
44
Aku benar-benar takut saat ini. Aku takut kehilangan kakakku. Seharusnya dia tetap di markasnya dan tidak kembali. Dengan begitu hanya aku yang akan menjadi korban, bukan kakakku.
Aku menangis. Air mataku berjatuhan tanpa henti. Saat seperti ini aku hanya butuh keajaiban dari Tuhan. Aku tidak bisa melakukan apapun.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang pria mengarahkan pistolnya pada para pria yang menyandera aku dan Kak Mark. Pria itu adalah Samuel.
"Berhenti disan! Atau wanita ini akan mati!"
Terlalu berbahaya. Kedua pria ini membawa pistol dan mengancam. Aku benar-benar takut. Bukan ini yang aku minta. Aku semakin takut untuk kehilangan mereka berdua. Dua orang pria yang aku sayangi.
Namun, dengan sigap, Samuel menendang tangan pria itu dan berhasil pistol itu jatuh. Kini keadaan berganti. Kak Mark juga beraksi.
Mereka menghabisi ke dua pria itu di depanku. Setelah itu, Kak Mark membukakan tali yang mengikatku.
Namun, dibelakang sana, ada pria yang masih sadar dan mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada kepala Kak Mark bagian belakang. Kak Mark tidak tahu.
Dan
Bang!
Peluru melayang.
Peluru mengenai perutnya. Hingga berdarah banyak. Pria yang menembak Samuel itu tidak sadar.
Benar. Samuel menyelamatkan Kak Mark. Aku menangis sejadi-jadinya.
Sedangkan Kak Mark sigap membawa Samuel ke rumah sakit dengan ambulan.
Di tengah perjalanan juga, aku mendapat telpon dari paman Nicholas.
"Hallo Selena? Apa kau baik-baik saja?"
"Iya. Tapi, hiks... Samuel terluka."
"Apa? Bagaimana bisa? Aku akan ke tempatmu."
Panggilan diputus. Di Sana Paman Nicholas juga tampak cemas. Suaranya parau seperti habis menangis. Aku semakin khawatir dengan semua orang.
...///.....
*(1 tahun kemudian)
Semua masih dalam kondisi sedih. Terutama Zico. Setiap harinya Zico masih menyesali keadaan saat ini.
Samuel sudah membaik. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Samuel kembali dengan normal. Hubungan Samuel dan Mark juga semakin baik.
Nicholas dan Selena juga membaik. Keadaan mereka tidak memungkinkan untuk bertengkar atau bertingkah seperti anak kecil. Karena saat itu pula, mereka teringat akan Anastasia.
Sejak kejadian itu, Anastasia terus berbaring di kasur rumah sakit. Keadaan Anastasia sedang koma. Kadang membaik dan kadang menurun.
Di samping itu, Zico tetap setia menunggu Anastasia disampingnya. Zico berbicara dengan Anastasia. Walaupun Anastasia tidak menjawab. Zico sudah seperti orang gila.
Seperti saat ini. Sudah tengah malam. Zico menunggu di samping Anastasia. Seharian ini Zico belum makan. Dia merasa tidak layak untuk makan. Karena melihat Anastasia juga tidak makan, maka dia harus melakukannya juga.
Zico merasa bersalah. Seharusnya dia yang berada disini dan berbaring menahan sakit.
"Anastasia, kapan kau akan bangun? Apa perlu aku katakan untuk kesekian kalinya, bahwa aku mencintaimu. Sudah aku lakukan itu hingga tidak terhitung."
.....
Sang Raja Siang telah datang. Tidak tahu harus berapa banyak Sang Raja Siang datang terus dan menunggu Anastasia melihatnya.
Pagi ini Nicholas datang pagi sangat. Dia membawa makanan untuk Zico. Karena dari kemarin dia menolak untuk makan. Seperti biasanya, Nicholas menaruhnya di meja dekat Zico.
Lalu, Nicholas duduk di samping Anastasia di sisi lain. Masih menatap Zico yang tertidur di dekat Anastasia. Perlahan, matanya terbuka.
"Ah Nicholas," sahut Zico dengan suara lemah.
