
31
Aku begitu kesal dengan sikapnya. Sikapnya terlalu posesif. Dan dia bertingkah seolah aku adalah anaknya, bukan kakaknya. Mark begitu membuatku merasa tidak bebas.
Kau harus begini. Kau harus begitu. Lakukan ini, lakukan itu. Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Aku bahkan merasa tidak bernafas sekarang ini, karena dia berada di sampingku.
Ini adalah malam yang larut. Setelah beberapa masalah tadi terselesaikan karena aku mengalah. Selena mungkin sudah tertidur di kamarnya setelah seharian ini menemaniku dan kegilaan ku ini.
Dia terlalu lelah juga untuk mendengar ocehan dari kakaknya, Mark. Mereka seperti musuh yang selalu mencari kesalahan tiap masing-masing.
"Mark, aku lapar. Aku ingin makan, boleh?"
Aku meminta padanya setelah marahan padanya tadi. Kami juga tengah menonton film di depan televisi. Yeah, hanya cerita romansa antara pada remaja. Aku tidak tahu kenapa Mark menyetujui tayangan itu.
"Ini sudah malam. Tidak ada yang jual bubur," ucapnya dingin.
"Apa? Siapa juga yang mau bubur? Aku ingin nachos dan cola. Kau bisa membelinya di depan apartemen, di sana buka 24 jam."
"Kau tidak boleh sembarang makan. Kau tadi sudah berulah dengan pergi ke clubbing dan minum wine. Apa nasehatku tadi tidak cukup untukmu?"
"Ya ya... sudah cukup kau mengomel. Aku merasa pusing mendengar omelan mu," ucapku tak peduli.
Kami melanjutkan menonton film. Jujur saja, ini sangat membosankan. Kisah cinta yang begitu membosankan. Aku tidak ada pilihan lain selain menemani Mark menonton film, lagipula aku tidak bisa tidur.
Yeah tidak lama lagi filmnya juga akan berakhir. Dan seperti film pada umumnya, dengan ending yang bahagia. Aku dan Mark melihat layar yang menampilkan adegan dewasa.
Pemeran saling berciuman dan bermain di ranjang. Entah mengapa aku jadi merasa begitu gugup. Detak jantungku yang kencang bisa aku rasakan dan kudengar. Terlebih di sampingku ada Mark.
Kemudian, kami tidak sengaja saling menatap. Menatap satu sama lain. Entah apa yang merasuki kami, wajah kami mulai mendekat. Mendekat dan mendekat.
Lalu, suara latar film yang keras menyadarkan perilaku kami. Aku sadar dan Mark pula. Aku merasa tidak enak padanya.
"Ah aku ingin keluar sebentar. Aku ingin mencari udara segar," ucapku untuk mengalihkan perhatian.
"Yakin kularut malam begini?"
Aku mengangguk.
"Baiklah. Beritahu aku jika terjadi sesuatu dan jangan terlalu lama," ujar Mark.
Lalu aku keluar dari apartemen. Berjalan dengan mengenakan sweater dan mantel. Udara masih dingin. Tapi, jika aku berada di apartemen, aku bisa kepanasan.
Mumpung aku lagi keluar dan Mark tidak tahu, aku pergi ke tempat makanan cepat saji yang aku bicarakan dengan Mark tadi.
Maafkan aku Mark, aku memang nakal, tapi bukan hanya aku tapi juga perutku.
Aku masuk ke dalam sana. Di sana aku mulai merasa hangat karena di sana ada penghangat. Tidak banyak pelanggan disini karena sudah larut malam. Kebanyakan hanya pasangan yang kelaparan dimalam hari.
Aku duduk setelah memesan. Namun, aku sadari sesuatu janggal terjadi setelah aku duduk. Aku lihat di bagian lain dari meja di tempat ini, di sana ada Zico.
Satu hal yang aku pikirkan setelah melihatnya, yaitu apa dia hantu atau penguntit?
Entah mengapa, seharian ini aku bertemu dengan Zico tanpa disengaja. Tentu aku tidak sengaja bertemu atau melihatnya. Dia sendiri di sana dengan makanan dan minuman setengah habis.
