
4
Warning! Mohon jadi pembaca yang bijak! Terimakasih!
"Zico? Ah maksudku Pak? Sedang apa Anda disini?" Anastasia khawatir kalau Zico mendengar percakapannya dengan Mark tadi.
"Anastasia, seharusnya aku yang tanya seperti itu. Ini kan pesta mu. Kau sedang ada masalah?" Zico menghampiri Anastasia.
"Ah tidak, hanya mengangkat telepon dari teman."
"Baiklah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Malam ini kau akan lembur bersama ku. Jadi, kita akan pulang lebih awal di pesta ini. Kau tidak keberatan?"
"Tentu saja. Itu tugas saya. Tapi, pulang?"
"Iya, kita akan lembur di rumah ku. Maaf mendadak. Aku harap kau bisa mengerti karena sekertaris yang lama mengundurkan diri saat akan ada meeting penting." Jelas Zico.
Mereka akhirnya segera pulang di mansion milik Zico. Hanya untuk lembur. Mereka naik mobil dengan Anastasia yang membawa nya karena Zico sudah minum.
Setelah melewati perjalanan malam, mereka sampai di mansion milik Zico. Mansion yang bisa di katakan mewah, hampir sepadan dengan milik Anastasia. Mereka langsung masuk dan mengerjakan file yang harus di tangani di ruang kerja.
"File apa saja yang harus aku kerjakan? Dan kapan aku harus melaporkan pada Anda?" Anastasia mulai membuka file yang tertumpuk rapih di meja kerja.
"Besok, siang kau bisa menunjukannya pada ku." Zico duduk di sofa ruang kerjanya.
"Tentu, aku akan membawa file ini di rumah dan akan aku pastikan besok selesai." Anastasia begitu percaya diri.
Zico menatap tajam Anastasia. Dia sedang berpikir.
"Kenapa kau terburu-buru?" Zico bangun dari duduknya dan mendekati Anastasia.
"Tentu saja, ini sudah malam dan saya sedang berada di rumah orang lain. Anda tidak perlu khawatir tentang hal ini. Anda bisa percaya kepada saya, jika tidak anda bisa memecat saya." Yeah seorang profesional selalu punya banyak keahlian.
Zico mendekat lagi ke arah Anastasia. Dia menarik dagu Anastasia dan menatap matanya dalam-dalam.
"Apa yang anda lakukan?" Dari nada Anastasia dia tetap angkuh.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, Anastasia. Kau tidak ingat?" Zico menarik badan Anastasia hingga Anastasia jatuh di pangkuan Zico.
"Apa maksudmu?" Anastasia masih tak mengerti maksud dari Zico.
"Aku menerima mu karena pagi itu kau seperti ini, kita pernah bertemu sebelumnya. Saat di dalam bus, kau di pangkuanku. Dan kau langsung membuatku sadar, Anastasia." Zico menjelaskan dengan senyum simpulnya. Masih menatap Anastasia.
Anastasia ingat kejadian pagi di bus itu. Namun, Anastasia sama sekali tidak menyangka dia adalah CEO dikantornya, Zico. Tapi, hal itu tak berpengaruh pada Anastasia.
"Jadi? Apa mau mu?" Mereka masih dengan posisi yang sama.
"Aku ingin kau bertanggung jawab, Anastasia."
Tiba-tiba, Zico mengecup bibir Anastasia singkat. Mata Anastasia hanya bisa terbuka lebar karenanya.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak waras?" Ucapan itu keluar dari mulut Anastasia. Dia mencoba mendorong tubuh Zico yang lebih besar darinya. Tapi Zico malah membuat pelukannya lebih erat.
"Lepaskan Zico. Aku tak ingin mencelakaimu."
"Kau bisa apa Anastasia?" Zico ******* bibir Anastasia. Dia melakukannya dengan terburu-buru. Sesekali dia mengambil nafas.
Zico begitu menikmati permainannya ini. Namun, Anastasia mencoba mencari jalan keluar agar dia tidak terbuai oleh Zico.
Huh aku tak percaya dia melakukan ini. Zico, kenapa dia bisa-bisanya merebut first kiss ku. Aku tidak akan memaafkannya. Jika aku diam, dia hanya akan semakin menjadi.
Ayolah otak emasku, berpikirlah.
Ah tentu saja. Kenapa tidak aku pikirkan sejak tadi. Area sensitif pria. Aku tahu ini memalukan tapi ini yang bisa aku lakukan agar keluar dari belenggu mimpi buruk.
Oh astaga aku tidak percaya akan melakukan ini. Aku menendang area sensitif nya. Dan dia sempat mengaduh karena tendangan ku cukup kuat. Alhasil dia sedikit melemahkan pelukannya yang erat. Ini kesempatan ku.
Aku berhasil keluar dari pelukannya.
"Apa yang kau lakukan?" Zico tampak kesakitan.
"Itu pertanyaan ku, Zico. Apa yang kau lakukan padaku? Huh? Kau kira aku selemah yang kau kira?"
"Tapi, kenapa harus bagian ini. Aku belum menikah bodoh."
"Ups! Maaf bos, aku sudah memberikan pilihan tadi dan kau salah memilih. Selamat ya, semoga istri mu tidak kecewa padamu. Hahaha" itu kalimat yang pantas untuknya.
Aku membawa file yang harus aku kerjakan. Aku berniat meninggalkan mansion milik Zico ini dan pergi dari sini segera mungkin.
"Saya akan pergi sekarang, Pak. Selamat menikmati rasa sakit itu. Aku harap kau segera sadar." Aku keluar dari ruangan itu dan segera pergi dengan menggunakan taksi.
....
Huh hari yang panjang. Setiap hari aku harus menjalankan suasana seperti ini, aku bisa gila dengan cepat. Aku harus menghubungi Mark apa dia sudah menjalankan tugasnya.
Namun, saat aku akan menelponnya, aku melihat mobil dengan plat yang aku kenal. Ah iya itu Mark dengan anak buahnya. Sepertinya dia sedang menjalankan tugasnya.
"Pak supir, tolong berhenti disini saja." Aku turun untuk memeriksa keadaan di sana.
Aku mendatangi mereka di jalan yang memang sepi.
"Mark, bagaimana? Apa tangannya sudah bisa dipastikan patah?" Tanyaku memecah suasana mencekam di sana.
"Bos, tentu saja. Hanya saja baru tangan kirinya, akan aku patahkan sisanya."
"Tidak, sudah cukup. Aku akan bicara dengannya." Aku mendekati Kent yang terjatuh di aspal jalanan. Dia tampak kesakitan sambil memegangi tangan kanannya.
"Hai Kent? Bagaimana kabar mu?"
"Anastasia? Jadi ini ulah mu?" Dia menatapku dengan sengit meski dia tampak kesakitan.
"Tentu saja. Siapa yang berani selain aku. Dengarkan baik-baik ya Kent, aku tidak ingin mengulangnya. Jangan pernah macam-macam dengan ku. Aku bisa melakukan lebih dari ini, tapi aku tak ingin membuat jejak lebih jelas. Dan ingat jangan beritahu mereka tentang semua ini atau kau akan celaka." Aku bangkit dari jongkok ku dan menghampiri Mark.
"Apa perlu aku lakukan sekarang, bos?" Tanya Mark dengan antusias.
"Tidak, mungkin lain kali. Malam ini, antarkan aku ke mansion dan beritahu Dave untuk datang malam ini juga." Aku masuk mobil dan segera pergi ke mansion ku yang berada di tengah hutan.
***To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author***!