
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, semenjak pertolongan Julian, hubungan antara Julian dan Vanessa semakin dekat.
Malam ini, Julian tampak sedang mematut diri di depan cermin rumahnya.
"Bang Jul mau ke mana? Kok sudah rapi dan tampan seperti itu? Bang Jul sudah punya pacar ya?" seru Widia.
"Belum, masih calon pacar. Do'akan saja semoga malam ini Kakak dapatkan pacar," sahut Julian.
"Amin."
Setelah selesai, Julian pun segera mengambil kunci mobilnya dan menuju rumah Vanessa karena malam ini rencananya Julian akan makan malam bersama Vanessa.
Julian tampak bahagia, selama dalam perjalanan dia bernyanyi-nyanyi kecil. Hingga tidak butuh waktu lama, akhirnya Julian pun sampai di depan rumah Vanessa.
"Astaga, rumahnya besar sekali, ini mah bukan rumah tapi istana," gumam Julian merasa terkejut.
Julian pun menghubungi Vanessa tapi Vanessa menyuruh Julian untuk masuk dulu ke dalam rumahnya.
"Yaelah, kenapa mesti masuk ke rumahnya dulu, bagaimana kalau orangtuanya langsung menikahkan aku dengannya, aku kan belum mempersiapkan semuanya," gumam Julian dengan percaya dirinya.
Tiba-tiba pintu gerbangnya pun terbuka sendiri membuat Julian terkejut, Julian segera memasukan mobilnya ke dalam halaman rumah Vanessa.
Pintu gerbang itu kembali tertutup, Julian sangat terpana akan itu.
"Mas Julian!"
Julian pun langsung menoleh saat sebuah suara indah memanggil namanya, Vanessa tampak sangat cantik dengan gaun malamnya.
"Hallo."
"Ayo masuk dulu, katanya Mama sama Papa ingin bertemu denganmu," seru Vanessa dengan merangkul lengan Julian.
Julian tampak gugup, tapi Julian berusaha bersikap setenang mungkin. Vanessa dan Julian pun masuk ke dalam rumah bak istana itu, terlihat di ruangan keluarga sepasang paruh baya sedang menunggu kedatangan Julian.
"Ma, Pa, kenalkan ini Julian," seru Vanessa.
"Malam Om, Tante," seru Julian.
Julian pun menghampiri kedua orangtua Vanessa dan hendak mencium tangan keduanya, tapi kedua orangtua Vanessa hanya diam saja bahkan tangan Julian yang sudah terulur pun tidak mereka pedulikan.
"Apa pekerjaan kamu?" tanya Papa Vanessa.
Julian pun menarik kembali tangannya dan itu membuat Vanessa merasa tidak enak.
"Pekerjaan saya hanya sebagai karyawan kantor biasa, Om," dusta Julian.
"Apa? Karyawan biasa, berarti gaji kamu tidak lebih dari 5 juta perbulannya. Apa dengan gaji segitu, kamu bisa membahagiakan putriku? Kalau cuma segitu, hanya cukup untuk makan sehari saja," seru Papa Vanessa dengan angkuhnya.
"Papa!" bentak Vanessa.
"Asalkan kamu tahu, pria yang datang untuk melamar putriku itu semuanya pengusaha dan anak konglomerat, sedangkan kamu yang hanya karyawan biasa berani-beraninya menginjakan kaki kamu di rumahku."
"Papa!"
"Diam kamu Vanessa, kamu lihat apanya dari pria ini? Apa kamu sudah buta?" bentak Papa Vanessa.
"Pa, Vanessa tidak lihat Mas Julian dari sudut apa pun, Vanessa mencintai Mas Julian," seru Vanessa.
Julian langsung memalingkan wajahnya menatap Vanessa, dia tidak menyangka kalau Vanessa pun mencintainya.
"Vanessa, dalam suatu hubungan itu bukan butuh cinta saja tapi materi juga sangat dibutuhkan. Memangnya kamu mau hidup melarat bersama pria ini?" bentak Papa Vanessa.
"Pa----"
Ucapan Vanessa terhenti karena Julian langsung menahan Vanessa.
