
Setelah menikah dan mempunyai anak, Valerie semakin bucin kepada Dion bahkan Valerie dan Virlie selalu ingin ikut ke kantor saking bucinnya dan gak mau jauh-jauh dari Dion.
Sedangkan Dion merasa senang saja, kalau anak istrinya mau ikut ke kantor karena kedua princesnya adalah penyemangat Dion.
"Pokoknya seperti biasa, jangan ada yang gendong Virlie karena kita kan tidak tahu mereka itu bersih atau tidak, sehat atau tidak," tegas Dion.
"Sayang, mereka tidak mempunyai penyakit menular biarkan saja Virlie di gendong sama mereka biar Virlie bersosialisasi dan kenal banyak orang," sahut Valerie.
"Tidak, sekali tidak tetap tidak, pokoknya kalau kamu membantah perintahku, nanti malam kamu gak dapat jatah, aku mau tidur sama Virlie saja," ancam Dion.
"Siap Daddy," sahut Valerie dengan senyuman manisnya.
Ancaman itu memang paling ampuh untuk Valerie, biasanya kalau pada umumnya si istri yang mengancam seperti itu tapi ini sebaliknya si suami yang mengancam istri.
Dion memang possesif banget kepada putrinya itu dan kadang-kadang membuat Valerie jengkel dan kesal karena Dion sangat melarang orang lain untuk menyentuh Virlie kecuali keluarganya.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Dion pun sampai di depan kantor.
"Sayang, hari ini aku ada meeting dulu bersama Papi dan tim yang lain, kamu tunggu saja di ruanganku," seru Dion.
"Oke."
Dion pun mencium kedua bidadari cantiknya itu sebelum masuk ke dalam ruangan meeting. Dion mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan meeting, Julian dan kawan-kawan lainnya yang dari tadi sembunyi di balik dinding langsung berlari menghambur menghampiri Valerie kemudian merebut Virlie dari gendongan Valerir.
"Come on baby, kita main mumpung Daddy mu lagi meeting," seru Julian sembari berlari membawa kabur Virlie.
"Hai Panjul, kamu mau bawa anakku ke mana?" teriak Valerie.
Valerie hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala, para sahabatnya memang seperti itu selalu mencuri kesempatan untuk menculik Virlie di saat Dion sedang tidak ada.
Julian membawa Virlie ke halaman belakang, dan ternyata di sana sudah ada Pak Erwin, dan yang lainnya. Di saat Julian dan Doni datang dengan membawa Virlie semua berteriak kegirangan membuat Virlie nangis karena kaget.
Valerie datang dengan berkacak pinggang membuat semuanya cengengesan.
"Bagus, anakku jadi sawan kan! Kalau sampai Daddynya tahu, habis kalian semua!" bentak Valerie.
"Yaelah jangan gitu dong Val, tega benar mentang-mentang sudah jadi Nyonya Bos," sahut Julian.
"Pokoknya aku gak mau tahu, berhentiin nangisnya jangan sampai matanya bengkak dan Daddynya curiga," ketus Valerie.
Akhirnya semuanya jingkrak-jingkrak gak jelas supaya Virlie berhenti menangis, sedangkan Valerie memilih rebahan di atas sofa.
Virlie mulai berhenti menangis dan berganti dengan tawanya, semua orang tampak gemas kepada Virlie sungguh aura cantik dan anggunnya sudah mulai terlihat dari sejak kecil.
"Val, kayanya Virlie nurun sama sifatnya si Bis deh," seru Pak Erwin.
"Iyakah?"
"Iya, lihat deh aura bosnya itu sangat terlihat jelas," sahut Pak Erwin.
"Sudah pasti, soalnya kalau nurun sama emaknya bukan aura bos yang muncul tapi aura melarat pasti yang menonjol," ledek Julian.
Plukkk...
Valerie melempar bantal sofa ke wajah Julian. "Sialan kamu Panjul."
Satu jam pun berlalu, Julian melempar bantal ke wajah Valerie yang saat ini sedang terlelap tidur.
