
16
"Apa kabar Samuel?" Zico tampak sangat akrab walau sudah lama tak bertemu.
"Apa kabar juga Zico? Dan apakah dia sekertaris barumu?" Samuel menatap ke arah Anastasia.
"Iya. Anastasia perkenalkan dia Samuel dan Samuel dia Anastasia." Anastasia diperkenalkan oleh Samuel dan tampaknya mereka ada kecocokan.
"Salam kenal Anastasia. Dan Anastasia, dia Belle sekretaris ku." Samuel juga memperkenalkan sekretarisnya pada Anastasia.
Mereka duduk untuk makan siang dan membahas tentang kerja sama perusahaan.
Perbincangan tentang perusahaan cukup panjang. Bla bla bla dan bla bla bla...
Hingga membuat perut mereka kelaparan. Dan saatnya yang ditunggu.
Tak lama pelayan datang dan membawa makanan pembuka. Tapi sebelum memakan mereka meneguk secangkir wine dengan alkohol. Setelah selesai dengan makanan pembuka, pelayan datang dengan makanan utama yaitu daging. Dan lagi, Anastasia paling banyak minum.
Yeah cukup lama untuk menghabiskan makanan utama. Dan akhirnya tiba makanan penutup. Terdapat makanan mewah.
Namun, Anastasia tak menyentuh untuk makanan penutup kali ini. Dia terdiam sedangkan yang lain sedang menikmati makanannya.
Lalu, Zico sadar dengan kediaman Anastasia. Dia khawatir dengan Anastasia.
"Ada apa Anastasia? Apa kau tak suka dengan makanan penutupnya?" Tanya Zico.
"Tidak. Aku baik-baik saja." Ucap Anastasia tak seperti itu.
"Tapi wajahmu pucat. Apa kau sakit? Katakan saja."
"Tidak..." dan bruk!
Anastasia pingsan. Semua berdiri panik. Terutama Zico. Zico segera menggendong Anastasia dan membawanya ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Samuel juga menemani Zico membawa Anastasia ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Anastasia segera di periksa.
Zico begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Anastasia.
"Tenang Zico. Dia akan baik-baik saja." Samuel berusaha untuk menenangkan Zico.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dia?"
"Kau tidak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja."
Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Anastasia keluar dari ruangan.
"Saya perlu bertemu dengan wali dari nona Anastasia." Sang Dokter berkata begitu.
Lalu, saat Zico baru akan berjalan, dari kejauhan Mark berlari. Dia tahu Anastasia di bawa ke rumah sakit karena anak buahnya selalu mengawasi target.
"Siapa wali dari Nona Anastasia?" Sang Dokter bertanya lagi.
"Saya, saya walinya." Mark menjawab.
Ekspresi kecewa dan marah muncul pada Zico. Lalu, Mark masuk untuk diajak bicara dengan dokter.
"Saya perlu tau, anda siapa dari nona Anastasia?"
"Ginjalnya semakin parah. Seharusnya dia tahu kalau seharusnya dia berhenti mengonsumsi alkohol atau sejenisnya. Itu bisa membahayakan dia sendiri. Anda tahu bukan, kalau ginjalnya hanya tinggal satu."
"Lalu, apa dia akan baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja kalau dia bisa menjaga ginjalnya. Dan pastikan dia selalu mengecek kondisi di dokter. Nona Anastasia belum siuman. Dia boleh pulang saat dia sudah siuman dengan konsisi membaik."
Dokter pergi dari ruangan mereka bercakap. Mark seharusnya sadar kalau Anastasia membatasi dalam minum alkohol. Anastasia pernah mengalami operasi pengangkatan ginjal karena kondisinya saat itu dalam keadaan buruk.
Mark keluar dari ruangan juga. Di sana masih ada Zico dan Samuel yang tengah menunggu perkembangan Anastasia.
"Bagaimana keadaan Anastasia? Dia sakit apa?" Tanya Zico pada Mark yang baru saja keluar.
"Kau tak perlu tahu. Kau bukan siapa-siapanya. Sebaiknya kau pergilah. Dia akan baik-baik saja denganku." Balas Mark ketus.
"Aku perlu tahu. Setidaknya katakan bahwa dia baik-baik saja." Zico bersikeras.
"Dia baik-baik saja, dan sekarang pergilah dari sini." Zico sadar diri. Dia tahu dia bukan siapa-siapanya Anastasia.
Tapi, Zico berpikir bahwa dia berhak untuk khawatir. Dia akan tetap tinggal hingga Anastasia pulih sepenuhnya.
Selena pun akhirnya datang untuk menjenguk Anastasia. Dia baru selesai dari kelasnya dan segera datang ke rumah sakit karena dia mendapat pesan dari Mark.
"Bagaimana keadaan kak Anastasia?" Khawatir Selena.
"Dia baik-baik saja." Jawab Mark dengan singkat.
"Di luar ada kak Zico, kenapa dia tidak masuk saja?"
"Kau kenal dengannya ya. Biarkan saja dia dan jangan beritahu tentang penyakit yang diderita Anastasia pada siapapun."
"Baiklah. Kakak belum makan siang bukan. Aku akan keluar untuk membeli makanan untuk kakak."
Selena keluar. Di luar ruangan Anastasia masih terlihat Zico dan Samuel yang menunggu. Samuel masih menemani Zico. Zico sudah memintanya untuk pulang saja karena mungkin dia sibuk tapi ia bersikeras ingin menemani Zico.
"Apa kau yakin ingin menemani aku? Bukankah kau sibuk di kantor?"
"Sudahlah tak perlu kau pikirkan tentang aku. Aku juga khawatir denganmu. Ah sebentar, aku mau keluar dulu ya." Izin Samuel pada Zico karena dia mendapat panggilan masuk di handphonenya.
Beberapa saat kemudian, Selena kembali ke rumah sakit lagi. Dia berpapasan dengan Samuel.
"Tunggu dulu Selena."
Selena berhenti dengan membawa bawaannya. Dia mengkhawatirkan sesuatu.
"Sekarang apa mau mu?" Selena menanggapinya.
Kini Selena dan Samuel berhadapan dan bertatapan satu sama lain.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!