
22
Anastasia terpojok di dinding kamar. Perlahan namun pasti, bibir Zico ******* lembut bibir ranum milik Anastasia. Ciuman bergairah itu Anastasia balas pula.
Tangan kekar Zico memasuki balik piyama Anastasia. Piyama yang begitu mudah untuk diterobos. Meremas payudara padat milik Ana. Anastasia hanya bisa mengerang.
"Tidak!"
.....
"Tidak!" Anastasia menjerit.
"Anastasia bangunlah."
Anastasia tersadar dari mimpinya. Dihadapannya ada Mark. Reflek, Anastasia memeluk erat Mark.
"Aku takut," suara gemetar dari Anastasia membuat Mark tak tega harus melepas pelukan ini.
"Aku disini. Jangan takut" ucap Mark untuk menenangkan Anastasia yang masih gemetar.
Mark bisa merasakan detak jantung Anastasia yang begitu jelas ini. Begitu juga Anastasia. Kepala Anastasia berada di dada bidang Mark dan bisa mendengar degup detak jantung Mark yang bermarathon.
Setelah membaik, Anastasia baru melepas pelukan itu. Mark menatap wajah Anastasia yang begitu ketakutan. Baru kali ini dia melihat wanita yang selama ini tangguh bisa terlihat sangat ketakutan.
Mark mengusap air mata Anastasia. Menepuk kembali kepala Anastasia dengan lembut dan kasih sayang.
"Kau akan baik-baik saja, Winny. Aku bersamamu."
Ucapan itu mengingatkan Anastasia pada mendiang Ibu kandungnya. Kata-kata terakhir yang beliau ucapkan. Dan pelukan hangat yang diterima Anastasia saat ini sama dengan pelukan yang ibu Anastasia berikan dulu.
Begitu hangat dan begitu dirindukan. Tak pernah Anastasia lupakan rasa hangat dari pelukan istimewa yang pernah ia terima seumur hidupnya.
"Kumohon peluk aku lebih lama lagi. Aku merindukan pelukan ini."
Mark mengeratkan pelukannya. Membuat Anastasia begitu merasa nyaman hingga tak ingin lepas.
Anastasia begitu bahagia. Pelukan hangat yang ia rindukan selama ini ternyata ada pada orang terdekatnya. Begitu beruntungnya Anastasia.
Saking nyamannya, Anastasia tertidur di pelukan Mark. Anastasia seperti bayi kecil yang ingin terus di peluk.
Mark tidak ingin membuat Anastasia terbangun. Akhirnya Mark tertidur juga dengan Anastasia di pelukannya. Namun, sebelum tertidur, Mark mengucapkan sesuatu.
"I love you so much."
Satu kalimat itu begitu langka dari lisan Mark. Hingga kalimat itu terdengar samar oleh Anastasia dan tidak diketahui oleh Mark kalau Anastasia mendengarnya. Anastasia kembali tidur.
***
Pagi hari tiba di hotel Las Vegas. Ranjang yang tidak terlalu besar itu berisi dua orang.
Pagi ini Mark bangun terlebih dulu. Dihadapannya ada wanita cantik tengah tertidur seperti seorang bayi.
Ditatapnya wajah cantik Anastasia. Ketika itu Mark menatap bibir ranum Anastasia. Mark merasa tidak tahan lagi. Dia ingin mengecup bibir ranum itu.
Dan tiba saatnya Mark melakukan hal itu. Mark mengecup singkat bibir Anastasia untuk pertama kalinya. Kecupan singkat itu berubah menjadi lumatan.
Lumatan lembut yang membuat Mark terangsang pula. Perlahan bulu mata Anastasia bergerak. Mark tidak memperhatikannya karena matanya terbenam.
Perlahan mata Anastasia terbuka sepenuhnya. Melihat sosok yang dia kenal sebagai adiknya. Sosok yang dia anggap sebagai adik itu melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Anastasia masih terdiam untuk sesaat. Pada akhirnya mata Mark yang menyadari lebih dulu dengan kelakuannya sendiri.
Dia menjauh dari Anastasia yang masih berbaring itu. Dia seperti dirasuki oleh makhluk dan tidak sadar dengan perbuatan yang dia lakukan tadi.
