THE BLACK HUNTER

THE BLACK HUNTER
Getaran-getaran Cinta



🕵‍♀


🕵‍♀


🕵‍♀


"Kapan kamu mau melamar Valerie?" tanya Papi Lion kembali.


"Apaan sih Pi, nanti saja kalau sekarang-sekarang Dion masih sibuk ngurusin masalah-masalah yang terjadi, jadi belum kepikiran buat menikah," sahut Dion.


"Jangan pacaran terlalu lama Dion, gak baik. Mendingan kalian menikah saja dulu, biar pacarannya setelah menikah. Pacaran setelah halal itu indah loh, Ion," seru Mami Ayu.


Dion menjadi salah tingkah, begitu pun dengan Valerie yang pura-pura tidak mendengar saja.


Waktu makan siang pun tiba....


Orangtua Jesika menghubungi Papi Lion, karena ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.


"Dion, kamu harus ikut sepertinya mereka ingin membicarakan mengenai kelanjutan hubungan kamu dan Jesika," seru Papi Lion.


"Enggak ah Pi, Dion malas."


"Kamu harus berkata yang sejujurnya saja kalau kamu sudah punya calon istri biar mereka tahu dan membatalkan perjodohan kalian," seru Mami Ayu.


"Sudahlah jangan kebanyakan mikir, mumpung Valerienya tidur lagipula restorannya gak jauh dari sini kok."


Dion tampak terdiam, hingga akhirnya Dion pun memilih untuk ikut dan berkata jujur kalau dia memang tidak mencintai Jesika.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Dion dan kedua orangtuanya sampai di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Di saat ketiganya masuk, ternyata Jesika dan orangtuanya sudah menunggu.


"Maaf, kalian harus menunggu lama," seru Papi Lion.


"Tidak apa-apa, silakan duduk," sahut Papa Ferdinan.


Jesika terlihat sumringah bahkan Jesika terus saja menatap Dion dengan tatapan memuja.


"Ada apa, kamu meminta kami untuk datang ke sini?" tanya Papi Lion.


"Apa tidak sebaiknya kita makan dulu," sahut Papa Ferdinan.


"Kami sudah makan, kami sebenarnya tidak punya banyak waktu karena calon menantu kami sedang dirawat di rumah sakit," sahut Papi Lion.


"Apa? Calon menantu?"


Jesika dan kedua orangtuanya tampak terkejut dengan ucapan Papi Lion.


"Lion, sebenarnya tujuan kami mengajak kalian bertemu karena ingin membicarakan masalah perjodohan anak kita, Jesika dan Dion."


"Maaf Ferdinan, sepertinya perjodohan kita batal karena Dion sudah sudah punya calon istri sendiri dan aku tidak bisa melarangnya karena urusan hati itu tidak bisa dipaksakan."


"Dion, apa itu benar? Kalau kamu mencintai wanita itu?" geram Jesika.


"Iya Jes, aku mencintai Valerie dan aku akan menikah dengannya," sahut Dion.


Jesika bangkit dari duduknya hendak pergi, tapi Papi Ferdinan menahan tangannya.


"Jesika duduk!"


"Tapi Pa----"


"Papa bilang, duduk!"


Akhirnya dengan terpaksa Jesika pun duduk kembali.


"Lion, apa kebersamaan Dion dan Jesika selama ini tidak berarti apa-apa untuk kalian?"


"Maaf Mas Ferdinan, walaupun Dion dan Jesika tumbuh bersama-sama tapi kalau urusan jodoh bukan kita yang ngatur. Mungkin Dion dan Jesika tidak berjodoh, tante sayang sama kamu Jes, seperti anak tante sendiri. Tante yakin kamu akan mendapatkan pria yang jauh segala-galanya daripada Dion," seru Mami Ayu lembut.


"Tidak tante, Jesika cintanya hanya kepadq Dion, Jesika tidak mau pria mana pun," sentak Jesika.


"Apa kurangnya Jesika di mata kalian? Apa calon menantu kalian lebih cantik daripada Jesika? Atau mungkin dia lebih kaya daripada kami?" sentak Mama Astrid.


