THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Pacar Bohong-bohongan



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


Dion masuk ke dalam ruangannya dan mulai mengotak-ngatik laptopnya, dia mulai melihat barang bukti yang dia tempel di tubuh si pelaku.


Dion tidak melihat sampai selesai, dia pun kembali menutup laptopnya. Dion menyandarkan punggungnya sembari memejamkan matanya, Dion sedikit memijat keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


"Siapa wanita yang harus aku bawa ke rumah nanti malam? Mami memang pintar, pasti dia curiga denganku dan Mami tahu kalau aku belum punya pacar sama sekali," batin Dion.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Permisi Bos," seru Valerie.


Dion masih menutup matanya. "Ada apa?" tanya Dion.


Valerie menghampiri Dion dan berdiri di hadapan Dion.


"Begini Bos, tadi aku menemukan barang bukti berupa topi dan di dalamnya ada inisial nama G, apa mungkin itu semua ada hubungannya dengan Galang? Dan siapa inisial G itu?" seru Valerie.


Dion terlihat diam saja, sebenarnya dia sudah tahu siapa pelakunya sejak lama bahkan dia sudah punya barang bukti juga tinggal menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara, tapi saat ini Dion sedang galau dengan permintaan Maminya.


Valerie memperhatikan wajah Dion yang sedang memejamkan mata itu. "Si Bos, dilihat dari sisi mana pun tetap saja tampan," batin Valerie dengan senyumannya.


Dion pun mulai membuka mata dan menatap tajam ke arah Valerie.


"Valerie."


"I-iya Bos."


"Aku ada kerjaan buat kamu, dan aku akan bayar kamu setara dengan gaji kamu menjadi detektif."


"Kerjaan apaan, Bos?" seru Valerie dengan mencondongkan wajahnya ke arah Dion membuat Dion terkejut.


Dion yang menjadi salah tingkah dengan wajah Valerie yang begitu dekat dengannya, akhirnya Dion mendorong kening Valerie dengan jari telunjuknya supaya menjauh.


"Jangan dekat-dekat."


"Kenapa Bos?" tanya Valerie polos.


Dion tidak mungkin menjawab kalau dirinya jadi salah tingkah.


"Nafas kamu bau," seru Dion dengan pura-pura dingin.


"Haahh..."


Valerie menghembuskan nafasnya ke telapak tangannya.


"Enggak kok Bos, gak bau. Nafas aku harum Bos, karena aku rajin sikat gigi 3 kali sehari," sahut Valerie.


"Ya sudah, jangan membahas nafas bau, kita kembali ke topik pembicaraan. Aku ingin menyewa kamu jadi pacar bohong-bohonganku."


Bruuaakkk...


Valerie memukul meja itu dengan kerasnya membuat Dion terlonjak kaget bahkan Dion sampai memegang dadanya.


"Serius Bos?"


"Allahuakbar, kamu bisa gak, gak pakai gebrak-gebrak meja segala, kaget aku untung jantungku sehat," seru Dion.


"Hehehe...maaf Bos, soalnya aku juga kaget tiba-tiba Bos mau jadikan aku pacar Bos."


"Mohon di garis bawahi, pacar bohong-bohongan."


"Ah iya Bos, maksudnya itu."


"Oke, pulang sekolah ini kamu ikut aku soalnya nanti malam, orangtuaku ingin bertemu denganmu."


"Ya Allah, kok aku jadi deg-degan ya Bos, begini ya rasanya mau bertemu calon mertua," seru Valerie salah tingkah membuat Dion sedikit menyunggingkan senyumannya.


Tingkah Valerie sangat lucu di mata Dion, membuat Dion harus menahan senyumannya.


"Oke Bos, kalau begitu aku kembali ke kelas ya, aku padamu Bos," seru Valerie dengan menunjukan finger lovenya.


Dion hanya geleng-geleng kepalanya dengan tingkah Valerie, Valerie terus saja senyum-senyum ke arah Dion hingga Valerie pun membalikan tubuhnya dan dia tidak sadar kalau di hadapannya pintunya tertutup belum kebuka.


Buggg...


Valerie menabrak pintu, hingga dirinya terjungkal ke belakang saking kerasnya. Dion dengan sigap menolong Valerie dan membantu Valerie berdiri.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Sedikit pusing Bos, tapi gak apa-apa masih aman kok. Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kelas."


Valerie segera berlari keluar dari ruangan Dion, sakitnya tidak seberapa tapi malunya yang membuat Valerie rasanya ingin menghilang dari muka bumi ini.


Tapi berbeda dengan Dion, saat Valerie pergi, tawa Dion langsung meledak begitu saja bahkan Dion sampai memegang perutnya.


"Astaga, wanita itu benar-benar konyol," seru Dion.


Valerie pun masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di samping Julian.


"Kamu dari mana, Val?"


"Aku habis laporan sama si Bos, kamu tahu gak kalau si Bos ngasih aku kerjaan sampingan."


"Hah, kerjaan sampingan apaan?"


"Si Bos, mau aku jadi pacar bohong-bohongannya, Panjul," sahut Valerie dengan girangnya.


"Serius kamu?"


"Aku serius, ya ampun, aku senang banget tahu. Baru jadi pacar bohong-bohongan saja sudah senangnya minta ampun, apalagi kalau jadi pacar benerannya, bisa-bisa aku pingsan, Panjul."


"Idih, sampai segitunya," ketus Julian.


Valerie yang saat ini sangat bahagia akhirnya memeluk Julian dari samping. "Aku bakalan teraktir kamu deh, untuk merayakan hari kebahagiaanku," seru Valerie.