"Van, terima kasih kamu sudah mau memperkenalkan aku kepada kedua orangtuamu dan aku sangat merasa terhormat sudah bisa masuk ke dalam rumah yang super mewah ini. Om, Tante, maaf karena saya sudah lancang mengajak putri kalian untuk pergi. Kalau begitu, saya pamit."
Julian pun akhirnya memilih pergi dari rumah Vanessa.
Vanessa segera mengejar Julian, Vanessa menarik tangan Julian.
"Mas, maafkan Papa aku."
"Tidak apa-apa Van, benar apa yang dikatakan Papa kamu kalau gaji aku segitu, mana mungkin aku bisa membahagiakan kamu, kamu itu terlalu tinggi untuk aku gapai, akunya saja yang kurang ajar sudah berani mendekati kamu."
Vanessa pun meneteskan airmatanya. "Tidak Mas, aku tidak butuh semua itu karena untuk hidup sederhana pun aku bersedia kok asalkan itu denganmu Mas."
"Tidak Van, kamu tidak pantas mendapatkan pria miskin sepertiku, jadi carilah pria yang lebih segala-galanya dariku. Terima kasih sudah mau berteman denganku, kalau begitu aku permisi."
Julian pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah milik Vanessa. Vanessa hanya bisa menangis melepas kepergian Julian, Vanessa sejak awal bertemu dengan Julian memang sudah menyukai pria tampan itu.
"Sial."
Julian memukul stir mobilnya beberapa kali, dadanya begitu sesak mendapatkan hinaan seperti itu. Julian tidak tahu kalau Vanessa adalah anak seorang konglomerat.
"Kalau aku tahu Vanessa anak seorang konglomerat, aku tidak akan mendekatinya," gumam Julian dengan kesalnya.
Ternyata dalam urusan cinta, Julian memang tidak pernah beruntung.
Vanessa masuk ke dalam rumahnya dengan amarah yang memuncak.
"Kenapa Papa berkata seperti itu? Vanessa sangat mencintai Mas Julian Pa, Mas Julian adalah pria yang sangat baik," sentak Vanessa.
"Baik saja tidak cukup sayang, hidup itu butuh uang, dan dia tidak akan bisa membahagiakan kamu."
"Kenapa yang ada di otak Mama dan Papa hanya uang, uang, dan uang, kalian tidak pernah memikirkan kebahagiaan Vanessa!" teriak Vanessa.
"Vanessa, bicara yang sopan kepada Papamu!" bentak Mama Vanessa.
"Besok, Papa akan jodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa. Dia lulusan terbaik di Amerika bahkan saat ini dia sudah mempunyai perusahaan di mana-mana jadi besok bersiap-siaplah," tegas Papa Vanessa.
"Vanessa tidak mau."
Vanessa pun dengan cepat berlari naik ke atas menuju kamarnya dan itu membuat kedua orangtuanya merasa geram.
***
Keesokan harinya....
Julian bangun tidur dengan tidak bersemangat, dia benar-benar baru merasakan bagaimana rasanya patah hati padahal sebelumnya Julian tidak terlalu patah hati saat melihat Valerie menikah dengan Bosnya sendiri.
Dengan langkah gontai, Julian pun segera masuk ke dalam kamar mandinya. Setelah selesai mandi, dia pun segera berpakaian dan mengambil kunci mobilnya.
"Ayo, Abang antarkan kamu ke kampus."
"Loh, Abang gak sarapan dulu?" tanya Widia.
"Abang sedang tidak ingin sarapan, nanti saja di kantor."
Widia mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sifat Abangnya yang tiba-tiba seperti itu. Selama dalam perjalanan, Julian pun tidak mengoceh seperti biasanya.
"Abang kenapa? Kok, pagi ini sikap Abang aneh banget tidak seperti biasanya?" tanya Widia.
"Tidak apa-apa."
Setelah mengantarkan Widia ke kampus, dia pun langsung menuju kantor. Sesampai di kantor pun Julian tampak menjadi pendiam membuat rekan-rekannya bingung dengan perubahan sikap Julian yang seperti itu.
π΅ββ
π΅ββ
π΅ββ
Tetap stay ya, karena sebentar lagi pengumuman pemenang komentar terbaikππ