
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
🕵♀
Setelah sarapan Mami Ayu mengajak semuanya untuk jalan-jalan karena di dekat pantai itu ada sebuah pasar tradisional yang menjual barang-barang souvenir khas Bangkok.
Sudah jelas semua karyawan wanita tampak antusias, Jesika selalu saja menempel kepada Dion membuat Valerie merasa kesal.
"Si lintah apa-apaan sih, nempel terus kaya gitu?" batin Valerie.
Valerie merasa kesal dan akhirnya memilih mengalungkan tangannya ke lengan Julian, dia juga tidak mau kalah dengan Dion yang selalu saja ingin menang sendiri.
"Gak usak sok manis deh, ngapain sih pakai nempel-nempel kaya gini," seru Julian.
"Ih Panjul, memangnya gak boleh kalau nempel?"
"Nanti si Bos marah lagi, aku gak mau ya, gaji aku sampai dipotong gara-gara kamu nempel kaya gini sama aku," seru Julian.
"Panjul, tolongin aku sebentar dong. Tuh lihat, si lintah nempel terus sama si Bos. Memang ya tuh lintah, gak ada harga dirinya sama sekali sudah tahu si Bos itu pacar aku, masih saja nempel, lama-lama aku lempar dia ke laut biar tahu rasa," kesal Valerie.
Julian mengusap wajah Valerie dengan tangannya. "Istighfar Vale, bukanya kamu hanya pacar bohong-bohongan? Ngapain kamu marah, sampai baper kaya gitu," ledek Julian.
Valerie cemberut, hingga akhirnya Julian menarik tangan Valerie.
"Ada makanan enak tuh Val, ayo kita beli," seru Julian.
Julian tahu kalau Valerie lagi kesal seperti itu, harus di sogok pakai makanan biar tidak marah lagi.
"Huawaaaaa....bikin jiwa laparku meronta-ronta, Panjul."
"Bukanya barusan kamu sudah sarapan nasi goreng, ya?"
"Tapi aku lapar lagi, beliin dong Jul."
Julian pun memesankan makanan itu, Dion melihat ke arah Valerie dan Dion merasa kesal bahkan sekarang Julian sedang meniup makanan itu dan menyuapkannya ke mulut Valerie membuat dada Dion terasa panas.
"Si Valerie gak bisa dibilangin ya, kenapa dia selalu saja seperti itu," batin Dion.
Dion melepaskan tangan Jesika dan segera menghampiri Valerie dan Julian yang sedang asyik makan.
"Ion, kamu mau ke mana?" teriak Jesika.
Dion merebut makanan yang sedang dipegang oleh Julian membuat Julian dan Valerie terkejut.
"Ngapain kamu tiup-tiup makanan ini, jorok banget," kesal Dion.
"Kan, panas Bos makanya aku tiup dulu kalau gak di tiup dulu, bibir si Vale bisa jontor," sahut Julian.
Dion membuang makanan itu membuat Valerie kesal kepada Dion.
"Bos, apa-apaan sih? Kan sayang makanannya dibuang seperti itu, makanan itu dibeli pakai uang bukan pakai daun," sentak Valerie.
"Kamu sudah berani berkata dengan nada tinggi kepadaku?" geram Dion.
"Ya, habisnya Bos begitu sangat menyebalkan."
Dion yang terlanjur kesal, menarik tangan Valerie dan membawanya menjauh dari mereka.
"Apaan sih Bos, lepaskan."
"Kamu kenapa suka sekali membuat orangtuaku curiga? Aku sudah bilang beberapa kali sama kamu kalau kamu harus berakting di saat ada kedua orangtuaku, kenapa kamu gak ngerti-ngerti sih."
"Bukanya aku yang gak ngerti tapi kamu Bos, Bos gak sadar kalau dari tadi Bos bermesraan dengan Jesika, itu tandanya apa? Bos sendiri yang egois."
"Kalau aku sama jesika, kedua orangtuaku gak bakalan curiga karena mereka tahu kalau aku sudah menganggap Jesika seperti adik aku sendiri, sedangkan kalau kamu dekat dengan pria lain, penilaian orantuaku pasti bakalan beda lagi."
"Bodo, aku sudah gak mau jadi pacar bohong-bohongan Bos lagi, terserah Bos mau ngelakuin apa pun bukan urusanku," kesal Valerie.
Valerie pun langsung pergi dengan kesalnya meninggalkan Dion, sedangkan Dion tampak mengepalkan tangannya.
