
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
"Bos, lebih baik Bos istirahat dulu, Vale biar aku yang jaga," seru Julian.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan Valerie walau sedetik pun, jadi lebih baik kamu saja yang istirahat," sahut Dion.
Kedua pria tampan itu duduk termenung, walaupun tenaga mereka sudah terkuras tapi mereka sama sekali tidak merasakan ngantuk.
Dion menggenggam tangan Valerie yang terpadang jarun infus itu. "Terima kasih Val, sudah bertahan sejauh ini dan aku yakin kamu akan sadar kembali dan kita akan segera melangsungkan pernikahan kita," batin Dion dengan memperhatikan wajah Valerie.
Dion melihat wajah Valerie penuh dengan luka dan lebam membuat Dion mengepalkan tangannya.
"Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya kamu disiksa seperti itu, aku janji akan menyingkirkan semua orang yang sudah terlibat dalam penculikanmu," gumam Dion.
Hingga akhirnya menjelang subuh, Dion dan Julian pun mulai mengantuk dan mereka pun tanpa sadar tertidur dengan baju penuh darah Velerie.
***
Keesokan harinya....
"Ya Allah Valerie!" teriak Mami Ayu membuat Dion dan Julian terkejut dan akhirnya terbangun.
"Mami jangan berisik," kesal Dion.
Mami Ayu menghampiri ranjang Valerie, diperhatikannya keadaan Valerie yang sangat mengrmenaskan itu, Mami Ayu menangis histeris.
"Kenapa Valerie sampai seperti ini? Kalian memang tidak becus melindungi Valerie?" sentak Mami Ayu.
"Maafkan Dion Mi, karena Dion terlambat menyelamatkan Valerie," sahut Dion.
"Ya Allah, Mami tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Valerie saat itu disiksa sampai seperti ini," seru Mami Ayu dengan deraian airmatanya.
Papi Lion memeluk istri kesayangannya itu. "Sudah Mi, yang penting saat ini nyawa Valerie masih bisa diselamatkan walaupun Valerie harus koma tapi Papi yakin, kalau Valerie akan segera siuman karena Valerie adalah anak yang kuat," seru Papi Lion.
"Amin. Oh iya Ion, ini Mami bawakan kamu baju ganti, sekarang kamu mandi dulu sana," seru Mami Ayu.
"Iya Mi."
Dion pun segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Julian menghampiri Mami Ayu dan Papi Lion.
"Bos besar, Nyonya, saya pamit pulang dulu mau mandi dan ganti baju juga," seru Julian.
"Oke, terima kasih Julian."
"Sama-sama Bos, kalau begitu saya pamit."
Julian pun segera pamit dan meninggalkan rumah sakit itu karena dia juga sangat kelelahan.
Beberapa saat kemudian, Dion pun selesai mandi dan berganti baju. Penampilannya sudah lebih segar.
"Pi, Mi, tolong jaga Valerie sebentar soalnya Dion mau keluar dulu."
"Kamu mau ke mana, Ion?" tanya Papi Lion.
"Masih ada satu orang lagi yang harus Dion urus."
"Jangan bunuh dia Ion, cukup kasih pelajaran saja," seru Papi Lion seakan tahu apa yang akan Dion lakukan.
Dion tidak menjawab lagi, dia langsung pergi menuju apartemennya untuk menemui Jesika.
Sementara itu di apartemen, Petra dengan santainya menyantap sarapannya di hadapan Jesika membuat Jesika menelan salivanya sendiri karena merasa lapar.
"Kurang ajar si Petra, dia malah sarapan sendiri," batin Jesika.
"Siap-siap, sebentar lagi Dion bakalan ke sini entah apa yang akan dia lakukan kepadamu," seru Petra dengan mulut penuh makanan.
"Dion gak bakalan berani bersikap kasar kepadaku, dari dulu Dion paling tidak tegaan kepadaku jadi sefatal apa pun aku melakukan kesalahan, Dion tidak akan melakukan kekerasan kepadaku," sahut Jesika dengan percaya dirinya.
"Itu kan dulu, sekarang beda lagi apalagi itu menyangkut calon istrinya, masih yakin Dion gak bakalan ngelakuin apa-apa sama kamu?" ledek Petra.
"Yakinlah, Dion itu sebenarnya sayang sama aku jadi gak bakalan bisa menyakitiku," sahut Jesika.
