
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Beberapa saat kemudian, Valerie pun sampai di depan sebuah butik yang dijanjikan oleh Dion dan betapa terkejutnya Valerie saat melihat Dion sudah berada di depan pintu dengan kedua tangan dia lipat di atas dada.
Dion menatap tajam ke arah Valerie. "Dari mana saja kamu? Aku kan, sudah hubungi kamu dari tadi untuk ke butik dan aku akan nyusul karena aku ada urusan sebentar. Tapi kenapa jadi aku yang duluan sampai di sini?" ketus Dion.
"Maaf Bos, tadi di jalan ada kendala. Aku nolongin dulu orang yang di begal, jadi aku sedikit telat ke sini," sahut Valerie.
"Oh, jadi kamu lebih mentingin nolongin orang? Kamu itu baru saja sembuh, mau cari masalah dengan berkelahi dengan para begal itu?"
"Ya ampun, Bos mengkhawatirkan aku ya? So sweet banget sih," sahut Valerie dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Apaan sih? Orang bicara serius malah dibercandain," kesal Dion.
Dion pun dengan kesal masuk ke dalam butik meninggalkan Valerie, tentu saja Valerie dengan cepat menyusul Dion.
Dion duduk di sofa dengan wajah yang cemberut, Valerie pun dengan ragu-ragu duduk di samping Dion.
Valerie menusuk-nusukan jari telunjuknya ke lengan berotot milik Dion.
"Bos jangan marah dong, aku gak apa-apa kok. Lagipula yang barusan itu hanya begal kaleng-kaleng yang gak ada artinya," seru Valerie.
Dion masih bungkam, malahan saat ini Dion mengotak-ngatik ponselnya dan mengacuhkan Valerie. Valerie tak habis akal, sekarang Valerie sudah menggosok-gosokan wajahnya di lengan Dion membuat Dion sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Bosku, calon suamiku, jangan marah lagi dong," rayu Valerie.
Dion masih pura-pura diam, walaupun dalam hatinya dia sudah ingin tertawa melihat tingkah konyol Valerie. Valeri mengangkat satu tangan Dion, dan Valerie memasukan kepalanya ke celah-celah ketek Dion, lalu tiduran di pangkuan Dion.
Dion menatap Valerie. "Ngapain kaya gini?" tanya Dion.
"Bos, maaf."
"Aku ini calon suamimu, kenapa masih saja panggil aku dengan sebutan Bos," kesal Dion.
"Sayang, jangan marah lagi ya."
"Bangun!"
"Gak mau."
"Malu Vale dilihatin banyak orang."
"Biarin, biar mereka tahu pria tampan ini sekarang akan menjadi milikku, jadi mereka tidak usah kegatelan lihatin kamu terus."
"Kalau mereka tetap ingin lihatin aku bagaimana?" goda Dion.
Valerie langsung bangun dan menatap Dion. "Wah, mereka ingin main-main sama aku," kesal Valerie dengan bangkit dari duduknya.
Dion tersenyum dan menarik tangan Valerie sehingga Valerie terduduk di pangkuan Dion. Sesaat Dion dan Valerie saling pandang satu sama lain, sehingga mereka tersentak dengan kedatangan pelayan butik.
"Maaf Nona, Tuan, silakan coba dulu gaunnya soalnya Nyonya Ayu sudah memilihkan gaun yang spesial buat Nona Valerie."
"Ah baiklah, ayo Mba kita coba sekarang," seru Valerie dengan menarik tangan si pelayan.
Valerie merasa sangat malu, apalagi hari ini sikap Dion sangat berbeda. Sikap Dion tidak sedingin dan sekaku biasanya, hari ini Dion agak sedikit manis.
Dion hanya tersenyum melihat wajah Valerie yang memerah.
"Wah, Nona sangat cantik dan gaunnya pun sangat pas di tubuh Nona," puji si pelayan.
"Terima kasih, Mba."
"Nona beruntung sekali bisa menikah dengan Tuan Dion, tadinya saya pikir Tuan Dion akan menikah dengan Nona Jesika tapi ternyata dugaan saya salah."
"Mba kenal sama Jesika juga?" tanya Valerie.
"Kenalah Nona, soalnya Nyonya Ayu dulu sering bawa Nona Jesika ke sini."
"Oh begitu ya."
"Saya akan buka tirainya ya, supaya Tuan Dion bisa melihat Nona."
Valerie tersenyum dan menganggukan kepalanya, si pelayan pun keluar.
"Tuan, Nona Valerie sudah mencoba gaunnya sekarang Tuan beri penilaiannya, takutnya ada yang tidak cocok."
"Oh Oke."
