valerie. Valerie tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya saking bahagianya.
"Apa kamu pegal? Kamu duduk saja kalau sudah merasa pegal," bisik Dion.
"Tidak Bos tenang saja."
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya jam sudah menunjukan pukul 12 malam dan pesta pun selesai. Dion memapah Valerie menuju kamar hotel yang sidah disiapkan khusus untuk pengantin baru.
"Silakan masuk istriku."
"Terima kasih, suamiku."
Valerie tampak terpana melihat keadaan kamar hotel yang sangat mewah itu, seumur-umur Valerie belum pernah menginap di hotel semewah itu, kalau pun ada pekerjaan di luar kota, dia lebih memilih menginap dipenginapan biasa saja bukan hotel.
Selain mengirit biaya, otak marketing Valerie pun langsung berjalan kalau soal urusan uang. Biaya penginapan di tanggung kantor tapi tetap saja Valerie selalu mencari penginapan murah biar sisa uangnya menjadi hak miliknya sendiri.
Dion langsung mengunci pintunya dan dengan tidak sabarnya dia membuka jas dan kemeja yang dia pakai.
"Astagfirullah, Bos mau ngapain?" tanya Valerie dengan menutup matanya.
"Ini kan malam pertama kita, Vale."
Dion mulai mendekati Valerie dan Valerie memundurkan langkahnya.
"Jangan mendekat Bos."
Dion hendak menyentuh Valerie tapi dengan sigap Valerie menepis tangan Dion, Dion tidak mau kalah, dia mencoba mendekati Valerie lagi namun lagi-lagi Valerie menangkis tangan Dion sehingga terjadilah saling tangkis menangkis diantara keduanya.
"Ayolah Vale, jangan buatku menunggu lagi."
"Sabar Bos, lampunya harus dimatikan dulu."
"Ngapain mesti dimatiin, nanti aku gak bisa lihat kamu dong."
"Tapi kan, aku malu Bos."
Valerie langsung berlari hendak mematikan lampu tapi dengan sigap Dion menangkap gaun Valerie.
Sreeekkkk....
Gaun Valerie sobek membuat Valerie membelalakan matanya.
"Astaga Bos, gaunnya robek."
Dion malah semakin menarik gaun Valerie sehingga gaun yang awalnya panjang, berubah menjadi sebatas lutut membuat Valerie merasa de javu dan itulah awal pertemuan Valerie dan Dion.
Valerie berhasil mematikan lampunya tapi dengan cepat Dion pun menyalakannya kembali, Dion mendorong tubuh Valerie sehingga Valerie terjatuh dengan posisi terlentang.
Dion pun dengan senyumannya melompat ke atas tempat tidur, tapi Valerie berguling ke pinggir dan kembali berdiri. Dion semakin kesal dengan tingkah Valerie yang terus saja menghindar.
"Sayang, aku capek sekali aku seperti penjahat yang akan memperkosamu."
"Memang Bos akan memperkosaku kan?" sahut Valerie dengan polosnya.
"Astaga Vale, aku nyerah."
Dion pun terkapar di atas tempat tidur dengan posisi terlentang, dia memejamkan matanyanya.
Valerie memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur, dia dengan cepat berlari dan mengambil handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Valerie pun keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sehingga paha putih dan mulus itu terpampang nyata, sebenarnya Dion tidak tidur dia hanya pura-pura tidur saja menunggu kelengahan Valerie.
"Syukurlah si Bos sudah tidur, jadi malam ini aku aman," batin Valerie.
Valerie pun mulai berjalan mengendap-ngendap untuk mengambil pakaiannya, Valerie menungging mencari pakaian di dalam tasnya sehingga otomatis sesuatu yang sensitif terlihat jelas membuat Dion dengan susah payah menelan salivanya.
"Sial, mana juniorku sudah sesak lagi, aku sudah tidak tahan," batin Dion.
Akhirnya dengan cepat Dion menarik tubuh Valerie dan Dion berhasil memerangkap tubuh Valerie.
"Kamu curang Bos, ternyata dari tadi kamu pura-pura tidur," keluh Valerie.
"Kalau tidak begitu, kamu mana mungkin mau mengalah, terus saja kita bakalan saling serang satu sama lain."
"Bos, aku harus------"
Ucapan Valerie terhenti karena Dion berhasil membungkam bibir Valerie, kali ini tidak ada lagi pengganggu yang mengganggu kegiatannya.
Valerie mendorong wajah Dion dengan napas yang terengah-engah.
"Bos, bisa sabar tidak? Aku harus menenangkan diri dulu, mempersiapkan diri dulu."
"Kelamaan."
Dion kembali melancarkan serangannya membuat tubuh Valerie merasakan hal yang berbeda.
"Bos, matikan dulu lampunya."
"Tidak usah."
Dion menarik handuk yang menutupi tubuh Valerie dengan cepat membuat Valerie reflek berteriak, dan Dion membungkam mulut Valerie dengan tangannya.
"Jangan berteriak, nanti ada yang ke sini."
Dion yang sudah semakin tidak bisa menahan hasratnya, kembali melancarkan serangannya, dengan susah payah kaki Valerie menggapai tombol lampu meja dan akhirnya lampu itu berhasil mati.
Setelah itu tidak ada suara apa pun lagi, bahkan Valerie sudah tidak berontak lagi. Cukup lama, mereka bergelung dengan gejolak hasrat yang memuncak, hingga akhirnya mereka berdua pun tepar karena kelelahan.
"Ternyata enak ya, Bos," seru Valerie polos dengan memejamkan matanya.
Begitu pun dengan Dion yang sama-sama memejamkan matanya, mereka sedang mengatur napas mereka masing-masing setelah melakukan pertempuran nikmat itu.
"Aku kan, sudah bilang, kamu cukup diam dan menikmatinya tidak usah banyak berontak," sahut Dion.
"Kalau tahu begitu, tadi tidak usah banyak drama ya Bos, hanya buang-buang waktu saja. Bagaimana kalau sekarang kita ulangi lagi?" seru Valerie.
"Hah...."
Dion seketika membuka matanya dan menatap ke arah Valerie.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