The Big Boss

The Big Boss
Sembilan



9


Tempat itu begitu ramai oleh manusia. Tentu saja, itu taman bermain. Begitu banyak wahana permainan. Mereka semua menikmatinya.


Tertawa lepas tanpa ada beban di hidup mereka. Mungkin itu yang Anastasia pikirkan ketika melihat orang orang itu.


Yeah Anastasia, Zico dan Daisy sudah sampai di tujuan. Entah apapun yang mereka lakukan, Anastasia hanya akan mengikuti saja.


"Paman, ayo naik rollercoaster." Begitulah Daisy terus membujuk Zico untuk naik rollercoaster.


Tapi Daisy tidak di izin kan karena dia tidak memenuhi syarat keamanan. Tentu Daisy merajuk. Zico terus membujuk Daisy agar tidak terus merajuk.


Zico bahkan menawarkan es krim, boneka, mainan dan lainnya. Tapi, hingga saat ini Daisy masih merajuk.


"Daisy, ayolah jangan cemberut terus. Kamu mau es krim? Boneka?" Bujuk Zico.


"Tidak! Aku mau naik rollercoaster itu." Yeah begitulah Daisy.


Anastasia hanya diam. Tak ingin masuk dalam masalah keponakan dan pamannya itu. Tugasnya hanya menemani mereka.


Lama kelamaan Anastasia juga bosan. Kemudian tanpa pamit, Anastasia pergi meninggalkan Daisy dan Zico. Tak tau akan kemana dia.


"Daisy ingat kata paman? Kamu tidak boleh nakal seperti ini. Nanti Mama Daisy akan sedih kalau Daisy nakal. Mengerti?"


"Kenapa? Kenapa mama sedih? Mama kan tidak ikut kita. Bagaimana mana bisa tau?"


Anak pintar. Begitu gumam Zico setelah mendengar pertanyaan barusan. Tak sangka Daisy berpikir kritis seperti ini.


"Daisy, lihat bintang di atas itu." Tiba-tiba Anastasia menyambung pembicaraan mereka. Dan tiba-tiba juga dia datang lagi.


"Ada apa dengan bintang itu?" Tanya polos Daisy.


"Tadi Daisy tanya bagaimana mama tau kalau Daisy nakal. Lihat itu, mama ada di atas sana. Mama Daisy sedang mengawasi Daisy. Kalau Daisy nakal, mama akan sedih. Tapi kalau Daisy penurut dan baik, mama akan senang," Anastasia menjelaskan dengan bahasa yang bisa Daisy pahami walau itu bukan fakta.


"Oh begitu ya? Baiklah Daisy akan berbuat baik supaya mama tidak sedih. Tapi, bagaimana kak Tasya bisa tau?"


Anak pintar. Begitu juga pikir Anastasia. Secara logika dan ilmu alam, itu tidak mungkin. Anak ini benar-benar berpikir kritis.


"Ah itu, memang begitu. Nah supaya Daisy tidak sedih lagi. Kakak belikan boneka yang tadi kakak janjikan." Anastasia memberikan boneka berbentuk kelinci imut kepada Daisy.


"Wah terimakasih kak Tasya. Baiklah, ayo kita bermain lagi."


Daisy kembali bersemangat. Zico tersenyum melihat mereka menjadi akur.


"Kau hebat Anastasia." Puji Zico.


"Tentu, tak perlu di ragukan lagi. Tapi Daisy, dia lari kemana?"


Anastasia dan Zico mencari secara berpencar. Seharusnya Daisy tidak jauh karena belum lama mereka tinggal tadi.


Anastasia dan Zico memutar dan mereka saling bertemu.


"Sudah kau temukan?" Tanya Anastasia.


Zico menggeleng artinya tidak.


"Akh ini salah mu, kenapa kau tidak menggandeng tangannya tadi?" Anastasia berdecak kesal pada Zico.


"Apa? Kenapa kau menyalahkan aku? Aku juga tidak tau dia akan lari." Zico juga kesal karena disalahkan tanpa alasan.


"Bagaimana jika Daisy di culik? Apa yang akan terjadi?" Panik Anastasia.


"Hei jaga ucapan mu. Sudahlah, kita harus mencarinya bukan malah ribut disini."


Mereka kemudian berpencar lagi untuk menemukan Daisy.


Zico mencari di sudut taman. Lalu di lihat nya sosok gadis yang tengah menangis. Dan yang membuat Zico terus melihatnya, dia bersama seorang anak kecil mirip dengan Daisy dengan pakaian yang sama pula.


Zico hendak mendekati mereka. Lalu semakin dekat Zico semakin yakin bahwa itu Daisy. Lalu di panggil lah nama Daisy.


"Daisy" panggil Zico. Anak itu membalik dan melihat ke arah Zico.


Benar. Dia Daisy dan gadis itu tampak sangat asing. Dan kenapa dia bersama Daisy.


"Daisy, kau baik-baik saja?" Khawatir Zico.


"Iya aku baik-baik saja. Tapi, kakak itu tidak, dia menangis paman." Daisy menunjuk pada gadis yang menangis itu.


"Siapa dia Daisy. Kau mengenal kakak itu?"


Dari kejauhan suara lantang Anastasia terdengar memanggil nama Daisy. Dia berlari kearah mereka. Lalu, melihat pula gadis yang tengah menangis itu. Menurut Anastasia sendiri, gadis itu tampak tidak asing.


Gadis itu menutup wajahnya dengan tangan. Yeah otak Anastasia pun berkerja dan berasumsi.


"Apa yang kau perbuat pada gadis itu? Apa kau melukai dia? Ya ampun Zico, katakan cepat." Anastasia marah tanpa alasan yang jelas. Yeah suasana makin membingungkan.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!