"Ogah, sudah ketahuan pasti kamu bakalan teraktir aku di warteg kan? Kalau di warteg, aku masih mampu bayar, gak usah di traktir sama kamu."


"Enggak, kali ini aku bakalan teraktir kamu di restoran deh spesial buat bestieku tersayang," seru Valerie dengan menaik turunkan alisnya.


Deg..deg..deg..


Jantung Julian tiba-tiba berdetak tak terkendali, Julian mendorong kening Valerie supaya menjauh.


"Sudah sana jangan nempel-nempel," seru Julian pura-pura cuek.


Valerie hanya tersenyum dengan perlakuan Julian, dan keduanya pun kembali mengikuti pelajaran.


***


Waktu pulang pun tiba...


"Jul, hari ini aku pulang bareng si Bos ya," seru Valerie.


"Kok bisa."


"Urusan kerjaan, Jul."


Tidak lama kemudian Dion pun muncul. "Valerie, ayo masuk!"


"Siap, Bosku. Jul, do'akan aku ya supaya jadi pacar beneran si Bos," bisik Valerie.


"Jangan kepedean jadi orang," ketus Julian.


"Kali aja do'aku dikabulin, kalau begitu aku duluan ya."


Valerie pun segera masuk ke dalam mobil Dion, sedangkan Julian hanya bisa menatap nalar mobil Bosnya itu, entah kenapa ada perasaan tidak rela di hati Julian melihat Valerie pergi bersama Bosnya.


Tidak lama kemudian, mobil Dion pun berhenti di sebuah butik terkenal dan juga mahal.


"Ayo turun!"


Valerie pun ikut turun bersama Dion dan mengikuti langkah Dion sembari celingukan melihat isi butik yang super mewah dan wow itu.


"Selamat siang Tuan Dion, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan butik dengan ramahnya.


"Tolong carikan gaun untuk wanita ini, gaun yang bagus dan juga cocok untuknya," sahut Dion.


"Baik Tuan, Nona mari silakan ikut dengan saya."


"Ah iya."


Valerie pun mengikuti langkah si karyawan butik, sedangkan Dion duduk di sofa tunggu sembari mengotak-ngatik ponselnya.


Karyawan yang lainnya tampak kasak-kusuk membicarakan Dion yang membawa seorang wanita ke butik, pasalnya Dion tidak pernah membawa wanita mana pun ke butik langganan keluarganya itu.


Lagipula yang membuat mereka terkejut, Dion membawa gadis SMA yang masih muda karena Valerie tidak sempat mengganti bajunya dulu.


Karyawan butik itu mencarikan gaun yang bagus dan juga cantik.


"Nona, apa Nona pacarnya Tuan Dion?"


"Hmm...bisa dibilang seperti itu."


"Beruntung sekali Nona bisa pacaran dengan Tuan Dion, sudah tampan, kaya raya pula, Tuan Dion itu pria idaman para wanita di muka bumi ini."


Valerie hanya tersenyum, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi soalnya Valerie takut salah ngomong dan akhirnya Dion marah kepadanya.


"Nona, coba Nona coba gaun ini."


Gaun panjang dengan belahan dada yang lumayan rendah dan juga mengeksfose punggungnya itu membuat Valerie menganga.


"Mbak, apa tidak ada gaun lain? Ini menurutku terlalu terbuka," seru Valerie.


"Tidak, Nona pasti terlihat cantik dan elegan memakai gaun ini, cobalah dulu."


Valerie pun dengan terpaksa mencoba gaun itu, setelah memakainya, Valerie tampak malu-malu dan menutup bagian depanya dengan tangannya.


"Nah kan, gaunnya pas banget di tubuh Nona dan Nona terlihat cantik memakai gaun ini. Ayo, Tuan Dion harus melihatnya."


Karyawan butik itu pun menarik tangan Valerie untuk menemui Dion.


"Tuan, apa Tuan suka dengan gaunnya?"


Dion pun mengangkat kepalanya, dan betapa terkejutnya Dion melihat penampilan Valerie bahkan Dion sampai melepas kacamatanya saking tidak percayanya dengan apa yang dia lihat.


"Ini terlalu terbuka kan, Bos," seru Valerie.


"Bos?" seru karyawan itu dengan mengerutkan keningnya.


"Ah, maksud aku, sayang," sahut Valerie dengan senyuman canggungnya.


"Aku beli gaun itu," seru Dion.


"Baik Tuan."


"Jangan lupa, jas saya pun di kemas."


"Baik Tuan, mari Nona, Nona boleh mengganti gaunnya lagi."


Setelah mengganti bajunya, Valerie pun menghampiri Dion dengan menenteng tas berisi gaun itu.


"Waktunya makan siang, kita makan siang dulu soalnya aku sudah lapar."


Valerie hanya menganggukan kepalanya dan kembali mengikuti Dion. Mereka berdua makan siang di sebuah restoran, tentu saja Valerie tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pesan berbagai macam makanan enak dan mahal.


"Pokoknya nanti malam kamu jangan sampai keceplosan memanggil aku dengan sebutan Bos nanti kedua orang tuaku curiga."


"Oke sayang."


"Uhuk..uhuk..uhuk..."


Dion langsung tersedak mendengar Valerie memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Bos, tidak apa-apa?"


"Kenapa kamu memanggilku seperti itu?"


"Katanya jangan panggil Bos."


"Iya, tapi jangan sekarang juga nanti malam saja."


"Latihan dulu Bos, biar lentur gak tegang."


Dion menghela nafasnya, entah kenapa Dion selalu dibuat salah tingkah oleh anak buahnya itu.