Petra hanya bisa menyunggingkan senyumannya, tiba-tiba pintu apartemen pun terbuka membuat Jesika dan Petra menoleh bersamaan.
"Dion, lihat si Petra sudah mengikat tanganku dengan sangat kencang, tanganku sakit Ion," rengek Jesika.
Petra yang melihat kelakuan Jesika hanya memutar bola matanya jengah, dia juga lebih memilih menikmati sarapannya.
Dion mencengkram wajah Jesika membuat Jesika meringis kesakitan. "Apa yang sudah kamu lakukan kepada Valerie?" seru Dion dingin.
"Sakit Ion, aku tidak melakukan apa-sama sama dia."
"Jangan bohong, kamu dan Papamu sama-sama iblis berwujud manusia. Papamu sudah mati dan sekarang giliran kamu selanjutnya."
Seketika Jesika membelalakan matanya, bahkan tanpa terasa airmatanya sudah menetes.
"Kamu bohong Dion, Papa tidak mungkin meninggal."
"Papamu memang pantas menerimanya karena nyawa harus dibayar dengan nyawa," seru Dion dengan seringainya yang sangat menakutkan.
"Siapa yang sudah membunuh Papaku?" teriak Jesika.
Plaaakkkkk....
Dion menampar Jesika dengan sangat keras membuat sudut bibir Jesika langsung berdarah.
"Uh...pasti sakit tuh," gumam Petra dengan meringis ngilu.
"Diam kamu, tidak usah berteriak segala."
"Kamu jahat Dion, kamu sudah berani menamparku padahal dulu kamu tidak pernah melakukan kekerasan kepadaku. Bahkan aku terluka sedikit saja, kamu begitu khawatir."
"Itu dulu, sebelum aku tahu siapa kamu sebenarnya. Aku tidak akan pernah melepaskan siapa pun yang sudah membuat Valerie sampai-sampai hampir saja kehilangan nyawanya."
"Dia pantas mendapatkannya karena dia sudah merebut kamu dariku, bahkan seharusnya dia mati!" teriak Jesika.
Plaaakkk....
Dion kembali menampar Jesika, setelah itu menjambak rambut Jesika membuat Jesika menangis.
"Kalau sampai Valerie mati, aku juga akan membunuh kamu."
"Bunuh saja aku Dion, kalau itu akan membuat kamu puas!" teriak Jesika.
"Maunya aku seperti itu, langsung membunuhmu tapi Valerie belum melihat penderitaanmu jadi untuk saat ini lebih baik kamu mendekam saja di penjara."
Dion memaksa Jesika untuk bangun dan menyeretnya untuk keluar dari apartemen.
"Jangan kasar-kasar Ion, kasihan dia wanita," ledek Petra yang mengikuti keduanya dari belakang.
Dion tidak mendengarkan ocehan Petra, dia terus saja menyeret Jesika dan memasukan Jesika dengan kasar ke dalam mobil.
"Jaga dia."
"Siap."
Dion segera melajukan mobilnya menuju kantor polisi.
"Aku lebih baik mati daripada harus mendekam di penjara!" teriak Jesika.
Plaaakkkk....
Petra menampar Jesika. "Bisa diam tidak sih? Telingaku mendengung dengar teriakanmu itu!" bentak Petra.
Dion yang melihat itu menyunggingkan senyumannya, dibalik sifatnya yang casanova, sebenarnya Petra sama seperti Dion punya sisi kejamnya juga dan dia akan melindungi wanita yang dia cintai hanya saja Petra belum mendapatkan wanita yang mampu menggetarkan hatinya.
Jesika seketika bungkam dan berhenti berteriak, dia sudah pasrah dengan nasibnya kali ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Dion pun sampai di kantor polisi. Dion kembali menyeret Jesika dan menghempaskan tubuh Jesika ke hadapan Komandan Alan.
"Urus wanita itu," seru Dion.
"Baiklah."
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu."
Dion dan Petra pun akhirnya pergi dari kantor polisi itu.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
HALLO, VALERIE, DION, DAN PANJUL AKAN SEGERA SELESAI DI AKHIR BULAN INI, JADI BERIKAN KOMENTAR TERBAIK KALIAN NANTI ADA PULSA UNTUK KALIAN DARI AUTHOR.
MASING-MASING PULSA 20k UNTUK 5 KOMENTAR TERBAIKππ