Sudahlah aku tidak ingin menatapnya. Aku tidak ingin menatap atau bertemu dengannya. Tapi, aku lapar. Aku sudah memesan makananku. Aku tidak bisa membawanya ke apartemen, aku bisa dimarahi oleh Mark. Jika aku membawanya keluar, aku tidak bisa karena diluar terlalu dingin.
Dengar, ini terpaksa karena perut nakal ku. Tapi, kenapa harus Zico yang aku lihat. Aku begitu muak dengannya.
Tapi, hal itu terus membuatku teringat tentang pertemuan kami yang tidak sengaja dimasa kecil dulu. Dimana dia yang mengajariku untuk tidak menangis tapi dia sendiri yang membuatku terus menangis.
Seorang pelayan membawakan ku makanan. Pikiran itu sekejap hilang setelah aku melihat makanan yang begitu menggiurkan ini. Aku tidak sabar untuk memakannya.
Hendak aku mengambil nachos itu, sebuah tangan menghentikan ku. Aku marah dan aku lihat ke atas untuk melihat siapa dia.
"Apa yang kau lakukan Anastasia? Kau gila?! Aku sudah memarahi mu tapi tidak kau dengarkan?!"
Mark membuat keributan di sana. Menjadi pusat perhatian di sana. Begitu pula Zico yang mengamati kami.
"Berhenti membuat keributan disini, Mark. Baiklah aku tidak akan makan ini, tapi berhenti membuatku malu."
Benar, Mark membuatku malu di hadapan semua orang. Terutama Zico. Aku seperti seorang gadis yang tertangkap basah oleh ayahnya karena melakukan hal konyol.
"Biarkan, biarkan saja dia makan. Kau harus mengizinkan dia makan setidaknya untuk kali ini, bukan?"
Seseorang menyela kami. Siapa lagi kalau bukan Zico. Dia menyela obrolan konyol kami. Aku kesal.
"Ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur," ucapku dengan nada kesal.
"Tentu. Itu urusan pribadi kalian... dan sebaiknya selesaikan di rumah kalian. Jangan mengganggu pelanggan disini."
Dia berlalu setelah mengucapkan hal menyebalkan tadi. Benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahan lagi. Aku mengikuti Zico.
Dari belakang, aku menendang punggungnya dengan kuat. Beruntung saat itu sepi karena sudah malam. Dia terdorong dan hampir jatuh.
"Hei! Apa masalahmu?" Bentak Zico tanpa tahu apa salahnya.
"Oh maaf. Aku sedang kesal, jadi aku melampiaskannya padamu," ujar ku dengan nada meremehkan.
"Apa?! Oh jadi begini caramu? Baiklah,"
Dia mendekatiku. Aku hanya bisa mundur. Tapi aku sudah terpojok di sebuah bangunan toko yang sudah tutup. Dia terus mendekat. Aku tidak bisa melakukan apapun, karena satu hal. Aku begitu gugup di hadapan Zico.
Lalu, dengan tiba-tiba dia ******* bibir ranum ku. Mengulumnya dengan lembut. Aku mendorongnya sekuat tenaga dan akhirnya dia melepasnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?" Makiku.
"Umm, maaf. Aku juga sedang kesal, jadi aku melampiaskannya padamu," ucapnya sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dia tempelkan pada bibirku.
Ah senjata makan tuan, benar aku akui. Tapi aku saat ini benar-benar kesal dan marah pada pria yang satu ini.
Rasanya, aku ingin membunuhnya. Tidak peduli siapa dia. Dia sudah berjalan menjauh dariku. Dan dari sini pula, aku mengambil pistol yang aku taruh di mantelku.
Ingin aku tembak dan berakhir sudah cerita ini. Aku arahkan pistol ini padanya. Dia masih berjalan santai dengan rasa kemenangannya.
Namun, terasa berat sekali untukku membunuhnya. Padahal, aku sudah memiliki keinginan. Tapi, perasaanku berkata lain.
Dan
Bang!
Peluru sudah melayang.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!