"Sudah aku bilang untuk memanggilku dengan kakak, aku lebih tua darimu."
"Bukankah Anastasia juga tidak memanggilmu kakak, aku akan memanggilmu kakak jika Anastasia juga melakukannya,"
"Apa?"
"Apa kau serius dengan Anastasia? Apa kau benar mencintainya?"
"Tentu. Tidak perlu diragukan lagi. Dan sebenarnya sudah lama aku ingin membahas ini denganmu, karena kau kakaknya. Aku ingin menikahi Anastasia," ucapan Zico membuat Nicholas tersentak.
"Tapi, Anastasia dia... aku tidak yakin. Aku masih mengkhawatirkan Anastasia. Terkadang dia berubah seperti orang lain. Dia wanita yang kesepian selama hidupnya ini. Aku masih belum bisa menebus dosaku padanya."
Zico sudah tahu penyakit ginjal Anastasia, tapi tidak dengan penyakit jiwanya. Kepribadian Anastasia belum Zico ketahui. Walau saat itu Zico pernah berhadapan dengan Anastasia yang lain.
"Apa maksudmu berubah seperti orang lain?"
Zico tidak terlalu mengerti dengan perkataan Nicholas.
"Mungkin sudah waktunya aku mengatakan ini. Anastasia memiliki kepribadian ganda sejak ia kecil. Dia selalu menjadi bahan ejekan temannya. Dulu, ayah Anastasia juga kasar, begitu juga dengan ibuku, ibu tiri Anastasia.
Aku pun sejak kecil juga kasar padanya. Dia selalu sendiri, dan mandiri. Dia anak yang pintar juga. Mark pernah cerita padaku tentang anak laki-laki yang pernah menyelamatkan Anastasia.
Namun, anak laki-laki itu mengalami kecelakaan saat perpisahan mereka, dan aku yang melarang Anastasia untuk bertemu dengan dia."
Zico menyimak dengan cermat setiap kata yang keluar dari mulut Nicholas.
"Anak laki-laki itu dimana?"
"Entahlah. Mungkin berada di dekat Anastasia?"
Nicholas sudah tahu bahwa anak laki-laki yang dimaksud adalah Zico sendiri. Nicholas hanya mengetes apa Zico mengingat atau memang saat kecelakaan itu terjadi Zico mengalami amnesia.
Nicholas keluar setelah bercerita panjang pada Zico. Karena di luar ada yang menjenguk. Tidak disangka, dia adalah Marco.
Nicholas ingin mengajak bicara Marco, terutama tentang Zico. Mereka duduk di depan ruangan Anastasia di tempat duduk ruang tunggu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Marco.
"Masih seperti biasanya," sahut Nicholas dengan nada datar.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Apa dulu Zico pernah mengalami amnesia?"
Nicholas segera ingin rasa penasarannya terjawab.
"Bagaimana kau bisa tahu? Benar, dulu Zico mengalami kecelakaan yang membuatnya amnesia sementara. Beberapa memori masa lalunya saat kecil hilang."
"Ah begitu rupanya. Ah bagaimana keadaan anakmu?"
"Daisy? Tapi bagaimana kau bisa tahu segalanya?"
..../.....
Jari tangan Anastasia mulai bergerak. Membuat orang disampingnya terkejut dan bahagia, Zico.
Zico langsung memanggil dokter dan membuat perhatian pada kedua kakak itu. Setelah Anastasia diperiksa, keajaiban terjadi.
Keadaan Anastasia pulih dengan cepat. Anastasia sudah sadar dari koma selama 1 tahun lebih. Bukan hal biasa, karena setiap harinya kondisi Anastasia terus naik turun, tanpa ada kemajuan yang baik.
Setelah Anastasia diizinkan dijenguk, Zico segera memeluk erat Anastasia. Mereka menangis bahagia.
"Aku senang. Benar-benar senang," ujar Zico ditelinga Anastasia.
"Dan mungkin terlambat mengatakannya, tapi aku benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu."
***Bersambung
Terimakasih telah membaca!
Dukung author agar tetap berkarya!
Berikan tanggapan atau komentar ya...
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA***!