"Allahuakbar, apa-apaan kamu Panjul, bikin kaget saja!" teriak Valerie.
"Lima menit lagi si Bos selesai meeting Oneng, buruan bawa Virlie kalau ketahuan Virlie di sini bisa hancur masa depan kami semua."
Valerie cepat-cepat bangun dan merapikan penampilannya kemudian dengan tenaga super emak-emak, Valerie berlari membawa Virlie masuk ke ruangan Dion.
Benar saja, Dion dan Papi Lion pun masuk ke dalam ruangan Dion.
"Hallo princes Opa yang cantik."
Papi Lion segera menggendong cucu cantiknya itu, sedangkan Dion duduk di samping Valerie dan merebahkan kepalanya di pangkuan Valerie dengan memejamkan matanya.
"Ada apa sayang? Kok sepertinya kamu lagi ada masalah?" tanya Valerie dengan mengusap kepala Dion.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kelelahan saja pengen istirahat sebentar saja."
Dion langsung membuka matanya. "Benar juga apa yang dikatakan Papi, sayang bagaimana kalau kita pergi honeymoon?"
"Honeymoon, kaya pengantin baru aja pergi honeymoon," sahut Valerie.
"Gak apa-apa, sudah lama kita tidak pergi berdua."
"Tapi Virlie bagaimana?"
"Jangan khawatir, Virlie biar Papi dan Mami yang jaga, kalian pergi saja jangan pikirkan Virlie," sahut Papi Lion.
"Aku kan sudah janji mau ajak kamu honeymoon keliling dunia."
"Serius, kamu mau ajak aku keliling dunia?" seru Valerie antusias.
"Kapan aku bohong."
Valerie dengan senangnya langsung memeluk Dion dan menciumi seluruh wajah Dion membuat Papi Lion membalikan tubuhnya.
"Sudah kebiasaan, bermesraan tidak tahu tempat," sinis Papi Lion yang langsung membawa Virlie keluar dari ruangan Dion.
Dion dan Valerie hanya tertawa melihat gerutuan Papi Lion.
***
Waktu pulang pun tiba....
"Astaga, mobilku kenapa sih? Mana aku tidak tahu masalah mesin lagi," gumam Vanessa.
Saat ini Vanessa sedang melihat mesin mobilnya karena tiba-tiba saja mobilnya mogok.
Julian yang kebetulan lewat jalan itu, langsung menghentikan mobilnya saat melihat Vanessa.
"Ada apa Bu dokter?" tanya Julian.
"Eh, ini Mas aku juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja mobil aku mogok," sahut Vanessa.
"Coba aku periksa dulu."
Julian pun mencoba memeriksa mobil Vanessa, Julian mengambil alat-alatnya dan kembali mengotak-ngatik mobil Vanessa.
"Coba kamu nyalakan mobilnya."
"Baik Mas."
Vanessa pun masuk ke dalam mobilnya dan ternyata mobilnya menyala.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama."
Julian menyeka keringatnya dengan tangannya, dan dia tidak sadar kalau tangannya kotor sehingga keningnya pun tampak hitam. Vanessa tersenyum dan mengambil tisu basah dari dalam tasnya.
"Maaf ya, Mas."
Vanessa mendekati Julian dan sedikit berjinjit karena Julian sangat tinggi, perlahan Vanessa membersihkan kotoran yang menempel di kening Julian.
Wajah mereka terlihat sangat dekat dan Julian bisa melihat dengan jelas wajah cantik Vanessa. Jantung Julian tidak bisa dikendalikan, hingga akhirnya Julian mengambil tisu basah itu dari tangan Vanessa.
"Biar aku saja yang membersihkannya."
"Mas, apa hari ini Mas ada acara?"
"Tidak ada, aku mau pulang."
"Bagaimana kalau kita ngopi dulu, aku traktir sebagai ucapan terima kasih karena Mas sudah membantu aku."
"Boleh kalau kamu memaksa."
Vanessa terkekeh, saking gugupnya Julian sampai berkata seperti itu padahal Vanessa hanya mengajaknya tidak ada yang memaksa Julian juga.