"Ayo Jul, kita pergi."
Valerie pun merangkul lengan Julian, wajah Julian terlihat pucat karena melihat wajah Dion yang merah padam bak ingin memangsa dirinya.
"Sudah gak usah diperdulikan."
Akhirnya Valerie pun menarik tangan Julian. "Jul, kita beli kacang rebus!"
"Yaelah jauh-jauh ke Bangkok hanya beli kacang rebus."
"Biarin, kali aja kacang rebus di sini beda rasanya."
Valerie pun mengajak Julian ke sebuah pedagang yang menjual kacang rebus, tidak ada yang aneh sih sama-sama memakai wadah dari kertas yang dibuat kerucut.
Keduanya pun asyik makan kacang rebus itu. "Kasihan Mba Rossa gak ikut karena sakit," seru Valerie.
"Dia terlalu heboh kemarin, makanya sekarang jadi tumbang," sahut Julian.
Valerie dan Julian duduk di sebuah kursi yang berjejer di pinggir jalan sembari menunggu teman-teman mereka berbelanja. Valerie terus saja makan kacang rebus itu, hingga akhirnya habis dan Valerie hendak membuang wadah kosong itu.
Tapi Valerie mengurungkannya, dia penasaran melihat kertas itu. Perlahan Valerie membuka kertas yang menjadi wadah kacang rebusnya tadi.
"Bukanya ini penginapan yang aku tempati saat ini," gumam Valerie.
Ternyata di kertas itu ada sebuah artikel mengenai penginapan yang saat ini Valerie dan yang lainnya tempati. Di sana tertulis, kalau penginapan itu pernah menjadi tempat pembantaian para wisatawan yang menghilang secara misterius.
"Gawat, Mba Rossa dan Doni ada di sana," sery Valerie panik.
"Ada apa, Val?" tanya Julian kaget.
"Bahaya Jul, Mba Rossa dan Doni dalam bahaya kita harus segera kembali ke penginapan," sahut Valerie.
Dion yang melihat Valerie panik, akhirnya menghampiri Valerie dan Julian.
"Ada apa ini?"
"Bos, kita harus segera kembali ke penginapan, Mba Rossa dan Doni dalam bahaya," sahut Valerie.
"Bahaya kenapa?"
"Bos baca ini?"
Valerie menyerahkan kertas itu dan Dion pun tampak membelalakan matanya. Papi Lion yang melihat anaknya mulai panik, memutuskan untuk menghampiri juga.
"Ada apa?" tanya Papi Lion.
Dion menyerahkan kertas itu kepada Papinya. "Sial, kita kecolongan, ayo cepat kita kembali ke penginapan," seru Papi Lion.
Semuanya bergegas kembali ke penginapan, sesampainya di penginapan, Valerie langsung menuju kamar Rossa untuk memastikan kalau Rossa baik-baik saja.
Tok..tok..tok..
"Mba, Mba Rossa tolong buka pintunya!" teriak Valerie.
Tidak ada jawaban sama sekali, begitu pun Julian yang melakukan hal yang sama ke kamar Doni.
Tanpa menunggu lagi, Valerie mendobrak pintu kamar Rossa dab benar saja Rossa tidak ada di sana.
"Mba Rossa gak ada, Bos," seru Valerie.
Julian pun berlari. "Doni juga gak ada, Bos."
Semuanya tampak panik, berbeda dengan Jesika yang tidak tahu apa yang sudah terjadi karena memang pada dasarnya Jesika tidak tahu kalau mereka semua adalah para detektif.
Dion, Valerie, dan Julian hendak mencari Rossa tapi tiba-tiba Mrs.Paula dan Mr.Charles datang.
"Ada apa?"
"Mr.Charles apa anda melihat teman kami, Rossa dan Doni, mereka menghilang saat kami jalan-jalan tadi?" tanya Dion.
"Apa? Kami tidak tahu, karena kami pun baru kembali ke sini tadi pagi kami pulang sebentar karena anak kami sakit," sahut Mr.Charles.
Papi Lion menatap tajam ke arah pasangan suami istri itu.
"Mrs.Paula dan Mr.Charles, bisakah kita bicara sebentar," seru Papi Lion.
"Tentu saja," sahut Mrs.Paula.
Akhirnya sepasang suami istri itu mengajak Papi Lion, Dion, Valerie, dan Julian masuk ke dalam ruangan pribadi mereka.