Si pelayan pun mulai membuka tirainya, Dion tampak melongo dengan penampilan Valerie sedangkan Valerie hanya bisa menundukan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu.
"Bagaimana Tuan, apa sudah cocok?" tanya si pelayan.
"Perfect, kamu boleh pergi."
"Baik Tuan."
"Eh Mba, bantuian dulu lepas gaunnya!" teriak Valerie.
Dion menarik pinggang Valerie sehingga tubuh Valerie pun menempel dengan tubuh Dion, mata Valerie berkedip-kedip merasa gugup karena saat ini Dion menatapnya dengan seksama.
"B-bos, sepertinya kita terlalu dekat," lirih Valerie.
"Kenapa? Bukanya sebentar lagi kita akan menikah? Bahkan setelah menikah, kita akan terus menempel seperti ini?" goda Dion.
Seketika Valerie membelalakan matanya, wajahnya langsung memerah. Valerie tidak menyangka kalau Dion bisa mengucapkan kata-kata diluar nalar sehat Valerie.
Valerie mendorong tubuh Dion, dan kembali memanggil si pelayan untuk membantunya melepaskan gaun itu. Dion tersenyum lebar, dia sangat senang karena sudah menggoda Valerie.
Setelah mencoba gaunnya, Dion pun mengajak Valerie ke suatu tempat dan Valerie tidak mengetahuinya sama sekali.
"Kita mau ke mana, Bos?"
"Ke kantor."
"Hah, jadi kita harus kerja nih? Kirain habis feeting baju, kita mau kencan," keluh Valerie.
Dion hanya menyunggingkan senyumannya tanpa menjawab ocehan Valerie. Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil sport milik Dion pun sampai di kantor The Black Hunter.
Dion dan Valerie pun masuk ke dalam kantor, Dion menggandeng tangan Valerie dan itu membuat Valerie bahagia dan menyunggingkan senyumannya.
Valerie tampak celingukan, dia baru sadar kalau kantor itu terlihat sepi dan tidak ada orang sama sekali.
"Bos, kok sepi? ke mana semua orang?" tanya Valerie bingung.
Dion terus saja menggandeng tangan Valerie dan tetap bungkam tidak mau menjawab pertanyaan Valerie.
Hingga akhirnya, Dion pun membuka pintu yang menuju ke halaman belakang kantor. Di sana biasanya digunakan untuk bersantai, karena di belakang kantor The Black Hunter ada sebuah taman yang sengaja Papi Lion buat dulu, untuk bersantai karena dulu mereka memang tidak ada liburnya jadi taman itu sebagai ganti liburan mereka yang tertunda.
Pas pintu dibuka, suara terompet dan petasan menyambut kedatangan Dion dan Valerie membuat Valerie terkejut.
"Happy Wedding!" teriak semuanya.
Valerie sampai menutup mulutnya saking terkejut dan bahagianya, bahkan sekarang mata Valerie sudah mulai berkaca-kaca.
Julian datang dengan membawa buket bunga untuk Valerie.
"Selamat Val, akhirnya kamu akan menikah juga, aku do'akan semoga kamu bahagia selalu," seru Julian dengan senyuman yang dipaksakan.
"Terima kasih Panjul, aku juga do'akan semoga kamu segera menyusul biar kita bisa samaan punya anaknya," sahut Valerie polos dan itu membuat semua orang tertawa.
Valerie tidak bisa menahan airmatanya, akhirnya airmata Valerie pun menetes dan Valerie segera memeluk Julian. Bagaimana pun selama ini yang selalu menemani dia saat suka mau pun duka hanyalah Julian.
"Sekarang aku tidak akan khawatir lagi, karena kamu sudah ada yang menjaga dan aku yakin si Bos akan selalu membahagiakan kamu. Tapi kalau si Bos sampai menyakiti kamu, aku sendiri yang akan-----"
Ucapan Julian terhenti, karena Dion sudah menatap Julian dengan tatapan membunuhnya.
Valerie melepaskan pelukannya. "Kamu sendiri yang akan apa?" tanya Valerie.
"Aku sendiri yang akan.....akan menasehati si Bos," sahut Julian dengan sengirannya.
Semua orang tampak tertawa dengan kelakuan Julian, kelihatan sekali kalau Julian merasa takut dengan tatapan Dion.
"Tatapannya si Bos mengerikan sekali Val, aku cari aman saja," bisik Julian.
Valerie pun akhirnya tertawa, sedangkan Dion menarik tangan Valerie dan merangkul Valerie.
"Berani kamu ngancam aku, aku duluan yang akan mengeksekusimu," seru Dion dingin.
"Justru itu Bos, makanya aku gak berani bilang apa-apa," sahut Julian cengengesan.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