The Big Boss

The Big Boss
Tujuhbelas



17


Mereka saling berhadapan. Tak ada sepatah kata saat mereka bertatapan. Seakan mereka menggunakan pikiran untuk berbicara.


"Katakan, aku tak ada waktu untuk basa-basi denganmu." Ketus Selena.


"Maaf. Maaf telah membuatmu menangis." Samuel merasa bersalah.


Jika kalian menebak kalau Samuel adalah mantan pacar Selena, kalian 100% benar. Selena dan Samuel sebelumnya telah menjalin hubungan. Selena tak tahu kalau Samuel adalah teman dari Zico.


Namun, hubungan Samuel dan Selena tak berjalan dengan baik dan akhirnya mereka berpisah. Tunggu, kenapa Mark tak mengenal Samuel?


Selena tak pernah mengenalkan Samuel pada kakak kandungnya itu. Mark hanya tahu kalau Selena berpacaran dan saat ditanya hubungan mereka baik-baik saja. Jadi, Mark tidak perlu khawatir karena dia percaya pada Selena, adiknya.


"Tak perlu minta maaf. Kalau hanya itu, aku pergi sekarang." Selena berlalu meninggalkan Samuel.


Selena kembali menemui Mark dan mengajaknya makan siang. Kebiasaan Mark adalah lupa segala hal saat dia sedang stress terutama pada jadwal makannya.


"Selena, ada apa denganmu? Kenapa kau murung?" Tegur Mark saat Selena juga melamun.


"Aku baik-baik saja kak. Tak ada yang perlu di khawatirkan."


....


Malam menjelang. Anastasia sudah kembali ke apartemennya bersama Mark dan Selena. Sedangkan, Mark tidak akan membiarkan Zico mendekati Anastasia untuk sementara ini.


Malam ini Mark juga akan menemani Anastasia di apartemen, dia tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada Anastasia.


Saat ini Mark sedang membuatkan bubur untuk Anastasia. Makanan yang paling di benci oleh Anastasia.


Setelah siap, Mark memberikan mangkuk berisi bubur itu pada Anastasia. Anastasia sedang berada di kamarnya.


"Makanlah Anastasia. Kau harus minum obat. Dan maaf, aku harus membawa minuman alkohol dan wine dari kulkas mu untuk sementara."


"Kenapa? Aku pasti bisa menahan diri." Anastasia percaya diri.


"Jika benar, kenapa kau bisa di rumah sakit tadi? Kali ini kau tidak bisa memerintah ku. Minggu depan, aku akan mengantarmu untuk mengecek di rumah sakit tentang kesehatanmu."


"Baiklah Mark. Maaf membuatmu kerepotan. Tapi, dimana Zico? Ah... uumm maksudku..."


Mark menoleh dan melihat Anastasia dalam-dalam.


"Dia tadi menunggumu hingga kau pulang. Ya sudah, makanlah dulu. Jika ada perlu panggil saja." Mark keluar kamar. Dia duduk di sofa depan televisi di samping Selena juga.


Televisi menyala tapi Selena sibuk dengan handphonenya. Bahkan tidak sadar akan kedatangan Kakaknya.


"Selena, katakan pada kakak, dari tadi kau murung kenapa?"


Sejak bertemu dengan mantan pacarnya tadi, Selena tampak pemurung. Padahal, Selena adalah orang yang sangat ceria sampai membawa hal positif pada orang lain. Tapi, kali ini tidak.


"Aku ah hanya tugas kuliah kak. Kak, aku harus pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas bersama, boleh?"


Mark tampak ragu karena ini sudah malam. Dia juga khawatir. Setelah Anastasia sedang sakit begini, dia tidak mau Selena mengalami hal yang sama pula.


"Baiklah, akan aku antar ya."


"Tidak. Nanti bagaimana dengan kak Anastasia? Aku bisa pergi sendiri. Aku akan langsung pulang saat tugas selesai." Selena mencoba meyakinkan kakaknya.


Yeah akhirnya Mark setuju-setuju saja dengan Selena. Setelah bersiap, Selena langsung pergi ke tempat yang akan dia tuju. Selena akan berjalan kaki saja karena tujuan tak jauh dari apartemen. Namun, sebenarnya Selena berbohong tentang semuanya.


...........


Selena POV


Hanya karena si brengsek itu aku harus berbohong pada kakakku. Aku sebenarnya akan pergi ke taman untuk menemuinya. Tak jauh juga.