"Om, tante, Dion dari dulu hanya menganggap Jesika seperti saudara Dion sendiri, rasa sayang dan cinta Dion terhadap Jesika hanyalah rasa sayang dan cinta saudara kepada saudaranya bukan antara pria kepada wanita. Jadi, Dion mohon maaf semoga Jesika bisa menemukan pria yang bisa menyayanginya dengan tulus," seru Dion.


Jesika bangkit dari duduknya dan langsung pergi dari restoran itu.


"Kalian akan menyesal karena sudah menolak putri kami," geram Papa Ferdinan.


Ferdinan dan Astrid pun pergi dengan perasaan yang sangat geram.


"Itu sudah jadi keputusan yang baik, Dion. Lagipupa Papi sangat menyetujui kalau kamu sama Valerie," seru Papi Lion.


Dion hanya terdiam, saat ini memang Dion merasa kalau ada getaran-getaran aneh saat dekat dengan Valerie, bahkan Dion merasa sangat khawatir saat melihat Valerie terluka.


"Apa itu namanya cinta?" batin Dion.


Papi Lion dan Mami Ayu izin pulang, sedangkan Dion kembali ke rumah sakit untuk menjaga Valerie.


Dion mulai masuk ke ruangan rawat Valerie dan ternyata Valerie masih terlelap tidur. Diperhatikannya wajah cantik Valerie yang saat ini terlihat pucat itu.


"Apa aku mulai jatuh cinta kepada wanita konyol ini?" batin Dion dengan senyumannya.


Tiba-tiba Dion melihat wajah Valerie mulai berkeringat, sepertinya Valerie mulai bermimpi buruk lagi.


"Jangan bunuh Mamaku, aku mohon. Ma, Vale tidak bisa hidup sendiri, Vale harus melakukan apa?" seru Valerie dengan mata yang masih terpejam.


Airmata Valerie sudah mulai menetes...


"Val, bangun Val."


Valerie tersentak, Valerie bangun dan langsung memeluk Dion membuat Dion kaget.


"Bos, kamu harus bantuin aku cari pembunuh kedua orangtuaku."


"Iya pasti, aku pasti akan membantumu, jadi kamu tenang saja tidak usah khawatir," sahut Dion dengan mengusap kepala Valerie.


Nafas Valerie begitu sangat tersengal-sengal, Valerie paling takut kalau sudah memimpikan orangtuanya. Pembunuhan mengerikan itu selalu saja terbayang-bayang di benaknya, apalagi kondisi Papanya yang sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah.


Dion melepaskan pelukannya dan menyeka airmata Valerie.


"Mulai hari ini ada aku yang akan selalu ada untukmu, jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa ngomong sama aku. Kamu jangan merasa sendiri lagi," seru Dion.


Valerie menganggukan kepalanya, Valerie memang selalu nyaman kalau berada di dekat Dion.


***


1 minggu pun berlalu, kondisi Valerie sudah mulai pulih dan Valerie sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Sayang, lebih baik kamu pulang ke rumah tante saja biar ada yang jagain kamu," seru Mami Ayu.


"Tidak tante, terima kasih. Vale sudah baikan kok, Vale gak mau sampai merepotkan tante dan sekeluarga karena selama ini Vale sudah banyak menyusahkan kalian."


"Hai, kok kamu ngomong seperti itu? Kami tidak merasa direpotkan olehmu, Riri," sambung Papi Lion.


"Kok, Om tahu nama kecil Vale?"


"Tahulah, soalnya Andri dan Anisa manggil kamu dengan sebutan Riri dulu, jadi Om tidak tahu nama asli kamu siapa."


"Vale pulang ke rumah Vale saja, terima kasih sudah menyayangi Vale."


Mami Ayu memeluk Valerie. "Kami sangat menyayangi kamu Vale, jadi kamu boleh anggap tante seperti Mama kamu sendiri."


Valerie tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dion, kamu antarkan Valerie pulang."


"Iya Pi."


Valerie pun berpamitan dan pulang menuju rumahnya. Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan antara Valerie dan Dion, keduanya sama-sama bungkam.