"Anastasia, maafkan aku... aku tidak sadar... maaf."
Kemudian Mark pergi dengan merasa bersalah. Dia keluar menuju lobby hotel. Pagi itu cukup ramai di lobby karena banyak tamu hotel yang sedang akan pergi keluar.
Anastasia kemudian bangun dari tidurnya. Dia bangun dengan tenang. Seperti tidak ada hal yang terjadi pagi ini.
Mark tengah berjalan cepat keluar dari hotel. Entah apa yang akan dilakukannya di pagi ini. Dia berjalan di sepinggir jalan. Banyak orang-orang lalu lalang. Sepanjang jalan Mark hanya berdecak kesal.
"Ais, kenapa aku melakukan itu pada Anastasia. Akh! Tidak tahu diri kau!"
Mark berteriak di tengah jalan. Membuat perhatian disekitarnya. Orang-orang melihat Mark seperti orang gila.
.....*-*.....
Pagi ini Zico bangun dengan keadaan pusing karena semalam terlalu banyak minum. Dia merasa mual karena alkohol berlebihan itu.
"Ah apa yang terjadi?"
Dia menatap sekeliling. Menyadari keberadaannya yang berada di kamarnya sendiri. Lalu, mengambil handphone-nya untuk menghubungi Samuel. Ya Zico ingat semalam dia berada bersama Samuel.
"Nomor yang Anda tuju...."
Suara operator membuat Zico berdecak kesal dan melempar handphone-nya ke ranjang. Zico segera mandi.
Selagi air shower mengguyur badannya, dia berusaha mengingat sesuatu tentang semalam. Zico tahu, ada alasan kenapa dia minum banyak. Pasti ada masalah yang menimpanya.
Oleh karena itu, dia berusaha mengingat apapun. Setelah selesai mandi pun, dia tidak mengingat apapun.
Dan saat dia akan berangkat ke kantor, baru dia mengingat sesuatu yang penting.
"Astaga, aku harus bertemu dengan Anastasia. Kenapa aku bisa lupa, sih?"
Zico terburu-buru untuk mendatangi apartemen Anastasia. Sesampainya di depan pintu, dia terus memencet bel.
Mengetuk pintu, memencet bel, memukul pintu. Semua dia lakukan, tapi tidak ada jawaban di dalam sana. Akhirnya, dia bertemu tukang bersih-bersih yang sedang lewat.
"Pak, maaf. Apa penghuni kamar ini sedang pergi?"
"Unit itu sudah kosong. Penghuninya pindah," jawab tukang bersih-bersih itu.
"Kalau boleh tahu, ke mana dia pindah?"
"Anda siapa?" Tanya balik petugas itu.
"Ah sial... ummm saya pacarnya."
Petugas itu menatap Zico curiga. Zico hanya kesal saja dengan petugas itu.
"Maaf penghuni unit itu melarang saya untuk memberitahu kepada orang yang mengaku sebagai pacarnya. Saya tidak menyangka, yang ngaku pacarnya datang juga."
Kemudian, petugas itu pergi.
Zico masih terdiam. Memikirkan kemungkinan Anastasia pergi. Tidak ada tempat yang Anastasia ketahui.
Setelah berpikir cukup lama, Zico mengingat sesuatu.
"Aku harus menghubungi adiknya Mark."
Bagaimana Zico bisa punya nomornya Selena? Karena saat bertemu, Zico meminta nomornya untuk berjaga-jaga.
"Hallo?"
"Kak Zico? Ada apa?"
"Aku mencari Anastasia. Apa dia bersamamu?"
"Tidak."
"Beritahu aku dimana dia. Aku ada perlu dengannya. Katakan dimana kamu, aku akan menemui mu saja."
"Ah itu... umm baiklah. Kita bertemu di taman kota saja."
Zico menutup telfon dan segera pergi ke taman kota. Dia begitu mengkhawatirkan Anastasia. Dan yang membuat Zico khawatir lagi, Anastasia sedang sakit.
Beberapa menit berlalu cukup lama Zico menunggu Selena. Hingga dia melihat mobil hitam elegan yang dia kenal.
Keluar sosok wanita yang dia tunggu bersama pria yang begitu familiar baginya. Mereka keluar seperti sepasang kekasih.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!