Aku menemui Samuel karena sebelumnya dia bilang padaku kalau kali ini aku menemuinya, dia tidak akan mengusikku lagi. Tentu itu keuntungan juga untukku.


"Ada apa?"


"Selena. Maaf membuatmu keluar malam-malam begini. Sebenarnya ada sesuatu yang harus aku katakan." Dia berdiri menghadap ku.


Aku terdiam saja. Aku berharap yang dia katakan tidak sembarangan. Hari sudah malam dan di taman hanya ada kita berdua.


"Aku mencintaimu Selena. Aku tak ingin berpisah denganmu." Ucapnya tanpa rasa bersalah atau malu sedikitpun.


"Kau gila? Atau setelah kerja mati matian kau jadi gila seperti ini?"


"Aku mengatakan dengan sadar Selena. Aku mencintaimu."


Dia mencium bibirku dan melumatnya. Itu terjadi dengan tiba-tiba. Dia yang melakukannya bukan aku yang menggodanya.


Aku berusaha mendorong tubuhnya kuat-kuat.


"Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar gila." Umpat ku.


Dia masih memaksakan untuk berciuman denganku. Aku menolaknya jelas. Bahkan sampai aku menangis dan pasrah dengan yang dia lakukan padaku. Aku tak membalas ciumannya.


Tapi, dia membuatku mengerang karena dia menggigit leherku. Aku rasa bagian itu sudah berwarna biru.


Dia menggendongku di depan. Entah kemana dia membawaku aku pasrah karena tak tahu kenapa tubuhku merasa sangat lemas.


Dia memasukan ku ke dalam mobilnya yang tak jauh dari tempat kami mengobrol tadi.


"Selena, aku sudah mengatakannya padamu. Aku benar-benar mencintaimu." Dia melanjutkan aktifitas untum melucuti ku.


Dia membuka baju yang aku kenakan. Sebenarnya kami pernah melakukan hubungan **** selama kami pacaran. Tapi, itu hanya sekali. Iyalah hubungan kami saja tak bertahan sampai 1 tahun.


Dia meremas dan membuat gigitan di dekat payudaraku.


"Hentikan, Samuel. Kau sudah keterlaluan." Aku begitu kesal dengannya.


"Aku akan berhenti kalau kau juga jujur dengan hatimu. Aku tahu kau masih mencintaiku."


Aku harus mengatakan apa padanya. Dia tahu semuanya. Memang benar aku masih mencintainya. Tapi aku juga begitu marah dan membencinya. Aku tak bisa jika melanjutkan kegiatan **** kali ini bersamanya tapi apalagi menjalani hubungan seperti dulu bersamanya.


"Ah... sakit... hiks.. kakak.." aku tak kuasa, aku memanggil kakakku walau itu tak terdengar olehnya. Karena hanya dia yang aku punya. Aku terus mengingat kakakku.


"Selena, maafkan aku. Maaf aku terlalu memaksamu. Aku tak ingin kehilanganmu lagi."


"Hiks... kau membuatku takut.. hiks.. jangan dekati aku..." aku menjauh darinya walau masih di dalam mobil.


Aku menangis. Aku menangis seperti anak kecil yang permennya direbut oleh seseorang. Samuel membuatku takut.


"Maafkan aku. Maaf. Aku tak akan melakukan hal ini lagi tanpa izin mu. Aku menyayangimu Selena. Aku mencintaimu." Samuel memungut bajuku.


Samuel memakaikan lagi bajuku. Dia menjadi lembut. Aku tak kuasa melihatnya. Aku masih menangis.


Air mata ini tak bisa berhenti. Aku takut. Aku tak bisa pulang juga dengan keadaan seperti ini. Kakak pasti akan berusaha menemukan orang yang membuatku menangis. Dan menghabisinya. Aku tak ingin masalah ini bertambah panjang.


"Sudah jangan menangis. Kakakmu bisa membunuhku jika menangis. Berhentilah menangis, sayang. Kau akan baik-baik saja."


Dia begitu lembut. Ia katakan hal itu sambil memeluk dan mengelus kepalaku. Dia mengusap air mataku yang terus keluar.


Setelah aku merasa lebih baik, dia membawaku ke apartemennya. Dia tahu aku tak bisa kembali seperti ini dan bagaimana jika kakak tahu. Aku tak ingin menambah masalahnya.


Aku mengirim sebuah pesan dari handphone bahwa aku akan menginap di rumah teman dan besok pagi aku akan pulang. Kak Mark setuju dengan hal itu.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!